Anda di halaman 1dari 14

Anemia pada

anak
Oleh :
Khaerunnisa Hida, S.Ked
10542 0292 11

Pembimbing :
dr. Marlenny WT. Martoyo, Sp.A

Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik


di seluruh dunia, disamping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat,
terutama di negara berkembang. Diperkirakan lebih dari 30% penduduk
dunia atau 1500 juta orang menderita anemia dengan sebagian besar
tinggal di daerah tropik.
Manifestasi klinis yang timbul tergantung pada kecepatan timbulnya
anemia, umur individu, mekanisme kompensasi tubuh seperti :
peningkatan curah jantung dan pernapasan, meningkatkan pelepasan
oksigen oleh hemoglobin, mengembangkan volume plasma, redistribusi
aliran darah ke organ-organ vital. Tingkat aktivitasnya, keadaan penyakit
yang mendasari, dan parahnya anemia tersebut.
Secara global, prevalensi anemia dari tahun 1993-2005 yang dilakukan
oleh WHO mengenai 1,62 milyar orang. Prevalensi tertinggi pada anakanak sebelum sekolah (47,4%), dan terendah pada pria (12,7%). Di
Indonesia sendiri pada tahun 2006, dilaporkan angka anemia terjadi pada
9.508 orang.

PENDAHULUAN

Anemia didefinisikan sebagai menurunnya konsentrasi


hemoglobin dan massa eritrosit dibandingkan kontrol
pada usia yang sama. Anemia pada anak adalah masalah
paling sering ditemui alam praktik sehari-hari. Bentuk
yang tersering dari anemia mikrositik adalah anemia
defisiensi besi, talasemia, atau keracunan timbal.
Penyebab anemia normositik lebih banyak sehingga
diagnosisnya lebih sulit. Anemia makrositik biasanya
disebabkan oleh defisiensi asam folat dan atau vitamin
B12, hipotiroidisme, dan penyakit hati. Bentuk anemia
ini cukup jarang pada anak-anak.

Definisi

Pemendekan masa hidup eritrosit


Penghancuran eritrosit
Produksi eritrosit
1. Gangguan metabolisme zat besi
2. Fungsi Sum-Sum Tulang

Etiologi dan patogenesis

Diagnosis spesifik penyebab anemia dapat ditegakkan


melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan laboratorium
sederhana. kadar Hb sekitar 7-11 gr/dl umumnya
asimtomatik. Meskipun demikian apabila demam atau
debilitas fisik meningkat, pengurangan kapasitas
transport O2 jaringan akan memperjelas gejala
anemianya atau memperberat keluhan sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik umumnya hanya dijumpai
konjungtiva yang pucat tanpa kelainan yang khas dari
anemia jenis ini, dan diagnosis biasanya tergantung dari
hasil pemeriksaan laboratorium.

Manifestasi klinis

Anemia umumnya adalah normokrom-normositer,


meskipun banyak pasien mempunyai gambaran hipokrom
dengan MCHC <31 g/dL, dan beberapa mempunyai sel
mikrositer dengan MCV <80 fL. Nilai retikulosit absolut
dalam batas normal atau sedikit meningkat. Perubahan
pada leukosit dan trombosit tidak konsisten, tergantung
dari penyakit dasarnya.
Pemeriksaan cadangan besi sumsum tulang

Pemeriksaan
laboratorium

Anemia defisiensi adalah anemia yang terjadi akibat


kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan
untuk pematangan eritrosit, seperti defisiensi besi, asam
folat, vitamin B12, protein, piridoksin dan sebagainya.
Anemia defisiensi dapat diklasifikasikan menurut
morfologi dan etiologi menjadi 3 golongan :
1. Mikrositik Hipokrom
2. Makrositik Normokrom (Megalobalstik)
3. Anemia Dimorfik

Anemia Defisiensi

Keadaan yang disebabkan berkurangnya sel-sel darah


dalam darah tepi sebagai akibat terhentinya pembentukan
sel hemapoetik dalam SSTL, sehingga penderita
mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah
merah, sel darah putih dan trombosit.
Anemia aplastik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Kongenital
2. Didapat

Anemia Aplastik /
Pansitopenia

Pada anemia hemolitik umur eritrosit menjadi lebih pendek


(normal umur eritrosit 100-120 hari).
Gejala umum penyakit ini disebabkan adanya penghancuran
eritrosit sehingga dapat menimbulkan gejala anemi, bilirubin
meningkat bila fungsi hepar buruk dan keaktifan sumsum
tulang untuk mengadakan kompensasi terhadap
penghancuran tersebut (hipereaktif eritropoetik) sehingga
dalam darah tepi dijumpai banyak eritrosit berinti, retikulosit
meningkat, polikromasi, bahkan eritropoesis ekstrameduler.
gejala klinis penyakit ini berupa : menggigil, pucat, cepat
lelah, sesak napas, jaundice, urin berwarna gelap, dan
pembesaran limpa.

Anemia Hemolitik

Terjadi akibat perdarahan masif atau perdarahan menahun seperti


kehilangan darah karena kecelakaan, operasi, perdarahan usus, ulkus
peptikum, hemoroid.
a. Kehilangan darah mendadak
1. Pengaruh yang timbul segera
kehilangan darah yang cepat akan menimbulkan reflek kardiovaskular
sehingga terjadi kontraksi arteriola, penurunan aliran darah keorgan
yang kurang vital (anggota gerak, ginjal dan sebagainya) dan
peningkaata aliran darah keorgan vital (otak dan jantung).
Kehilangan darah 12-15% : pucat, takikardi, TD normal/menurun
Kehilangan darah 15-20% : TD menurun, syok reversibel
Kehilangan darah >20% : syok reversibel
Terapi : transfusi darah dan plasma

IV. Anemia Post Hemoragik

Pengaruh lambat
pergeseran cairan ektraseluler ke intraseluler sehingga
terjadi hemodilusi
gejala : leukositosis (15.000-20.000/mm3), Hb, Ht,
eritrosit menurun, eritropoetik meningkat, oligouria /
anuria, gagal jantung.
Terapi dapat diberikan PRC

b. Kehilangan darah menahun


Berupa gejala defisiensi besi bila tidak diimbangi dengan
masukan suplemen besi.
Anemia biasanya ringan (Hb biasanya 8 g/dL), dan
volume sel rata-rata MCV normal (80-90 fL).

ANEMIA didefinisikan sebagai penurunan volume/jumlah sel darah


merah (eritrosit) dalam darah atau penurunan kadar Hemoglobin
sampai dibawah rent Untuk penangan anemia diadasarkan dari
penyakit yang menyebabkannya dengan nilai yang berlaku untuk orang
sehat (Hb<10 g/dL).
Tanda dan gejala yang sering timbul adalah sakit kepala, pusing,
lemah, gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardi, sesak napas,
kolaps sirkulasi yang progresif cepat atau syok, dan pucat (dilihat dari
warna kuku, telapak tangan, membran mukosa mulut dan konjungtiva).
Anemia dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian :
Anemia defisiensi
Anemia aplastik
Anemia hemoragik
Anemia hemolitik

KESIMPULAN

TERIMA KASIH