Anda di halaman 1dari 57

MATERI

LEGAL DRAFTING

OLEH :
Dr. Nurul Akhmad, SH, M.Hum
TIM LEGAL DRATING FAKULTAS HUKUM
UNIVERSIRTA NEGERI SEMARANG

LEGAL DRAFTING

PERENCANAAN PENYUSUNAN
PERUNDANG-UNDANGAN
PERENCANAAN PENYUSUNAN UU DILAKUKAN DALAM SUATU
PROGRAM LEGISLASI NASIONAL ( PROLEGNAS ) OLEH DPR DAN
PEMERINTAH
PERENCANAAN PENYUSUNAN PERDA DILAKUKAN OLEH
PROGRAM LEGISLASI DAERAH
PENYUSUNAN PROLEGNAS ANTARA PEMERINTAH DAN DPRD
DIKORDINASIKAN OLEH DPR MELALUI ALAT KELENGKAPAN DPR
YANG KHUSUS MEMBIDANGI BIDANG LEGISLASI.
PENYUSUNAN PROLEGNAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH
DIKOORDINASIKAN OLEH MENTERI YANG BERTUGAS DI BIDANG
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN.
PERENCANAAN PENYUSUNAN PERDA DILAKUKAN OLEH
PROGRAM LEGISLASI DAERAH DIKORDINASIKAN OLEH DPRD
MELALUI ALAT KELENGKAPAN YG MEMBIDANGI BID LEGISLASI.

PERSIAPAN
PEMBENTUKAN UU
RANCANGAN UU YANG DARI DPR, PRESIDEN, MAUPUN
MAUPUN DARI DPD DISUSUN BERDASARKAN PROGRAM
LEGISLASI NASIONAL.
RANCANGAN YANG DIAJUKAN OLEH DPD ADALAH RUU
YANG BERHUBUNGAN DENGAN OTDA, HUB PEMERINTAH
PUSAT DAN DAERAH, PEMBENTUKAN DAN PEMEKARAN
DAERAH, PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM, DAN
SUMBER DAYA EKONOMI, SERTA YG BERKAITAN
DENGAN PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN
DAERAH.
DALAM KEADAAN TERTENTU DPR ATAU PRESIDEN
DAPAT MENGAJUKAN RUU DI LUAR PROLEGNAS

PERENCANAAN DAN PERSIPAN


PEMBENTUKAN PERDA
MEMDOMI UU NO 10 TH 2004 DAN PERPRE NO.61 TH 2005 TTG
TATA CARA PENGELOLAAN DAN PENYUSUNAN PROLEGNAS
BAGIAN YANG TIDAK DIPISAHKAN DARI PROLEGNAS
MEMILIKI KETERKAITAN DNG KEBIJAKAN
PENYELENGGARAAN PEMERINTAH PUSAT
PROLEGDA TETAP DALAM SATU KESATUAN SISTIM HUKUM
NASIONAL ( SBG CAKAR HUKUM NASIONAL )
BAHAN PERUMUSAN DAN PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH
( PRAPAATORY MATERIAL ) MEILPUTI (1) LATAR BELAKANG
DAN TUJUAN PENYUSUNAN (2) SASAARAN YANG AKAN
DIBUJUDKAN (3) POKOK-POKOK PIKIRAN , LINGKUP DAN
OBYEK YANG AKAN DI ATUR (4) JANGKAUAN DAN ARAH
PENGATURAN.

LAJUTAN . . . . . .

RUU YANG DIAJUKAN OLEH PRESIDEN KE DPR


RI DISIAPKAN OLEH MENTERI MEMBIDANGI
RUU YANG DIUSULKAN OLEH DPR DIAJUKAN
OLEH DPR
RUU DARI DPD DAJUKAN OLEH DPD MELALUI
DPR

PERSIPAN PEMB PERPU


RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTI UU DIAJUKAN KE DPR DALAM
BENTUK RUU TTG PENETAPAN PERATURAN
PEMERINAH PENGGANTI UU
JIKA PERPU DITOLAK OLEH DPR MAKA PERPU
TIDAK BERLAKU
PERPU DITOLAK DPR MAKA PRESIDEN
MENGAJUKAN RUU PENCABUTAN PP
PENGGANTI UU YANG DAPAT MENGATUR SGL
AKIBAT DARI PENOLAKAN TSB.

