Anda di halaman 1dari 52

IDENTIFIKASI DAN FAKTOR-

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


MASALAH GIZI DI INDONESIA

Oleh
Rebecca SKM MKM

UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA


JAKARTA 2015
Beban Ganda Masalah Gizi
Kekurangan gizi pada anak dapat menyebabkan
pertumbuhan fisik dan otak tidak optimal, anak
menjadi kurus dan sangat pendek (stunting). Bila hal
ini tidak segera diatas dalam jangka panjang maka
akan hilangnya generasi muda yang cerdas dan
berkualitas sehingga anak tidak produktif dan tidak
mampu bersaing

Kelebihan gizi memicu munculnya berbagai


penyakit degeneratif seperti DM, hipertensi, PJK
dan hiperkolesterol.
Masalah Gizi Di Indonesia
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI STATUS GIZI
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI STATUS KESEHATAN
MASALAH GIZI
DI INDONESIA
MASALAH GIZI DI
Kategori A INDONESIA
(Kurus/Pendek)

Kategori B
TIMOR
MALAYSIA Kurang Vit A & Zat Besi
LESTE
LOAS INDONESIA:

KAMBOJA THAILAND
FILIPINA Anemia Gizi Besi
MYANMAR
Kurang Vitamin A
Gizi Lebih (Overweight)
INDONESIA Kurang Yodium
Kurang Energi Protein
(Kurus dan Pendek)

CHINA
Kategori C
Overweight 3%

Sumber: World Bank 2006: Reposition Nutrition as Central to Development


STATUS GIZI ANAK BALITA
DI INDONESIA

RISKESDAS 2010
8
Prevalensi Balita Gizi Kurang di
Indonesia
Tahun 1989 - 2010
MASALAH GIZI ANAK USIA
SEKOLAH DASAR (Riskesdas 2010)

Anak pendek : 35,8 %


Anak kurus : 11,2 %
Kegemukan : 9,2 %
ANAK KELAS EMPAT SEKOLAH DASAR, TINGGI BADAN
BERBEDA 11
Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang

masih perlu ditanggulangi secara terpadu oleh berbagai sektor

termasuk kesehatan.

1.KEP Gizi Makro

2.Masalah kekurangan vitamin A Gizi


Mikr
3.Masalah gangguan akibat kurang o

yodium
4.Anemia Gizi Besi
1 KEP
KURANG ENERGI PROTEIN
(KEP)/PROTEIN ENERGI
MALNUTRITION(PEM)/PROTEIN
CALORI MALNUTRITION

Adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan


oleh rendahnya konsumsi energi dan protein
dalam makanan sehari-hari sehingga tidak
memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).
Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil
(bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
PEMBAGIAN KEP

KWASHIORKOR
MARASMUS Wajah seperti bulan moon
Anak sangat kurus face
Sinar mata sayu
Wajah seperti org tua
Perubahan mental (sering
Cengeng dan rewel menangis, pada stadium
Rambut tipis, jarang dan kusam lanjut menjadi apatis)
Kulit keriput Rambut merah, jarang,
Tulang iga tampak jelas mudah dicabut
Pantat kendur dan keriput Diare
Pembesaran hati
Perut cekung
Anemia
MARASMUS
KWASHIORKOR

Anak sangat kurus


Wajah spt orang tua atau bulat atau sembab
Cengeng dan rewel
Tidak bereaksi thd rangsangan, apatis
Rambut tipis, jarang, kusam, rambut jagung bila dicabut tidak
sakit
Kulit keriput
Tulang iga tampak jelas
Pantat kendur & keriput
Perut cekung / buncit
Punggung kaki berisi cairan & bila ditekan lama kembali
Bercak kehitaman di tungkai dan pantat
PROGRAM PEMERINTAH
PENANGGULANGAN KEP

Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran


utama : Ibu hamil, Bayi, Balita, Anak-anak sekolah dasar
Melalui :
Pemantauan Pertumbuhan anak balita, penimbangan berat
badan di Posyandu dicatat dengan menggunakan Kartu
Menuju Sehat dan Immunisasi (BCG, DPT, Polio, dan
Campak)
Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada anak umur 6-
59 bulan
Pemberian Tablet tambah darah diberikan pada ibu hamil
Mendapat tambahan zat gizi melalui Taburia yang
ditaburkan pada MP-ASI yang dikonsumsi anak.
2
ANEMIA DEFISIENSI BESI
Anemia adalah kondisi dimana kadar Hemoglobin (Hb)
darah lebih rendah daripada normal (<11 gr/dl).

