Anda di halaman 1dari 36

Bronchopneumonia +

Syndrome down +
Morbili
Oleh :
Khaerunnisa Hida, S.Ked
10542 0292 11

Pembimbing :
dr. Marlenny WT. Martoyo, Sp.A

PENDAHULUAN
O Anak adalah aset bangsa dan generasi penerus cita-cita perjuangan

bangsa yang akan menentukan masa depan bangsa dan negara kita.
Oleh karena itu perhatian dan harapan yang besar perlu diberikan
kepada anak.
O Pneumonia adalah peradangan atau infeksi paru-paru yang
menyebabkan paru berfungsi abnormal. Pneumonia dapat
diklasifikasikan sebagai tipikal atau atipikal, meskipun presentasi klinis
seringkali sama. Beberapa gejala umum hadir pada pasien dengan
pneumonia.
O Bronkopneumonia adalah proses multifokal yang dimulai pada bronkiolus
terminal dan pernapasan bronkial yang cenderung menyebar secara
segmental. Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, dan
menghasilkan konsolidasi merata. Penyebab utamanya adalah S.aureus
dan bakteri gram negatif.
O Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, pneumonia yang terjadi pada
balita berdasarkan laporan 26 provinsi, tiga provinsi dengan cakupan
tertinggi berturut-turut adalah provinsi Nusa Tenggara Barat 56,50%,
Jawa Barat 42,50% dan Kepulauan Bangka Belitung 21,71%. Sedangkan
cakupan terendah adalah provinsi DI Yogyakarta 1,81%, Kepulauan Riau
2,08%, dan NAD 4,56%.3Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2004
prevalensi ISPA (97,9 %) dan di kota Makasar (29,47%).

LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
O Nama: ME
O No Rm : 12.18.91
O Tanggal Lahir : Makassar, 14-09-2001
O Umur : 15 tahun
O Jenis Kelamin : Laki-laki
O Alamat : jl. Kumala Sari Blok Ac 7
No.8
O Agama : Islam
O Ruangan: Dahlia, IB

C. Anamnesis
Keluhan Utama : Lemas
Riwayat penyakit sekarang: seorang
anak Laki-laki masuk rumah sakit
dengan keluhan sakit perut (+) sejak
kemarin malam., nyeri ulu hati (+),
muntah (+) tadi malam. Dengan
frekuensi 4 kali, mutah setiap kali
makan, BAB encer sejak kemarin
dengan frekuensi 2 kali. Pasien juga
mengeluh demam (+) sejak kemarin

Tabel 1. Status imunisasi.

Status

Belum

Tidak Tahu

imunisasi
Campak

Pernah

Polio

Difteri

Tetanus

BCG

Hepatitis B

Pertusis

HIB

Perkembangan
Berbalik : lupa

Berdiri : lupa

Gigi Pertama : lupa

Jalan sendiri : lupa

Duduk : lupa

Bicara sendiri : lupa

Makanan : biasa

Susu formula : ya

ASI : 1 tahun

Pemeriksaan Fisik

Status Present
O K.U : sakit sedang/gizi
baik/composmentis
O BB
: 43 kg
O TB: 150 cm
Tanda Vital
O Suhu : 37,7oC
O Nadi : 96x/menit
O Pernapasan : 32x/menit
O TD
: 120/70 mmHg

DIAGNOSIS KERJA
O Berdasarkan hasil anamnesis,

pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan


penunjang, pasien mengalami :
O Diagnosis Masuk : Hiperpireksia +

GEA
O Diagnosis Keluar:
O Diagnosis utama :
Bronchopneumonia
O Diagnosis sekunder : Syndrome
down
O Morbili

RESUME MEDIS
O Nama

: ME
O Usia
: 15 tahun
O BB
: 43kg
O TB
: 150 cm
O SG
: Baik
O Tanggal Masuk : 24/08/16
O Tanggal keluar : 1/09/16

O Ringkasan Riwayat Penyakit :


O seorang anak Laki-laki masuk rumah sakit

dengan keluhan sakit perut (+) sejak kemarin


malam., nyeri ulu hati (+), muntah (+) tadi
malam. Dengan frekuensi 4 kali, mutah
setiap kali makan, BAB encer sejak kemarin
dengan frekuensi 2 kali. Pasien juga
mengeluh demam (+) sejak kemarin. BAK
baik, pada pemeriksaan fisik di temukan
pasien tampak sakit sedang, Kesadaran
composmentis, tanda vital di dapatkan
Tekanan darah 120/70, Nadi 96x/menit,
Frekuensi nafas 32x/menit, Suhu 37,7c,
rumple leed (-), status gizi baik. Pemeriksaan
foto thorax didapatkan bronchopneumonia.