PERSIAPAN PEMB PERDA


RANCANGAN PERDA DAPAT BERASAL DARI DPRD
ATAU GUBEERNUR/BUPATI/WALIKOTA
RANCANGAN PERDA DARI DPRD DISAMPAIKAN
OLEH KOMISI, GABUNGAN KOMISI, ATAU ALAT
KELANGKAPAN DPRD YG KHUSUS MENANGANGI
BIDANG LEGISLASI
RANCANGAN KEPADA DAEAH YANG BERSASAL
DARI GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA KEPADA
DPRD MELALUI SURAT PENGANTAR.
RAPERDA YANG DIAJUKAN OLEH DPRD
DIAJUKAN KE PIMPINAN DPRD KEPADA
BUBERNUR ATAU BUPATI/WALIKOTA.

LANJUTAN

PEMRAKARSA PERDA DARI BISA DARI DPRD


ATAU KEPALA DAERAH. PEMRAKARSA USUL
PERDA DI LINGKUNGAN EKSEKUTIF BISA DARI
SEKDA ATAU BIDANG HUKUM.

TAHAPAN PENYUSUNAN
PERATURAN DAERAH
PEMRAKARSA USUL PEMB PERDA ( PS. 26 DAN 27
UU 10 TH 2004 .
PERSIAPAN PENY RAPERDA ( KONSEPSI PERDA
MELIPUTI : VISI, MISI DAN TUJUAN, MELAKSANKAN
UU, KEWENGAN MENETAPKAN PERDA, DISKRESI
MENGAKOMODIR KEKHASAN, DAN KEKHUSUAN
DAERAH
PERSIPAN DAN PENYIAPAN BAHAN NPNYUSUNAN
RAPERDA
MASALAH DAN IDENTIFIKASI SERTA PERUMUSAN

MASALAH

PEMBAHASAN
PEMB RUU DI DPR DILAKUKAN DPR BERSAMA PRESIDEN
ATAU MENTERI YG DITUGASI
BEMB RUU DIMAKSUD BERKAITAN DNG OTDA, HUB
PUSAT DNG DAERAH, PEMBENTUKAN, PEMEKARAN,
PENG DAERAH, PENGELOLAAN SDA DAN SDE SERTA
PERIMB MENGIKUTSERTAKAN DPD.
PEMBAHASAN BERSAMA DPR DAN PRESIDEN MELALUI
TINGKAT-TINGKAT PEMBICARAAN.
DPR MEMBERITAHU DIMUALAINYA PEMBAHASAN RUU.
DPD MEMBERIKAN BERTIMBANGAN KPD DPR ATAS RUU
YANG DIBAHAS.
RUU DPT DITARIK SEBELUM PEMBAHASAN
RUU YG SDG DIBAHAS DAPAT DITARIK DNG
PERSETUJUAN BERSAMA ANTARA DPR DAN PRESIDEN.

LANJUTAN . . .

PEMB RUU TTG PENETAPAN PP


PENGGANTI UU MENJADI UU
PEMBAHASAN MELALUI MEKANISME YANG
SAMA DENGAN PEMB RUU.

PENGESAHAN
RUU YANG YG TELAH DISETUJUI OLEH
DPR DAN PRESIDEN DISAMPAIKAN KEPADA
PRESIDEN UNTUK DISAHKAN MENJADI UU.
PENYAMPAIAN RUU DIMAKSUD PALING
LAMBAT 7 HARI SEJAK MENDAPATKAN
PERSETUJUAN.
PRESIDEN MEMBUBUHKAN TANDA TANGAN
DALAM UU TSB PALING LAMA 30 HARI SEJAK RUU
DISETUJUI.
DLM JANGKA WAKTU 30 HARI TDK
DITANDATANGANI PRESIDEN DINYATAKAN

PEMBAHASAN PERDA
PEMBAHASAN RAPERDA OLEH DPRD
BERSAMA GUBERNUR ATAU
BUPATI/WALIKOTA .
PEMBAHASAN DIMAKSUD MELALUI
TINGKAT-TINGKAT PEMBAHASAN
TATA CARA PEMBASAN DIATUR DNG PERATURAN TATA
TERTIB DPRD .
RAPERDA DPT DITARIK SEBELUM PEMBAHASAN
DIMULAI.
RAPERDA YG SDG DIBAHAS DPT DITARIK KEMBALI DNG
PERSETUJUAN BERSAMA DPRD DAN GUBERNUR ATAU
BUPAT/WALIKOTA.