Masalah :
Prevalensi tertinggi terjadi didaerah miskin, gizi buruk
dan penderita infeksi
Hasil studi menunjukan bahwa anemia pada masa bayi
mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya
disfungsi otak permanen
Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk
jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan
berfikir serta perubahan tingkah laku.
TANDA DAN GEJALA
Pucat (konjungtiva, telapak tangan)
Lemah
Lesu
Hb rendah
Sering berdebar
Sakit kepala
DAMPAK :
Produktifitas rendah, Daya tahan tubuh
terhadap infeksi rendah, tingkat
kecerdasan rendah
PENYEBAB
LANGSUNG :
Kurang asupan makanan yang mengandung
zat besi
Mengkonsumsi makanan penghambat
penyerapan zat besi
Infeksi penyakit

TIDAK LANGSUNG :
Distribusi makanan yang tidak merata ke
seluruh daerah
PENANGANAN

Penyuluhan gizi ditekankan pada peningkatan


konsumsi sumber makanan kaya zat besi dan
protein
Pemberian ASI dilanjutkan sampai usia anak 2
tahun karena protein ASI membantu
penyerapan zat besi
Pemberian suplementasi tablet atau sirup besi
Pemberian makanan tambahan (PMT) yang
kaya sumber protein dan zat besi
Mengkonsumsi makanan yang telah
difortifikasi dengan besi, misalnya tepung
terigu, minyak goreng dan mi instan.
Mengobati kecacingan pada anak termasuk
menjaga kebersihan diri dan lingkungan
supaya tidak tertular kecacingan.
ANEMIA PADA IBU HAMIL
Ibu hamil anemia adalah kondisi ibu hamil dengan
kadar haemoglobin (Hb) di bawah normal (11 gr/dl).
Ibu hamil mudah mengalami anemia karena cairan
darah dalam tubuh meningkat, disebabkan tubuh
memerlukan tambahan darah untuk mensuplai
oksigen dan makanan bagi pertumbuhan janin.
Karena itu sel darah merah perlu diproduksi lebih
banyak dengan memanfaatkan protein dan zat besi
dari makanan.
Kondisi anemia pada ibu hamil jangan
dianggap sepele karena akan mempengaruhi
tumbuh kembang janin dalam kandungan baik
sel tubuh maupun sel otak.
PENYEBAB ANEMIA PADA BUMIL

Pola makanan yang kurang beragam dan


bergizi terutama kurang sumber protein
dan zat besi.
kehamilan yang berulang dalam waktu
singkat, sehingga tubuh belum sempat
memproduksi darah sebagai pengganti
darah yang keluar saat melahirkan
sebelumnya.
.
PENCEGAHAN ANEMIA PADA
BUMIL
meningkatkan konsumsi makanan terutama makanan
sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, bebek,
hati, daging, dan susu serta makanan sumber protein
nabati seperti tempe, tahu, dan kacang-kacangan
Pemberian suplemen tablet tambah darah (besi-folat),
atau taburia untuk ibu hamil
Ibu hamil harus makan satu porsi lebih banyak dari
keadaan normal dengan jumlah sedikit dan frekuensi
lebih sering karena zat gizi dibutuhkan untuk tumbuh
kembang janin dalam kandungan
Ibu hamil dianjurkan tidak minum teh atau kopi 2 jam
sebelum dan setelah makan karena akan mengganggu
penyerapan zat besi.
Sumber : Kemenkes RI,
2012
4 GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN
YODIUM (GAKY)
Adalah sekumpulan gejala yang dapat
ditimbulkan karena tubuh menderita
kekurangan yodium secara terus
menerus dalam waktu yang lama.
Terjadi pada kawasan pegunungan dan
perbukitan yang tanahnya tidak cukup
mengandung yodium
Defisiensi yang berlangsung lama akan
mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang
secara perlahan menyebabkan
pembesaran kelenjar gondok
AKIBAT KEKURANGAN
YODIUM
Pembesaran kelenjar gondok
Hipotiroid
Kretinisme
Kegagalan reproduksi
Kematian
PENANGGULANGAN

