Anda di halaman 1dari 55

REFERAT

HIPERTENSI
Oleh : Masagus Mohammad Edsel Qasswara
Dibimbing oleh : Kolonel (Purn) dr. Hardi Suryaatmadja, Sp.PD
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
RST MAGELANG dr. SOEDJONO MAGELANG TK. II
PENDAHULUAN
Hipertensi silent killer (pembunuh diam-diam) yang secara luas
dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum.
TD dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor
risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung,
stroke, dan gagal ginjal.
Data epidemiologis menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya
poulasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan
besar akan bertambah, dimana baik hipertensi sistolik maupun kombinasi
hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada lebih dari separuh
orang yang berusia >65 tahun.
PENDAHULUAN
Data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari negara-negara
yang sdah maju. Data dari The National Health and Nutrition examination
survey (NHNES) menunjukan bahwa tahun 1999-2000, insiden hipertensi
pada orang dewasa adalah sekitar 9-31%, yang berarti terdapat 58-65
juta orang hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta dari
data NHANES III tahun 1988-1991. Hipertensi esensial sendiri merupakan
95% dari seluruh kasus hipertensi.
DEFINISI
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik
sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg
menurut JNC VII.
FISIOLOGI
PENGATURAN TD
RAA SYSTEM
EPIDEMIOLOGI
Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya populasi usia lanjut
maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga bertambah, di mana
baik hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering
timbul pada lebih dari separuh orang yang berusia > 65 tahun. Selain itu, laju
pengendalian tekanan darah yang dahulu terus meningkat dalam dekade terakhir
tidak menunjukkan kemajuan lagi (pola kurva mendatar) dan pengendalian tekanan
darah ini hanya mencapai 34% dari seluruh pasien hipertensi.
Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari negara
maju. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES)
menunjukkan bahwa dari tahun ke 1999-2000, insiden hipertensi pada orang
dewasa adalah sekitar 29-31% yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di
Amerika dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHNES III tahun 1988-1991.
Hipertensi esensial sendiri merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi.
KRITERIA
Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7

Klasifikasi TDS (mmHg) TDD (mmHg)


Tekanan
Darah
Normal < 120 Dan < 80

Prehipertensi 120-139 Atau 80-90

Hipertensi 140-159 Atau 90-99


derajat 1
Hipertensi 160 Atau 100
derajat 2
KRITERIA
Klasifikasi Tekanan Darah World Health Organization (WHO) dan International
Society Of Hypertension Working Group (ISHWG)
Kategori Sistolik Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Optimal < 120 Dan < 80

Normal < 130 Dan < 85

Normal tinggi / 130 139 Atau 85 89


pra hipertensi
Hipertensi 140 159 Atau 90 99
derajat I
Hipertensi 160 179 Atau 100 109
derajat II
Hipertensi 180 Atau 110
derajat III
KLASIFIKASI
Hipertensi Primer atau Esensial
Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau idiopatikadalah
hipertensi yang tidak diketahui etiologinya/penyebabnya. 90% dari semua penyakit
hipertensi merupakan penyakit hipertensi esensial.

Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat suatupenyakit,
kondisi dan kebiasaan. Karena itu umumnya hipertensi ini sudah diketahui
penyebabnya. Terdapat 10% orang menderita apa yang dinamakan hipertensi
sekunder. Skitar 5-10% penderita hipertensi penyebabnya adalah penyakit ginjal
(stenoisarteri renalis, pielonefritis, glomerulonefritis, tumor ginjal), sekitar 1-2% adalah
penyakit kelaian hormonal (hiperaldosteronisme, sindroma cushing) dan sisanya akibat
pemakaian obat tertentu (steroid, pil KB).
FAKTOR RISIKO