PENETAPAN PERDA

RAPERDA YANG YG DISETUJUI DPRD BERSAMA GUBERNUR ATAU


BUPATI WALIKOTA DISAMPAIKAN OLEH DPRD KEPADA KEPADA
GUBERNUR ATAU BUPATI/WALIKOTA UNTUK DITETAPKAN MENJADI
PERDA.
PENYAMPAIKAN PERDA DIMAKSUD KE GUBERNUR ATAU
BUPATI/WALIKOTA PLAING LAMA 7 HARI UNTUK DITETAPKAN OLEH
GUBERNUR ATAU BUPATI/WALIKOTA DNG MEMBUBUHKAN TANDA
TANGAN DLM JANGKA WAKTU 30 HARI SEJAK MENDAPATKAN
PERSETUJUAN.
DLM JANGKA WAKTU 30 HARI TDK RAPERDA TDK DITANDANGANI
OLEH GUBERNUR ATAU BUPATI/WALIKOTA MAKA RAPEERSAH
TERSEBUT SAH MENJADI PERDA.

PENGUNDANAN
AGAR SETIAP ORANG
MENGETAHUINYA , MAKA PERUNDANGAUNDANGAN HARUS DIUNDANGAN DNG
MENEMPATKAN PADA :
LEMBARAN NRI
BERITA NRI
LEMBARAN DAERAH
BERITA DAERAH

LANJUTAN
UU, PERPU, PP, PERPRES,
PERUNDANG -UNDANG YG LAIN YNG
MENURUT PER UNDANG-UNDANGAN
YNG BERLAKU HARUS
DIUNDANGKAN PENGUNDANGANNYA
MELALUI LEMBARAN NEGARA
REPUBLIK INDONESIA.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PENYUSUNAN PER-UU-AN
Kualitas SDM ( Anggota Dewan, Eksekutif, LSM sbg
kontrol ) ;
Konstelasi Politik ( Pada Saat UU Dibuat ( Karakter
Hukum);
Dominasi Kelompok ( Memihak Yg Kuat ) ;
Profesionalitas Legal Drafting ( Improvisasi ;
Kontrol ( Pressure Group, Pemantau )

ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANG

Kejelasan tujuan;
Kelembagaan/organ pembentuk;
Kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
Dapat dilaksanakan;
Kedayagunaan dan kehasilgunaan;
Kejelasan rumusan;
Keterbukaan.

KEJELASAN
UMUM,
ARTINYA
SETIAP
UU
MEMILIKI TUJUAN YANG JELAS YG AKAN DICAPAI.

KELEMBAGAAN ATAU ORGAN PEMBENTUK YANG TEPAT,


SETIAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DIBENTUK
OLEH LEMBAGA YANG TEPAT, SEPERTI UU OLEH
PRESIDEN DAN DPR, PERPU OLEH PRESIDEN DLM
KEADAAN TERPAKSA , PP OLEH PEMERINTAH,, PP
OLEH PRESIDEN UNTUK MENJALAN KAN UNDANGUNDANG, PERPRES OLEH PRESIDEN, PERDA OLEH
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA.
KESESUAIAN ANTARA JENIS DAN MATERI ( PS.8 ),
ARTINYA DLM PEMB PER UU MATERI HRS TEPAT
DENGAN JENIS PERATURAN PER UU

KESESUAIAN ANTARA JENIS DAN MATERI


( PS.8 ), ARTINYA DLM PEMB PER UU MATERI
HRS TEPAT DENGAN JENIS PERATURAN PER
UU. MATERI YG HARUS DIATUR DALAM UU
YAITU ( HAM, HAK DAN KEWAJIBAN WARGA
NEGARA,
KEADULATAN
NEGARA
AN
PEMBAGIAN KEKUASAAN NEGARA, WILAYAH
NEGARA DAN WARGA NEGARA, KEWARGANEGARAAN DAN KEPENDUDUKAN

DAPAT DILAKSANAKAN
SETIAP PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN
HARUS
MEMEPERHATIKAN EFEKTIFITAS
DI
DALAM MASY. BAIK SECAR FILOSOFIS,
YURIDIS, MAUPUN SOSIOLOGIS.

