Anda di halaman 1dari 36

Tutorial

Nama : Azmi Yunita


NIM : H2A012006

SASBEL
1. Anatomi (sirkulasi darah willisi,
sistem saraf cranial)
2. Fisiologi (jaras, mekanisme reflek)
3. Biokimia (neotransmiter pada
ganglia basalis)

Step 7
1. Anatomi
Circulus arteriosus willisi (circulus arteriosus
cerebri) adalah sistem anastomotic arteri yang
berada di dasar otak. "Circulus" dinamai oleh
muridnya Richard Lower sesuai dengan nama
gurunya, Thomas Willis. Circulus arteriosus willisi
mengelilingi batang kelenjar hipofisis dan
menyediakan komunikasi penting antara suplai
darah dari otak depan dan otak belakang (yaitu,
antara karotid internal dan vertebraselular sistem
setelah penghapusan koneksi embrio primitif)

Circulus arteriosus willisi terbentuk ketika A.carotis


interna (ICA) masuk rongga tengkorak bilateral dan
membagi ke dalam arteri serebri anterior (ACA) dan
A.cerbri media (MCA). Arteri serebri anterior kemudian
disatukan oleh arteri anterior berkomunikasi (ACOM).
Koneksi ini membentuk setengah bagian depan
(sirkulasi anterior) dari circulus arteriosus willisi.
Posterior, arteri basilar, yang dibentuk oleh arteri
vertebralis kiri dan kanan, cabang ke kiri dan kanan
A.cerebri posterior (PCA), membentuk sirkulasi
posterior. Para PCAs menyelesaikan circulus arteriosus
willisi dengan bergabung dalam sistem karotid internal
anterior melalui berkomunikasi posterior (PCOM) arteri

Arteria Carotis Interna


dimulai pada bifurcatio arteria carotis
communis
terdapat dilatasi setempat yang disebut
sinus caroticus
Arteri carotis interna lalu berjalan naik
menuju ujung medial sulcus lateralis
cerebri
di sini, arteria carotis interna terbagi dua
menjadi arteri cerebri anterior dan arteria
cerebri media.

CABANG-CABANG PARS CEREBRALIS


1. Arteria ophthalmica
memperdarahi mata dan struktur orbita
lainnya, daerah frontal kulit kepala, sinus
ethmoidalis, sinus frontalis, dan dorsum
nasi
2. Arteria communicans posterior
berjalan ke arah posterior di atas nervus
oculomotorius untuk bergabung dengan
arteria cerebri posterior sehingga ikut
membentuk circulus Willisi

3. Arteria choroidea
Arteria ini membentuk cabang kecil untuk strukturstruktur di sekitarnya, termasuk crus cerebri, corpus
geniculatum laterale, tractus opticus, dan capsula
interna.

4. Arteria cerebri anterior

Cabang kortikal memperdarahi seluruh permukaan


medial cortex cerebri di bagian posterior hingga
mencapai sulcus parieto occipitalis,
memperdarahi "area tungkai" gyrus precentralis
Cabang sentral memperdarahi bagian nucleus
lentiformis, nucleus caudatus, dan capsula interna.

5. Arteria cerebri media

cabang terbesar arteria carotis interna


berjalan ke lateral di dalam sulcus lateralis
cerebri
memperdarahi seluruh permukaan lateral
hemispherium, kecuali daerah yang disuplai
oleh arteria cerebri anterior, polus occipitalis,
dan permukaan inferolateral hemispherium
cerebri, yang diperdarahi oleh arteria cerebri
posterior
memperdarahi seluruh daerah motorik kecuali
"area tungkai"

Saraf cranial
1. Nervus Olfactorius (Saraf Otak I)
Nervus olfactorius muncul dari sel-sel reseptor saraf di dalam membran
mukosa olfaktori yang terletak di rongga hidung bagian atas di cranial
conchae superior. Sel reseptor olfaktori tersebar di antara sel penyokong.
Setiap sel reseptor terdiri dari sel-sel saraf bipolar kecil dengan processus
perifer yang kasar yang berjalan ke permukaan membran dan sebuah
processus sentral yang halus. Dari processus perifer yang kasar timbul
cilia-cilia pendek, rambut olfactorius yang menembus ke dalam mucus
yang menutupi permukaan membran mukosa. Tonjolan serabut-serabut
ini bereaksi terhadap bau di udara dan menstimulasi
sel-sel olfactorius.
Processus sentralis yang halus membentuk
serabut saraf olfactorius. Berkas serabut-serabut
saraf ini masuk ke bulbus olfactorius melalui
lubang-lubang di lamina cribrosa os ethmoidale.
Serabut-serabut nervus olfactorius tidak bermielin
dan diliputi oleh sel Schwann (Snell, 2002).

