Anda di halaman 1dari 24

Kelompok II

IDA KHOLIFATURROKHMAH
REZA SEBASTIAN PRAKASA
BELIA DWI HAPSARI
NUGRAHENI
BAYU RACHMAWAN

Kasus
Seorang

wanita, 53 tahun, ibu rumah


tangga. Datang ke IRM dengan keluhan :
nyeri pada lutut kanannya. Nyeri
dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Rasa
sakit dirasakan saat o.s mengerjakan
pekerjaan
rumah
tangga,
seperti
memasak, menyapu, mencuci pakaian,
dll. Nyeri berkurang saat istirahat.

Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi


degeneratif dengan etiologi kompleks yang
mengakibatkan hilangnya fungsi normal
akibat kerusakan kartilago artikuler.
Penyakit ini ditandai oleh kehilangan tulang
rawan
sendi
secara
progresif
dan
terbentuknya tulang baru pada trabekula
subkondral dan tepi tulang (osteofit)
Sering terkena adalah ujung jari tangan, ibu
jari, leher, punggung bawah, lutut,dan
panggul.

Faktor Resiko
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Umur
Jenis kelamin
Suku bangsa
Genetik
Obesitas
Nutrisi
Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga

Manifestasi Klinik
Pada
umumnya
penderita
OA
mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah
berlangsung lama, tetapi berkembang secara
perlahan- lahan. Adapun keluhan yang
biasanya muncul adalah sebagai berikut:
1. Nyeri sendi
2. Hambatan gerak sendi
3. Kaku pagi
4. Krepitasi
5. Pembesaran sendi
6. Perubahan gaya berjalan

Diagnosis
Diagnosis OA ditegakkan berdasarkan anamnesis,
gambaran klinis, dan radiologis. Visual Analog Scale (VAS)
adalah metode yang akurat untuk mengukur rasa nyeri.
Diagnosis OA lutut ditetapkan berdasarkan kriteria
Subcommittee American College of Rheumatology (ACR).
Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
1. Nyeri lutut
2. Memenuhi 3 dari 6 hal berikut:
a. Umur > 50 tahun
b. Kaku sendi < 30 menit
c. Krepitasi
d. Nyeri tulang
e. Pembengkakan tulang (bone enlargement)
f. Tidak teraba hangat pada perabaan

3. Derajat kerusakan sendi berdasarkan gambaran


radiologis kriteria Kellgren & Lawrence.
Derajat 0 : Radiologi normal
Derajat 1 (meragukan OA) : Penyempitan celah
sendi meragukan dan kemungkinan adanya osteofit
Derajat 2 (OA minimal) : Osteofit moderat dan
multipel,penyempitan celah sendi yang jelas
Derajat 3 (OA moderat) : Osteofit moderat dan
multipel, penyempitan celah sendi, sklerosis moderat
dan kemungkinan deformitas kontur tulang
Derajat 4 (OA berat) : Osteofit yang besar,
penyempitan celahsendi yang nyata, sklerosis yang
berat dandeformitas kontour tulang yang nyata

Gambaran Radiograf
Penyempitan

celah sendi yang


seringkali asimetris (lebih berat pada
bagian yang mengandung beban)
Peningkatan densitas (sklerosis) tulang
subkondral
Kista tulang
Osteofit pada pinggir sendi
Perubahan struktur anatomi sendi

Rehabilitasi
Medik pada
Osteoartritis

Tujuan Rehabilitasi
Medik
Tujuan rehabilitas medik pada osteoartritis.

1.
2.
3.
4.
5.

Mengurangi nyeri dan spasme


Memperbaiki lingkup gerak sendi
Meningkatkan kekuatan otot
Memperbaiki fungsi
Meningkatkan kualitas hidup

Program Rehabilitas medik pada osteoartritis


1.Fisioterapi:

Terapi panas, terapi dingin, terapi


listrik. Laser, latihan.
2.Ortrotik: terapi okupasi, psikologi, sosial medik.

Terapi Panas dengan SWD


(Short Wave Diathermy)
SWD

menghasilkan panas melalui


perubahan
energi
elektromagnetik
menjadi energi panas.
Alat
tersebut
tersedia
bermacam
frekwensi:13,56MHz; 27,12 MHz; 48,68
MHz
Lama pemberian 15-20 menit.