KEDAYAANGUNAAN DAN HASIL


GUNA

SETIAP PER UU DIBUAT KARENA


MEMANG DIBUTUHKAN DAN
BERMANFAAT DALAM MENGATUR
KHEIDUPAN BERMASY, BERBANGSA
DAN BERNEGARA,

KEJELAAN RUMUSAN

HARUS
MEMENUHI
TEKNIS
PENYUSUNAN
PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN, SISTIMATIKA
DAN PENULISASAN.

KETERBUKAAN
PROSSES PEMBANTUKAN PER UU MULAI
DARI
PERENCANAAN
SAMPAI
PEMBAHSASAN HRS TRANSPARAN

ASAS MATERI MUATAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN

Pengayoman;
Kemanusiaan;
Kebangsaan;
Kekeluargaan;
Kenusantaraan;
Bhineka Tunggal Ika;
Keadilan;
Kesamaan kedudukan dalam hukum dan
pemerintahan;
Ketertiban dan kepastian hukum;
Keseimbangan, keserasian dan keselarasan .

Asas pengayoman, artinya


setiap Materi Muatan
Peraturan Perundangundangan harus berfungsi
memberikan perlindungan
dalam rangka menciptakan
ketentraman masyarakat.

Asas kemanusiaan, artinya


setiap Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan harus
mencerminkan perlindungan
dan penghormatan hak-hak
asasi manusia serta harkat dan
martabat setiap warga negara
dan penduduk Indonesia secara
proporsional.

Asas kebangsaan, artinya


setiap Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan harus
mencerminkan sifat dan watak
bangsa Indonesia yang
pluralistik (kebhinekaan)
dengan tetap menjaga prinsip
Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Asas kekeluargaan, artinya


setiap Materi Muatan
Peraturan Perundangundangan harus
mencerminkan musyawarah
untuk mencapai mufakat
dalam setiap pengambilan
keputusan.

Asas kenusantaraan, artinya


setiap Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan
senantiasa memperhatikan
kepentingan seluruh wilayah
Indonesia dan Materi Muatan
Peraturan Perundangundangan yang dibuat di
daerah merupakan bagian dari

Asas Bhinneka Tunggal Ika, artinya


setiap Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan harus
memperhatikan keragaman
penduduk, agama, suku, dan
golongan, kondisi khusus daerah,
dan budaya khususnya yang
menyangkut masalah-masalah
sensitif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.

Asas keadilan, artinya


setiap Materi Muatan
Peratuan Perundang
undangan harus
mencerminkan keadilan
secara proporsional bagi
setiap warga negara tanpa
kecuali.

Asas kesamaan kedudukan


dalam hukum dan
pemerintahan, artinya setiap
Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan tidak
boleh berisi hal-hal yang
bersifat membedakan
berdasarkan latar belakang,
antara lain, agama, suku, ras,
golongan, gender, atau status

Asas ketertiban dan


kepastian hukum, artinya
setiap Materi muatan
Peraturan Perundangundangan harus dapat
menimbulkan ketertiban
dalam masyarakat melalui
jaminan adanya kepastian
hukum.

