Anda di halaman 1dari 53

PENDAHULUAN

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


BAG 1
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK (Akuntansi Pemerintahan)
Difinisi : ASP adalah sebagai aturan pelengkap pemerintah yang
mengakumulasi HUTANG SEKTOR PUBLIK dan PERMINTAAN
PINJAMAN SEKTOR PUBLIK untuk suatu tahun tertentu.
Artikulasi ini dampak dari sudut pandang:
Ekonomi, Politik, dari sisi kebijakan publik, tuntutan pajak,
birokrasi yang berlebihan, pemerintahan yang besar dan
nasionalis, versus privatisasi.
Akuntansi Sektor Publik semenjak reformasi berawal dengan
mengganti UU No 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok
pemerintahan Daerah dengan UU No. 22 tahun 1999 tentang
pemerintah Daerah dan UU No. 25 tahun 1999 menggantikan UU
No 32 tahun 1956 yang berkaitan dengan keuangan negara dan
daerah
UU No 22 tahun 1999 tersebut berisi tentang perlunya
dilaksanakan OTONOMI DAERAH, sehingga UU tsb disebut
OTDA (Otonomi Daerah)
. PENERIMAAN PENGELUARAN
BENDAHARA RUTIN
PAD/NON PAD BENDAHARA PROYEK

KAS DAERAH

BAG. KEUANGAN
PEMBUKUAN

PENERIMAAN DPA PENGELUARAN


HARIAN HARIAN

BULANAN BULANAN

PERHITUNGAN
APBD Tahunan
MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH DI ERA REFORMASI
1. Peraturan Pemerintah No. 5 th 1975 tentang Pengurusan
Pertanggung jawaban, dan Pengawasan Keuangan Daerah.
2. PP No. 6 th 1975 tentang Penyusunan APBD, pelaksanaan tata usaha
Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD
3. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 900-099 Tahun 1980 tentang
Manual Administrasi Keuangan Daerah.
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 th 1994 Tentang Pelaksanaan
APBD
5. UU No. 18 th 1997 tentang pajak Daerah dan Retribusi Daerah
6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 tahun 1999 tentang
Bentuk dan susunan Perhitungan APBD.
CIRI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI ERA REFORMASI
7. Pengertian Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan DPRD
(pasal 13 ayat 1) UU No. 5 th 1975) artinya tidak ada pemisahaan
secara kongkritantara eksekutif dan legislatif
8. Perhitungan APBD berdiri sendiri, terpisah dari pertanggungjawaban
Kepala Daerah (pasal 33 PP no. 6 tahun 1975)
9. Bentuk Laporan perhitungan APBD terdiri atas:
a. Perhitungan APBD
b. Nota Perhitungan
c. Perhitungan Kas dan Pencocokan antara sisa kas dan sisa
Perhitungan yang dilengkapi dengan limpiran ringkasan
perhitungan APBD No. 6 tahun 1975KepMenDagri No. 3 th
1999)
5. Pinjaman baik pinjaman PEMDA maupun pinjaman BUMD
diperhitungkan sebagai pendapatan pemerintah daerah yang
dalam struktur APBD menurut Kepmendagri No. 903-057
tahun 1988 tentang penyempurnaan bentuk dan susunan
anggaran pendapatan daerah masuk dalam pos penerimaan
pembangunan
6. Unsur yang terlibat dalam penyusunan APBD adalah
Pemerintah Daerah yang terdiri atas Kepala Daerah dan
DPRD saja belum melibatkan masyarakat
7. Indikator kinerja Pemerintah Daerah mencakup:
a. Perbandingan antara anggaran dan realisasinya
b. Perbandingan antara standar biaya dengan realisasinya
c. Target dan persentase fisik proyek.
8. Laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah dan Laporan
Perhitungan APBD baik yang dibahas DPRD maupun yang tidak
dibahas DPRD tidak mengandung konsekuensi terhadap masa
jabatan Kepala Daerah.
MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH DI ERA (PASCA) REFORMASI
1. PP No.104 tahun 2000 tentang Dana Perimbangan
2. PP No. 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggung
jawaban Keuangan Daerah.
3. PP No. 107 tahun2000 tentang Pinjaman Daerah
4. PP No. 108 tahun 2000 tentang tata cara Pertanggung jawaban
Kepala Daerah
5. Surat Menteri dalam negeri dan Otonomi Daerah tanggal 17
Nopember tahun 2000 no. 903/2735/SJ tentang Pedoman Umum
Penyusunan dan Pelaksanaan APBD tahun 2001