Efek Panas yang


Diharapkan
Mengurangi

rasa nyeri dengan jalan


meningkatkan nilai ambang nyeri ujung
saraf sensoris
Meningkatkan sifat viskoelastik jaringan
kolagen sehingga mengurangi kekakuan
sendi
Mengurangi spasme otot, memperbaiki
sirkulasi/suplai darah di daerah nyeri

Latihan Sendi
A.

Latihan mobiltas sendi


Untuk
menambah/mempertahankan
lingkup
gerak
sendi,mencegah
terjadinya
kontraktur,mencegah udem
Latihan pasif harus hati-hati karena dapat
menambah radang. Jika berlebihan pada sendi
dengan efusi sedang atau berat dapat merobek
kapsul sendi dan juga tidak dianjurkan bila ada
kerusakan ligamen.
Latihan aktif dapat berupa aktif dibantu
(assisted), aktif bertahan (resisted), dan bebas
(free)

B. Latihan penguatan otot


Bertujuan untuk mempertahankan kekuatan otot
yang ada dan menguatkan otot yang lemah.
3 metode:
1.Isometrik (Kontraksi otot statis)= untuk mencegah atofi
otot sekitar sendi yang nyeri bila digerakkan
2.Isotonik = latihan berupa kontraksi konsentrik dan
eksentrik. Konsentrik memerlukan pembebanan otot pada
waktu memendek, eksentrik membebani otot selama
mengalami pemanjangan
3.Isokinetik(kecepatan konstan)= meliputi latigan gerakan
sendi dengan kecepatan kosntan yang telah ditentukan
sebelumnya dan merupakan kontraindikasi pada penderita
dengan gangguan lig.krusiatum

Indeks status
fungsionalJette(modifkasi
Fisher)
Pertama kali digunakan dalam The Pilot
Gerlatric Arthritis Program, Winconsin USA tahun
1977. Berdasarkan indeks ini, status fungsional
terdiri dari 3 dimensi yang paling berkaitan,yaitu:
Nyeri : derajat nyeri saat melakukan aktivitas.
Kesulitan: derajat kesukaran untuk melakukan
aktivitas.
Ketergantungan:
derajat
ketergantungan
seseorang untuk melakukan aktivitas.

Konsep ini dengan tujuan terapi beberapa


penyakit
menahun
yaitu
mengurangi
ketergantungan,
mengurangi
kesulitan
dalam aktivitas dan mengatasi nyeri. Untuk
menilai masing-masing dimensi, salah
satunya menggunakan pilihan ganda yaitu
masing-masing dimensi dibagi 5 skala
Jette(untuk dimensi ketergantungan dan
kesulitan) dan 4 skala Jette untuk dimensi
nyeri:

Nyeri:

1= Tidak nyeri
2= Nyeri ringan
3= Nyeri sedang
4= Sangat nyeri
Derajat Kesulitan:
1= sangat mudah
2= agak mudah
3= tidak mudah tetapi juga tidak sulit
4= agak sulit
5= sangat sulit
Derajat ketergantungan:
1=tanpa bantuan
2= memerlukan bantuan alat
3= memerluksn bantuan orang
4= memerlukan bantuan alat dan orang
5= tidak dapat melakukan aktivitas

Aktivitas yang dinilai pada indeks status


fungsional Jette (yang sudah dimodifikasi oleh
Fisher) meliputi;
1.Berdiri/bangkit dari posisi duduk.
2.Berjalan 50 kaki (15m)
3.Naik tangga 3 step
Masing-masing aktivitas tersebut dinilai
mengenal: derajat nyeri,derajat kesulitan dan
ketergantungan dengan skala penilaian
seperti tersebut diatas.

Daftar Pustaka
1.

2.
3.

4.

Soeroso J, Harry I, Handono K, dkk. Osteoartritis. Dalam : Aru WS,


editor.Buku ajar penyakit dalam. Jilid II, Edisi IV, Jakarta. Pusat
Penerbitan IPD-FKUI, 2007: 1195-1201.
.Asviarty, Nuhani SA, Tulaar A, dkk. Osteoartritis. Dalam : Standar
operasional prosedur. DEPKES. Jakarta, 2000; 15-18.
Eka Imbawan IGN, Tjokorda RP, Gede K. Korelasi kadar matrix
metalloproteinase 3 (MMP-3) dengan derajat beratnya osteoartritis
lutut. J Peny Dalam, 2011; 12(3): 181-192.
NICE. Osteoartritis: The care and management of osteoartritis in
adults.National institue for Health and Clinical Excellence. 2008.

TERIMA
KASIH