Anda di halaman 1dari 24

Anamnesis

Pasien datang ke IGD RS Wahidin Sudirohusodo dengan


keluhan demam yang dirasakan sejak 2 hari sebelum
masuk rumah sakit. Demam terus menerus, terutama pada
sore dan malam hari. Demam disertai menggigil dan
keringat dingin. Jika meminum parasetamol, demam turun
kemudian muncul lagi. Ada mual dan muntah setiap kali
pasien makan atau minum, muntah isi cairan dan sisa
makanan.

FAKULTAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEDOKTERAN UNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Anamnesis

Pasien sering merasa haus dan mengeluh sulit menelan karena


nyeri. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada kedua betis pada
saat berdiri dan menghilang saat berbaring. Selain itu pasien
juga mengeluhkan tidak dapat melihat cahaya. Tidak ada
batuk, tidak ada sesak. Buang air kecil kesan lancar, buang air
besar kesan baik.

FAKULTAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEDOKTERAN UNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Anamnesis
Riwayat mengalami keluhan yang sama sebelumnya tidak ada.
Riwayat keluhan yang sama pada keluarga dan lingkungan
tempat tinggal disangkal. Riwayat alergi tidak ada. Riwayat
hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus disangkal.
Riwayat pekerjaan petani, saat ini tengah mengolah sawah.
Pasien tidak merokok dan tidak meminum alkohol.

FAKULTAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEDOKTERAN UNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Pemeriksaan Fisis
Kepala, Mata
Status Umum
Kepala
Keadaan Umum Deformitas : Tidak ada
Sakit sedang/Gizi cukup/GCS 15 (compos Simetris muka : Simetris
mentis) Rambut : Sukar dicabut
Ukuran : Normocephal
Tanda-Tanda Vital Bentuk : Mesocephal
Tekanan darah : 130/ 80 mmHg
Frekuensi nadi : 60 kali/menit, Mata
reguler Eksoftalmus : Tidak ada
Frekuensi napas : 16 kali/menit Konjungtiva : Anemis (-)
Suhu (aksilla) : 36,7oC Kornea : Refleks kornea (+)
Enoptalmus : Tidak ada
Sklera : Ikterus (+)
Pupil : Isokor 2,5 mm/2,5 mm

FAKULTAS
FAKULTASKEDOKTERAN
KEDOKTERANUNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Pemeriksaan Fisis
Kepala, Mata
Telinga, Hidung, Mulut
Telinga
Pendengaran : Dalam batas normal
Otorrhea : Tidak ada Leher
KGB : Tidak ada pembesaran
Hidung DVS : R+1 cmH2O
Epistaksis : Tidak ada Kelenjar Gondok : Tidak ada pembesaran
Rhinorrhea : Tidak ada Kaku kuduk : Tidak Ada

Mulut
Bibir : Kering (-)
Lidah : Kotor (-)
Tonsil : T1-T1 Tidak Hiperemis
Faring : Tidak Hiperemis

FAKULTAS
FAKULTASKEDOKTERAN
KEDOKTERANUNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Pemeriksaan Fisis
Paru
Dada
Bentuk : Simetris kiri sama dengan
kanan
Buah dada : Simetris kira sama dengan Palpasi : Fremitus simetris kiri sama dengan
kanan, tidak ada kelainan kanan, nyeri tekan tidak ada
Sela iga : Simetris kiri sama dengan Perkusis : Batas paru hepar ICS VI dekstra
kanan Batas paru belakang kanan ICS IX
Batas paru belakang kiri ICS X
Auskultasi : Bunyi Pernapasan : Vesikuler
Bunyi Tambahan : Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)

FAKULTAS
FAKULTASKEDOKTERAN
KEDOKTERANUNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Pemeriksaan Fisis
Abdomen
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Inspeksi : Datar, ikuti gerak napas.
Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill (-) Auskultasi : Peristaltik ada, kesan normal
Perkusi : Batas atas ICS II sinistra Palpasi : nyeri tekan (-)
Batas kanan ICS IV linea para Perkusi : Timpani
sternalis dekstra
Batas kiri ICS V linea
midclavicularis sinistra
Aukultasi : BJ I/II murni regular, bising
Ekstremitas
tidak ada
Tidak ada edema dan nyeri tekanpada extremitas

FAKULTAS
FAKULTASKEDOKTERAN
KEDOKTERANUNIVERSITAS
UNIVERSITAS
Laboratorium (24/11/2016)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Laboratorium (24/11/2016)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Laboratorium (28/11/2016)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Resume
Pasien laki-laki 31 tahun datang ke IGD RS Wahidin Sudirohusodo dengan keluhan demam yang
dirasakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam terus menerus, terutama pada sore
dan malam hari. Demam disertai menggigil dan keringat dingin. Jika minum parasetamol, demam
turun kemudian muncul lagi. Ada mual dan muntah setiap kali pasien makan atau minum,
muntah isi cairan dan sisa makanan. Pasien sering merasa haus dan mengeluh sulit menelan
karena nyeri. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada kedua betis pada saat berdiri dan menghilang
saat berbaring. Selain itu pasien juga mengeluhkan tidak dapat melihat cahaya. Tidak ada
batuk, tidak ada sesak. Buang air kecil kesan lancar, buang air besar kesan baik.
Riwayat mengalami keluhan yang sama sebelumnya tidak ada. Riwayat keluhan yang sama
pada keluarga dan lingkungan tempat tinggal disangkal. Riwayat alergi tidak ada. Riwayat
hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus disangkal. Riwayat pekerjaan petani, saat ini
tengah mengolah sawah. Pasien tidak merokok dan tidak meminum alkohol.
Tanda-Tanda Vital: Tekanan darah : 130/ 80 mmHg, Frekuensi nadi : 60 kali/menit, reguler;
Frekuensi napas: 16 kali/menit; Suhu (aksilla) : 36,7ooC. Ikterus (+), pemeriksaan fisis lain dalam
batas normal.
Laboratorium: Leukositosis, trombositopenia, Peningkatan bilirubin total, dan bilirubin direk,
ureum dan kreatinin meningkat. Pemeriksaan serologis leptospirosis positif.
Pada urinalisis terdeteksi peningkatan bilirubin dan blood. Sedimen urin: ditemukan RBC 13/LPB,
cast: 2/LPK

FAKULTASFAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS
KEDOKTERAN HASANUDDIN
UNIVERSITAS
Diagnosis
Leptospirosis

Terapi

IVFD Asering 28 tetes/menit


Sistenol 500mg/8 jam/oral
Ceftriaxone 2g/24 jam/iv
Paracetamol 1 gr/8 jam/drips
Domperidone 10 mg/ 8 jam/ oral
Omeprazole 20 mg/12 jam/oral

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
Pendahuluan
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
mikroorganisme Leptospira interogans tanpa memandang bentuk
spesifik serotipenya.
Penyakit ini pertama kali dikemukakan oleh Weil pada tahun 1886

Sudoyo, Aru W et. al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI. Jakarta: InternaPublishing

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Etiologi
Spirochaeta
genus Leptospira tumbuh optimal
pada kondisi
berbelit, tipis, aerob dengan
fleksibel, panjang suhu 280 300C
5-15 um dalam media
semisolid yang
mengandung
motil serum (contoh:
medium Fletcher)

Brooks, Geo F et. al. 2013. Jawetz, Melnick & Adelberg Mikrobiologi Kedokteran Edisi 25. Jakarta:
ECG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Epidemiologi

/100.000
populasi
Costa, Frederico et. al. 2015. Global Morbidity and Mortality of Leptospirosis: A Systematic
Review. PLOS Neglected Tropical Disease

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Epidemiologi

Center for Disease Control and Prevention. 2011. Leptospirosis: Risk of Exposure. Centers for
Disease Control and Prevention, National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases
Leptospirosis Burden Epidemiology Reference Group. 2010. Zoonosis. WHO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Penularan
Manusia dapat terinfeksi melalui
kontak dengan air, atau tanah atau lumpur yang
terkontaminasi oleh urin binatang yang terinfeksi
leptospira
makanan maupun minuman yang terkontaminasi
urin binatang yangt erinfeksi
gigitan binatang yang sebelumnya terinfeksi
kontak dengan kultur leptospira di laboratorium
Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang
terjadi.

Sudoyo, Aru W et. al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI. Jakarta: InternaPublishing
Center for Disease Control and Prevention. 2011. Leptospirosis: Infection. Centers for Disease Control and Prevention, National
Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases
World Health Organization. 2012. Leptospirosis

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Patofisiologi

Sudoyo, Aru W et. al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI. Jakarta: InternaPublishing
Gompf, Sandra G. 2016. Leptospirosis. Medscape
Haake, David A dan Paul N. Levett. 2015. Leptospirosis in Humans. Curr Top Microbial Immunol

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Patofisiologi pe Bilirubin direk

Meningitis aseptik pe fungsi ginjal

uveitis perdarahan

hipovolemi endokarditis

Nyeri otot
Sudoyo, Aru W et. al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI. Jakarta: InternaPublishing
Gompf, Sandra G. 2016. Leptospirosis. Medscape
Haake, David A dan Paul N. Levett. 2015. Leptospirosis in Humans. Curr Top Microbial Immunol

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Gejala Klinis
Sindroma, Fase Gambaran klinik Spesimen laboratorium

Leptospirosis anikterik
Fase leptospiremia (3-7 hari) Demam tinggi, nyeri kepala, mialgia, nyeri Darah, cairan serebrospinal
perut, mual, muntah, conjunctival suffusion.
Demam ringan, nyeri kepala, muntah,
Fase imn (3-30 hari) meningitis aseptik urin

Leptospirosis ikterik Demam, nyeri kepala, mialgia, ikterik, gagal Darah, cairan serebrospinal (minggu
Fase leptospiremia dan fase imn (sering ginjal, hipotensi, manifestasi perdarahan, I)
menjadi satu atau tumpang tindih) pneumonitis hemoragik, leukositosis. Urin (minggu II)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Terapi
Tujuan pemberian obat Regimen

Doksisiklin 2 x 100 mg/oral atau


Leptospirosis ringan Ampisillin 4 x 500-750 mg/oral atau
Amoxicillin 4 x 500 mg/oral

Penicillin G 1,5 juta unit/6jam i.m atau

Leptospirosis sedang/berat Ampicillin 1 g/6jam i.v atau

Amoxicillin 1 g/6jam i.v atau

Eritromycin 4 x 500 mg i.v

Kemoprofilaksis Doksisiklin 200 mg/oral/minggu

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


Pencegahan
Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus.
Mencuci tangan, dengan sabun sebelum makan.
Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/
kebun/ sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya.
Melindungi pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas kebersihan, petani,
petugas pemotong hewan dan lain lain ) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung
tangan
Menjaga kebersihan lingkungan.
Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah.
Membersihkan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
Menghindari adanya tikus didalam rumah atau gedung.
Menghindari pencemaran oleh tikus.
Melakukan desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh tikus.
Meningkatkan penangkapan tikus.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


TERIMA KASIH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS