Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

FRAKTUR PELVIS
Pembimbing :
dr Aris Handoko, Sp.OT (K) Hip & Knee

Disusun oleh :
Provita Rahmawati
G4A014094
SMF ILMU BEDAH
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

BAB 1 PENDAHULUAN

Pada tahun 2009 - 2011 terdapat 2704 kejadian


fraktur dalam 100.000 penduduk di amerika
fraktur pelvis 18.3% sedangkan fraktur digiti
pedis 61.5% (Amin, 2014).
Pada fraktur pelvis insidensi cedera jaringan
lunak dan risiko perdarahan cukup tinggi (Apley,
2010)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


A.

Epidemiologi

. Kejadian

fraktur pelvis di USA 37 kasus per


100.000 penduduk per tahun.
. Fraktur pelvis banyak terjadi pada individu pada
rentang usia 15-28 tahun.
. Pada usia <35 tahun didapatkan kasus pria lebih
banyak Sedangkan pada usia >35 tahun lebih
banyak pada wanita (Sivananthan, 2012).

B. Etiologi

Fraktur pelvis terjadi abibat adanya energi lemah


dan energi kuat.
Fraktur energi lemah fraktur yang terjadi pada
atlet maupun akibat terjatuh.
Fraktur energi kuat kecelakaan kendaraan
bermotor, meliputi kecelakaan motor, pejalan kaki
yang tertabrak oleh sepeda motor yang kemudian
terjatuh (Sivananthan, 2012).

C. Anatomi

D. Fraktur
Fraktur suatu patahan pada kontinuitas
struktur tulang. Fraktur dapat terjadi akibat
peristiwa trauma tunggal, tekanan yang berulangulang, maupun kelemahan abnormal pada tulang
(Apley, 2010).

E. Tipe Trauma Pelvis


1.
2.
3.
4.

Fraktur yang terisolasi


Fraktur pada cincin pelvis
Fraktur asetabulum
Fraktur pada sacrum dan coxcigis

1.

Fraktur yang terisolasi

. Fraktur

yang terisolasi fraktur avulsi, fraktur


langsung.
. Fraktur avulsi biasanya terjadi pada atlet.
. Fraktur ini terjadi akibat tulang yang tertarik
oleh karena kontraksi otot yang hebat.
Sartorius spina iliaka anterior superior
rectus femoris spina iliaka anterior inferior
adductor longus pubis
urat-urat lutut bagian iskium (Apley, 2010).

FRAKTUR AVULSI

2. Fraktur pada cincin pelvis


cincin pelvis alami fraktur patahan kedua.
Patahan kedua sering tidak terlihat, hal ini dapat
dikarenakan patahan tersebut tereduksi dengan
segera atau karena sendi-sendi sacroiliaka hanya
mengalami kerusakan sebagian (Apley, 2010).

3. Fraktur asetabulum

Fraktur asetabulum terjadi bila caput femoris


terdorong ke dalam pelvis.
pukulan pada sisi tersebut (jatuh dari
ketinggian) pukulan pada bagian depan lutut
(biasanya pada cedera dashboard).

Terdapat 4 tipe fraktur pada asetabulum yaitu


A. fraktur kolumna anterior
B. fraktur kolumna posterior
C. fraktur melintang
D. fraktur kompleks (Apley, 2010).

DISLOKASI POSTERIOR PANGGUL

4. Fraktur pada sacrum dan cocigis


terjadi akibat adanya pukulan dari belakang,
jatuh pada tulang ekor yang dapat mematahkan
sacrum atau cocigis atau menyebabkan dislokasi
sendi antara keduanya (Apley, 2010).

f. Fraktur stabil dan fraktur tidak stabil

Klasifikasi cedera cincin pelvis oleh Burgess dan Young


1. Lateral compression (LC)
LC 1: fraktur rami pubik transversal dan kompresi sacrum
ipsilateral
LC 2: fraktur rami pubik transversal dan fraktur iliaca
LC 3: fraktur rami pubik transversal dan cedera buku
terbuka yang kontralateral

LATERAL KOMPRESI

2. Anteroposterior compression (APC)


APC 1: diastasis symphyseal (1-2 cm) dengan
ligamen posterior yang normal
APC 2: diastasis symphyseal atau fraktur rami
pubik vertical dengan gangguan pada sendi
sacroiliaka
APC 3: diastasis symphyseal atau fraktur rami
pubik vertical dengan gangguan total pada sendi
sacroiliaka

ANTEROPOSTERIOR KOMPRESI
DENGAN CEDERA BUKU TERBUKA

3. Vertical shear (VS)


Diastasis symphyseal atau fraktur rami pubic
dengan gangguan total sendi sacroiliaka, iliaka,
atau sacrum (dengan pergeseran vertical)
4. Combined mechanical (CM)
Kombinasi dari seluruh pola cedera yang
meliputi lateral compression/ vertical shear atau
lateral compression/ anteroposterior
compression.

