Anda di halaman 1dari 14

CYBER LAW

Dosen Pengampu:
Eki Saputra, S.Kom., M.Kom
Disusun oleh:
Kelompok 3
Abdurrahim Radhin
Fithratul Husna
Jeri Handika
Muhammad Ibnu
Nathania Adisya Permata
PENGERTIAN CYBER LAW

Cyber Law adalah aspek hukum yang istilahnya


berasal dari Cyberspace Law, yang ruang lingkupnya
meliputi setiap aspek yang berhubungan dengan orang
perorangan atau subyek hukum yang menggunakan dan
memanfaatkan teknologi internet yang dimulai pada saat
mulai "online" dan memasuki dunia cyber atau maya.
Cyber Law juga didefinisikan sebagai kumpulan
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
berbagai aktivitas manusia di cyberspace (dengan
memanfaatkan teknologi informasi).
RUANG LINGKUP CYBER LAW
Ruang lingkup cyberlaw ini akan terus
berkembang seiring dengan
perkembangan yang terjadi pada
pemanfaatan Internet dikemudian hari.

Persoalan tersebut antara lain menyangkut masalah mekanisme pembayaran


1. Electronic Commerce. (payment mechanism) dan jaminan keamanan dalam bertransaksi (security risk).
Mekanisme pembayaran dalam ECommerce dapat dilakukan dengan cepat oleh konsumen
dengan menggunakan electronic payment.
Pada awalnya electronic commerce (E- Pada umumnya mekanisme pembayaran dalam E-Commerce menggunakan credit
card. Karena sifat dari operasi Internet itu sendiri, ada masalah apabila data credit card itu
Commerce) bergerak dalam bidang retail dikirimkan lewat server yang kurang terjamin keamanannya. Selain itu, credit card tidak
seperti perdagangan acceptable untuk semua jenis transaksi. Juga ada masalah apabila melibatkan harga
dalam bentuk mata uang asing.
CD atau buku lewat situs dalam World
Wide Web (www). Tapi saat ini Ecommerce
sudah melangkah
jauh menjangkau aktivitas-aktivitas di
bidang perbankan dan jasa asuransi yang
lanjutan
2. Domain Name
Domain name dalam Internet secara
sederhana dapat diumpamakan seperti
nomor telepon atau sebuah alamat. Contoh,
domain name untuk Monash University Law
School, Australia adalah
law.monash.edu.au. Domain name dibaca Elemen seIanjutnya adalah monash yang merupakan the
Second-Level Domain name (SLD) yan g dipilih oleh pendaftar domain
dari kanan ke kiri yang menunjukkan tingkat name, sedangkan elemen yang terakhir law adalah subdomain dari
spesifikasinya, dari yang paling umum ke monash Gabungan antara SLD dan TLD dengan berbagai pilihan
subdomain disebut domain name.
yang paling khusus. Untuk contoh di atas,
au menunjuk kepada Australia sebagai
geographical region, sedangkan edu
artinya pendidikan (education) sebagai Top-
level Domain name (TLD) yang menjelaskan
mengenai tujuan dari institusi tersebut.
lanjutan..
3. Digital Evidence
Salah satu persoalan yang ditimbulkan oleh teknologi digital
adalah kemudahan untuk mengubah data. Sebuah dokumen
elektronik dapat dengan mudah diubah dengan
menggunakan sebuah wordprocessor sehingga dokumen
tampak seperti sama. Di dunia analog yang konvensional,
jika kita mengubah isi sebuah dokumen (misalnya dengan
menghapus atau menimpanya dengan tulisan lain) maka
akan kelihatan perubahan tersebut. Hal ini menyebabkan
orang bingung dengan barang bukti digital.
Komponen dari Cyber Law
Pertama, tentang yurisdiksi hukum dan aspek-aspek terkait;
komponen ini menganalisa dan menentukan keberlakuan hukum
yang berlaku dan diterapkan di dalam dunia maya itu;
Kedua, tentang landasan penggunaan internet sebagai sarana
untuk melakukan kebebasan berpendapat yang berhubungan
dengan tanggung jawab pihak yang menyampaikan, aspek
accountability, tangung jawab dalam memberikan jasa online dan
penyedia jasa internet (internet provider), serta tanggung jawab
hukum bagi penyedia jasa pendidikan melalui jaringan internet;
Ketiga, tentang aspek hak milik intelektual dimana adanya aspek
tentang patent, merek dagang rahasia yang diterapkan serta
berlaku di dalam dunia cyber;