Asas keseimbangan,
keserasian, dan keselarasan,
artinya setiap Materi Muatan
Peraturan Perundangundangan harus
mencerminkan keseimbangan,
keserasian, dan keselarasan,
antara kepentingan individu
dan masyarakat dengan
kepentingan bangsa dan

LANDASAN PEMBENTUKAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

1. LANDASAN

FILOSOFIS

2. LANDASAN SOSIOLOGIS
3. LANDASAN

YURIDIS

LANDASAN SOSILOGIS
UU YNG DIBENTUK MENDASARKAN PADA
DINAMIKA DAN GEJOLAK SOSIAL, NORMANORMA SOSIAL YANG ADA DAN DIHORMATI DI
MASYARAKAT,
SERTA
KECENDERUNGANKECENDERUNGAN
YANG SEDANG TERJADI
DALAM DUNIA INTERNASIONAL
MENURUT EUGEN EHRLICH HKM POSITIF AKAN
MEMILIKI DAYA BERLAKU/EFEKTIF APABILA
BERISIKAN , ATAU SELARAS DNG HUKUM YANG
HIDUP DIMASYARAKAT ( LIVING LAW ).
BERLAKUNYA
PENERIMAAN
MASYARAKAT .

HUKUM
DAN

KARENA
ADANYA
PENGAKUAN
DARI

LANDASAN FILOSOFIS
NILAI-NILAI YANG DIJUNJUNG TINGGI DI
MASYARAKAT,
MELIPUTI
KEBENARAN,
KEADILAN, KESUSILAAN, KEMANUSIAAN,
RILIGUISITAS, MORALITAS, DAN BERBAGAI
NILAI-NILAI
YANG
DIANGGAP
BAIK
( SEMUA ITU MERUPAKAN NILAI-NILAI
LUHUR PANCASILA ).
SETIAP
NEGARA
TENTU
BERBEDA
LANDASAN
FILOSOFISNYA,
TRTM
MASALAH HAM DAN DEMOKRATISASINYA.

LANDASAN YURIDIS
PERATURAN
PER
UU
MERUPAKAN
PRODUK HUKUM MK AGAR MENGIKAT
DAN
MEMILIKI EFEKTIFITAS DLM
PENGENAAN SANKSI MAKA DLM PEMB
HRS MENDASARKAN PADA PERSYARATAN
YURIDIS YAITU : DIBUAT OLEH LMBAGA
YG BERWENANG, KESESUAIAN ANTARA
JENIS DAN MUATAN/ISI, MEMENUHI
PROSEDUR DLM PEMBENTUKANNYA, TDK
BOLEH BERTENTANGAN DNG PER UU YG
LEBIH TINGGI,

JENIS DAN HIERARKI PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN BERDASARKAN
UU 10 TAHUN 2004
*

A.UUD NRI TH. 1945.


B.UU / PERPU.
C.PP.
D.PERATURAN PRESIDEN.
E.PERATURAN DAERAH.
*

JENIS PERATURAN PER-UU-AN SELAIN TSB DI ATAS DIAKUI


KEBERADAANNYA DAN MEMP. KEKT HK. MENGIIKAT
SEPANJANG DIPERINTAHKAN OLEH PERAT. PR-UU-AN YG
LEBIH TINGGI.

KERANGKA PER UNDANGAN

JUDUL

PEMBUKAAN

BTG TBH

JIKA DIPERLUKAN

PENJELASAN

LAMPIRAN

PENUTUP

SISTEMATIKA TEHNIK PENYUSUNAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN
BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. JUDUL
B. PEMBUKAAN
1. Frase dengan tye
2. Jabatan pembentukan peraturan peruu-an
3. Konsiderans
4. Dasar hukum
5. Diktum
C. BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur
3. Ketentuan Pidana(jika diperlukan)
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
5. Ketentuan Penutup
D. PENUTUP
E. PENJELASAN (Jika diperlukan)
F. LAMPIRAN (Jika diperlukan)

BAB II HAL-HAL KHUSUS


A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN
B. PENYIDIKAN
C. PENCABUTAN
D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANGUNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG
F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

JUDUL

MEMUAT JENIS, NOMOR, TAHUN PENGUNDANGAN


ATAU PENETAPAN, DAN NAMA PER UU
NAMA
PER
UU
DITULIS
SINGKAT
YG
MENCERMINKAN ISI PER UNDANG UNDANGAN.
JUDUL DITULIS DENGAN HURUF KAPITAL , DI
TENGAH MARJIN, TANPA TANDA BACA
JIKA UU PERUBAHAN DITAMBAH KATA PERUBAH
ATAS DI DEPAN NAMA PER UU
JIKA PERNAH PERNAH DIUBAH DI TENGAH KATA
PERUBAHAN DAN KATA ATAS DITAMBAH KATA
BERAPA KALI TELAH DILAKUKAN PERUBAHAN