2. Nervus Opticus (Saraf Otak II)


Serabut- serabut N. II adalah akson-akson sel di lapisan
ganglionik retina. Serabut tersebut berkonvergensi pada discus
opticus dan keluar dari mata, pusatnya sekitar 3 atau 4 mm dari
sisi nasal sebagai N. II. Serabut-serabut N.II bermielin,
namun selubungnya dibentuk
oleh sel oligodendrosit bukan
sel Schwann. Oleh karena itu,
N. II disamakan dengan traktus saraf
di susunan saraf pusat.
Saraf otak II meninggalkan rongga orbita
melalui canalis opticus dan bergabung
dengan nervus opticus sisi kontralateral
untuk membentuk chiasma opticum
(Snell, 2002).

3. Nervus Oculomotorius (Saraf Otak III)


Nervus oculomotorius mempunyai dua nuklei motorik, yaitu
nukleus motorik utama dan nukleus parasimpatis asesorius
(nukleus Edinger-Westphal). Nervus oculomotorius muncul dari
permukaan anterior mesencephalon. Nervus ini
melintas kedepan di antara
arteria cerebri posterior dan
arteria cerebella superior.
Selanjutnya, nervus ini berjalan
ke dalam fossa crania media
di dinding lateral sinus cavernosus.
Disini, nervus oculomotorius terbagi
menjadi ramus superior dan inferior
yang memasuki rongga orbita melalui
Fisura orbitalis superior (Snell, 2002).

4. Nervus Trochlearis (Saraf Otak IV)


Nervus trochlearis merupakan satu-satunya saraf kranial yang
keluar melalui dorsal batang otak (Satyanegara, 1998).
Nervus trochlearis muncul
dari mesencephalon dan
segera menyilang saraf
senama sisi yang berlawanan.
Nervus trochlearis berjalan
ke depan melalui fossa crania media
pada dinding lateral sinus cavernosus
dan masuk rongga orbita melalui
fisura orbitalis superior (Snell, 2002).

5. Nervus Trigeminus (Saraf Otak V)

Porsio mayor atau bagian sensorik mempunyai sentral dari gangguan trigeminus
(ganglion semilunaris Gasseri) yang berkaitan dengan ganglion spinalis dan
mengandung sel-sel ganglion pseudo-unipolar. Akson perifer sel ini berhubungan
dengan reseptor rasa raba, diskriminasi, tekanan, nyeri, dan suhu. Processus
sentralnya memasuki pons dan berakhir di nukleus sensorik prinsipalis (raba dan
diskriminasi) serta di nukleus spinalis (rasa nyeri dan suhu).
Ganglion Gasseri terletak
di suatu cekungan (impresio trigemini)
pada bagian rostral os petrosus,
di luar sinus kavernosus posterolateral.
Akson-akson perifer neuron ganglion
yang menghantarkan impuls sensorik
ini terdiri dari tiga divisi utama yaitu:
n. oftalmikus (n.V1) yang memasuki
rongga tengkorak melalui
fisura orbitalis superior, n. maksilaris (n. V2)
yang masuk melalui foramen rotundrum,
dan n. mandibularis yang masuk melalui foramen ovale.
Porsio minor atau bagian motorik n.V mempunyai nucleus pada tegmentum pons yang
terletak di sebelah medial nukleus sensorik prinsipalis. Saraf motorik ini meninggalkan
tengkorak bersama n. mandibularis dan menginervasi otot-otot masseter, temporal,
pterigoid lateralis dan medialis, milohioid, digastrikus anterior, dan tensor veli palatine
(Satyanegara, 1998).