lanjutan
Keempat, tentang aspek kerahasiaan yang dijamin oleh ketentuan
hukum yang berlaku di masing-masing yurisdiksi negara asal dari
pihak yang mempergunakan atau memanfaatkan dunia maya sebagai
bagian dari sistem atau mekanisme jasa yang mereka lakukan;
Kelima, tentang aspek hukum yang menjamin keamanan dari setiap
pengguna internet;
Keenam, tentang ketentuan hukum yang memformulasikan aspek
kepemilikan dalam internet sebagai bagian dari nilai investasi yang
dapat dihitung sesuai dengan prinisip-prinsip keuangan atau
akuntansi;
Ketujuh, tentang aspek hukum yang memberikan legalisasi atas
internet sebagai bagian dari perdagangan atau bisnis usaha.
Asas Asas Cyber Law
Dalam kaitannya dengan penentuan hukum yang berlaku
dikenal beberapa asas yang biasa digunakan, yaitu :
Subjective territoriality, yang menekankan bahwa keberlakuan
hukum ditentukan berdasarkan tempat perbuatan dilakukan dan
penyelesaian tindak pidananya dilakukan di negara lain.
Objective territoriality, yang menyatakan bahwa hukum yang
berlaku adalah hukum dimana akibat utama perbuatan itu terjadi
dan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi negara
yang bersangkutan.
Nationality,yang menentukan bahwa negara mempunyai
jurisdiksi untuk menentukan hukum berdasarkan
kewarganegaraan pelaku.
lanjutan
Passive Nationality,yang menekankan jurisdiksi
berdasarkan kewarganegaraan korban.
Protective Principle,yang menyatakan
berlakunya hukum didasarkan atas keinginan
negara untuk melindungi kepentingan negara
dari kejahatan yang dilakukan di luar
wilayahnya, yang umumnya digunakan apabila
korban adalah negara atau pemerintah.
Universality. Asas ini selayaknya memperoleh
perhatian khusus terkait dengan penanganan
Penerapan Cyber Law di Indonesia
Indonesia telah resmi mempunyai undang-undang untuk mengatur
orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam dunia maya. Cyber
Law-nya Indonesia yaitu undangundang tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (UU ITE).
Di berlakukannya undang-undang ini, membuat oknum-oknum nakal
ketakutan karena denda yang diberikan apabila melanggar tidak sedikit
kira-kira 1 miliar rupiah karena melanggar pasal 27 ayat 1 tentang
muatan yang melanggar kesusilaan. sebenarnya UU ITE (Undang-Undang
Informasi dan Transaksi Elektronik) tidak hanya membahas situs porno
atau masalah asusila. Total ada 13 Bab dan 54 Pasal yang mengupas
secara mendetail bagaimana aturan hidup di dunia maya dan transaksi
yang terjadi didalamnya. Sebagian orang menolak adanya undang-
undang ini, tapi tidak sedikit yang mendukung undang-undang ini.
lanjutan
Indonesia termasuk negara yang tertinggal dalam hal
pengaturan undang-undang ite. Secara garis besar UU ITE
mengatur hal-hal sebagai berikut :
Tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum yang sama
dengan tanda tangan konvensional (tinta basah dan
bermaterai). Alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti
lainnya yang diatur dalam KUHP.
UU ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan
hukum, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar
Indonesia yang memiliki akibat hukum di Indonesia.
Pengaturan Nama domain dan Hak Kekayaan Intelektual.
lanjutan
Perbuatan yang dilarang (cybercrime) dijelaskan pada Bab VII (pasal 27-
37):

a. Pasal 27 (Asusila, Perjudian, Penghinaan, Pemerasan)


b. Pasal 28 (Berita Bohong dan Menyesatkan, Berita Kebencian dan
Permusuhan)
c. Pasal 29 (Ancaman Kekerasan dan Menakut-nakuti)
d. Pasal 30 (Akses Komputer Pihak Lain Tanpa Izin, Cracking)
e. Pasal 31 (Penyadapan, Perubahan, Penghilangan Informasi)
f. Pasal 32 (Pemindahan, Perusakan dan Membuka Informasi Rahasia)
g. Pasal 33 (Membuat Sistem Tidak Bekerja)
h. Pasal 35 (Menjadikan Seolah Dokumen Otentik)
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
ASSALAMUALAIKUM WR.
WB