CONTOH
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 15 TAHUN 2002
TENTANG
TENTANG PIDANA PENCUCIAN UANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 15 TAHUN 2002
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2005 TENTANG
TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 15 TAHUN 2002
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15
TAHUN 2005 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

PEMBUKAAN

FRASE , DNG RAHMAT TUHAN YME DITULIS DNG HURUF KAPITAL


JABATAN PEMBENTUK PER UU DITULIS DNG HURUF KAPITAL DI TENGAH
MARJIN DIAKHIR DNG TANDA BACA ;
KONSIDERANS , DIAWALI DENGAN KATA MENIMBANG, MEMUAT POKOKPOKOK PIKIRAN YANG MELATARBELAKANGI DAN ALASAN PEMBUATAN
PER UU,
TIAP-TIAP POKOK PIKIRAN DIAWALI HURUF ABJAD DAN
DIRUMUsSKAN DENGAN KATA BAHWA DAN DIAKHIRI DENGAN TANDA BACA
TITIK KOMA ( ; ).
CONTOH :
Mneimbang : a . bahwa ....;
b. bahwa.;
c. bahwa..;
DIKTUM. TERDIRI ATAS KATA MEMUTUSKAN, MENETAPKAN, DAN NAMA PER UU,
DITULIS DNG HURUF CAPITAL DAN DILETAKKAN DITENGAH MARGIN SERTA DIAKHIRI
DNG TANDA BACA TITIK DUA ( : ). KATA MENETAPKAN DITULIS SETELAH KATA
MEMUTUSKAN DAN DISEJAJARKAN DENGAN KATA
KATA MENIMBANG DAN
MENGINGAT. KATA MENETAPKAN DITULIS DENGAN HURUF KAPITAL. NAMA YANG
TERCANTUM DLM UU DITULIS LAGI TANPA KATA REPUBLIK INDONESIA.

DASAR HUKUM, DIAWALI DNG KATA MENGINGAT, DASAR


HKM MEMUAT DASAR HKM ( LEBIH TINGGI ) PEMB PER UU ,
DASAR HKM DARI UUD 1945 DIYULIS PASAL-PASALNYA DAN
BERAKHIR DNG TANDA BACA TITIK KOMA ( ;) , DASAR
HUKUM BUKAN UUD 1945 CUKUP DITULIS NAMA PER UU NYA.

Contoh :
Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-

Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945 ;

Mengingat

: Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang


Mahkamah Konstitusi ( Lembaran Negara reupublik
Indonesia tahun 23 Nomor 98, Tambahan lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 4316 ) ;

DIKTUM. TERDIRI ATAS KATA MEMUTUSKAN, MENETAPKAN, DAN


NAMA PER UU, DITULIS DNG HURUF CAPITAL DAN DILETAKKAN
DITENGAH MARGIN SERTA DIAKHIRI DNG TANDA BACA TITIK DUA ( : ).
KATA MENETAPKAN DITULIS SETELAH KATA MEMUTUSKAN DAN
DISEJAJARKAN DENGAN KATA KATA MENIMBANG DAN MENGINGAT.
KATA MENETAPKAN DITULIS DENGAN HURUF KAPITAL. NAMA YANG
TERCANTUM DLM UU DITULIS LAGI TANPA KATA REPUBLIK
INDONESIA.

CONTOH :

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPULBIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :

CONTOH DIKTUM MENETAPKAN :

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG
PERIMBANGAN KEUANGAN
ANTARA PEMERINTAH PUSAT
DAN PEMERINTAH DAERAH.

BAHASA PERUNDANG-UNDANGAN
ADALAH BHS INDONESIA YG TUNDUK PADA KAIDAH BHS
INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR.

