Anda di halaman 1dari 214

MATA KULIAH 1

FILSAFAT ILMU
MENGAPA HARUS BELAJAR 2
FILSAFAT?

Untuk mengetahui sejak kapan munculnya


ilmu pengetahuan
Agar mampu berpikir sistematis, kritis untuk
memperoleh kebenaran.
PENGERTIAN FILSAFAT 3

1. Dari sisi kebahasaan


Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani,
yaitu philosophia. Philo=cinta Sophia=
kebijaksanaan/kebenaran. Jadi philosophia
adalah orang yang mencintai kebenaran,
sehingga berupaya memperoleh dan
memilikinya.
lanjutan
4
Kata philosophia ditransformasikan ke
berbagai bahasa. Dalam bahsa arab
disebut falsafah. Dalam bahsa
Indonesia disebut falsafat/filsafat.
Dalam bahsa Belanda dan Jerman
disebut Philosophie.
lanjutan 5

Dari sisi filsafat sebagai ilmu


Plato, fisuf besar Yunani mengatakan, filsafat
adalah ilmu pengetahuan yang berusaha
mencapai kebenaran yang asli, karena
kebenaran mutlak di tangan Tuhan. Atau
dengan singkat dikatakan pengetahuan tentang
segala yang ada.
lanjutan 6

Aristoteles, murid Plato


mengatakan, filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang meliputi
kebenaran yang terkandung di
dalamnya ilmu matafisika,
logika, retorika, politik, sosial
budaya dan estetika.
7

Alfarabi, Filsuf besar muslim


dengan gelar Aristoteles ke 2,
mengatakan Filsafat adalah
pengetahuann tentang yang ada
menurut hakikatnya yang
sebenarnya.
lanjutan 8

Immanuel Kant, Filsuf barat


dengan gelar raksasa pemikir
Eropa, mengatakan filsafat
adalah ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang
mencakup di dalamnya empat
persoalan:
lanjutan 9

1. apa dapat kita ketahui, dijawab


oleh metafisika
2. apa yang boleh kita kerjakan,
dijawab oleh etika
3. apa yang dinamakan manusia,
dijawab oleh antropologi.
4. sampai dimana harapan kita,
dijawab oleh agama.
lanjutan 10

Hasbullah Bakry, filsafat adalah ilmu yang


menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam
mengenai Ketuhanan, alam semesta, dan
manusia sehingga dapat melahirkan
pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya
sejauh yang dicapai manusia.
lanjutan 11

3. Filsafat dari sisi benda


Titus dkk, mengajukan dua pengertian filsafat.
- filsafat adalah sekumpulan problem- problem
yang langsung dan mendapat perhatian dari
manusia yang dicarikan jawabannya oleh ahli
filsafat.
lanjutan 12

Filsafat adalah sekumpulan


sikap dan kepercayaan
terhapadap kehidupan dan
alam yang biasanya
diterima secara tidak kritis.
lanjutan 13

4. Filsafat sebagai suatu aktifitas


Filsafat adalah sebagai suatu proses
berpikir untuk memperoleh jawaban-
jawaban dari berbagai problem.
Titus dkk, memberikan 3 pengertian
filsafat sbg aktifitas:
- Filsafat adlah suatu proses kritik atau
pemikiran terhadap kepercayaan diri dari
sikap yang sangat kita junjung tinggi.
lanjutan 14

- Filsafat adalah sebagai analisi logis dari bahasa


serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
- Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh
gambaran keseluruhan
BERDASARKAN KONSEP DAN TEORI TERSEBUT
PROSES BERFILSAFAT TERSEBUT MELALUI EMPAT 15
TAHAP

1. LOGIS, yaitu berpikir dengan


menggunakan logika (undang-undang
berpikir) yaitu melalui tiga tahap;
pemahaman, keputusan dan
argumentasi
contoh;:
- Alam berubah-ubah (premis minor)
- Setiap berubah-ubah baru (premis
mayor)
- Alam baru (simpulan)
lanjutan 16

2. SISTEMATIS, yaitu berpikir melalui alur


yang sistemik sehingga ditemukan adanya
koheren (saling runtut), diantara satu
pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.
3. RADIKAL, berpikir sampai kepada akar
masalah.
4. UNIVERSAL, berpikir secara umum bukan
khusus. Disini perbedaannya ilmu berpikir
secara khusus, filsafat berpikir secara
umum.
SEJARAH TIMBULNYA FILSAFAT 17

KAPAN MUNCULNYA FILSAFAT?


