Anda di halaman 1dari 35

Short Case 1

ABSES MANDIBULA

Norman Delvano Weky, S. Ked


1108012032
Pembimbing : dr. Jean E. Pello, Sp.B

SMF Bedah RSUD Prof. Dr. W. Z.


Johannes Kupang
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa
Cendana

PENDAHULUAN

Abses adalah kumpulan


pus yang terletak dalam
satu kantung yang
terbentuk dalam jaringan
yang disebabkan oleh
suatu proses infeksi oleh
bakteri, parasit atau
benda asing lainnya.

Abses merupakan reaksi


pertahanan yang
bertujuan mencegah
agen-agen infeksi
menyebar ke bagian
tubuh lainnya.

Pus = kumpulan sel-sel


jaringan lokal yang mati,
sel-sel darah putih,
organisme penyebab
infeksi atau benda-benda
asing dan racun yang
dihasilkan oleh organisme
dan sel-sel darah.

KLASIFI
KASI

Abses
piogenik

Abses
piaemik

Abses
dingin

ABSES PIOGENIK
- Paling sering ditemukan
- Biasanya ditimbulkan oleh infeksi
Staphylococcus
- Organisme masuk jaringan lunak melalui luka
eksternal, minor atau mayor.
- Juga dapat disebabkan oleh penyebaran
hematogen dari fokus yang jauh seperti
tonsilitis atau gigi yang karies.

Tanda Klinis : kalor, rubor, dolor,


tumor, hilang fungsi dan fluktuasi.

ABSES PIAEMIK
- Abses
Efek sistemik
multipel
dari sepsis.
Disebabkan
- Abses
oleh
Seringkali
piaemik
organisme
terjadi pada
yang
diabetes dan terletak dalam
menghasilkan pasien yang
- Nyeri tekan
pus dalam
mendapatkan
minimal
sirkulasi
kemoterapi
- Peningkatan
(piaemia)
serta
temperatur
radioterapi. lokal tidak ada

ABSES DINGIN
Abses yang tidak mempunyai tanda
klinis peradangan.

Tidak ada
peningkatan
temperatur
lokal, nyeri
tekan (-),
kemerahan (-)

Pembengkakan
kistik dan
fluktuatif lunak,
transiluminasi
negatif

Biasanya
disebabkan oleh
tuberkulosis,
misalnya
setelah
limfadenitis
tuberkular

ANATOMI

ANATOMI

Definisi
Abses mandibula
merupakan salah satu
bentuk abses leher
dalam yang berlokasi
pada daerah
mandibula.
Abses leher dalam
terbentuk di dalam
ruang potensial di
antara fasia leher
sebagai akibat
penjalaran infeksi dari
berbagai sumber

ETIOLOGI

Parhiscar A, Har-El G. Deep neck


abscess: A
retrospective review of 210 cases. Ann
otol rhinol
laryngol 2001;110:1051-4.

ETIOLOGI
Pada ruang mandibula, infeksi dapat bersumber
dari :
- gigi,
- dasar mulut,
- faring,
- tonsil,
- sinus,
- dan kelenjar liur atau kelenjar limfe
submandibula.
Kuman penyebab biasanya campuran kuman
aerob dan anaerob.

ETIOLOGI
Kuman aerob yang paling sering ditemukan :
- Streptococcus sp,
- Staphylococcus sp,
- Neisseria sp,
- Klebsiella sp,
- Haemophillus sp.
Pada kasus yang berasal dari infeksi gigi, sering
ditemukan kuman anaerob Bacteroides
melaninogenesis, Eubacterium
Peptostreptococcus dan yang jarang adalah
kuman Fusobacterium

PATOGENESI
S
Infeksi odontogen dapat menyebar via :
- jaringan ikat (perikontinuitatum),
- pembuluh darah (hematogenous),
- pembuluh limfe (limfogenous).

Yang paling sering : perkontinuitatum karena adanya


celah/ruang di antara jaringan berpotensi sebagai
tempat berkumpulnya pus.

Penjalaran infeksi pada rahang bawah dapat


membentuk abses sublingual, abses submental, abses
submandibular, abses submaseter, dan angina ludwig.

GEJALA KLINIS
Secara umum, gejala abses
adalah :
- Nyeri
- Bengkak
- Eritema pada jaringan
- Trismus
- Demam

Pembengkakan pada abses


biasanya :
- Terasa nyeri
- Panas
- Kurang dari 2 minggu
- Berkembang sangat cepat
- Disertai sakit gigi atau terlihat
karies gigi

KASUS

Identitas

Nama, Jenis
Kelamin
Tn. Monda A.
Puay
Laki-laki

Umur,
Pekerjaan,
Alamat
38 tahun
Pegawai Negeri
Oebufu

Tanggal MRS
23
Desember2016
(18:00 WITA)

ANAMNESIS

KELUHAN
UTAMA

Nyeri pada pipi


kanan

Pasien masuk rumah sakit


dengan keluhan nyeri pada pipi
kanan yang membengkak.
Pembengkakan ini dimulai sejak
1 minggu yang lalu. Awalnya
pasien mengaku muncul
bengkak pada gusi di gigi
belakang pasien sebelah kanan
yang menimbulkan nyeri.
Bengkak tersebut berukuran
2 cm

1 minggu terakhir
bengkak pada gusi
tersebut bertambah besar
dan timbul nanah yang
semakin hari bertambah
banyak

ANAMNESIS

Bengkak tersebut
membuat pasien merasa
nyeri dan sulit membuka
mulut sehingga pasien
susah makan.