Bayi < 1tahun : 100 mg


Balita 1-5 tahun : 200 mg
Wanita 6-35 tahun : 400 mg
Ibu hamil (bumil) : 200 mg
Ibu meneteki (buteki) : 200 mg
Pria 6-20 tahun : 400 mg
KEBIJAKAN MENGATASI
MASALAH GIZI
DI INDONESIA
PENDEKATAN PERBAIKAN GIZI

Improve
breastfeeding Increase
and micronutrie
complementar Health nt intake
y feeding
Care
Increase
treatment
Improve of severe
maternal acute
nutrition malnutrition

Improve
Improve availability
hygiene and and
parasite diversity of
control food and
support
Food security livelihoods

INTERVENSI BERDASARKANSIKLUS INI SEDANG DIKEMBANGKAN


UNTUK MEMPERCEPAT KEBERHASILAN PROGRAM PENGENTASAN
MASALAH GIZI
PENANGGULANGAN MASALAH GIZI

Penanganga 1. Rawat inap


n 2. Rawat jalan
gizi buruk

1. Balita Gizi Kurang diberi PMT


Penangang
2. Bumil Gakin KEK mendapat PMT
an
gizi kurang

1. Pemantauan berat badan di Posyandu


2. Penyuluhan dan konseling ASI eksklusif dan
Pencegaha MP-ASI
n melalui 3. Distribusi kapsul vit A
posyandu 4. Bumil mendapat tablet Fe
5. Keluarga menggunakan garam beryodium
6. Penyuluhan/edukasi gizi
7. Balita BGM dirujuk untuk dikonfirmasi
UPAYA UNTUK MENINGKATKAN
STATUS GIZI MASYARAKAT

1. Pelayanan kesehatan dan gizi SEMUA IBU HAMIL dan


BALITA terutama balita yang berada dalam MASA KRITIS
TUMBUH KEMBANG (dibawah 2 thn) agar terhindar dari
gagal tumbuh.
2. Menciptakan keluarga SADAR GIZI, dgn sasaran seluruh
kelompok umur, terutama remaja calon orangtua, dan ibu
rumahtangga
3. Menggalakkan kampanye:

. Pemberian hanya air susu ibu (ASI) sampai bayi


berusia 6 bulan (ASI eksklusif)
PP No 33/2012 (klik)
. Melanjutkan pemberian ASI sampai umur 24 bulan disamping

makanan pemdamping ASI

. Meningkatkan kampanye untuk tidak memberikan


susu formula pada bayi dan anak selama dalam masa
tumbu-kembang kritis untuk mencegah akibat buruk
sebagai akibat dari cara penyimpanan dan pemberian susu
formula yang tidak sehat.
4. Karena masalah gizi kronis terkait dengan masalah
kemiskinan, sosial-budaya dan perilaku yang mengakibatkan
kekurangan makan dan sakit yang berkepanjangan atau
berulang, maka perlu dilakukan upaya perbaikan keadaan
sosial ekonomi masyarakat secara terintegrasi dengan
melibatkan berbagai sektor terkait sesuai dengan masalah
yang dihadapi di wilayah bersangkutan
Analisis Situasi
Masalah
Apa itu
masalah ???
Perbedaan antara keadaan
diharapkan dengan kenyataan/
realita.
Penyimpangan dari yang seharusnya
dilakukan namun tidak sesuai
dengan standar yang ditetapkan