6. Kepemendagri No. 29 tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan
Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata
cara penyusunan anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah,
pelaksanaan Tata usaha keuangan Daerah dan Penyusunan
Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
7. UU No. 17 th 2003 tentang Keuangan Negara
8. UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
KARATERISTIK MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH
1. Pengertian daerah adalah provinsi dan kota atau kabupaten
2. Pengertian Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah
beserta perangkat lainnya Pemerintah Daerah adalah
Eksekutif, sedangkan badan Legislatif didaerah adalah DPRD
(pasal 14 UU No. 22 tahun 1999) jadi terdapat pemisahan
yang nyata antara Legislatif dan Eksekutif.
3. Perhitungan APBD menjadi satu dengan
pertanggungjawaban Kepala Daerah (pasal 5 PP Nomor 108
tahun 2000)
4. Bentuk Laporan pertanggungjawaban akhir tahun anggaran
terdiri atas:
a. Laporan Perhitungan APBD
b. Nota Perhitungan APBD
c. Laporan Aliran Kas
d. Neraca Daerah.
5. Pinjaman APBD tidak lagi masuk dalam pos pendapatan tetapi
masuk pada penerimaan
6. Masyarakat masuk pada unsur-unsur penyusun APBD di
samping pemerintah daerah yang terdiri Kepala Daerah dan
DPRD
7. Indikator kinerja Pemerintah Daerah tidak hanya mencakup:
a. Perbandingan antara anggaran dan realisasinya.
b. Perbandingan antara standar biaya dengan realisasinya
c. Target dan persentase fisik proyek.
8. Laporan pertanggungjawaban Kepala Daerah pada akhir tahun
anggaran yang bentuknya adalah Lapaoran Perhitungan
APBD dibahas oleh DPRD dan mengandung konsekuensi
terhadap masa jabatan Kepala Daerah apabila 2 kali ditolak
oleh DPRD
9. Digunakannya akuntansi dalam pengelolaan keuangan daerah.
Secara umum terdapat 6 pergeseran dalam pengelolaan
anggaran daerah (APBD) yaitu:
a. Dari Vertikal Accountability menjadi horizontal Accountability
Sebelum reformasi keuangan daerah, pertanggungjawaban
atas pengelolaan anggaran daerah lebih ditunjukkan pada
pemerintah yang lebih tinggi dengan adanya reformasi,
pertanggungjawaban lebih ditunjukkan kepada rakyat melalui
DPRD
b. Dari Traditional Budget menajadi performance budget
proses penyusunan anggaran dengan sistem tradisional
menggunakan pendekatan inkemental dan Line Item
dengan penekanan pada pertanggungjawaban pada setiap
input yang dialokasikan.
c. Dari pengendalina dan audit keuangan ke pengendalian dan
audit keugan dan kinerja.
d. Lebih menerapkan konsep value for money
penerapan konsep value for money dikenal dengan konsep 3E(
Ekonomi, Efisien, Efektif)
e. Penerapan konsep pusat pertanggungjawaban
f. Perubahan Sistem Akuntansi keuangan pemerintahan.
Pembukuan yang dilakukan oleh sebagian pembukuan yang
belum dilakukan karena:
a. Sistem pencatatan yang dilakukan masih sangat sederhana,
yaitu sistem tata buku tunggal
b. Menggunakan dasar pencatatan kas (cash basis) yang
memiliki kelemahan.
KEUANGAN NEGARA DAN RUANG LINGKUPNYA
Keuangan Negara adalah semua had dan kewajiban Negara yang
dapat dinilai dengan uang demikian pula segala suatu baik
yang berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik
negara sehubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan
tugas negara sebagaimana yang tercantum dalam
pembukaan UUD 1945 GBHN dan UU APBN yang pada
prinsipnya adalah untuk menyejahterakan rakyat.
Ruang lingkup keuangan negara dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu yang dikelola langsung oleh pemerintah dan yang
dipisahkan pengurusnya.
Ruang lingkup keuangan Negara adalah semua unsur keuangan
atau kekayaan yang menjadi tanggungjawab Negara.dalam hal
ini adalah anggaran pendapatan dan belanja negara yang
tercantum dalam UU APBN dan barang-barang invetaris
kekayaan milik negara.
- Mencetak Uang
- Menarik Pajak/Retribusi
Hak-hak Negara - Mengadakan Pinjaman
- Melakukan Pinjaman Paksa

Menyelenggarakan Tugas
Keuangan Negara Kewajiban Negara Negara Seperti Terdapat dalam UU
1945, GBHN dan UU APBN
APBN
Dikelola Langsung Barang Inventaris
Kekayaan Negara
Ruang Lingkup

Dipisahkan
BUMN
OTORISATOR adalah pejabat yang mempunyai wewenang mengambil
tindakan yang mengakibatkan pengeluaran negara.
OTORISATOR adalah Presiden yang dalam pelaksanaan melimpahkan
wewenang kepada Menteri Negara.
BENDAHARAWAN ADA DUA MACAM
1. Bendahara yang mengurus uang
2. Bendahara yang mengurus barang
APBN dan APBD
APBN merupakan ruang lingkup keuangan negara yang dikelola
langsung APBD analog dengan kedudukan APBN dalam keuangan
negara merupakan ruang lingkup keuangan daerah yang dikelola
langsung.
Fungsi Anggaran negara :
a. Sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengelola negara untuk
suatu periode di masa mendatang
b. Sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kebijakan yang
telah dipilih pemerintah karena sebelum anggaran negara dijalankan
harus mendapat persetujuan DPR terlebih dahulu
c. Sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kemampuan
pemerintah dalam malaksanakan kebijaksanaan yang telah dipilih
karena pada akhirnya anggaran harus dipertanggungjawabkan
pelaksnaannya.
Daur Anggaran Negara RI ada lima Tahap a-l:
1. Penyusunan dan Pengajuan Rencana Anggaran (Rancangan UU
APBN) Oleh Pemerintah kepada DPR
a. Berdasarkan UU 1945 Pasal 23 tiap tahun APBN ditetapkan dengan
UU
b. Bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran adalah kekuasaan
eksekutif
c. Proses penyusunan ddan pengajuan Rancangan UU APBN
. Penerbitan Surat Edaran Menku berisi permintaan sumbangan
anggaran dalam bentuk Daftar Usulan Kegiatan (DUK) belanja rutin
Daftar Usulan Proyek (DUP)untuk belanja pembangunan.
. DUK dan DUP masing-masing disampaikan kpd Direktorat Jenderal
Anggaran (DJA) yang disampaikan ke BAPPENAS
. DUK dibahas Di DJA dan BAPPENAS
. Pembuatan Rancangan Anggaran oleh MENKU dengan melibatkan
Gubenur BI dan Menteri yang lain dalam bidang moneter.
. Penyusunan Nota Keuangan oleh DEPKU yang berisi:
a. Kebijakan Fiskal dan moneter.
b. Perkembangan harga, gaji, upah
c. Taksiran penerimaan dan pengeluaran negara untuk tahun
mendatang
d. Jumlah uang yang beredar.
2. Pembasan dan persetujuan DPR atas RUU APBN dan
penetapan UU APBN
a. Sebelum tahun anggaran baru dimulai pemerintah
menyampaikan Rancangan APBN Nota Keuangan dan
Perincian lebih lanjut kpd DPR Jika DPR Menyetujui
Rancangan UU APBN tsb RUU tersebut disahkan UU APBN
b. UU APBN mewajibkan Pemerintah menyusun laporan
realisasi pada pengesahan tahun anggaran berikutprognosa
6 bulan berikutnya laporan realisasi berikut prognosa dibahas
Pemerintah dengan DPR, maka pemerintah dengan DPR
mengajukan rancangan UU tentang tambahan dan
perubahan atas APBN dan Rancangan UU TPAPBN
c. Penyusunan Perhitungan anggaran pelaksanaan APBN
3. Pelaksanaan anggaran, akuntansi dan pelaporan keuangan
oleh Pemerintah:
a. Pemerintah mengeluarkan Keppres Perincian Lebih lanjut yang
dipakai sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh Pemerintah
b. Daftar Isian kegiatan Daftar isian Proyek dan surat keputusan
otorisasi (DIK, DIP DAN SKO) merupakan dokumen dasar
pelaksanaan anggaran kredit anggaran yang dapat mengelola
kegiatan rutin
c. Setelah DIK diterima oleh kepala Kantor dan DIP oleh
pemimpin proyek.
d. KPKN menerbitkan surat perintah Membayar (SPM) dapat
berupa SPM DU (penyediaan Dana UYHD), SPM_TU untuk
pengisian kas kecil.
e. DIK sebagai dasar pelaksanaan anggaran rutin disetujui oleh
Menku, sedangkan DIP sebagai dasar pelaksana anggaran.
f. DIK diterbitkan per bagian anggaran bagian proyek setingkat
yang membawahi proyek.
4. Pemeriksaan Pelaksanaan anggaran dan akuntansi oleh aparat
pengawasan fungsional.
Pemeriksaan dilakukan oleh badan pemeriksa keuangan (Bapeka)
pengawasan oleh atasan langsung
Pengawasan fungsional dapat dilakukan oleh:
Inspektorat Jenderal Departemen/Lembaga
Inspektorat Wilayah Propinsi
Inspektorat Wilayah Kabupaten/Kotamadya
Badan pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang
bersifat lintas sektorat.
Pengawasan atasan langsung disebut pengawasan melekat
Kepala kantor harus menyampaikan laporan keadaan Kredit Anggaran
(LKKA) dan Laporan Keadaan Kas (LKK)
5. Pembahasan dan persetujuan DPR atas perhitungan Anggaran Negara
(PAN) dan penetapan UU PAN
Perhitungan anggaran dibuat oleh pemerintah untuk diperiksa oleh
BAPEKA, kemudian perhitungan anggaran disampaikan kepad DPR
selambat-lambatnya 18 bulan setelah tahun anggaran yang
bersangkutan berakhir ( Pasal 6 UU APBN)
Pertanggungjawaban pemerintah tersebut disebut sebagai
perhitungan anggaran Negara (PAN) disusun berdasarkan
perhitungan anggaran (PA) dari bagian anggaran departemen
pembukuan DEPKU
Isi PAN
Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam 1 tahun
anggaran
SAL yaitu realisasi penerimaan dikurangi realisasi
pengeluaran
Perincian SAL/SAK
Disamping UU PAN disertakan juga Nota PAN yang antara
lain memuat sebab-sebab perbedaan yang terdapat antara
anggaran dan realisasinya serta penetapan surplus.
Unsur APBD:
1. Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara
rinci
2. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal
untuk menutupi biaya sehubungan dengan aktivitas tersebut
3. Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk
angka
4. Periode anggaran yaitu biasanya satu tahun.
KARAKTERISTIK APBD Diera Reformasi a-l:
a. APBD disusun oleh DPRD bersama Kepala Daerah (Pasal 30
UU Nomor 5/1975)
b. Pendekatan yang dipakai dalam penyusunan anggaran
adalah pendekatan Line Item
Pendekatan Pembuatan Anggaran:
1. Program Budgeting
2. Performance budgeting
3. Planning Programming and budgeting system (PPBS)
4. Zero base budgeting
c. Siklus APBD terdiri atas perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan pemeriksaan.
d. Dalam tahap pengawasan dan pemeriksaan dan tahap
penyusunan APBN yang bersifat Keuangan.
e.Pengawasan terhadap pengeluaran daerah dilakukan berdarkan
ketaatan tiga unsur utama yaitu ketaatan pada peraturan
perundangan yg berlaku, unsur ketaatan kehematan dan
efisiensi dan hasil program.
f. Sistem akuntansi keuangan daerah menggunakan stelsel
kameral.
KEUANGAN DAERAH MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH DAN
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
Dapat dijelaskan sbb:
a. Yang dimaksud dengan semua hak adalah hak untuk memungut
sumber penerimaan daerah seperti pajak daerah, retribusi daerah,
hasil perusahaan milik daerah, dan hak untuk menerima sumber
penerimaan lain seperti Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi
Khusus sesuai peraturanj yang ditetapkan. Hal ini akan
meningkatkan kekayaan Daerah.
b. Yang dimaksud dengan semua kewajiban adalah kewajiban untuk
mengeluarkan uang untuk membayar tagihan-tagihan kepada daerah
dalam rangka penyelenggaraan fungsi pemerintahan, infrastruktur,
pelayanan umum dan pengembangan ekonomi.
Kewajiban tersebut akan menurunkan kekayaan daerah:
Penanaman modal
Utang jangka pendek dan jangka panjang yang dibayar jatuh tempo sesuai
perjanjian
Pengawasan
Kehilangan dan pertanggungjawaban yang benar tentang keuangan pada
akhir tahun
Pemeriksaan transaksi keuangan secara resmi
Laporan yang diterima sesuai dengan kondisinya.
BAG 2
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH SEBAGAI BAGIAN DARI AKUNTANSI
Pertama: mengacu pada kegiatan Administrasi atau pengurusan
keuangan daerah, sehingga akuntansi keuangan daerah lebih diartikan
sebagai tata usaha keuangan atau tata buku.
Kedua: mengacu pada kegiatan penyediaan informasi dalam bentuk
Laporan keuangan bagi pihak eksternal dari pemerintah daerah.
Pengertian dasarnya adalah Akrual yang mendasarkan pasal 70 UU No. 1
th 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dasar atau akrual harus
ditetapkan paling lambat tahun anggaran 2008
PENGERTIAN AKUNTANSI
1. Menurut Accounting Principles Board (1970) Akuntansi
adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya menyediakan
informasi kuntitatif terutama yang bersifat keuangan tentang
entitas ekonomi yang dimaksud agar berguna dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
2. Menurut American Accounting Assosiation (1966) Akuntansi
adalah suatu proses pengindentifikasian pengukuran,
pencatatan dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari
suatu organisasi/entitas yang dijadikan sebagai informasi
dalam rangka pengambilan keputusan, ekonomi oleh pihak-
pihak yang memerlukan.
Dari dua difinisi tersebut dapat diketahui bahwa :
a. Fungsi (peran)akuntansi adalah menyediakan informasi
keuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas
ekonomi
b. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi oleh akuntansi
dimaksud agar berguna sebagai input yang dipertimbangkan
dalam pengambilan keputusan ekonomi yang rasional.
KEDUDUKAN AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH DI DALAM
AKUNTANSI
Sugiyanto dkk ( 1995) mengemukakan bahawa akuntansi terdiri
dari tiga bidang utama, yakni:
Akuntansi komersial/perusahaan (Commercial accounting),
Akuntansi Pemerintahan (Governmental Accounting), dan
Akuntansi Sosial (Social Accounting) semua itu digunakan
untuk memberikan informasi keuangan kepada manajemen,
pemilik modal, penanam modal, kreditor dan pihak lain yang
punya kepentingan (stakehoder)
Lingkup akuntansi pemerintahan
1. Akuntansi pemerintahan Pusat
2. Akuntansi pemerintahan Daerah terdiri atas
a. Akuntansi pemerintahan propinsi
b. Akuntansi pemerintahan Kabupaten/kota.
Berdasarkan klasifikasi di atas, kedudukan akuntansi keuangan
daerah (propinsi, kabupaten, atau kota)
1. Pertanggungjawaban (accountability anda stewardship)
memiliki arti memberikan informasi keuangan yang lengkap,
cermat dalam bentuk dan waktu yang tepat , yang berguna
bagi pihak yang bertanggung jawab yang berkaitan dengan
operasi unit-unit pemetintahan.
2. Manajerial tujuannya adalah akuntansi pemerintahan harus
menyediakan informasi keuangan yang diperlukan untuk
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan,
pengendalian anggaran, perumusan kebijaksanaan dan
pengambilan keputusan serta penilaian kinerja pemerintahan.
3. Pengawasan memiliki arti bahwa akuntansi pemerintahan
harus memungkinkan terselenggaranya pemeriksaan oleh
aparat pengawasan fungsional secara efektif dan efisien
Akuntansi Keuangan Daerah berdasarkan Entitas Pelapor

Akuntansi

Akuntansi Akuntansi Akuntansi


Komersial Pemerintahan Sosial

Akuntasni Akuntansi non


Pemerintahan Pemerintahan

Akuntansi Akuntansi
Pemerintahan Pemerintahan
Pusat Daerah

Akuntansi
Keuangan
Daerah
Kedudukan Akuntansi keuangan Daerah berdasarkan pengguna
laporan keuangan

Akuntansi

Akuntansi Akuntansi
Keuangan Manajemen

Akuntansi Akuntansi
Keuangan Manajemen
Daerah Daerah
Lingkungan Akuntansi Keuangan Daerah
Daerah baik secara langsung maupun tidak langsung disebut
stakehoders yang meliputi:
a. DPRD adalah badan yang memberikan otorisasi kepada
pemerintah daerah untuk mengelola keuangan daerah
b. Badan Pengawas keuangan adalah badan yang melakukan
pengawasan atas pengelolaan keuangan daerah yang
dilakukan oleh pemerintah daerah.
c. Investor Kreditor dan Donatur adalah badan, organisasi baik
pemerintahan, lembaga keuangan, maupun lainnya.
d. Analis Ekonomi dan Pemerhati Daerah
e. Rakyat adalah kelompok masyarakat yang menaruh
perhatian kepada aktivitas pemerintah khususnya yang
menerima pelayanan pemerintah daerah.
f. Pemerintah Pusat memerlukan laporan keuangan pemerintah
daerah untuk menilai pertanggungjawaban gubenur sebagai
wakil pemerintah (pasal 2 PP Nomor 108/2000)
g. Pemerintah Daerah kabupaten atau kota saling
berkepentingan secara ekonomi misalnya dalam hal melakukan
pinjaman (penjelasan pasal 2 ayat 2 huruf e peraturan
pemerintah Nomor 107 tahun 2000 tentang pinjaman daerah.
Lingkungan Akuntansi Keuangan Daerah

BPK ANALISIS
EKONOMI

PEMERINTAHAN AKUNTANSI
PUSAT KEUANGAN RAKYAT
DAERAH

INVESTASI
DPRD PEMDA
KREDITOR
LAIN
DONATUR
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
Sistem ini disebut dengan sistem pencatatan double entry, sistem pencatatan
double entry inilah yang sering disebut dengan akuntansi.
Double Entry akan dicatat dua kali (double = berpasangan/ganda, entry =
pencatatan)
Persamaan dasar akuntansi tersebut berbentuk sebagai berikut:
AKTIVA + BELANJA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN
Bila dicatat pada jurnal Umum
PEMERINTAH PROPINSI /KABUPATEN/KOTA X
JURNAL UMUM

Tanggal Kode Uraian Ref Debet Kredit


Rek
1 2 3 4 5 6
1/10/2007 10100 Kas (Aktiva) 1.350.000 -

6xxxx Ekuitas Dana atau R/K Pemda - 1.350.000

17/10/2007 20601 Belanja Pakaian Dinas (Belanja) 1.050.000 -

1010 Kas (aktiva) - 1.050.000


PEMERINTAH PROPINSI/KABUPATEN/KOTA
JURNAL PENERIMAAN KAS

Tanggal Kode Uraian Ref Debet Kredit


Rekening
1 2 3 4 5 6
1/10/2003 xxxxx Ekuitas Dana/R/K Pemda 1.350.000 1.350.000

PEMERINTAH PROPINSI/KABUPATEN/KOTA
JURNAL PENGELUARAN KAS

Tanggal Kode Uraian Ref Debet Kredit


Rekening
1 2 3 4 5 6
17/10/2003 xxxxx Belanja Pakaian Dinas 1.050.000 1.050.000

KETERANGAN
Bertambahnya aktiva (kekayaan) berupa kas Rp 1.350.000; dan bertambahnya
Ekuitas dana rekening koran (R/K) pemda, dibayarnya kuitansi oleh satuan
Pemegang kas satker Rp 1.050.000; hal ini berakibat naiknya biaya turunnya aktiva
Dapat dibuat keseimbangan akuntansinya sbb:
AKTIVA + BELANJA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN
+ 1.350.000 + 0 = 0 + 1.350.000 + 0
-1.050.000 + 1.050.000 = 0 + 0 + 0
- 300.000 + 1.050.000 = 0 + 1.35.000 + 0

TRIPLE ENTRY
Sistem Triple Entry adalah pelaksanaan pencatatan dengan
menggunakan sistem pencatatan double entry, ditambahkan
dengan pencatatan pada buku anggaran jadi sementara
sistem pencatatan double entry dijalankan satuan pemegang
kas pada satuan kerja maupun pada bagian keuangan atau
badan biro pengelola kekayaan daerah.
DASAR AKUNTANSI
1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan
dengan pos pemerintah daerah.
2. Pos tersebut mempunyai niai atau biaya yang dapat diukur
dengan andal.
Basis kas (Cash basis) dan basis akrual (Accrual basis)
keduanya ini merupakan langkah transaksi dari basis kas ke
basis akrual dapat digambarkan sbb:

Basis kas Kas kas modifikasian basis akrual mod Basis akrual
Dengan adanya reformasi keuangan, peraturan yang baru yakni
kepmendagri nomor 29 tahun 2002 pasal 81 ayat 1
menghendaki adanya laporan keuangan yang berupa laporan
aliran Kas dan neraca daerah.
Basis akrual memapu menghasilkan informasi guna menyusun
kedua laporan keuangan.
Tujuan pelaporan adalah tujuan manajerial dan pengawasan.
BASIS KAS (CASH BASIS) bahwa pengakuan/pencatatan
transaksi ekonomi hanya dilakukan apabila transaksi tersebut
menimbulkan perubahan pada kas.Contoh : SPM biaya
perjalanan dinas yang diterbitkan pada tgl 1/1/2007 dan
diterima oleh satuan pemegang kas pada tgl5/2/2007 maka
oleh satuan pemegang kas, transaksi itu baru dicatat pada tgl
5/2/2007 yaitu pada saat dipertanggungjawabkanl.
BASIS AKRUAL (ACCRUAL BASIS)
Adalah dasar akuntansi yang mengakui transaksi dan peristiwa
lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi (dan bukan
hanya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar)
oleh karena itu transaksi dan peristiwa-peristiwa dicatat dalam
catatan akuntansi dan diakui dalam laporan keuangan.
BASIS KAS MODIFIKASIAN (MODIFIED CASH BASIS)
Menurut butir 12 dan 13 Lampiran XXIX tentang kebijakan
akuntansi Kepmendagri Nol 29 th 2002 disebutkan bahwa :
12 basis/dasar kas modifikasian merupkan kombinasi dasar kas
dengan dasar akrual.
13 transaksi penerimaan kas atau pengeluaran kas dibukukan
pada saat uang diterima atau dibayar.
Bagian keuangan atau Biro/Badan Pengelola kekayaan Daerah
(BPKD) karena hampir tidak mungkin suatu pemerintah
Daerah mampu menerapkan basis akrual secara langsung
dalam memenuhi ketentuan pasal 70 UU No. 1 th 2004
UU No. 70 th 2004 berisi tentang Perbendaharaan Negara, Entitas
Pemerintah Daerah yang bertahun-tahun di era reformasi keuangan
daerah menggunakan basis kas dalam pengelolaan keuangan
daerahnya.
Proses dan pentahapan tersebut ditempuh melalui penggunaan basis kas
modifikasian sesuai Kepmendagri No. 29 th 2002
Contoh: Jika SPM tersebut berjumlah Rp 500.000 dan pada tanggal
5/2/2007 ternyata yang dipertanggungjawabkan sejumlah Rp 475.000
terdapat sisa Rp 25.000 maka satuan pemegang kas suatu satuan kerja
akan menjurnal transaksi tersebut sebagai berikut:
Bila catat di jurnal umum:
PEMERINTAH PROPINSI/KABUPATEN/KOTA
JURNAL UMUM

Tanggal Kode Uraian Ref Debet Kredit


Rek
1 2 3 4 5 6
5/2/2007 xxxxx Belanja Perjalanan Dinas 500.000
xxxxx Kas 500.000
31/12/2007 xxxxx Kas 25.000
xxxxx Belanja Perjalanan Dinas 25.000
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
JURNAL PENGELUARAN

Tanggal Kode Uraian Ref Debit Akumulasi


Rekening Rp
1 2 3 4 5 6
5/2/2007 2xx13011 Belanja Perjalanan Dinas 500.000 500,000

Bila digunakan jurnal penerimaan kas dan jurnal pengeluaran kas,


Maka pada akhir tahun anggaran dilakukan penyesuaian pada
Jurnal umum sebagaimana pada butir a diatas yakni dengan men-
Debet rekening kas dan mengkredit rekening biaya perjalanan
Dinas sebesar Rp 25.000;
BASIS AKRUAL MODIFIKASIAN (MODIFIED ACCRUAL BASIS)
Basis akrual modifikasi mencatat transaksi dengan menggunakan
Basis kas untuk transaksi tertentu dan menggunakan basis akrual
Untuk sebagian besar transaksi.
Contoh
Pada tanggal 8 Juni 2007 Penerbitan SKPD pajak kendaraan bermotor
senilai Rp100.000; dan diterima setoran pajak sebesar Rp 50.000;
sampai akhir tahun tidak bertambah.
Buatlah jurnalnya.
PEMERINTAH PROVINSI
JURNAL UMUM

Tanggal Kode Urian Ref Debit Kredit


Rekening Rp Rp
1 2 3 4 5 6
8/6/2007 4xx10101 Kas 50.000
4xx10401 Piut Pajak Kend.Bermotor 50.000
1xx1101 Pendp.Pajak Kend.Bermtr 100.000
8/9/2007 1xx1101 Pendp. Pajak Kend.Bermtr 50.000
4xx1041 Piut.Pajak Kend.Bermotr 50.000
SIKLUS AKUNTANSI
Pasal 81 ayat 1 KepMendagri Nomor 29 tahun 2002

INPUT PROSES OUTPUT

JURNAL BUKU LAPORAN


BUKTI
BESAR KEUANGAN

BUKU
PEMBANTU
Sistem akuntansi dapat dijelaskan melalui siklus akuntansi (Sugiri
2001 : 13)
1. Mendokumentasi transaksi keuangan dalam buku dan
melakukan analisis keuangan
2. Transaksi keuangan untuk dijurnal
3. Meringkas dalam buku besar
4. Menentukan saldo buku besar untuk dituangkan dalam
Neraca Saldo.
5. Menyesuaikan buku besar berdasarkan pada informasi yang
paling up-to-date
6. Menyusun Neraca saldo setelah penyesuaian (NSSP)
7. Menyusun Laporan Keuangan berdasarkan pada NSSP
8. Menutup Buku Besar
9. Menentukan saldo-saldo buku besar dan menuangkan dalam
neraca saldo setelah tutup buku.
SIKLUS AKUNTANSI