Pasien telah diperiksa di


puskesmas Oepoi dan
diberi paracetamol dan
amoxicilin namun tidak ada
perbaikan.
Riwayat sakit gigi dan gigi
berlubang (+)

Tanda-Tanda Vital

110/70
mmHg

90x/me
nit,
reguler,
kuat
angkat

24x/me
nit

37,5C

Pemeriksaan
Fisik
Pembengkakan pada daerah
submandibula dekstra, dan tanda
radang (+)

konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Mukosa bibir lembab, karies pada


hampir semua gigi (+), lidah kotor, gusi
dan buccae dekstra tampak kemerahan,
bengkak dan tampak pus.

Pembesaran KGB (-)

Tampak pembengkakan pada


daerah mandibula dekstra
dengan ukuran
8x4 cm, kulit sekitar terlihat
mengkilat, kemerahan, teraba
hangat, nyeri tekan (+)

Mukosa bibir lembab, karies hampir pada


semua gigi (+), lidah kotor, gusi dan buccae
dekstra tampak kemerahan, bengkak dan
tampak pus.

Pemeriksaan Fisik
Thoraks : pengembangan dada simetris,
Cor : BJ 1&2 reguler, tunggal
Pulmo : vesikuler +/+, rhonki -/-

Abdomen : supel, datar, BU (+) kesan


normal, hepar dan lien tidak teraba.

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2 detik

Pemeriksaan Penunjang (darah lengkap)

Nilai Rujukan

2016

Hb

13-18 g/dL

13.9

RBC

4.50 - 6.20 x

5.50

Hct

10^6/uL
40.0 54.0 %

41.2 %

MCV

81.0 96.0 fL

74.9

MCH

27.0 36.0 pg

25.3

MCHC

31-37 g/L

33.7

WBC

4-10 x 10^3/ uL

24.09

Eosinofil

0-4%

0.09

Basofil

0-1%

0.1

Neutrofil

50-70%

81.4

Limfosit

20-40%

4.5

Monosit

2-8%

3.27

Trombosit

150 - 400 x 10^6/

559

GDS

uL
70-150 mg/dL

93

PEMBAHASAN ABSES MANDIBULA

ANAMNESIS

Teori

Kasus

Anamnesis di dapatkan
adanya riwayat sakit
gigi, mengorek atau
mencabut gigi atau
adanya riwayat higiene
gigi yang buruk.

Riwayat sakit gigi (+)


Riwayat gusi bengkak
dan bernanah (+)

Dari anamnesis juga


didapatkan gejala
berupa sakit pada
dasar mulut dan sukar
membuka mulut.

Pasien merasa nyeri


dan sulit membuka
mulut sehingga pasien
susah makan.

PEMERIKSAAN FISIK

Teori
Pada pemeriksaan
tanda vital biasa
ditemukan demam.
Selain itu juga
ditemukan adanya
pembengkakan di
bawah dagu. Bila di
palpasi, akan terasa
kenyal dan terdapat
pus.

Kasus
37,5 C

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Teori
CT SCAN : dapat
mengetahui lokalisasi
kumpulan abses yang
tidak dapat diperiksa. CT
scan menunjukkan lokasi,
batas-batas, dan
hubungan infeksi ke
struktur neurovascular
sekitarnya.
Dapat juga dilakukan kultur
darah bila terjadi sepsis dan
kultur abses untuk
pengobatan
yang tepat terhadap kuman
penyebab.

Kasus
CT Scan tidak dilakukan

Darah lengkap : leukosit


42.30

PENATALAKSANAAN

Teori

Kasus

- Penatalaksanaan
terhadap abses
- Penatalaksanaan
terhadap penyebab

- IVFD RL 20 tpm
- Injeksi cefotaxim 2x1
gr/iv
- Paracetamol 3x500
mg tab
- Injeksi ketorolac 1
ampul/iv
-Infus Metronidazole
3x500 mg
- Bethadin kumur

Antibiotik dosis tinggi


terhadap kuman aerob
dan anaerob harus
diberikan secara
parenteral.

TINDAKAN OPERATIF

Teori
Evakuasi abses dapat
dilakukan dalam anastesi
lokal untuk abses yang
dangkal dan terlokalisasi
atau eksplorasi dalam
narkosis bila letak abses
dalam dan luas.
Insisi dibuat pada tempat
yang paling berfluktuasi
atau setinggi os hyoid,
tergantung letak dan luas
abses.

Kasus
Pasien tidak
dilakukan tindakan
drainase abses

KOMPLIKASI

Ludwigs angina

adalah infeksi berat yang


melibatkan dasar mulut,
ruang submental, dan ruang
submandibula.

Peradangan ruang ini


menyebabkan kekerasan
yang berlebihan pada
jaringan dasar mulut dan
mendorong lidah ke atas
dan ke belakang. Dengan
demikian dapat
menyebabkan obstruksi
jalan nafas secara potensial

Gejalanya sangat cepat.


Dapat menyebabkan
trismus, disfagia, leher
membengkak secara
bilateral berwarna
kecoklatan

PROGNOSIS

Pasien dengan infeksi


leher dalam yang diobati
dapat sembuh sempurna
bila infeksi ditangani
dengan baik dan tepat
waktu.

Pasien yang mendapat


pengobatan yang terlambat
dapat mengakibatkan
terjadinya komplikasi dan
penyembuhan yang lama.
Sekali infeksi leher dalam
ditangani secara sempurna,
maka tidak ada
kecenderungan untuk
kambuh lagi