PEMBAHASAN
O Pneumonia

Pneumonia berdasarkan World Health


Organization
(WHO)
mendefinisikan
pneumonia hanya berdasarkan penemuan
klinis yang didapat pada pemeriksaan
inspeksi dan frekuensi pernapasan.
Pneumonia merupakan penyakit yang
menjadi masalah di berbagai Negara
terutama di Negara berkembang termasuk
Indonesia. Insidens Pneumonia pada anak
<5 tahun di Negara maju adalah 2-4
kasus/100 anak/tahun

O Bronkopneumonia disebut juga

pneumonia lobularis yaitu suatu


peradangan pada parenkim paru
yang terlokalisir yang biasanya
mengenai bronkiolus dan juga
mengenai alveolus disekitarnya,
yang sering menimpa anak-anak dan
balita, yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi seperti
bakteri, virus, jamur dan benda
asing.

Fakttor resiko
O Beberapa keadaan seperti gangguan nutrisi

(malnutrisi), usia muda, kelengkapan imunisasi,


kepadatan hunian, defisiensi vitamin A, defisiensi
Zinc (Zn), dan faktor lingkungan (polusi udara)
merupakan faktor risiko untuk IRBA. Pada keadaan
malnutrisi selain terjadinya penurunan imunitas
seluler, defisiensi Zn merupakan hal utama
sebagai faktor risiko pneumonia.Penelitian metaanalisis menunjukkan bahwa pemberian vitamin A
pada anak dapat menurunkan risiko kematian
karena pneumonia. Kejadian IRBA meningkat pada
anak dengan riwayat merokok atau perokok pasif.

Diagnosis
Anamnesis
O Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif

dengan dahak purulen yang bahkan bisa berdarah.


O Sesak napas
O Demam
O Kesulitan makan/minum
O Tampak lemah
O Serangan pertama atau berulang untuk membedakan
dengan kondisi munokompromais, kelainan anatomi
bronkus, atau asma.
Berdasarkan anamnesis yang didapatkan dari pasien yaitu
pasien mengeluhkan batuk yang tidak berlendir dan tidak
berdarah, pasien demam yang dialami sekitar 4 hari,
dan pasien tampak lemah.

Pemeriksaan fisis
O Penilaian keadaan umum anak, frekuensi napas, dan

nadi harus dilakukan pada saat awal pemeriksaan


sebelum pemeriksaan lain yang dapat menyebabkan
anak gelisah atau rewel.
O Penilaian keadaan umum antara lain meliputi
kesadaran dan kemampuan makan/minum.
O Gejala distress pernapasan seperti takipnea, retraksi
subkostal, batuk, krepitasi, dan penurunan suara paru.
O Demam dan sianosis.
O Anak di bawah 5 tahun mungkin tidak menunjukkan
gejala pneumonia yang klasik. Pada anak yang
demam dan sakit akut, terdapat gejala nyeri yang
diproyeksikan ke abdomen. Pada bayi muda, terdapat
gejala pernaapasan tak teratur dan hipopnea

Pemeriksaan penunjang
O Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara rutin

pada anak dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan


tanpa komplikasi.
O Pemeriksaan foto dada di rekomendasikan pada penderita
pneumonia yang dirawat inap atau bila tanda klinis yang
ditemukan membingungkan
O Pemeriksaan foto dada dan follow up hanya di lakukan bila
didapatkan adanya kolaps lobus, kecurigaan terjadinya
komplikasi, pneumonia berat, gejala yang menetap atau
memburuk, atau tidak respon terhadap antibiotic.
O Pemeriksaan foto dada tidak dapat mengidentifikasi agen
penyebab .
Pada pemeriksaan foto thorax PA, terdapat bercak infiltrate
pada kedua paru, Cor : bentuk, letak dan ukuran dalam batas
normal, kedua sinus dan diafragma dalam batas normal.
Kesan : Bronchopneumonia.

