Anda di halaman 1dari 40

TOT TB HIV

AISYIYAH COMMUNITY TB CARE


HOTEL BALAIRUNG 15-17 APRIL 2014
TUBERKULOSIS (TB/TBC)
TB
ARTI (Annual Risk of Tuberculosis Infection)

Indonesia: ARTI 1-3 %


1000 orang terinfeksi TB dari 100.000
penduduk
Dari 1000 orang ini 10% nya akan
menjadi sakit TB
Jangan bengong, ayo lanjutkan
HIV

Human Immunodeficiency Virus AIDS


Faktor Resiko Utama

Hubungan heteroseksual
(59,8%)
Pengguna Jarum Suntik (18%)

Apakah arti dari data ini??


Kelompok Masyarakat Beresiko

Infected people yg sudah tertular HIV


High Risk People sangat beresiko tertular
HIV
Vulnerable People rentan tertular HIV,
cth: pasien TB
General Population masyarakat umum
Level Epidemi HIV

Low epidemic
Concentrated epidemic
Generalize epidemic

Di posisi manakah Indonesia??


Perkembangan epidemi HIV di Indonesia adalah yang
tercepat di ASIA
KOINFEKSI TB HIV

Koinfeksi TB HIV adalah pasien TB dengan HIV


positif
Data Kemenkes RI:
50% kasus AIDS disertai dengan TB
3,3 % pasien TB dengan status HIV positif
(prakiraan karena case finding HIV pada pasien
TB belum berjalan)
Fakta tentang TB dan HIV

Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak


mengetahui status HIV nya
Banyak ODHA tetap asimptomatik untuk jangka
waktu panjang dan tidak mengetahui bahwa dirinya
terinfeksi, dan merupakan sunber penularan
HIV merupakan faktor resiko yang paling kuat bagi
yang terinfeksi TB menjasi sakit TB
HIV adalah penyakit infeksi no I di dunia dan HIV
meningkatkan angka kematian pada pasien TB
Fakta tentang TB dan HIV

HIV mempermudah orang yang terhirup kuman


tuberkulosis berkembang menjadi penderita TB
karena adanya kerusakan luas sistem daya tahan
tubuh seluler akibat infeksi HIV, sebaliknya
penderita TB mempunyai daya tahan tubuh yang
lemah sehingga mempermudah tertular penyakit-
penyakit lain, terutama HIV.
Jika jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka
jumlah pasien TB akan meningkat, sehingga
penularan TB di masyarakat akan meningkat pula
Fakta tentang TB dan HIV

Adanya virus HIV dalam tubuh penderita TB, akan


menghambat proses pengobatan TB jika HIV tidak
ditemukan sedini mungkin

Penularan HIV dipermudah dengan adanya IMS


(Infeksi Menular Seksual), dg adanya IMS
meningkatkan resiko penularan HIV melalui
hubungan seksual sebanyak 3-5 kali lebih besar. IMS
merupakan petunjuk terdapatnya prilaku seksual
beresiko tinggi.
Apa yang harus dilakukan dengan adanya fakta-fakta
tersebut?
CASE FINDING:
Temukan dan ketahui status HIV pada pasien TB

Ingat: TB dapat disembuhkan dan HIV dapat


dikendalikan jika ditemukan sedini mungkin.
2 Strategi pendekatan layanan diagnostik HIV
(Case Finding HIV)
1. Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS)/ Voluntary
Counseling and Testing (VCT)

2. Tes HIV atas Inisiatif Pemberi Pelayanan


Kesehatan dan Konseling (TIPK)/ Profider
Initiated Testing and Counseling (PITC)
MEKANISME CASE FINDING TB
HIV OLEH KOMUNITAS
TB positif dg kemungkinan
HIV??
Kader dapat mengetahui dengan melakukan
pengamatan dan mengajukan pertanyaan.

Sangat penting kader membangun


kedekatan dengan pasien, sehingga
terbangun suasana nyaman dan pasien
bersifat terbuka kepada kader

Pengamatan: apakah terlihat tattoo, banyak


tindikan, bekas jarum suntik, tanda sayatan
pada pergelangan tangan
Mengajukan pertanyaan:
Riwayat kerja penderita
Riwayat kerja pasangan/teman
hidup
Riwayat pernikahan/teman hidup
Apakah pernah mendapatkan
transfusi, atau menggunakan
obat2an dengan jarum suntik
Apakah pernah mendapatkan
pengobatan untuk organ kelamin
(cth: keputihan, dll)
Pengamatan dan Pertanyaan yang
diajukan

Ciri-ciri HIV/Faktor Resiko HIV

!!!:
Sebagian penularan hiv tidak diketahui
asalnya
Siapapun bisa tertular HIV
Semua orang dg daya tahan tubuh rendah
beresiko terkena HIV
Model Rujukan TB
Model A: pemeriksaan suspek TB sekaligus
dilakukan pemeriksaan HIV. Sehingga disini
petugas fasyakankes lebih berperan dalam
mengarahkan pasien untuk melakukan
pemeriksaan HIV
Model B: Pemeriksaan HIV dilakukan
setelah suspek TB dinyatakan positif. Disini
kader lebih berperan untuk mengarahkan
dan memotivasi pasien TB yang sudah
dinyatakan positif TB untuk melakukan
pemeriksaan HIV dengan atau tanpa ciri-
ciri kemungkinan HIV (Faktor resiko)
PERSIAPAN SBLM PELAKSANAAN

Koordinasi dg Dinas
Kesehatan, jejaring pengelola
program HIV laninnya
Training & Retraining kader TB
HIV
Koordinasi didalam organisasi
Tugas dan Peran Kader Komunitas
Mencari adanya ciri-ciri (faktor resiko) HIV
Mengajak penderita TB positif untuk memeriksakan diri ke Unit
Konseling dan Testing HIV (KTS)
Melapor kepada Tim SSR jika berhasil merujuk pasien ke unit
KTS
Melakukan pengecekan di Unit KTS apakah hasil testing sudah
selesai
Memastikan penderita TB yg sudah di test menerima hasil test
tersebut
Melapor ke Tim SSR jika hasil test sudah diterima penderita TB
Mendampingi penderita TB dengan hasil test HIV + untuk
menjalani pengobatan TB hingga sembuh
Melakukan rujukan pendampingan pasien HIV+ kepada
kelompok dukungan sebaya HIV/AIDS jika diminta oleh pasien
TB dengan HIV +
Memberikan penyuluhan kepada masyarakat kaitan TB dengan
HIV
Gimana Caranya???
Mencari adanya ciri-ciri (faktor
resiko) HIV
Kader dapat mencari adanya ciri-ciri
kemungkinan HIV dengan mengamati
dan mengajukan pertanyaan. Sebelum
mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
kader harus melakukan pendekatan
pribadi terlebih dahulu, sehingga pasien
percaya dan bersikap terbuka.
Mengajak penderita TB memeriksakan diri ke
Unit Konseling dan Testing HIV (KTS).
Dg/tanpa ciri- ciri kemungkinan HIV, kader
memberikan informasi perlunya pemeriksaan HIV
bagi kelancaran pengobatan TB
Daftar pelayanan PITC

Melapor kepada Tim SSR jika berhasil


merujuk pasien ke unit VCT
Kader menghubungi SSR dengan menyebut
identitas pasien yang berhasil dirujuk (Nama
lengkap, Usia, Alamat) dan juga Nama dan Alamat
Fasyankes unit KTS yang dikunjungi.
Mengecek ke fasyankes apakah hasil
testing sudah selesai
Kader dapat menghubungi petugas penanggung
jawab unit VCT dan menanyakan apakah hasil
skrining sudah ada.

Memastikan penderita TB yg sudah di test


HIV menerima hasil test
Kader dapat menanyakan kepada petugas
penanggung jawab unit KTS apakah hasil
skrining sudah diterima oleh pasien. SSR dapat
membantu hal ini jika kader mengalami kendala
Melapor ke Tim SSR jika hasil test sudah
diterima penderita TB
Kader menghubungi SSR apabila mengetahui
hasil skrining sudah diterima oleh pasien ATAU
SSR dapat menanyakan kepada petugas KTS
apakah berdasarkan hasil skrining pasien dirujuk
untuk terapi ARV.

Mendampingi penderita TB dengan hasil


test HIV + untuk menjalani pengobatan TB
hingga sembuh
Kader memastikan ada PMO untuk pasien TB
dan mengawasi pengobatan lewat PMO sampai
proses pengobatan selesai
Melakukan rujukan pendampingan pasien HIV+
kepada kelompok dukungan sebaya HIV/AIDS
jika disetujui pasien TB dengan HIV +
Jika di puskesmas tidak tersedia pengobatan ARV,
Kader Komunitas dapat merujuk pendampingan pasien
HIV+ ke kelompok dukungan sebaya HIV/AIDS.
daftar dukungan sebaya

Memberikan penyuluhan kepada masyarakat


kaitan TB dengan HIV. Setelah memberikan
penyuluhan tentang TB, Kader memberikan info
tambahan tentang TB HIV seperti yang terdapat dalam
modul

Memotivasi masyarakakat yang diberi


penyuluhan untuk melaporkan jika mengetahui
ada suspek TB
PENCEGAHAN dan PENGENDALIAN INFEKSI

TUJUAN:
Kader mampu melindungi diri sendiri atau
orang lain dari penularan TB ataupun HIV

Menganjurkan kepada pasien untuk


menggunakan masker selama belum
konversi
Mengajarkan kepada pasien dan
keluarga untuk mencuci tangan secara
baik dan benar
Menjaga jarak aman dengan pasien saat
Mengatur lokasi saat kader bertemu
dengan pasien

Memberitahu kepada keluarga pasien


untuk menjaga sirkulasi udara maksimal
dalam ruangan. Jika memungkinkan kamar
pasien tersendiri, dan mempunyai sirkulasi
udara yang baik.

Mengajarkan Etika Batuk kepada


pasien