PEMBENTUKAN KATA
PENYUSUNAN KALIMAT
PENGEJAAN
TEKNIK PENULISAN

BERCIRIKAN :

KEJERNIHAN PENGERTIAN
KELUGASAN
KEBAKUAN
KESERASIAN

CONTOH :
UU NO. ... TAHUN .... TENTANG ......
PASAL ....
SUAMI WAJIB HARUS SELALU MEMBERIKAN
NAFKAH LAHIR DAN BATIN KEPADA ISTRI DAN
ANAK-ANAKNYA.
RUMUSAN YANG LEBIH BAIK :
SUAMI WAJIB MEMBERIKAN NAFKAH LAHIR DAN
BATIN KEPADA ISTRI DAN ANAKNYA.

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG


NOMOR .. TAHUN .....
TENTANG
KEBERSIHAN DAN KEINDANGAN KOTA SEMARANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA SEMARANG
PASAL .
UNTUK MENJAGA KEBERSIHAN KOTA SEMUA ORANG ATAU
SIAPA SAJA DILARANG MEMBUANG SAMPAH DAN ATAU
KOTORAN DI TAMAN KOTA, JALAN RAYA KOTA, TEMPAT
HIBURAN, SEKITAR TEMPAT IBADAH.
UNTUK
MENJAGA
KEBERSIHAN
KOTA
DILARANG
MEMBUANG SAMPAH DAN ATAU KOTORAN DI TAMAN
KOTA, JALAN RAYA KOTA, TEMPAT HIBURAN, SEKITAR
TEMPAT IBADAH.

PASAL 21
SETIAP ORANG ATAU SIAPA SAJA TERBUKTI
MELAKUKAN MEMBUANG SAMPAH DI JALAN
RAYA KOTA, TAMAN KOTA, TEMPAT HIBURAN,
DI
LINGKUNGAN
TEMPAT
IBADAH,
LINGKUNGAN PERKANTORAN, LINGKUNGAN
SEKOLAH AKAN DIKENAKAN SANKSI DENDA
KEPADANYA Rp. 10.000.000 ( SEPULUH
JUTA RUPIAH ).
SETIAP
ORANG
TERBUKTI
MEMBUANG
SAMPAH DI JALAN RAYA KOTA, TAMAN KOTA,
TEMPAT
HIBURAN, LINGKUNGAN TEMPAT
IBADAH,
LINGKUNGAN
PERKANTORAN,
LINGKUNGAN SEKOLAH DIKENAKAN SANKSI
DENDA
Rp. 10.000.000 ( SEPULUH JUTA

Lanjutan
BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANG
A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH
C. TEHNIK PENGACUAN
BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. BR UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA
B. BENTUK RANCANGAN UU PENETAPAN PP PENGANTI UU
MENJADI UU
C. BR UU PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK
MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA RESMI
D. BR UU PERUBAHAN UU
E. BR UU PENCABUTAN UU
F. BR UU PENCABUTAN PP PENGGANTI UU
G. BR PP PENGGANTI UU
H. BR PP
I. BR PERATURAN PRSIDEN
J. BR PERATURAN DAERAH
(Pedoman teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan ke dalam angka 1 sampai angka
2470

UU NO. 10 TAHUN 2004


MERUPAKAN PEDOMAN BAKU
PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN
KEPUTUSAN

Beberapa Pengertian

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan


Peraturan Perundang-undangan yang pada dasamya dimulai dari :
- perencanaan,
- persiapan,
- teknik penyusunan,
- perumusan,
- pembahasan,
- pengesahan,
- pengundangan, dan
- penyebarluasan.
Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga
negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.
Keputusan sebagaimana dinyatakan dalam Penjelasan Pasal 54 adalah : Ketentuan yang
menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada
sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang
bersifat tidak mengatur.
54

Tabel : Sumber Hukum, Jenis dan Herarki Peraturan Perundang-undangan, dan Keputusan
UU No. 10 Tahun 2004 : Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum (Pasal 2, dan Penjelasannya), dan
UUD 1945 merupakan sumber hukum bagi pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah UUD (Pasal 3 dan
Penjelasannya)
Peraturan Perundang-undangan
Pasal 7 ayat (1)

Pasal 7 ayat (4)

Pasal 7 ayat (2)

Jenis dan hierarki


Peraturan Perundangundangan adalah

Peratruan perundangan
perundangan selain
sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
diakui keberadaannya dan mempunyai
kekuatan hukum mengikat sepanjang
diperintahkan oleh Peraturan
Perundang-undangan yang lebih
tinggi.