Penatalaksanaan
O Pada pneumonia berat atau asupan per oral

kurang, diberikan cairan intravena dan dilakukan


balans cairan ketat
O Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak
direkomendasikan untuk anak dengan pneumonia
O Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk
menjaga kenyamanan pasien dan mengontrol
batuk
O Nebulisasi dengan 2 agonis dan/atau NaCl dapat
diberikan untuk memperbaiki mucocilliary
clearance
O Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus
diobservasi setidaknya setiap 4 jam sekali,
termasuk pemeriksaan saturasi oksigen.

O Streptokokus dan pneumokokus sebagai

kuman Gram positif dapat dicakup oleh


ampisilin, sedangkan hemofilus suatu
kuman gram negatif dapat dicakup oleh
kloramfenikol. Dengan demikian keduanya
dapat dipakai sebagai antibiotik lini
pertama untuk pneumonia anak tanpa
komplikasi. Secara umum pengobatan
antibiotik untuk pneumonia diberikan
dalam 5-10 hari, namun dapat sampai 14
hari. Pedoman lain pemberian antibiotik
sampai 2-3 hari bebas demam
O Pada kasus kali ini antibiotic yang
diberikan yaitu ceftriaxone 400 mg/12
jam/iv.

Down Syndrome
O Sindrom down atau dulu disebut

dengan Mongoloid (dikarenakan


wajah penderita mirip dengan
bangsa mongol) merupakan salah
satu penyakit kelainan kromosom
paling sering di dunia. Pada
umumnya, kasus sindrom Down
terjadi disebabkan oleh trisomi
kromosom 21

O Pemeriksaan fisis
O Wajah penderita sindrom Down sangat khas. Pada

penderita ini akan tampak kepala agak kecil dengan


oksipital yang mendatar, muka lebar, tulang pipi tingggi,
hidung lebar dan datar.
O Jarak antara kedua mata lebar, mata sipit miring ke atas
dan samping. Lipatan epikantus jelas sekali.
O Daun telinga yang kecil terdapat pada sindrom Down.
Pada kelainan yang disebut low set ear di mana posisi
daun telinga lebih rendah dari normal.
O Bibir lebar, lidah besar (makroglosia), kasar dan bergarisgaris seperti skrotum (scrotal tongue).
O Jarak antara jari satu dan dua, baik tangan maupun kaki
agak besar. Pada jari tangan, terdapat kelingking yang
pendek dan membengkok ke dalam.
O Telapak tangan memiliki garis tangan yang khas
abnormal, yaitu hanya mempunyai sebuah garis
mendatar saja (simian crease).

Morbili
O Morbili atau Campak, Measles,

Rubeola merupakan penyakit akut


yang sangat menular, disebabkan
oleh infeksi virus yang pada
umumnya menyerang anak.
O Virus campak dapat menyebabkan
penyakit akut pada anak yang
dimulai dari traktus respiratorius
bagian atas, selanjutnya menyebar
ke organ dan jaringan sehingga
mengakibatkan berbagai gejala
klinis.

Penyakit ini merupakan salah satu self


limiting disease yang memiliki masa
tunas 10-20 hari dan dibagi dalam 3
stadium, yaitu :
- Stadium kataral (prodromal)
- Stadium erupsi
- Stadium konvalesensi

O Berdasarkan gejala yang timbul,

morbili dapat berupa


1. Demam
2. Coryza
3. Konjungtivitis
4. Batuk
5. Bercak Kopliks
6. Ruam

Penatalaksanaan
O Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari

pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi,


antibiotic diberikan apabila terjadi infeksi
sekunder, anti konvulsan apabila terjadi kejang,
dan pemberian vitamin A
O Tanpa komplikasi :
- Tirah Baring
- Vitamin A 100,000 IU apabila disertai
malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari
Diet makanan cukup cairan, kalori yang
memadai. Jenis makana disesuaikan dengan
tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya
komplikasi

TERIMA KASIH