6. Nervus Abducens (Saraf Otak VI)


Nervus abducens adalah saraf motorik kecil yang
mempersarafi musculus rectus lateralis bola mata. Serabutserabut nervus abducens melintas ke anterior melalui pons
serta muncul di alur antara tepi bawah pons dan medulla
oblongata.
Nervus ini akan berjalan
ke depan melalui
sinus cavernosus serta
terletak di bawah dan
lateral a. carotis interna.
Selanjutnya, saraf ini masuk
ke orbita melalui fisura orbitalis superior.
Nervus abducens berfungsi
motorik murni dan mempersarafi
musculus rectus lateralis (Snell, 2002).

7. Nervus Facialis dan Intermedius (Saraf Otak VII)


Nervus facialis mempunyai dua subdivisi, yaitu saraf yang mengandung
komponen motorik dan menginervasi otot-otot ekspresi wajah, dan n.
intermedius yang mengandung aferen otonom, somatik, dan eferennya.
Nukleus motorik n. facialis di bagian ventrolateral tegmentum pons dekat
medulla oblongata. Pada mulanya, akson neuron pertamanya berjalan
menuju dasar ventrikel IV dekat garis tengah, dan kemudian melingkari
nucleus n.VI terus ke arah sudut serebelopontomedularis tepat di depan
n.VIII. Lutut n.VII akan membentuk kolikulus fasialis pada dasar ventrikel IV
tepat di atas stria medularis horizontalis.
N. intermedius keluar di antara
n. VII dan n. VIII. Ketiganya akan
berlanjut masuk ke dalam
kanalis akustikus internus, dan di dalamnya,
n.VII dan intermedius akan memisahkan diri
ke lateral dalam kanalis fasialis sampai
ganglion genikulatum. N. facialis akan
meninggalkan tengkorak melalui
foramen stilomastoideus dan kemudian
dari sini serabut-serabut motoriknya
akan tersebar di otot-otot wajah
Gangguan pada nervus fasialis terdiri
atas paralisa perifer, paralisa nuklear,
dan paralisa supranuklear (Satyanegara, 1998).

8. Nervus Vestibulocochlearis (Saraf Otak VIII)


Saraf ini terdiri dari dua bagian yang berbeda, yaitu nervus vestibularis
(keseimbangan, posisi, dan gerakan kepala) dan nervus cochlearis
(auditorius), yang berperan untuk transmisi informasi aferen dari telinga
dalam menuju susunan saraf pusat.
Nervus vestibularis mengatur tiga sistem, yaitu keseimbangan sistem
vestibuler, sistem propioseptif dari otot dan sendi serta sistem optik.
Sistem keseimbangan terdiri dari labirin (yang mencakup utrikulus,
sakulus, dan kanalis semisirkularis), n, vestibularis, dan jaras vestibuler
sentral. Organ reseptor keseimbangan adalah macula statika (yang berada
di dalam labirin untuk mengirimkan impuls-impuls statik dan informasi
tentang posisi kepala) dan Krista ampularis (terletak di dalam ampula
kanalis semisirkularis sebagai reseptor kinetic). Impuls yang diterima oleh
reseptor ini akan dihantarkan oleh akson perifer neuron bipolar dari
ganglion vestibularis (Scarpa) yang terletak di meatus akustikus internus,
dan kemudian akan menuju ke sentral sebagai n. vestibularis. Saraf ini
berjalan bersama dengan nervus cochlearis melalui meatikus akustikus
internus, ke sudut serebelo-pontin, dan masuk ke batang otak mencapai
nukleus vestibularis yang terletak di dasar ventrikel IV. Kompleks nucleus
vestibularis terdiri dari nucleus vestibularis superior (Bechterew), nucleus
vestibularis lateralis (Deiter), nucleus vestibularis medialis (Schwalbe) dan
nucleus vestibularis inferior (Roller) (Satyanegara, 1998).

9. Nervus Glossopharyngeus (Saraf Otak IX)


Nervus glossopharyngeus memiliki tiga nukleus yakni nukleus motorik
utama, nukleus parasimpatis dan nukleus sensorik (Snell, 2002). Nervus
glossopharyngeus bersama dengan n.X, dan n. XI meninggalkan
cranium melalui foramen jugularis, yang pada foramen tersebut
terdapat dua ganglion yaitu: ganglion superior intrakranial dan ganglion
inferior ekstrakranial. Setelah keluar melalui foramen ini, n. IX akan
berjalan di antara a. carotis interna dan v. jugularis interna, malalui m.
stilomastoideus menuju ke bawah lidah, dan mempersarafi mukosa
farings, tonsil, dan sepertiga posterior lidah (Satyanegara, 1998).
Saraf ini mempunyai cabang, yakni timpanikus, cabang stilofaringeus,
cabang faringeus, cabang sinus karotikus, dan linguaris. Adapun
kelainan pada n. glossopharyngeus dapat berupa paralisa atau
neuralgia, yang umumnya juga disertai gangguan n. X dan n. XI (jarang
berupa kerusakan tunggal )