MASALAH
ANALISA SITUASI
MERUPAKAN LANGKAH AWAL DALAM
PERENCANAAN
MERUPAKAN PROSES SISTEMATIS
UNTUK MENGETAHUI MASALAH
KESEHATAN DAN
KECENDERUNGANNYA SERTA
FAKTOR2 YG MEMPENGARUHI
DASAR ANALISIS PAKAI TEORI L.
BLUM
HAL2 YG PERLU DIANALISIS ADALAH :
DEMOGRAFI
MASALAH DAN KECENDERUNGAN
PERILAKU KESEHATAN
PROGRAM DAN PELAYANAN KESEHATAN
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH
ANALISA SITUASI
KEPENDUDUKAN
DATA DEMOGRAFI:
TOTAL PENDUDUK DI WILAYAH KERJA
DATA PENDUDUK RENTAN SPT JMLH
BUMIL, IBU MELAHIRKAN, BAYI
LAHIR,BALITA,ANAK SEKOLAH,
REMAJA,TENAGA KERJA,USIA LANJUT
GAMBARKAN DISTRIBUSI PENDUDUK
JMLH PENDDK DAPAT DIPAKAI SBG
DENUMERATOR UNTUK MENGHITUNG
RATE AT PREVALENSI
SUMBER DATA DARI KANTOR
STATISTIK DAN KANTOR BKKBN
BUAT TABEL2;
JMLH DAN DISTRIBUSI PENDUDUK
TREN PERTUMBUHAN PENDUDUK ( 5 TH)
STRUKTUR UMUR PENDUDUK
JUMLAH PENDUDUK MISKIN
JMLH PENDDK KELOMPOK
KHUSUS( BUMIL,BAYI DLL)
ANALISA SITUASI MASALAH
KESEHATAN
MASALAH KESEHATAN,
MORBIDITAS(ANGKA KESAKITAN) DAN
MORTALITAS(ANGKA KEMATIAN)>>
PREVALENSI GIZI KURANG

LIHAT DATA LAPORAN PUSKESMAS


DAN RS
ANALISIS SITUASI PERILAKU
KESEHATAN
KEPERCAYAAN (HEALTH BELIVE)
GAYA HIDUP; POLA
KONSUMSI,KEBIASAAN OLAH RAGA,
MEROKOK, ALKOHOL, ZAT ADKTIF
DAN PERILAKU SEX YG TDK AMAN
POLA PENCARIAN PENGOBATAN
PERTOLONGAN PERSALINAN
PEMBERIAN ASI
>>>> BISA LIHAT DATA SUSENAS
ANALISA SITUASI LINGKUNGAN
KESEHATAN
VEKTOR PENYAKIT : endemis malaria,
dbd
AIR BERSIH : pam, pompa, sumur,
mata air
FASILITAS TEMPAT BAB: septic tank,
kolam,sungai, lobang
LANTAI RUMAH : ubin, plester, kayu,
bambu, tanah
SAMPAH: industri, rumah tangga,
pasar, rumah potong hewan
Analisa situasi program gizi: untuk
menemukan kelemahan2 yg
mungkin ada dalam pelaksanaan
program >> analisis secara sistem
( input, proses, out put)
Contoh out put prog gizi :
Jumlah pemberian fe pd bumil
Jmlh balita yg ditimbang
Jmlh pemberian pmt dll
Tujuan
Untuk menyediakan data atau
informasi secara rinci dan
berkesinambungan tentang keadaan
atau perkembangan suatu masalah
atau program dan faktor-faktor yang
mempengaruhi
Fungsi

Sebagai data atau bahan untuk


dapat menentukan prioritas masalah
atau program
Sebagai bahan untuk dasar
penyusunan program
Metode
Analisis situasi masalah dapat
dilakukan dengan :
1. Pengamatan langsung di lapangan
(primer)
2. Mengumpulkan data dan informasi
dari laporan-laporan publikasi yang
ada (sekunder)
Ruang Lingkup
Ruang lingkup analisis situasi
masalah :
1. Pengumpulan data (primer dan
sekunder)
2. Pengolahan dan analisis data
3. Penyajian dan diseminasi informasi
Langkah-Langkah
1. Lakukan pengamatan atau pengumpulan data
baik secara langsung (primer) maupun tidak
langsung (sekunder)
2. Inventaris semua data dalam matrik tabel
3. Bandingkan antara data dengan target atau
standar
4. Tentukan masalah yang muncul dengan
rumusan 4W 1H
5. Lakukan identifikasi faktor-faktor penyebab dari
masalah yang ada secara rinci dan sistematik
6. Buatlah desain atrau diagram atau kerangka
terjadinya masalah tersebut.
Keluaran
1. Situasi pangan dan gizi serta faktor-
faktor yang berkaitan
2. Rekomendasi intervensi pangan
dan gizi