Peraturan Daerah sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf e
meliputi:
a. Peraturan Daerah
provinsi dibuat oleh

a. UUD 1945;
b. UU/Perpu,
c. PP
d. Perpres
e. Perda

Penjelasan Pasal 7 ayat (4) :


Jenis Peraturan Perundang-undangan
selain dalam ketentuan ini, antara
lain peraturan yang dikeluarkan
oleh :
MPR dan DPR, DPD, Mahkamah
Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan
Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia,
Menteri, kepala badan, lembaga, atau
komisi yang setingkat yang dibentak
oleh undang-undang atau pemerintah
atas perintah undang-undang, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi,
Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten/Kota,
Bupati/Walikota, Kepala Desa atau
yang setingkat.

dewan perwakilan rakyat


daerah provinsi bersama
dengan gubernur;
b. Peraturan Daerah
kabupaten/kota dibuat
oleh dewan perwakilan
rakyat daerah
kabupaten/kota bersama
bupati/walikota;
c. Peraturan
Desa/peraturan yang
setingkat, dibuat oleh
badan perwakilan desa
atau nama lainnya
bersama dengan kepala
desa atau nama lainnya
Penjelasasan : Ayat (2) Huruf a
Termasuk dalam jenis Peraturan
Daerah Provinsi adalah Qanun
yang berlaku di Daerah Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan

Keputusan
Pasal 54
Ketentuan dalam Pasal ini

menyangkut keputusan di bidang


administrasi di berbagai lembaga
yang ada sebelum UU ini
diundangkan dan dikenal dengan
keputusan yang bersifat tidak
mengatur, meliputi .
Keputusan Presiden,
Keputusan Pimpinan MPR dan
Keputusan Pimpinan DPR,
Keputusan Pimpinan DPD,
Keputusan Ketua Mahkamah
Agung, Keputusan Ketua
Mahkamah Konstitusi,
Keputusan Kepala Badan
Pemeriksa Keuangan,
Keputusan Gubernur Bank
Indonesia,
Keputusan Menteri, keputusan
kepala badan, lembaga, atau
komisi yang setingkat, Keputusan
Pimpinan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi,
Keputusan Gubernur, Keputusan
Pimpinan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten/Kota,

TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN DAN KEPUTUSAN
Pasal 44

Penyusunanrancangan peraturan perundang-undangandilakukan sesuai dengan teknik pernyusunan


peraturan perundang-undangan.
Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden.

Pasal 54
Teknik

penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden, Keputusan Pimpinan Majelis


PermusyawaratanRakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, Keputusan Dewan
Perwakilan Daerah, Keputusan Ketua Mahkamah Agung, Keputusan Mahkamah Konstitusi, Keputusan
Kepala Badan Pemeriksa Keuangan, Kebputusan Gubernur Bank Indonesia, Keputusan Menteri,
keputusan kepala badan, lembaga, atau komisi yang setingkat, Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi, Keputusan Gubernur, Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota, Keputusan Bupati/Walikota, Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus
berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini.

TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN DAN KEPUTUSAN
Pasal 44

Penyusunanrancangan peraturan perundang-undangandilakukan sesuai dengan teknik pernyusunan


peraturan perundang-undangan.
Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden.

Pasal 54
Teknik

penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden, Keputusan Pimpinan Majelis


PermusyawaratanRakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, Keputusan Dewan
Perwakilan Daerah, Keputusan Ketua Mahkamah Agung, Keputusan Mahkamah Konstitusi, Keputusan
Kepala Badan Pemeriksa Keuangan, Kebputusan Gubernur Bank Indonesia, Keputusan Menteri,
keputusan kepala badan, lembaga, atau komisi yang setingkat, Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi, Keputusan Gubernur, Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota, Keputusan Bupati/Walikota, Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus
berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini.