Anda di halaman 1dari 23

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN

DENGAN
POPULASI JENTIK AEDES AEGYPTI DI WILAYAH
BUFFER KKP KELAS II SAMARINDA
TAHUN 2012
AHMAD MUSYAFA
NIM. 1111 30824 0096

Pembimbing I Pembimbing II
M. Gustiansyah, SKM, Sri Sunarti, SKM
M.Sc
LATAR BELAKANG
Pembangunan Kesehatan merupakan bagian
dari pembangunan Nasional yg dilaksanakan
secara bertahap dan berkesinambungan.
Terwujudnya Pelabuhan sehat merupakan
bagian dari pembangunan Kesehatan nasional.
Pada saat ini pelabuhan merupakan pintu
keluar masuk orang, barang dan alat angkut
dari suatu daerah sehingga memungkinkan
penyebaran vektor penyakit seperti nyamuk
Aedes Aegypti penyebab DBD dan Yellow fever.
DBD masuk ke Indonesia pertama ditemukan di
surabaya dan jakarta 1968 dengan kematian 24
orang.
DBD Masuk ke Samarinda tahun 1988 yg diduga
terjadi pada anak kecil di kec. Palaran. Sampai saat
ini endemis.
Yellow Fever merupakan PHEIC yang harus di
waspadai penyebarannya melalui
pelabuhan/bandara/PLBD
Di pelabuhan Samarinda rata-rata HI buffer KKP
Kelas II Samarinda thn 2009 = 33,64%, tahun 2010
= 12,89% dan tahun 2011 = 19,44%.
Permenkes RI no 426 tahun 2007, HI dan CI di
buffer pelabuhan tidak boleh lebih dari 1 %.
IHR 2005 psl 19
Setiap Pelabuhan atau Bandara pada daerah
Buffer area dipertahankan bebas nyamuk Aedes
Aegypti dalam bentuk jentik (Immature) dan
bentuk dewasa serta nyamuk vektor malaria
juga penyakit lain secara Epidemiologi
berhubungan pada lalulintas International untuk
maksud inilah tindakan-tindakan
pemberantasan nyamuk harus dilaksanakan
dalam daerah penyanggah yang merantang
sekurang-kurangnya 400 meter dari Buffer
Area.
Sesuai Kepmenkes 356 tahun 2008, KKP
mempunyai tugas melaksanakan pencegahan
masuk dan keluarnya penyakit, penyakit
potensial wabah, surveilans epidemiologi,
kekarantinaan, pengendalian dampak
kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan,
pengawasan OMKABA serta pengamanan
terhadap penyakit baru dan penyakit yang
muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi,
kimia dan pengamanan radiasi diwilayah
bandara, pelabuhan dan lintas batas darat
negara.
Tingginya HI di Buffer KKP TUPOKSI
KKP, Permenkes RI no 426 tahun 2007 dan IHR
2005, maka penulis tertarik untuk mengambil
penelitian :
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
POPULASI JENTIK AEDES AEGYPTI DI WILAYAH
BUFFER KKP KELAS II SAMARINDA TAHUN 2012.
RUMUSAN MASALAH
FAKTOR-FAKTOR APA SAJAKAH YANG
BERHUBUNGAN DENGAN POPULASI JENTIK
AEDES AEGYPTI DI WILAYAH BUFFER KKP
KELAS II SAMARINDA TAHUN 2012
TUJUAN PENELITIAN
TUJUAN UMUM
Mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan
Populasi Jentik Aedes Aegypti di Wilayah Buffer KKP Kelas II
Samarinda

TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui hubungan antara tempat perindukan
nyamuk dengan populasi jentik di wilayah buffer
KKP Kelas II Samarinda
2. Mengetahui hubungan antara tempat peristirahatan
nyamuk dengan populasi jentik di wilayah buffer
KKP Kelas II Samarinda
3. Mengetahui hubungan antara Praktek PSN dan
Abatisasi dengan populasi jentik di wilayah buffer
KKP Kelas II Samarinda
Manfaat penelitian
Bagi Mahasiswa
Menambah ketrampilan di bidang Pencegahan penyakit
menular khususny program pengendalian DBD
Bagi KKP Kelas II Samarinda
Evaluasi kegiatan Program pencegahan penyakit DBD dan
yellow fever
Bagi Stikes Muhhamadiyah Samarinda
Bahan Informasi dan masukan pengembangan studi kesehatan
mayarakat
Bagi Masyarakat
Mengetahui faktor yang berhubungan dengan populasi jentik
Aedes Aegypti
TINJAUAN PUSTAKA
Demam Berdarah Dengue
Yellow Fever
Breeding Places
Perilaku Nyamuk Dewasa
Resting Places
Survai jentik Aedes Aegypti = survai visual /
single larva methode
Siklus Hidup Nyamuk
Pengendalian Jentik Ae. Aegypti
Kerangka Teori
(Depkes RI 2005)

Lingkungan
Fisik Manusia
Suhu Mobilitas Penduduk
Kelembaban Kepadatan penduduk
Curah Hujan Arus Transportasi

Populasi Jentik
Aedes Aegypti

Bionomik Vektor
Breeding Places PSN
Resting Places 3M
Kebiasaan Abatisasi
Menggigit
Kebiasaan terbang
KERANGKA KONSEP

Variabel Independen

BreedinVar Dependen
g places

Resting POPULASI
places JENTIK

Tindakan
PSN &
Abatisasi
HIPOTESIS

ADA HUBUNGAN ANTARA :


1. Breeding Places
2. Resting Places
3. PSN & Abatisasi

Dengan Populasi Jentik Aedes Aegypti di


Wilaya Buffer KKP Kelas II Samarinda
tahun 2012
METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis penelitian Deskriptif


2. Lokasi : Buffer KKP KELAS II
Samarinda
3. Waktu : Juli s/d September 2012
4. Desain : Cross Sectional
5. Populasi : Seluruh
Rumah/bangunan di RT 1 = 40, 2
= 75 dan 3 = 101 Kel. Selili
Samarinda Ilir sebanyak 216
rumah
Sampel
N
n
1 N (d 2 )
n = besar sampel,
N= besar populasi,
d = tingkat kepercayaan (0,05)

216
n
1 216(0,052 )

= 140 Sampel
(Notoatmojo S, 2005)
Proportionate Stratified Random Sampling

Jumlah
No RT Sampel
Rumah
1 RT 1 45 Rumah 45 29 Rumah
x140
216
70
2 RT 2 70 Rumah x140 46 Rumah
216

101
3 RT 3 101 Rumah x140 65 Rumah
216
Jumlah 216 Rumah 140 Rumah

Sugiono: 2007
DEFINISI OPERASIONAL
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Kategori Skala

1 Populasi Keberadaan jentik Aedes Observasi Kuesioner 1.Ada Nominal

Aegypti yang mempunyai Cek list 2.Tidak

indikator risiko di buffer KKP


Kelas II Samarinda dengan
gunakan parameter HI/CI

2 House Presentase gedung/ Observasi Kuesioner 1.Tinggi Nominal

Index bangunan dimana Cek list > dari 1%


2.Rendah
(HI) ditemukan sarang jentik
< dari 1%
Aedes aegypti di wilayah
buffer KKP Kelas II
Samarinda
3 Container Presentase TPAB Observasi Kuesioner 1.Tinggi Nominal
di dalam dan di Wawancara Cek list
Index (CI) > dari 0%
luar bangunan
dimana ditemukan 2.Rendah
sarang jentik
=0%
Aedes aegypti di
wilayah buffer
KKP Kelas II
Samarinda

4 Breeding Tempat perindukan Observasi Kuesioner 1.Ada Nominal


Places atau tempat Wawancara Cek list 2.Tidak
berkembangbiakny
a nyamuk Aedes
aegypti

5 Resting Tempat beristirahat Observasi Kuesioner 1.Ada Nominal


Places nya nyamuk Aedes Wawancara Cek list 2.Tidak
aegypti
6 Praktik Kegiatan masyarakat Wawancara Kuesioner Baik, bila skor 75 Nominal
% atau 12
PSN dan yang dilakukan untuk Kurang baik, bila
skor 75 % atau
Abatisasi
mengurangi / menekan 12

kepadatan larva

Aedes Aegypti dengan

cara PSN (3M ) dan

atau Abatisasi.
HASIL
Gambaran Umum
Menurut Permenkes Nomor: 356/Menkes/Per/IV/2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. Kantor
Kesehatan Pelabuhan (KKP) adalah unit pelaksana teknis di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan yang mempunyai tugas
melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit,
penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi,
kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan,
pelayanan kesehatan, pengawasan Obat Makanan Kosmetika dan
Bahan Aditif (OMKABA) serta pengamanan terhadap penyakit
baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur
biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara
Area Pelabuhan
Perimeter area
Tempat kapal-kapal berlabuh dan sekitarnya dimana terdapat
bangunan-bangunan untuk kegiatan kepelabuhanan yang
terdiri dari Terminal Penumpang dan Kepanduan, Terminal
Kargo dan Peti kemas, Kantor Administrator Pelabuhan, Kantor
Koperasi dan Poliklinik KOMURA, Kantor KPLP, Gudang
Penumpukan Material dan beberapa Tempat Penjualan
Pedagang Kaki Lima serta beberapa Warung Penjual Makanan.
Buffer area
Buffer area (protektive area) disekitar perimeter 80 % terdiri
ruko-ruko dimana hampir sebagian besar bukan sebagi
tempat tinggal dan hanya sebagi tempat niaga saja, 20 %
terdiri dari perkampungan penduduk yang padat dan sangat
berpotensial sebagai tempat perindukan Vektor DBD.
Pengamatan jentik nyamuk Ae. aegypti.
TERIMA KASIH

THANK YOU