Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN KASUS

CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS)

Oleh : Renny Dharmawan 406151005


Pembimbing : dr. Riri Gusnita Sari Sp. S
Identitas Penderita
Nama : Ny. H
Umur : 52 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Pendidikan : SMP
Alamat : Tembalang, Kota Semarang
Ruang : Poli Saraf
Daftar Masalah
Masalah Aktif
Paresthesia tangan kanan

Masalah Pasif
Tidak ada
SUBJEKTIF

ANAMNESIS
1. KELUHAN UTAMA
Nyeri pergelangan tangan kanan

2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


1. Lokasi : tangan kanan
2. Onset : 1 tahun
3. Kronologi : pasien datang ke poli dengan keluhan nyeri
pergelangan tangan kanan sejak 1 tahun yang lalu, selain
nyeri pasien mengeluh telapak tangan kanan terasa seperti
tersengat listrik, kesemutan dan terkadang terasa baal.
Keluhan dirasakan makin memberat saat memasak dan saat
mencuci pakaian. Pasien mengaku jika tangan dikibaskan
keluhan berkurang. Pasien mengaku terkadang terganggu
pada saat tidur malam hari akibat nyeri pada tangan
kanannya. Tidak ada rasa nyeri di bagian tengkuk maupun
bahu.
SUBJEKTIF

ANAMNESIS
3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat DM disangkal
Riwayat Hipertensi disangkal

4. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Keluarga tidak ada yang mengalami gejala serupa

5. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Pasien seorang ibu rumah tangga yang terbiasa melakukan
pekerjaan (mencuci dengan tangan, memeras pakaian, dan
memasak)
Pasien berobat dengan biaya BPJS
OBJEKTIF
A. Status Presens
Kesadaran : Compos mentis, GCS E4M6V5
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 37 C
RR : 21 x/menit
Kepala : normocephal, wajah simetris
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Thorax : simetris
Jantung : bunyi jantung I dan II reguler
Paru : SDV +/+, rh -/-. Wh -/-
Abdomen : dalam batas normal
Genitalia : tidak diperiksa
OBJEKTIF

B. Status Psikis
Cara berpikir : realitis, tidak ada gangguan isi dan proses
berpikir
Perasaan : eutimik, afek sesuai
Tingkah laku : normoaktif, kooperatif
Ingatan : daya ingat jangka pendek, menegah dan panjang
baik
Kecerdasan : Jernih
OBJEKTIF
C. Status Neurologika

Kepala
Bentuk : normocephal
Simetris : simetris
Nyeri tekan : (-)
Pulsasi : (-)

Leher
Sikap : simetris
Pergerakan : dalam batas normal
Kaku kuduk : (-)
Status Neurologika
N. Cranialis (SSP) Kanan Kiri
N.I Olfactorius Tidak dilakukan
Subjektif
Dengan bahan
N. II Opticus
Tajam penglihatan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Lapang pandang Sesuai pemeriksa Sesuai pemeriksa
Melihat warna (+) (+)
Fundus Oculi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N. III Occulomotorius
Sela mata Simetris Simetris
Pergerakan bulbus (+) ke segala arah (+) ke segala arah
Strabismus (-) (-)
Nistagmus (-) (-)
Eksoftalmus (-) (-)
Pupil bentuk & ukuran Bulat, 3 mm Bulat, 3 mm
Reflek Cahaya (+) (+)
Reflek Konvergensi (+) (+)
Diplopia (-) (-)
Status Neurologika
N. Cranialis (SSP) Kanan Kiri
N.IV Trochlearis
Pergerakan mata (bawah Dbn Dbn
lateral) Simetris Simetris
Sikap bulbus (-) (-)
Diplopia
N. V Trigeminus
Membuka mulut Dbn Dbn
Mengunyah Dbn Dbn
Menggigit Dbn Dbn
Reflek kornea Dbn Dbn
Sensibilitas wajah Dbn Dbn
N. VI Abducens
Pergerakan mata (lateral) Dbn Dbn
Sikap bulbus Simetris Simetris
Diplopia (-) (-)
N. VII Facialis
Menggerakan Dahi Dbn Dbn
Menutup mata Dbn Dbn
Menyeringai Dbn Dbn
Status Neurologika
N. Cranialis (SSP) Kanan Kiri
N.VIII Vestibulocochlearis
Detik arloji (+) (+)
Suara berbisik
Tes Webber Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tes Rinne
N. IX Glosofaringeus
Perasaan lidah 1/3 belakang Tidak dilakukan
Sensibilitas laring
N. X
Arcus faring Simetris Simetris
Berbicara Dapat Dapat
Menelan Dapat Dapat
Nadi dbn dbn
N. XI Aksesorius
Mengangkat bahu (+) (+)
Memalingkan kepala (+) (+)
N. XII Hipoglossus
Pergerakan lidah Simetris Simetris
Tremor lidah (-) (-)
Artikulasi Dbn Dbn
Status Neurologika
Badan dan anggota gerak Kanan Kiri
Badan: Motorik
Respirasi
Duduk Dbn
Bentuk kolumna vertebralis Tidak dilakukan
Pergerakan kolumna vertebralis
Sensibilitas
Taktil Dbn Dbn
Nyeri Dbn Dbn
Diskriminasi Dbn Dbn
Lokalis Dbn Dbn
Reflek
Reflek kulit perut atas Dbn Dbn
Reflek kulit perut tengah Dbn Dbn
Reflek kulit perut bawah Dbn Dbn
Reflek kremaster Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Anggota gerak atas
Motorik
Pergerakan (+) (+)
Kekuatan 5/5/5 5/5/5
Tonus Normotoni Normotoni
Trofi eutrofi eutrofi
Status Neurologika
Badan dan anggota gerak Kanan Kiri
Anggota gerak atas
Sensorik
Taktil menurun Dbn
Nyeri menurun Dbn
Diskriminasi Dbn Dbn
Lokalis + +
Reflek
Biceps + ++
Triceps + +
Hoffman-Trommer (-) (-)
Anggota gerak bawah
Motorik
Pergerakan (+) (+)
Kekuatan 5/5/5 5/5/5
Tonus Normotoni Normotoni
Trofi Eutrofi Eutrofi
Sensorik
Taktil Dbn Dbn
Nyeri Dbn Dbn
Diskriminasi Dbn Dbn
Status
Badan Neurologika
dan anggota Kanan Kiri
gerak
Anggota gerak bawah
Reflek
Patella + +
Achilles + +
Babinski (-) (-)
Chaddock (-) (-)
Schaefer (-) (-)
Oppenheim (-) (-)
Klonus paha (-) (-)
Klonus kaki (-) (-)
Tes Lassegne >70 >70
Tes Kernig > 135 > 135
Koordinasi dan
keseimbangan
Cara berjalan Tidak dilakukan
Tes Romberg
Disdiadokinesis
Ataxia
Status Neurologika
Kanan Kiri
Gerakan Abnormal
Tremor (-) (-)
Athetasis (-) (-)
Miokloni (-) (-)
Khorea (-) (-)

Alat vegetative
Miksi Dbn Dbn
Vegetatif Dbn Dbn

Tes Tambahan
Tes Nafziger Tidak dilakukan
Tes Valsava
Ringkasan
Telah diperiksa seorang perempuan usia 52 th pasien datang ke poli dengan
keluhan nyeri pergelangan tangan kanan sejak 1 tahun yang lalu,
selain nyeri pasien mengeluh telapak tangan kanan terasa seperti
tersengat listrik, kesemutan dan terkadang terasa baal. Keluhan
dirasakan makin memberat saat memasak dan saat mencuci pakaian.
Pasien mengaku jika tangan dikibaskan keluhan berkurang. Pasien
mengaku terkadang terganggu pada saat tidur malam hari akibat nyeri
pada tangan kanannya. Tidak ada rasa nyeri di bagian tengkuk
maupun bahu.
Pada pemeriksaan ditemukan:
Kesadaran : compos mentis dengan GCS 15 (E4M6V5)
TD : 110/80 mmHg
Refleks Fisiologis : +/++ | ++/++
Kekuatan : 444/555 | 555/555
Sensibilitas : menurun
Reverse Phalens :+
Tinnel Sign :+
Flick Sign : +
Diagnosa
1. Diagnosa klinis
Carpal Tunnel Syndrome

2. Diagnosa Topis
Nervus Medianus Carpal Tunnel

3. Diagnosa etiologis
Idiophatic Entrapment - Neuropathy
Rencana Awal
1. Masalah
Paresthesia telapak tangan kanan
2. Assessment
Carpal Tunnel Syndrom (CTS)
3. Dx
Anamnesa dan pemeriksaan fisik
Lab (GDS, Ureum/Creatinin, Natrium)
Radiologi, EMG (Gold Standart)
4. Rx
Na diclofenac 2 x 150 mg
Mecobalamin 2 x 500 mg
Amitriptilin 1 x 12,5 mg
Ranitidine 2x150 mg
Rencana awal
5. Ex
Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang
penyakit yang diderita
Menjelaskan faktor pemicu agar tidak memperburuk
keluhan
Rajin kontrol untuk melihat kemajuan terapi

6. Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad functionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam
Tinjauan Pustaka

Carpal Tunnel Syndrom (CTS)


Pendahuluan

Entrapment neuropathy atau kompresi


sarafdapat menyebabkan masalah kecacatan klinis,
khususnya padapasien dengan predisposisi resiko
kerja atau dengangangguan-gangguan
medistertentu.
Neuropati disebabkan oleh tekanan dinamis
mekanis darisuatu segmen pendeksuatu saraf
tunggalpada lokasi yangspesifik, seringkali ketika
saraf melewati suatu terowonganfibroosseous, atau
suatu pintu dari jaringan muskuler atau fibrosa.
Paling sering nervus medianus yang mengalami
entrapment pada pergelangan tangan sindrom
terowongan karpal / Carpal Tunnel
Syndrome( CTS).
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan gangguan
umum yang berhubungan dengan pekerjaan yang
disebabkan gerakan berulang dan posisi yang
menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat
mempengaruhi sistem saraf, dan suplay darah pada
tangan.

Carpal Tunnel Syndrome merupakan neuropati perifer


pada nervus medianus didalam Carpal Tunnel /
Terowongan Karpal (pergelangan tangan) tepatnya
dibawah fleksor retinakulum.
Sindrom ini terjadi akibat adanya kenaikan tekanan / kompresi
dalam terowongan yang sempit yang dibatasi oleh tulang-
tulang carpal serta ligament carpi tranversum yang
mengalami kekakuan sehingga menjebak nervus medianus
(Rambe, 2007)
CTS disebabkan oleh penyempitan bekas
patah tulang radius distal yang
mengakibatkan kompresi n.medianus dibawah
retinakulum volar. Kebanyakan sindrom ini
bersifat idiopatik .
Penderita mengeluh kelemahan atau
kekakuan tangan, terutama melakukan
pekerjaan menggunakan jari
(De jong, 2012)
Tertekannya n. medianus dapat disebabkan oleh berkurangnya ukuran
canalis carpi, membesarnya ukuran alat yang masuk di dalamnya
(pembengkakan jaringan lubrikasi pada tendon tendon fleksor) atau
keduanya. Gerakan fleksi dengan sudut 90 derajat dapat mengecilkan
ukuran canalis. Penekanan terhadap n. medianus semakin masuk di
dalam ligamentum carpi transversum dapat menyebabkan :
atrofi eminensia thenar
kelemahan pada otot fleksor pollicis brevis
otot opponens pollicis dan otot abductor pollicis brevis yang diikuti
dengan hilangnya kemampuan sensorik ligametum carpi transversum
yang dipersarafi oleh bagian distal n. medianus. Cabang sensorik superfisial
dari n. medianus yang mempercabangkan persarafan proksimal ligamentum
carpi transversum yang berlanjut mempersarafi bagian telapak tangan dan jari
jempol (De Jong, 2012). n. medianus terdiri dari serat sensorik 94% dan hanya
6% serat motorik pada terowongan karpal.
Etiologi
1. Herediter: neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy, misalnya
HMSN ( hereditary motor and sensory neuropathies) tipe III.
2. Trauma: dislokasi, fraktur atau hematom pada lengan bawah, pergelangan tangan
dan tangan .Sprain pergelangan tangan. Trauma langsung terhadap pergelangan
tangan. Inflamasi dari membrane mukosa yang mengelilingi tendon
menyebabkan nervus medianus tertekan dan menyebabkan carpal tunnel
syndrome.
3. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang
berulang-ulang. Seorang sekretaris yang sering mengetik, pekerja kasar yang
sering mengangkat beban berat dan pemain musik terutama pemain piano dan
pemain gitar yang banyak menggunakan tangannya inflamasi
4. Infeksi: tenosinovitis, tuberkulosis, sarkoidosis.
5. Metabolik: amiloidosis, gout.
6. Endokrin : akromegali, terapi estrogen atau androgen, diabetes mellitus, hipotiroidi,
kehamilan.
7. Neoplasma: kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastase, mieloma.
8. Penyakit kolagen vaskular : artritis reumatoid, polimialgia reumatika, skleroderma,
lupus eritematosus sistemik.
9. Degeneratif: osteoartritis.
10. Iatrogenik : punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk dialisis,
hematoma, komplikasi dari terapi anti koagulan
Patogenesis dan Patofisiologi

Ada beberapa hipotesis mengenai patogenesis dari CTS. Patogenesis CTS


masih belum jelas. kompresi mekanik, insufisiensi mikrovaskular, dan teori
getaran. Menurut teori kompresi mekanik, gejala CTS adalah karena
kompresi nervus medianus di terowongan karpal. Kompresi diyakini
dimediasi oleh beberapa faktor seperti ketegangan, tenaga berlebihan,
hyperfunction, ekstensi pergelangan tangan berkepanjangan atau berulang
(Tana, 2004).
Teori insufisiensi mikro - vaskular menyatakan bahwa kurangnya
pasokan darah menyebabkan penipisan nutrisi dan oksigen ke saraf yang
menyebabkan ia perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk
mengirimkan impuls saraf. Scar dan jaringan fibrotik akhirnya berkembang
dalam saraf. Tergantung pada keparahan cedera, perubahan saraf dan otot
mungkin permanen. Karakteristik gejala CTS, terutama kesemutan, mati
rasa dan nyeri akut, bersama dengan kehilangan konduksi saraf akut dan
reversibel dianggap gejala untuk iskemia. Seiler et al menunjukkan (dengan
Doppler laser flowmetry ) bahwa normalnya aliran darah berdenyut di
dalam saraf median dipulihkan dalam 1 menit dari saat ligamentum karpal
transversal dilepaskan. Gejala akan bervariasi sesuai dengan integritas
suplai darah dari saraf dan tekanan darah sistolik . Kiernan dkk menemukan
bahwa konduksi melambat pada median saraf dapat dijelaskan oleh
kompresi iskemik saja dan mungkin tidak selalu disebabkan myelinisasi
yang terganggu (Tana, 2004). Keadaan iskemik ini diperberat lagi oleh
Teori getaran gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari penggunaan jangka
panjang alat yang bergetar pada saraf median di karpal tunnel. Lundborg et
al mencatat edema epineural pada saraf median dalam beberapa hari berikut
paparan alat getar genggam. Selanjutnya, terjadi perubahan serupa mengikuti
mekanik, iskemik, dan trauma kimia (Tana, 2004).

Faktor mekanik dan vaskular memegang peranan penting dalam terjadinya


CTS. Umumnya CTS terjadi secara kronis dimana terjadi penebalan fleksor
retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus. Tekanan
yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian tekanan
intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Kongesti yang
terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler lalu diikuti oleh anoksia yang
akan merusak endotel. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocoran
protein sehingga terjadi edema epineural. keluhan nyeri dan sembab yang
timbul terutama pada malam atau pagi hari akan berkurang setelah tangan yang
terlibat digerakgerakkan atau diurut, mungkin akibat terjadinya perbaikan
sementara pada aliran darah. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi
fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Lama-kelamaan saraf menjadi atrofi
dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi nervus medianus
terganggu secara menyeluruh (Bahrudin, 2011).
Tanda tanda Klinis
Dari Pemeriksaan Fisik (positif)
Phalens Test
Reverse Phalen Test
Tinnel Sign
Flicks Sign

Thenar Wasting Inspection


terdapat Hipotrophy / Atrophy otot-otot yang disyarafi nervus
medianus
(pada stadium lanjut)
Gejala Klinis

Nyeri pada sisi telapak tangan


Rasa baal atau kebas pada jari-jari terutama jari 1, 2, 3
Perasaan seperti terbakar atau tersengat listrik (Paresthesia)
Gejala biasanya memburuk pada malam hari dan dapat
membangunkan dari tidur.
Penderita juga sering" mengibaskan " pergelangan tangan
seperti menetralkan termometer (flick sign) untuk mengurangi
keluhan.
Phalens Test
Penderita melakukan fleksi tangan secara maksimal.

Hasil uji positif (+) jika terdapat nyeri / paresthesia di ibu


jari, jari telunjuk, jari tengah dan lateral jari manis dalam
waktu kurang dari 60 detik
Reverse Phalens Test
Penderita melakukan extensi tangan secara maksimal.

Hasil uji positif (+) jika terdapat nyeri / paresthesia di ibu


jari, jari telunjuk, jari tengah dan lateral jari manis
Tinnel Sign
dilakukan perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan
sedikit dorsofleksi

Hasil uji positif (+) jika terdapat nyeri / paresthesia di daerah


distribusi nervus medianus
Tinels sign
Flicks Sign
Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau menggerak-
gerakkan jari - jarinya seperti mengkibaskan termometer

Hasil uji positif (+) jika nyeri / paresthesia di daerah distribusi


nervus medianus mereda
Thennar Wasting

Atrophy
DIAGNOSA BANDING

lnoracic outlet syndrome. Dijumpai atrofi otot-otot


tangan lainnya selain otot-otot thenar. Gangguan sensorik
dijumpai pada sisi ulnaris dari tangan dan lengan bawah.
Pronator teres syndrome. Keluhannya lebih menonjol
pada rasa nyeri di telapak tangan daripada STK karena
cabang nervus medianus ke kulit telapak tangan tidak
melalui terowongan karpal.
de Quervain's syndrome. Tenosinovitis dari tendon
muskulus abduktor pollicis longus dan ekstensor pollicis
brevis, biasanya akibat gerakan tangan yang repetitif.
Gejalanya adalah rasa nyeri dan nyeri tekan pada
pergelangan tangan di dekat ibu jari. KHS normal.
Finkelstein's test : palpasi otot abduktor ibu jari pada saat
abduksi pasif ibu jari, positif bila nyeri bertambah.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik)
Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik, gelombang
positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot thenar. Pada
beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot lumbrikal. EMG bisa
normal pada 31 % kasus STK.
Kecepatan Hantar Saraf(KHS). Pada 15-25% kasus, KHS bisa normal. Pada
yang lainnya KHS akan menurun dan masa laten distal (distal latency)
memanjang, menunjukkan adanya gangguan pada konduksi safar di
pergelangan tangan. Masa laten sensorik lebih sensitif dari masa laten
motorik.
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan sinar X terhadap pergelangan tangan dapat membantu melihat
apakah ada penyebab lain seperti fraktur atau artritis. Foto palos leher
berguna untuk menyingkirkan adanya penyakit lain pada vertebra. USG, CT
scan dan MRI dilakukan pada kasus yang selektif terutama yang akan
dioperasi.
Pemeriksaan laboratorium
Bila etiologi STK belum jelas, misalnya pada penderita usia muda tanpa
adanya gerakan tangan yang repetitif, dapat dilakukan beberapa
pemeriksaan seperti kadar gula darah , kadar hormon tiroid ataupun darah
lengkap
TERAPI
1. Terapi langsung terhadap STK
a. Terapi konservatif.
1. Istirahatkan pergelangan tangan.
2. Farmakologi :
1. Obat anti inflamasi non steroid. (Na diclofenac)
2. Obat nyeri neuropathy (Amitriptiin)
3. Ranitidine / Omeprazole utk ulkus lambung / mengurangi efek samping dari NSAID
4. Mecobalamin/ B12 untuk kecepatan hantar saraf, bekerja pada myelin (selubung saraf)
sehingga diharapkan mempercepat hantaran
5. Gabapentin untuk mencegah /mengontrol kejang atau bisa untuk pain reliever
6. Vitamin B6 (piridoksin) asimilasi nutrisi, memperkuat sistem kekebalan
tubuh, mengatur tekanan darah
7. lnjeksi steroid. Deksametason 1-4 mg 1 atau hidrokortison 10-25 mg 8 atau
metilprednisolon 20 mg 14 atau 40 mg 12 diinjeksikan ke dalam terowongan
karpal 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah medial
tendon musculus palmaris longus. Tindakan operasi dapat
dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3 kali
suntikan.

3. Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. Bidai dapat


dipasang terus-menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3 minggu.
4. Fisioterapi. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan tangan.
b.
b. Terapi operatif.
Tindakan operasi pacta STK disebut neurolisis nervus medianus pada pergelangan
tangan. Operasi hanya dilakukan pacta kasus yang tidak mengalami perbaikan
dengan terapi konservatif atau hila terjadi gangguan sensorik yang berat atau
adanya atrofi otot-otot thenar.
Biasanya tindakan operasi STK dilakukan secara terbuka dengan anestesi lokal,
tetapi sekarang telah dikembangkan teknik operasi secara endoskopik. Operasi
endoskopik memungkinkan mobilisasi penderita secara dini dengan jaringan parut
yang minimal, tetapi karena terbatasnya lapangan operasi tindakan ini lebih sering
menimbulkan komplikasi operasi seperti cedera pada saraf.
SURGERY
Endoscophy
PROGNOSA
Pada kasus STK ringan, dengan terapi konservatif pacta umumnya prognosa baik.
Secara umum prognosa operasi juga baik, tetapi karena operasi hanya melakukan
pada penderita yang sudah lama menderita STK penyembuhan post ratifnya
bertahap. Perbaikan yang paling cepat dirasakan adalah hilangnya rasa nyeri yang
kemudian diikuti perbaikan sensorik. Biasanya perbaikan motorik dan otot- otot
yang mengalami atrofi baru diperoleh kemudian. Keseluruhan proses perbaikan
STK setelah operasi ada yang sampai memakan waktu 18 bulan 1.
Bila setelah dilakukan tindakan operasi, tidak juga diperoleh perbaikan maka
dipertimbangkan kembali kemungkinan berikut ini 1,8 :
1. Kesalahan menegakkan diagnosa, mungkin jebakan/tekanan terhadap nervus medianus terletak
di tempat yang lebih proksimal.
2. Telah terjadi kerusakan total pada nervus medianus.
3. Terjadi STK yang baru sebagai akibat komplikasi operasi seperti akibat edema, perlengketan,
infeksi, hematoma atau jaringan parut hipertrofik.

Komplikasi yang dapat dijumpai adalah kelemahan dan hilangnya sensibilitas


yang persisten di daerah distribusi nervus medianus. Komplikasi yang paling berat
adalah reflek sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri hebat,
hiperalgesia, disestesia dan ganggaun trofik.
Walaupun prognosa STK dengan terapi konservatif maupun operatif cukup baik
,tetapi resiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. Bila terjadi kekambuhan,
prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi kembali.
KESIMPULAN
Sindroma Terowongan Karpal (STK) adalah neuropati jebakan yang sering
ditemukan, lebih banyak mengenai wanita dan sering ditemukan pada usia
pertengahan .Sebenarnya Sindroma ini bisa unilateral maupun bilateral.
Sebagian kasus STK tidak diketahui penyebabnya sedangkan pada kasus yang
diketahui, penyebabnya sangat bervariasi. Kebanyakan STK mempunyai hubungan
yang erat dengan penggunaan tangan secara repetitif dan berlebihan.
Gejala awal STK umumnya hanya berupa gangguan sensorik seperti rasa,nyeri,
parestesia, rasa tebal dan tingling pada daerah yang diinnervasi nervus medianus.
Gejala-gejala ini umumnya bertambah berat pada malam hari dan berkurang bila
pergelangan tangan digerak-gerakkan atau dipijat. Gejala motorik hanya dijumpai
pada penderita STK yang sudah berlangsung lama, demikian pula adanya atrofi
otot-otot thenar.
Penegakan diagnosa STK didasarkan atas gejala klinis dan pemeriksaan fisik yang
meliputi berbagai macam tes. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan
radiologis, laboratoris dan terutama pemeriksaan neurofisiologi dapat membantu
usaha menegakkan diagnosa.
Penatalaksanaan STK dikelompokkan atas 2 dengan sasaran yang berbeda. Terapi
yang langsung ditujukan terhadap STK harus selalu disertai terapi terhadap
keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya STK. Terapi terhadap STK
dikelompokkan lagi atas terapi konservatif dan terapi operatif ( operasi terbuka
atau endoskopik). Sekalipun prognosanya baik, kemungkinan kambuh masih tetap
ada.