Anda di halaman 1dari 14

Dubuisson & Faucooniere, 2007 :

tingkat kehamilan meningkat setelah


menjalani prosedur myomektomi.
Laparotomi dan laparoskopi untuk miomektomi
dalam meningkatkan kesuburan (Fertility)

Miomektomi dengan metode


laparoskopi :
1) waktu perawatan dirumah sakit
yang lebih singkat,
2) periode penyembuhan lebih cepat,
3) perlengketan minimal,
4) nyeri setelah operasi minimal
miomektomi dengan metode
Laparoskopi

prosedur ini lebih mudah diterima


dibandingkan tindakan invasif lainnya
(Laparotomi), terutama untuk pasien
yang berencana untuk hamil (Hurst et
al, 2005).
miomektomi dengan metode Laparoskopi

39 pervaginam
158
119 Sectio caesarea
hamil

51
4 27,2
2,6%
%

ab Kehamilan ektopik
tidak ada catatan bahwa terdapat
(Seracchioli et al, 2006).
ruptur uteri pada penelitian ini
1) mioma berjumlah 2 atau lebih,
2) ukuran besar seperti ukuran uterus
pada kehamilan 12 minggu,

laparotomi
randomized controlled trial
Laparoskopi vs Laparotomi

Tidak
Signifika
signifika
n
n (Seracchioli et al, 2000).

pasca operasi
Tingkat kehamilan
waktu rawat inap di
(55,9% laparotomi,
rumah sakit yang lebih
53,6 % laparoskopi)
panjang pada wanita
yang menjalani
Tingkat abortus
miomektomi laparotomi
(12% laparotomi,
20% laparoskopi)
Laparotomi

3 70%

2.5
meningkat hingga 70%
2 pada kasus dimana
tidak ada faktor
1.5 infertilitas yang
berhubungan dengan
1 myoma

0.5 32%
menurun hingga
0 32% ketika ada
satu atau lebih
faktor yang
berhubungan
Laparotomi vs Laparoskopi
Metwally et al, 2010
Peneliti Tipe n Kehamilan Keguguran
pembedahan (%) (%)
Pre-op Pre-op
Post-op Post-op

Serracchioli (2006) Laparoskopi 514 X 158 X 43


Marchionni (2004) Laparotomi 72 28 70 54 22
Serracchioli (2000) Laparotomi 65 X 55,9 X 12
Laparoskopi 66 X 53,6 X 20
Compo (2003) Laparotomi 19 80 78,9 60 20

Laparoskopi 22 50 63,6 63 7,1


Vercellini (1998) Laparotomi 138 10 87 88 13
Buttram (1981) Laparotomi 76 X 54 41 19
X= No data available: review of three studies
randomized clinical trial (Seracchiolli et al,
2000)

1) infertilitas /
2) satu myoma dengan ukuran lebih dari 4 cm

diobservasi tingkat kesuburan antara kelompok laparotomi dan


laparoskopi. Laparotomi Laparoskopi

Kehamilan % 55,9 53,6

Keguguran % 12,1 20

Sedang hamil 2 3

Kehamilan ektopik 0 1

Melahirkan 27 20

Lahir preterm % 7,4 5,0

Pervaginam % 22,2 35,0

Sectio caesarea % 77,8 65

Ruptur uteri 0 0
Peran Miomektomi menggunakan
Histeroskopi dalam Meningkatkan Kesuburan

meningkatkan tingkat kehamilan


Perlengketan pada pelvis (-)
risiko rendah terjadinya keguguran
hamil
134 79
Wanita infertil

histeroskopi prosedur yang aman dan


efektif dalam meningkatkan tingkat
kehamilan

Ubaldi et al
Bernard et al
tingkat kesuburan dan kehamilan setelah menjalani
histeroskopi tergantung o/ :
karakteristik dari jenis myomanya (submukosa atau
intramural)

Tingkat kehamilan yang lebih tinggi ditemukan pada pasien


wanita dengan reseksi myoma submukosa tunggal
(Bernard et al, 2000).
Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada tingkat
kehamilan dan tingkat persalinan berdasarkan :
1) Ukuran
2) Letak anatomis dari myoma submukosa

Pasien yang tidak memiliki myoma intramural :


3) Tingkat kehamilan yang lebih tinggi
4) Waktu untuk menunggu kehamilan yang lebih singkat (signifikan)

reseksi myoma submukosa dapat


meningkatkan tingkat kesuburan
pada wanita infertil
Histerosko Metwally et al, 2010
pi
Penelitian Tipe fibroid n Kehamilan
%
Melahirkan
%
Kegugura
n%

Narayn (1994) Histeroskopi Sub Mukosa 27 13/27 (48,2) X X/(23)

Bernard (2000) Histeroskopi Sub Mukosa 31 11/31 (35,5) 9/13 (69,3) 3/13 (23)

Varasteh (1999) Histeroskopi Sub Mukosa 36 19/36 (53) 13/36 (36) (31,5)

Garcia and tureck Open Sub Mukosa 15 8/15 (53) 7/15 (46) 1/16 (6)
(1984)

Vercellini (1999) Histeroskopi Sub Mukosa 108 15/40 (38) 14/40 (35) 1/15 (6)

Goldenberg (1995) Histeroskopi Sub Mukosa 15 7/15 (47) 6/15 (40) X

Fernandez (2001) Histeroskopi Sub Mukosa 59 16/59 (27) 6/59 (10) X