10. Nervus Vagus (Saraf Otak X)


Saraf vagus mempunyai dua buah ganglia yaitu: ganglion superior (jugularis)
dan ganglion inferior (nodosum). Dari ganglion nodosum (inferior), saraf ini
berjalan ke kaudal sepanjang a. carotis interna dan carotis communis dan
mencapai mediastinum melalui aperture toraks superior. N. X kanan akan
melangkahi a. subklavia, sedangkan yang kiri akan menyilang arkus aorta.
Selanjutnya, keduanya akan menempel di esofagus (kanan di aspek posterior
dan kiri di aspek anterior) membentuk pleksus esofagus.
Cabang terminalnya akan masuk
ke kavitas abdomen melalui
hiatus esofagus diafragmatika.
Dalam perjalanannya,
n. X mempunyai cabang-cabang
yang terdiri atas cabang dura,
cabang aurikuler, cabang faringeus,
cabang laringeus superior,
cabang laringeus rekuren,
cabang kardiak-servikalis superior
dan kardiak torasis, cabang bronkhialis,
dan cabang gastrikus (anterior dan posterior).

11. Nervus Accessorius (Saraf Otak XI)


Saraf ini mempunyai dua cabang yaitu cabang kranial dan
cabang spinal. Cabang kranialnya adalah akson-akson
neuron nukleus ambigus (yang sebenarnya merupakan
milik n.X) yang mempersarafi otot-otot intrinsik laring.
Cabang spinal merupakan serabut motorik dari bagian
lateral kornu anterior segmen servikal (1-5/6) untuk
membantu pernafasan otot trapezius dan
sternokleidomastoideus. Cabang ini menghantarkan impuls
volunter melalui traktus kortiko-spinalis, impuls postural
melalui traktus ekstrapiramidalis, refleks melalui traktus
vestibule-spinalis dan traktus tekto-spinalis serta arkus
inter-intra- segmental.

12. Nervus Hypoglossus (Saraf Otak XII)


Nukleus saraf otak XII terletak di medulla oblongata di masing-masing sisi garis
tengah dekat dasar ventrikel IV (trigonum hipoglosi). Masing-masing nukleus
tersusun dari beberapa kelompok motorneuron dan masing-masing kelompok
akan mempersarafi bagian-bagian otot lidah. N. hipoglosus merupakan saraf
eferen somatik di mana aksonnya berjalan ke arah ventral sulkus lateralis
anterior di antara piramis dan oliva inferior dan keluar dari tengkorak melalui
kanalis hipoglosi (yang terletak di tepi lateral foramen magnum). Di dalam leher
nervus berjalan di antara a. karotis interna dan vena jugularis interna, diiringi
oleh serabut-serabut dari tiga servikal atas (ansa hipoglosi). N. XII mempersarafi
otot-otot tulang hyoid (tirohioid, sternohioid, dan omohioid) dan otot-otot lidah
(stiloglosus, hioglosus, dan genioglosus).
Nukleus n. XII menerima impuls bilateral namun sebagian besar dari traktus
kortikonuklearis kontralateral dan ada serabut-serabut (berasal dari formasio
retikularis, nukleus traktus solitaries, otak tengah, nukleus trigeminus) yang
merupakan komponen dari lengkung reflek untuk mengunyah, menelan, dan
mengisap. Gangguan n. XII dapat berupa gangguan supranuklearis, gangguan
nukleus dan gangguan perifer.

2. Fisiologi
JARAS SISTEM SARAF
Secara fungsi klinis tractus descendens dibagi
menjadi tractus pyramidals dan extrapyramidals.
Tractur pyramidals terdiri dari tractus corticospinal
dan tractus corticobulbar. Tractus extrapyramidals
dibagi menjadi lateral pathway dan medial
pathway. Lateral pathway terdiri dari tractus
rubrospinal dan medial pathway terdiri dari tractus
vestibulospinal, tractus tectospinal dan tractus
retikulospinal. Medial pathway mengontrol tonus
otot dan pergerakan kasar daerah leher, dada dan
ekstremitas bagian proksimal (Martini, 2006).

Tractus Corticospinal
Serabut tractus corticospinal berasal dari sel pyramidal di
cortex cerebri. Dua pertiga serabut ini berasal dari gyrus
precentralis dan sepertiga dari gyrus postcentralis. Serabut
desendens tersebut lalu mengumpul di corona radiata,
kemudian berjalan melalui crus posterius capsula interna. Pada
medulla oblongata tractus corticospinal nampak pada
permukaan ventral yang disebut pyramids. Pada bagian caudal
medulla oblongata tersebut 85% tractus corticospinal
menyilang ke sisi kontralateral pada decussatio pyramidalis
sedangkan sisanya tetap pada sisi ipsilateral walaupun
akhirnya akan tetap bersinaps pada neuron tingkat tiga pada
sisi kontralateral pada medulla spinalis. Tractus corticospinalis
yang menyilang pada ducassatio akan membentuk tractus
corticospinal lateral dan yang tidak menyilang akan
membentuk tractus corticospinal anterior (Snell, 2002)

Tractus Corticobulbar
Serabut tractus corticobulbar mengalami
perjalanan yang hampir sama dengan tractus
corticospinal, namun tractus corticobulbar
bersinaps pada motor neuron nervus cranialis III,
IV, V, VI, VII, IX, X, XI, XII. Tractus coricobulbar
menjalankan fungsi kontrol volunter otot skelet
yang terdapat pada mata, dagu, muka dan
beberapa otot pada faring dan leher. Seperti
halnya dengan tractus corticospinal, tractus
corticobulbar pun mengalami persilangan namun
persilangannya terdapat pada tempat keluarnya
motor neuron tersebut.

Mekanisme Gerak Reflek


Pada gerak repleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan
pintas, yaitu dimulai dari diterimanya impuls oleh sel saraf
penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak kemudian
langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk
disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan
pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat
dibedakan atas repleks otak bila saraf penghubung
(asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip
atau mempersempit pupil bila ada sinar, dan repleks
sumsum tulang belakang bila sel saraf penghubung berada
di dalam sumsum tulang belakang, misalnya repleks pada
lutut.
Jalur perjalanan gerak refleks sebagai berikut.
RangsangNeuron sensorikKonektor { Sumsum
tulang belakang Otak}Neuron motorikEfektor

Gerak Refleks
Refleks adalah suatu gerakan yang tidak sengaja dilakukan
yang merupakan respon dari system saraf terhadap stimulus.
Gerak refleks terdiri dari 5 komponen. Jika satu saja dari 5
komponen ini tak terpenuhi, maka respon refleks terhadap
stimulus akan diubah. Komponen tersebut adalah:
1. Reseptor
Fungsi utamanya adalah mentransduksikan energi lingkungan dan
mengubahnya menjadi aksi potensial pada saraf sensori.
Sebagai contoh adalah reseptor dari retina mentransduksikan
cahaya, pada kulit akan mentransduksikan panas, dingin, tekanan.
Rangsangan sensorik yang peka terhadap suatu rangsangan
misalnya kulit
2. Neuron aferen (sensoris)
yang dapat menghantarkan impuls menuju kesusunan saraf pusat
(medula spinalis-batang otak)
3. Pusat saraf (pusat sinaps)
tempat integrasi masuknya sensorik dan dianalisis kembali ke
neuron eferen
4. Neuron eferen (motorik)
menghantarkan impuls ke perifer
5. Alat efektor

videoplayback_3.FLV

UMN dan LMN

Berdasarkan letak anatomis, motoneuron pada


sistem saraf somatis terbagi menjadidua, yakni
Upper Motorneuron (UMN) dan Lower Motorneuron
(LMN)
Uppermotorneuron adalah semua neuron yang
menyalurkan impuls motorik ke lowermotorneuron
dan terbagi menjadi susunan piramidalis dan
extrapiramidalis.Uppermotorneuron berjalan dari
korteks serebri sampai dengan medulla spinalis
sehingga kerjadari upper motorneuron akan
mempengaruhi aktifitas dari lower motorneuron
(Sidharta,2009).