1. Analisis Transaksi Keuangan

9. Neraca Saldo Setelah Tutup Buku


2. Jurnal Transaksi

8. Jurnal Penutup
3. Posting Buku Besar

7. Laporan Keuangan
a. Laporan Perhitungan APBD 4. Neraca Saldo
b. Laporan Perubahan Ekuitas
c. Neraca
d. Laporan Aliran Kas
5.Jurnal Penyesuaian

6. Neraca Saldo Setelah Penyesuaian


Analisa Transaksi:
AKTIVA = PASIVA
AKTIVA = UTANG + EKUITAS DANA
AKTIVA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN-BELANJA
AKTIVA + BELANJA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN
KODE REKENING
Kode Rekening untuk kelompok Pendapatan:
Pendapatan Daerah
Bidang Pemerintah
Unit Organisasi
Jenis Pendapatan
Objek Pendapatan
Rincian Objek Pendapatan
Kode Rekening Kelompok Belanja
Belanja Daerah
Bidang pemerintahan
Kelompok Belanja
Jenis Belanja
Objek Belanja
Rincian Objek Belanja dan Bagian Belanja.
Kode Rekening kelompok Pembiayaan:
Pembiayaan
Bidang Pemerintahan
Kelompok Pembiayaan
Jenis Pembiayaan
Objek Pembiayaan
Kode Rekening Kelompok Aktiva:
Aktiva
Bidang Pemerintah
Unit Organisasi
Jenis Aktiva
Objek Aktiva
Rincian Objek Aktiva
Kode Rekening Kelompok Utang:
Utang, Bidang Pemerintahan, Unit organisasi, Kelompok Utang
Jenis Utang, Objek Utang, Rincian Objek Utang
Kode Rekening Kelompok Ekuitas Dana:
Ekuitas Dana
Bidang Pemerintahan
Unit Organisasi
Kelompok Ekuitas Dana
Jenis Ekuitas Dana
Objek Ekuitas Dana
BUKU BESAR (RINGKASAN)
FORM BUKU BESAR BENTUK T

NAMA REKENING

SISI KIRI ATAU DEBET SISI KANAN ATAU KREDIT

AKTIVA + BELANJA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN


AKTIVA BELANJA UTANG EKUITAS DANA PENDAPATAN
D K D K D K D K D K

+ - + - - + - + - +
Contoh Form Buku Besar bentuk T
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA..
SATUAN KERJA..
BUKU BESAR
Nama Rekening:
Kode Rekening : Halaman:

Tanggal Uraian Ref Debet Tanggal Uraian Ref Kredit


(RP) (Rp)

Catatan:
Cara membukukan adalah sama dengan akuntansi biasa, yang
Membedakan hanyalah nama rekeningnya saja. Alur dan arah
Serta sistemnya sama juga
Contoh Buku Besar Pembantu :
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
BUKU BESAR PEMBANTU
Nama Rekening BB:.
Kode Rekening :
UNIT KERJA
KODE UNIT KERJA

Tanggal Nama. Nama. Nama. Total


Kode Rek.. Kode Rek. Kode Rek.
Rp Rp Rp Rp
1 2 3 4 5

Jumlah
Contoh Form Neraca Saldo

PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA.
NERACA SALDO
PER 31 DESEMBER .
Nomor Nama Rekening Saldo
Rekening Debet Kredit
Kas Rp xx Rp xx
Piutang Retribusi Pelayana Kesehatan Rp xx Rp xx
Utang Bank Rp xx Rp xx
Ekuitas Dana Rp xx Rp xx
Pendapatan Dana Alokasi Umum Rp xx Rp xx
Belanja Perjalanan Dinas Rp xx Rp xx
Jumlah Rp xx Rp xx
JURNAL PENYESUAIAN:
Penyesuaian untuk melaporkan posisi Aktiva, Utang dan Modal
Dalam neraca tersebut belum memuat data laporan keuangan
yang Up-to-date Karena:
1. Kejadian tertentu seperti pemakaian bahan habis pakai, tidak
dijurnal setiap hari karena penjurnalannya tidak praktis
2. Biaya yang terjadi karena berlalunya waktu: Penyusutan
aktiva tetap, persekot sewa, asuransi
3. Biaya listrik, karena belum dicatat karena tagiahan dari PLN
belum diterima dlsb.
Jurnal Penyesuaian disusun untuk tujuan-tujuan berikut:
a. Melaporkan semua pendapatan (revenues)
b. Melaporkan semua belanja (Exspenses)
c. Melaporkan dengan akurat nilai aktiva pada tanggal Neraca
d. Melaporkan secara akurat kewajiban (utangO pada tanggal
neraca.
Contoh
Pada awal tahun 2007 jumlah Suplies Rp 100.000 dan pembelian
suplies Rp 600.000; dan jumlah persedian akhir tahun 2007
sebesar Rp 200.000; Buat Jurnal Penyesuaiannya
Jawab:
a. Pada saat pemakaian Suplies:
Belanja Suplies Rp 500.000; -
Bahan Suplies - Rp 500.000
Catatan: Jumlah Suplies Rp 700.000
Persediaan Akhir Rp 200.000 -
yang dicatat Rp 500.000
b. Jika dicatat sebagai belanja suplies:
Suplies Rp 200.000 =
Belanja Suplies - Rp 200.000
Belanja dibayar di Muka:
Contoh : Pada awal tahun 2007 dibayar sewa untuk tiga tahun ke
depan sebesar Rp 1.200.000;
Buat jurnal penyesuaiannya?
Jurnal:
Belanja Sewa Rp 400.000; -
Sesa dibayar di Muka - Rp 400.000;
Perhitungan:
1.200.000; = Rp 400.000;
3
Penyusutan Aktiva Tetap
Contoh : Perusahaan telah membeli mobil seharga Rp120.000.000;
taksiran umur ekonomis 10 tahun dengan nilai sisa Rp 20.000.000
Penyusutan dihitung dengan metode garis lurus.
Perhitungan : Harga Perolehan Rp 120.000.000;
Nilai Sisa Rp 20.000.000; -
Saldo Rp 100.000.000;
Penyusutan per tahun = Rp 100.000.000/10 tahun = Rp10.000.000;/th
Jurnal
Biaya Penyusutan Rp 10.000.000 -
Akumulasi Penyusutan - Rp 10.000.000
BELANJA GAJI PEGAWAI
Contoh:
Pada tanggal15 Desember 2007 keluar Keppres tentang kenaikan Gaji
PNS guru sebesar 10% yang berlaku bulan desember 2007 di kota Solo
terdapat 2000 PNS guru dengan jumlah gaji/bulan Rp1.000.000.000 dan
pemkot Solo baru akan membayar kenaikan tersebut bulan januari
2008 Buat Jurnal Penyesuaiannya?
Jawab
Belanja Gaji Pegawai Rp 100.000.000 -
Utang Gaji Pegawai - Rp 100.000.000
Perhitungan:
Belanja Gaji Pegawai yang terhutang = Rp 1.000.000.000 x 0,10
= Rp 100.000.000;
LAPORAN KEUANGAN = Laporan Perhitungan APBD
Nota Perhitungan APBD
Laporan Aliran Kas dan Neraca
LAPORAN ALIRAN KAS METODE LANGSUNG
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
LAPORAN ALIRAN KAS
31 DESEMBER .

uraian Jumlah (Rp)


ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Aliran kas Masuk
Pendapatan Asli Daerah
Dana Perimbangan
Lain-lain PAD yang Sah
Aliran Kas Keluar
Belanja Administrasi Umum
Belanja Operasi dan Pemeliharaan
Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan
Belanja Tidak Tersangka
Jumlah
Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi
ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Aliran Kas Masuk
Penjualan investasi jangka panjang
Penjualan Aktiva Tetap
Jumlah
Aliran Kas Keluar
Belanja Modal
Pembelian Investasi Jangka Panjang
Jumlah
Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Investasi
ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN
Aliran Kas Masuk
Penerimaan Penjaman dan Obligasi
Transfer dari dana Cadangan
Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan
Jumlah
Aliran Kas Keluar
Pembayaran Pokok Pinjaman dan Obligasi
Penyertaan Modal
Jumlah
Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan
Kenaikan Bersih Kas Selama Periode
Saldo Awal Kas
Saldo Akhir Kas
FROM NERACA
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA.
NERACA DAERAH
31 DESEMBER ..
AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas
Piutang Pajak
Piutang Retribusi
Sediaan BPH Material
Deposito Berjangka
Belanja Bibayar di Muka
Jumalh Aktiva Lancar
Investasi Jangka Panjang
Investasi dalam saham
Investasi dalam Obligasi
Jumlah Investasi Jangka Panjang
Aktiva Tetap
Tanah
Jalan dan Jembatan
KETERANGAN DEBET KREDIT
Gedung Kantor
Mesin dan Peralatan
Kendaraan
Alat Kantor dan Rumah Tangga
Jumlah Aktiva Tetap
Dana Cadangan
Aktiva Lain-lain
Piutang Angsuran
Bangunan dalam pengerjaan
Jumlah Aktiva Lain-lain
TOTAL AKTIVA
PASIPA
Utang
Utang Jangka Panjan
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Utang Perhitungan Pihak Ketiga
Jumlah Utang jangka Pendek
Utang Jangka Panjang
Utang Dalam Negeri
Utang Luar Negeri
Utang Bank
KETERANGAN DEBET KREDIT
Jumlah Jangka Panjang
Ekuitas Dana
Ekuitas Dana Umum
Ekuitas Dana Dicadangkan
Ekuitas Dana Donansi
Jumlah Ekuitas Dana
TOTAL UTANG DAN EKUITAS DANA

AKUNTANSI REKENIG-REKENIG DALAM LAPORAN KEUANGAN DAERAH


Laporan Aliran Kas

No Aktivitas Operasional Rekening Terkait


1 Kas Dari Publik Piutang Pajak/Retribusi dan Pendapatan
2 Kas Untuk Membayar per Utang Pengadaan Bahan Suplies Kantor dan
sediaan Belanja Administrasi Umum
3. Kas Untuk Membayar Utang Belanja Pegawai dan Belanja Gaji
Pegawai Pegawai