1. Faktor Genetik
2. Ras
3. Usia
4. Jenis Kelamin
5. Stres Psikis
6. Obesitas
7. Asupan garam Na+
8. Rokok
9. Alkohol
PATOFISIOLOGI
Hipertensi Primer :
Beberapa teori patognesis hipertensi primer meliputi :
Aktivitas yang berlebihan dari sistem saraf simpatik
Aktivitasyang berlebihandari sistemRAA
Retensi Na dan air oleh ginjal
Inhibisi hormonal pada transport Na dan K melewati dinding sel pada ginjal dan
pembuluh darah
Interaksi kompleks yang melibatkan resistensi insulin dan fungsi endotel
Sebab sebab yang mendasari hipertensi esensial masih belum
diketahui.Namun sebagian besar disebabkan oleh resistensi yang semakin
tinggi (kekakuan atau kekurangan elastisitas) pada arteri arteri yang kecil
yang paling jauh dari jantung (arteriperiferal atau arterioles), hal ini seringkali
berkaitan dengan faktor-faktor genetik, obesitas, kurang olahraga, asupan
garam berlebih, bertambahnya usia, dll.
PATOFISIOLOGI
Hipertensi Sekunder :
Hipertensi sekunder disebabkan oleh suatu proses penyakit sistemik yang
meningkatkan tahanan pembuluh darah perifer atau cardiac output,
contohnya adalah renal vaskular atau parenchymal disease,
adrenocortical tumor,feokromositoma dan obat-obatan. Bila penyebabnya
diketahui dan dapat disembuhkan sebelum terjadi perubahan struktural
yang menetap, tekanan darah dapat kembali normal.
MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar penderita Asimptomatik
HT berat / kronik dan (-) diobati :
Sakit kepala
Kelelahan
Mual-muntah
Sesak napas
Gelisah
Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata,
jantung, dan ginjal
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan
koma karena terjadi pembengkakan otak disebut ensefalopati hipertensif yang
memerlukan penanganan segera
DIAGNOSIS

Anamnesa : Px Fisik :
Durasi dan derajat TD Ukur tekanan darah :
Indikasi HT 2nd Pukuran rutin
Pukuran 24 jam
Faktor risiko (riw. HT/CVS pd
Pukuran sendiri o/ pasien
pasien/keluarga, DM, rokok,
hiperlipid, pola makan, obese, Evaluasi komplikasi target
< olahraga) organ failure + HT sekunder
Kerusakan Target organ : DX HT = Ukur TD min. 2x
Otak & mata jarak
Jantung 1 minggu bila TD < 160 / 100
Ginjal mmHg

Riw. Obat anti-HT sebelum


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Profil lipid
Fungsi ginjal
EKG
Echocardiography : Melihat kerusakan target organ LVH
Plasma Renin Activity (PRA), Aldosteron, Katekolamin urin
USG pembuluh darah besar (Karotis dan femoral)
USG ginjal (dugaan kelainan ginjal)
Px. Neurologis Ketahui kerusakan pada otak
Funduskopi Ketahui kerusakan pada mata
Mikroalbuminuria atau rasio albumin/kreatinin urin
Foto thorax Kardiomegali
TATALAKSANA
Tujuan :
1. TD < 140/90 mmHg (High risk: DM, GGK, Proteinuria) / < 130 / 80
mmHg
2. morbiditas dan mortalitas kardiovaskular
3. Hambat laju penyakit ginjal proteinuria
JNC 7
JNC 8
ESH / ECH HYPERTENSION
GUIDELINE
PERUB
AHAN
GAYA
HIDUP
Apabila dengan perubahan lifestyle tidak tercapai target tekanan darah
yang diinginkan (tekanan darah < 140/90 mmHg pada pasien tanpa
riwayat diabetes/ penyakit ginjal kronis dan tekanan darah <130/80
mmHg pada seseorang dengan diabetes/penyakit ginjal kronis) (+)
Obat Antihipertensi Oral
Pengelompokkan pasien berdasarkan pertimbangan khusus (special
consederations) yaitu kelompok indikasi yang memaksa (compelling
indications) dan keadaan khusus lainnya (special situations)
COMPELLING
CONSIDERATION
Gagal jantung
Pasca infark miokardium
Risiko penyakit pembuluh darah koroner tinggi
Diabetes melitus
Penyakit ginjal kronis
Pencegahan stroke berulang
SPECIAL SITUATIONS
Populasi minoritas
Obesitas dan sindrom metabolik
Hipertrofi ventrikel kanan
Penyakit arteri perifer
Hipertensi pada usia lanjut
Hipotensi postural
Demensia
Hipertensi pada perempuan
Hipertesi pada anak dan dewasa muda
Hipertensi urgensi dan emergensi
PENATALAKSANAAN
Pada pasien HT (-) compelling indication Pengobatan berdasarkan
derajat HT :
HT Grade 1 :
Diuretik Thiazid + pertimabngkan ACE-I ARB B CCB atau kombinasi
HT Grade 2 :
Kombinasi 2 jenis obat :
Diuretik Thiazid + ACE / Thiazid + ARB / Thiazid + CCB
Pada pasien HT (+) compelling indication
Obat untuk compelling indication + antihipertensi (diuretic, ACE-I, ARB,
CCB)
Compelling Indication Initial Therapy Options
CHF THIAZ, BB, ACEI, ARB, ALDO ANT
Post infark miokard BB, ACEI, ALDO ANT
Risiko CVD tinggi THIAZ, BB, ACEI, CCB
Diabetes THIAZ, BB, ACEI, ARB, CCB
GGK ACEI, ARB
Pencegahan rekurensi stroke THIAZ, ACEI
PENATALAKSANAAN
Jenis obat hipertensi yang direkomendasikan oleh JNC 7 :
1. Diuretik, terutama golongan Thiazide (THIAZ) atau Aldosterone Antagonist
(ALDO ANT)
2. Beta-blocker (BB)
3. Calcium-Channel Blocker (CCB)
4. Angiotensin Converting Enzyme-Inhibitor (ACE-I)
5. Angiotensin II Receptor Blocker (ARB)
Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemberian obat anti HT :
1. Faktor sosio-ekonomi
2. Profil faktor risiko kardiovaskuler
3. Ada tidaknya kerusakan organ target
4. Ada tidaknya penyakit penyerta
5. Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
6. Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang digunakan pasien untuk
penyakit lain
7. Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam
menurunkan risiko kardiovaskuler
Terapi dimulai secara bertahap dan target tekanan darah dicapai secara
progresif dalam beberapa minggu
Pemilihan memulai monoterapi atau kombinasi tergantung pada : (1) TD
awal dan (2) ada / tidaknya komplikasi
Bila menggunakan monoterapi dalam dosis rendah dan TD belum
mencapai target Tingkatkan dosis obat tsb / ganti obat antihipertensi
lain dosis rendah
Efek samping bisa dihindari dengan penggunaan dosis rendah pada
monoterapi maupun kombinasi
Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien HT :
CCB dan BB
CCB dan ACEI atau ARB
CCB dan diuretika
ARB dan BB
Kadang perlu kombonasi 3 4 obat
Klasifikasi TDS (mmHg) TDD (mmHg) Perbaikan Terapi Obat Awal Terapi Obat
Tekanan Darah Pola Hidup tanpa Indikasi Awal dengan
Memaksa Indikasi
Memaksa
Normal < 120 dan < 80 Dianjurkan
Prehipertensi 120-139 atau 80-89 Ya Tidak indikasi obat Obat-obatan
untuk indikasi
yang memaksa
Hipertensi 140-159 atau 9- 99 Ya Diuretika jenis Thiazide Obat-obatan
derajat 1 untuk sebagian besar untuk indikasi
kasus, dapat yang memaksa
dipertimbangkan ACE-I, Obat
ARB, BB, CCB, atau antihipertensi lain
kombinasi (diuretika, ACE-I,
ARB, BB, CCB)
sesuai kebutuhan
Hipertensi 160 atau 100 Ya Kombinasi 2 obat untuk
derajat 2 sebagian besar kasus
Tatalaksana HT menurut JNC 7 umumnya diuretika jenis
Thiazide dan ACE-I atau
Pasien yang mendapatkan obat harus mendapatkan evaluasi lanjutan dan pengaturan dosis obat
hingga target TD tercapai
Setelah TD stabil Kunjungan interval 3 6 bulan, ditentukan oleh adanya komorbid: CHF,
diabetes, dan kebutuhan px. Lab
Bila terjadi hipertensi resisten, pertimbangkan keadaan berikut :
Pengukuran tekanan darah yang tidak benar
Dosis belum memadai
Ketidakpatuhan pasien dalam penggunaan obat anti hipertensi
Ketidakpatuhan pasien dalam memperbaiki pola hidup
Asupan alcohol berlebih
Kenaikan berat badan berlebih
Kelebihan volume cairan tubuh
Asupan garam berlebih
Terapi diuretika tidak cukup
Penurunan fungsi ginjal berjalan progresif
Adanya terapi lain
Masih menggunakan bahan/obat yang dapat meningkatkan tekanan darah
Adanya obat yang mempengaruhi atau berinteraksi dengan kerja obat anti hipertensi.
Penyebab hipertensi lain/ sekunder
Rujukan ke dokter spesialis / subspesialis dilakukan pada kondisi :
1. Dalam 6 bulan target pengobatan tidak tercapai
2. Didapatkan HT disertai DM atau penyakit ginjal
PENATALAKSANAAN PADA
KEADAAN KHUSUS
Kelainan Jantung - Pembuluh darah
HT + Penyakit Jantung Iskemik :
HT + Stable angina = BB (1st) dan CCB (alternative)
HT + ACS = BB dan ACE-I awalnya kemudian dapat ditambah antihipertensi
lain bila diperlukan
HT + Pasca infark miokard = ACE-I + BB + Aldosterone antagonist disertai
penatalaksanaan profil lipid intensif dan aspirin
HT + Gagal jantung
Pasien asimtomatik terbukti disffungsi ventrikel = ACE-I + BB
Pasiem simtomatik + disfungsi ventrikel / end-stage heart disease = ACE-I +
BB + ARB + Loop diuretic
HT + PAD
Kelas I = BB Antihipertensi efektif dan (-) KI pasien HT + PAP
Kelas IIa = ACE-I alas an menurunkan kejadian kardiovaskular
Kelas IIb = ACE-I untuk pasien PAP ekstremitas inferior asimtomatik.
Antihipertensi dapat menurunkan perfusi ext. inferior dan dapat
menyebabkan eksaserbasi klaudikasio atau iskemia ext. kronis. Namun
sebagian besar pasien dapat mentolerir terapi antihipertensi tanpa perburuk
gejala PAP
HT + GG FUNGSI GINJAL
Bila (+) gg. Fx ginjal Pastikan apakah :
1. HT menyebabkan gg. Fx ginjal hipertensi lama
2. Hipertensi primer
3. Gg. / penyakit ginjal menimbulkan hipertensi
HT dengan Gg. Fx ginjal :
Harus ketahui derajat gg. Fx ginjal (LFG, creatinine) dan derajat proteinuria
LFG < 25 mL/min Thiazide (kec. Metolazon) (-) efektif
ACE-I / ARB perhatikan penurunan fx ginjal dan kadar K +
BB dan CCB Relatif aman
HT + GG FUNGSI GINJAL
HT akibat gg. Ginjal / adrenal
Pada gagal ginjal (+) penumpukan Na+ asupan garam / (+) diuretic furosemide /
(+) dialysis
Bila (+) peny. Ginjal renovaskular (Stenosis a. renalis / atherosclerosis renal)
penanganan secara intervensi (Stenting / operasi) atau medis (ACE-I dan ARB tidak
dianjurkan bila diperlukan terapi obat).
Aldosteronisme primer (e.c. adenoma / hyperplasia adrenal) Terapi medis
(Aldosterone antagonist) / Intervensi
Proteinuri Menentukan progresi fx. Ginjal Terapi scr max dengan ACE-I / ARB + CCB
gol. Non-dihidropiridin

Pedoman pengobatan HT+ Gg. Fx ginjal :


1. Tekanan darah diturunkan sampai
HT PADA USIA LANJUT
Sekitar 60% HT usia lanjut Isolated systolic hypertension (+) tek.
Sistol dan tek diastole. Selisih tek. Sistol-diastole tekanan nadi (pulse
pressure) Prediktor morbiditas dan mortalitas yang buruk
tek. Sistol e.c. kekakuan arteri / berkurangnya elastisitas aorta
Pengobatan dimulai saat :
- TD sistolik 160 mmHg bila kondisi dan harapan hidup baik.
- TD sistolik 140 bila disertai DM atau merokok atau disertai faktor risiko
lainnya.
Pengobatan dilakukan secara bertahap dan hati-hati (START SLOW, GO
SLOW) karena pada pasien usia lanjut (+) fx. Organ, kekakuan arteri,
fx baroreseptor & respon simpatik, autoregulasi serebral Agar tidak
terjadi hipotensi ortostatik
HT PADA USIA LANJUT
Terapi awal = Diet rendah garam, penurunan berat badan (modifikasi
gaya hidup)
Bila tidak dicapai target penurunan tekanan darah (+) obat
Pilihan obat sama seperti lainnya, namun dosis awal dikurangi menjadi
dosis biasa, kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai respon
pengobatan dan pertimbangkan efek samping obat
Obat yang sering :
Diuretik Thiazide 12.5 mg Cegah CHF dan cegah kehilangan Ca2+ tulang
Obat lain : ACE-I, CCB kerja panjang, dan obat lain
Kombinasi 2 / lebih obat dianjurkan agar didapat efek pengobatan optimal
HT PADA USIA LANJUT
Target pengobatan :
Sistol < 140 mmHg
Diastol 85 90 mmHg
Penurunan tekanan darah diastole (-) sampai dibawah 65 mmHg karena
dapat meningkatkan kejadian stroke
HT PADA GG. NEUROLOGIS
HT merupakan faktor risiko utama stroke Anggap pasien HT sebagai
Stroke prone patient
HT (-)deficit neurologis :
Dilakukan sesuai dengan consensus InaSH
Lakukan deteksi gangguan organ otak melalui berbagai kegiatan:
* Perhatian khusus bila penderita HT (+) paresthesis muka, sekeliling bibir,
ujung jari, vertigo, kecenderungan insufisiensi basiler
*Perhatian juga dilakukan bila terdapat gg. Berbahasa, gg. Daya ingat dan
artikulasi
HT PADA GG. NEUROLOGIS
HT (+) tanda deficit neurologi akut :
Stroke Iskemik Akut :
(-) direkomendasikan terapi HT pada stroke iskemik akut kecuali terdapat HT berat dan
menetap yaitu sistolik > 220 mmHg / diastolic > 120 mmHg dengan tanda ensofalopati /
disertai kerusakan target organ lain
Obat antihipertensi yang sudah dikonsumsi sebelum serangan stroke diteruskan pada
fase awal stroke, pemberian obat antihipertensi baru ditunda sampai dengan 7-10 hari
pasca awal serangan stroke
Batas penurunan TD = 20 25% MAP (MAP = Tekanan diastolik + 1/3 selisih tekanan
sistolik diastolic)
Bila TD sistolik 180-220 mmHg dan / atau diastolic 105 120 mmHg terapi darurat harus
ditunda kecuali terdapat buktir perdarahan intraserebral, gagal jantung ventrikel kiri, MI
akut, GGA, edema paru, diseksi aorta, ensefalopati hipertensi. Jika peninggian tekanan
darah itu menetap pada 2 kali pengukuran selang waktu 60 menit, maka diberikan
Candesartan Cilexetil(Blopress) 4-16 mg oral selang 12 jam.
HT PADA GG. NEUROLOGIS
Batas penurunan tekanan darah maksimal 20-25% dari tekanan darah
semula.
Pada penderita dengan riwayat hipertensi sasaran(TARGET) tekanan
darah sistolik 160 mmHg dan diastolik 90 mmHg.
Bila tekanan darah sistolik > 230 mmHg atau tekanan diastolik > 140
mmHg: berikan nicardipin/diltiazem/nimodipin DRIP dan dititrasi
dosisnya sampai dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan
darah diastolik 90 mmHg (dosis dan cara pemberian lihat tabel jenis-jenis
obat untuk terapi emergensi).
Peningkatan tekanan darah bisa disebabkan stres akibat stroke (efek
cushing), akibat kandung kencing yang penuh, respon fisiologis atau
peningkatan tekanan intrakranial dan harus dipastikan penyebabnya.
HT PADA DIABETES
Indikasi pengobatan :
Bila tekanan darah sistolik 130 mmHg dan /atau tekanan darah
diastolik 180 mmHg.
Sasaran (target penurunan) tekanan darah :
- Tekanan darah < 130/80 mmHg.
- Bila disertai proteinuria 1g/24 jam : 125/75 mmHg
Tatalaksana:
Non-farmakoloogis = Modifikasi gaya hidup ( BB, aktivitas fisik, X rokok &
alcohol
dan konsumsi garam)
HT PADA DIABETES
Pertimbangan dalam memilih obat antihipertensi :
1. Pengaruh terhadap profil lipid
2. Pengaruh terhadap metabolism glukosa
3. Pengaruh terhadap resistensi insulin
4. Pengaruh terhadap hipoglikemia terselubung
Obat antihipertensi yang dapat dipergunakan:
ACE-I ARB BB Diuretik dosis rendah Alpha blocker CCB non
dihidropiridin
Pada pasien DM dengan TD sistol 130-139 mmHg / diastole 80-89 mmHg
Harus melakukan modifikasi gaya hidup ~3 bulan Gagal capai target
(+) farmakologis
Pasien DM dengan TD sistol 140 mmHg / diastole > 90 mmHg (+) Modifikasi
gaya hidup + terapi farmakologis lansung.
Bila monoterapi (-) mencapai TD target terapi kombinasi (+)
Catatan :
ACEI,ARB, dan CCB golongan non-dihidropiridin dapat memperbaiki mikroalbuminuria.
ACEI dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular.
Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang , TIDAK terbukti memperburuk toleransi
glukosa.
Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah tercapai.
Bila tekanan darah terkendali, setelah satu tahun dapat dicoba menurunkandosis
secara bertahap.
Pada orang tua, tekanan darah diturunkan secara bertahap.
HT PADA KEHAMILAN
TD > 160 / 100 mmHg Harus diturunkan Lindungi ibu terhadap
risiko stroke / memungkinkan perpanjangan masa hamil sehingga
memperbaiki kematangan fetus
Obat yang dapat diberikan : Metildopa dan Nifedipine
Obat yang TIDAK BOLEH saat hamil :
ACE-I (berkaitan dengan kemungkinan kelainan perkembangan fetus)
ARB (efek sama dengan ACE-I)
Diuretik (Efek pengurangan vol. plasma dapat ganggu kesehatan janin)
Terapi definitive Hentikan kehamilan
Indikasi : Preeklamsia berat setelah usia kehamilan > 35 minggu
KOMPLIKASI
Otak : Stroke
Jantung : Aterosklerosis, penyakit jantung koroner, gagal jantung
Mata : Kebutaan (pecahnya pembuluh darah pada mata)
Paru-paru : Edema paru
Ginjal: Penyakit ginjal kronik
Sistemik:Penyakit arteri perifer atau penyakit oklusi arteri perifer
PROGNOSIS
Hipertensi dapat dikendalikan dengan baik dengan pengobatan yang
tepat. Terapi dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan obat-obatan
antihipertensi biasanya dapat menjaga tekanan darah pada tingkat yang
tidak akan menyebabkan kerusakan pada jantung atau organ lain. Kunci
untuk menghindari komplikasi serius dari hipertensi adalah mendeteksi
dan mengobati sebelum kerusakan terjadi.
TERIMA KASIH