G. Kegawatdaruratan
1.

Primary survey Airway, Breathing, Circulating,


Disability, Exposure/ environmental control

2.

Secondary survey Alergi, Medikasi, Past ilness,


Last meal, Event/ environment

H. Penegakan diagnosis
Anamnesis: riwayat KLL, jatuh dari ketinggian,
maupun cedera akibat benturan. Keluhan nyeri,
memar pada perut bawah, paha, perineum, skrotum,
maupun vulva, riwayat buang air kecil terakhir
Pemeriksaan Fisik
-Periksa keadaan umum serta primary survey.
-Palpasi abdomen, nyeri tekan pada daerah
sacroiliaka.
-Pemeriksaan rectum untuk menilai cocigis dan
sacrum, serta nyeri tekan pada prostat.
-Pemeriksaan kandung kemih
-Pemeriksaan neurologi

Pemeriksaan Penunjang
-Foto polos anteroposterior pelvis
-Urogram intravena untuk singkirkan adanya
trauma ginjal
-Uretrogam untuk menilai adanya trauma pada
uretra
-Sistogram untuk menilai kecurigaan terjadi
ruptur kandung kemih
-Ct scan untuk menilai kerusakan pada cincin
pelvis posterior

I.

Penatakaksanaan

-saluran pernafasan bersih, ventilasi tidak terhalang


-resusitasi cairan
-evaluasi cairan pemasangan kateter suprapubik
Penanganan fraktur tipe A
. istirahat
. Traksi tungkai bawah
. Pada 4-6 minggu jika pasien sudah mulai nyaman
boleh menggunakan penopang

Penanganan fraktur tipe B


pastikan tidak ada pergeseran posterior cedera
buku terbuka dan celah <2,5 cm dapat istirahat di
tempat tidur
Korset elastis untuk menutup cedera buku
Jika celah >2,5 cm maka pasien tidur miring dan
menekan ala osis ilii
fiksasi luar dengan pen untuk mempertahankan
reduksi
fiksasi internal dengan pemasangan plat

FIKSASI INTERNAL PADA PELVIS

Pada cedera buku tertutup penanganan yang perlu


dilakukan adalah beristirahat di tempat tidur selama
6 minggu tanpa fiksasi
Bila panjang kaki berbeda 1,5 cm atau didapatkan
adanya deformitas pelvis maka reduksi dengan pen
pada satu krista iliaka dapat dicoba dan bila
berhasil maka dipertahankan membentuk fiksator
luar.
Kerangka fiksasi diperlukan selama 6 hingga 8
(Apley, 2010).

FIKSASI EKSTERNAL PADA PELVIS

Penanganan fraktur tipe C

reduksi degan traksi kerangka yang dikombinasi


dengan fiksator luar
Istirahat di tempat tidur minimal 10 minggu

Anterior eksternal fiksasi


Pada kompresi anteroposterior atau kompresi
lateral fraktur pelvis biasanya digunakan anterior
eksternal fiksasi karena dapat mereduksi tulang
akibat malrotasi eksternal hemipelvis. Teknik
untuk eksternal fiksasi ada 2, yaitu iliac crest route
dan supraacetabular route (Stahel, 2013).

C-Clamp
Pada fraktur pelvis dapat digunakan c-clamp
terutama bila terjadi fraktur pada cincin pelvis
posterior. Kelebihan c-clamp adalah dapat
menstabilkan serta mengurangi terjadinya syok
yang terjadi akibat perdarahan, c-clamp dapat
dilakukan pada kompresi akut yang stabil pada
cincin pelvis posterior serta fraktur tipe vertikal
shear.

J. Komplikasi
Nyeri sacroiliaka yang menetap
Cedera saraf
Infeksi post tindakan
Striktur uretra
Dispareunia dan disfungsi ereksi
Ruptut otot dan hernia

K. Prognosis

Pada pasien dengan cedera pada sendi


sacroiliaka memiliki prognosis yang buruk
dibandingkan pasien yang alami fraktur pada
sacral maupun fraktur pada iliaka.
Pergeseran posterior pelvis sebesar 5 mm
merupakan prognosis yang kurang baik.
Pada cedera pelvis yang mengalami cedera pada
saraf juga merupakan prognosis yang kurang
baik (Sivananthan, 2012).

TERIMAKASIH