Lower motorneuron adalah neuron-neuron yang


menyalurkan impuls motorik pada bagian perjalanan terakhir
ke sel otot skeletal, hal ini, yang membedakan dengan
uppermotorneuron. Lower motorneuron mempersarafi
serabut otot dengan berjalan melaluiradix anterior, nervus
spinalis dan saraf tepi. Lower motorneuron memiliki dua
jenis yaitualfa-motorneuron memiliki akson yang besar, tebal
dan menuju ke serabut otot ekstrafusal(aliran impuls saraf
yang berasal dari otak/medulla spinalis menuju ke efektor),
sedangkangamma-motorneuron memiliki akson yang ukuran
kecil, halus dan menuju ke serabut ototintrafusal (aliran
impuls saraf dari reseptor menuju ke otak/medulla spinalis).
Begituhalnya dengan nervi cranialis merupakan dari LMN
karena nervus-nervus cranialis inisudah keluar sebelum
medulla spinalis yaitu di pons dan medulla oblongata
(Sidharta,2009 ; Snell, 2007).

Adapun tanda-tanda kelumpuhan


UMN ialah:

tonus otot meninggi atau hipertonia


hiperefleksia
klonus
reflek patologik
tidak ada atrofi pada otot yang
lumpuh
refleks autosomal spinal

Tanda-tanda kelumpuhan LMN:


seluruh gerakan, baik yang voluntar maupun yang
reflektorik tidak dapat dibangkitkan. Ini berarti
bahwa kelumpuhan disertai oleh:
-hilangnya reflek tendo
-tidak adanya reflek patologik
karena lesi LMN itu, maka bagian eferen lengkung
refleks berikut gamma loop tidak berfungsi
sehingga:
-tonus otot hilang
musnahnya motor neuron berikut aksonnya
-atrofi otot cepat terjadi

3. Biokomia
Ada tiga utama neotransmitter yang terlibat dalam ganglia basal.
Dopamin (neuromodulatory neurotransmitter)
yang digunakan oleh nigra substantia pars compacta (SN pc) untuk
selektif memodulasi area berekor / putamen, menggairahkan area
berekor / putamen dengan D 1 reseptor untuk mempromosikan
jalur langsung, menghambat area berekor / putamen dengan D 2
reseptor untuk menghambat jalur tidak langsung
Glutamat (neurotransmitter rangsang)
Proyek inti subthalamic glutamat untuk merangsang thalamus
ventrolateral
Proyek thalamus ventrolateral glutamat merangsang primer
lokal korteks motor
GABA (neurotransmitter Hambat)
Berekor / striatum (langsung) proyek GABA untuk menghambat
GP i
GP i memproyeksikan GABA untuk menghambat inti
ventrolateral
Berekor / striatum (tidak langsung) memproyeksikan GABA

Neurotransmitter
Komunikasi antar neuron terjadi melalui penghubung
antar neuron atau sinaps. Sebuah sinaps bukan
merupakan hubungan langsung, tetapi terdapat celah
pemisah (celah sinaps) yang harus dilewati oleh impuls
yang dihantarkan. Meskipun dalam beberapa bagian
sistem saraf kegiatanelektrik satu neuron dapat
langsung merangsang neuron lainnya, namun pada
sejumlah besar kasus terdapat senyawa kimia yang
berfungsi sebagai agen pengantar. Ketika sebuah
impuls saraf mencapai ujung axon, suatu
senyawa kimia yang disebut neurotransmitter
dilepaskan dan masuk ke dalam celah sinaps.

Daftar Pustaka
1. Singgih, S. A., 2003. Sistem Saraf Sebagai Sistem Pengendali Tubuh.
Departemen Ilmu Faal FKUI. Jakarta
2. Lumbantobing S, Neurologi Klinik, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2007.
3. Mahar Marjono, Neurologi Klinis Dasar, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta,
2008.
4. Protap SMF Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin, Makassar, 2000.
5. Snell RS. Clinical neuroanatomy: 7th edition. Philadelphia: Wolters
Kluwer Health; 2010
6. Budiman G. Darmawan G. Basic neuroanatomical pathways: 2nd
edition. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2009
7. Ganong, 1995, Review of Medical Physiology, Philadelphia
8. Gibson, 1995, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, Jakarta,
EGC