Filsafat muncul sejak manusia ada dan
sejak adanya pembicaraan manusia.
Maka sejarah lahirnya filsafat dimana-
mana Yunani, India, Persia. Karena
filsafat memiliki kualifikasi tertentu,
maka lahirnya filsafat diidentikan
dengan Yunani. Hal ini sesuai dengan
karakter orang yunani ialah Rasional
APA YANG MENYEBABKAN 18
LAHIRNYA FILSAFAT?

1. PERTENTANGAN ANTARA MITOS DAN


LOGOS
Dikalangan masyarakat Yunani dikenal
adanya mitos, sebagai suatu keyakinan
lama yang berkembang dengan pesat
misalnya mite kosmologi yang
melukiskan kejadian alam. Lama-lama
mitos hilang dikalahkan oleh logos, maka
logos penyebab pertama lahirnya
filsafat.
lanjutan 19

2. RASA INGIN TAHU


Karena mite hanya bersifat dongeng belaka,
maka orang mulai berpikir rasional, untuk
mencari jawaban-jawaban yang logis.
Keingintahuan terhadap alam semesta,
keingintahuan terhadap penciptanya dsb.
lanjutan 20

3. RASA KAGUM
Menurut Plato, filsafat lahir adanya
kekaguman manusia tentang dunia dan
lingkungannya. Para filsuf atas kekagumannya
mencoba merumuskan asal mula alam
semesta.
Thales bapak filsafat Yunani, mengatakan alam
semesta berasal dari air.
lanjutan 21

Anaximandros, alam berasal dari apairon (api)


Democrios, alam berasal dari atom
Empedokles, alam berasal dari empat unsur;
air, api, angin, tanah.
4. PERKEMBANGAN KESUSASTRAAN
Faktor lain yang menyebakan lahirnya filsafat
adalah kesusastraan.
KARAKTERISTIK FILSAFAT 22

1. SKEPTISIS
Skeptisis adalah keraguan terhadap suatu
kebenaran sebelum mendapat argumen
yang kuat terhadap kebenaran tersebut.
Dikelompokan;
-bersifat Gradasi , dari ragu ke yakin
-bersifat degradasi, dari yakin ke ragu
-bertahan sophisme, terus menurus ragu.
Lanjutan 23

Sifat gradasi diungkapkan oleh RENE


DECARTES Filsuf Prancis cagito ergo sum
(saya berpikir maka saya ada)
2.KOMUNALISME
Hasil pemikiran filsafat dimiliki
masyarakat umum tidak memandang ras,
kelas, ekonomi, dan keyakinan. Misalnya
hasil pemikiran Yunani bermanfaat untuk
orang Eropa, Asia Afrika dsb.
lanjutan 24

3. DISENTERESTEDNESS
YANG BERASAL DARI KATA INTEREST, yaitu
suatu kegiatan filsafat yang tidak
dimotivasi untuk suatu kepentingan
tertentu.
4. UNIVERSALISME
Filsafat bersifat umum, berati filsafat
adalah hak seluruh umat manusia secara
umum atau sifatnya internasional. Semua
umat manusia berhak mengadakan kajian
filsafat.
APA GUNANYA FILSAFAT BAGI MANUSIA?
25
Filsafat mampu memberikan
pemahaman yang menyeluruh
(general) terhadap suatu wujud
(ontologi) sekaligus memberikan
konsep kebenaran
( justifikasi) terhadap wujud
tersebut. Dengan kebenaran manusia
akan bertindak bijaksana (wesdom)
lanjutan 26

Filsafat dapat memberikan


kepuasan bagi filsuf/seseorang
karena kemampuannya dalam
menggambarkan problem kehidupan
yang sedang dan akan dihadapi
sesuai dengan leluasan
pemahamannya.
Plato mengatakan, berpikir dan memikirkan itu suatu
kenikmatan yang luar biasa dan kebahagian yang paling
berharga.
lanjutan 27

Filsafat dapat dijadikan sebagai bahan pijakan


untuk merubah dunia.
Karl Marx mengatakan, filsafat tidak hanya
hanya menjelaskan pada dunia(interferd the
world) melainkan juga merubahnya.
PROBLEMATIKA FILSAFAT 28

Secara Umum terbagi menjadi tiga;


1. ONTOLOGI, yaitu mengkaji hakikat segala
sesuatu, terbagi 2:
1. Kualitas;
- Monisme, asal lam terdiri dari satu unsur
(mono=satu). Thales dari air, Anaximandros
dari apairon, Anaximenes dari udara,
Democritos dari tanah.
lanjutan 29

- Dualisme, yang mengatakan alam semesta


terdiri dari dua unsur yaitu materi dan roh.
Tokohnya Anaxagoras dan Aristolteles.
- Pluralisme, alam semesta terdiri dari empat
unsur; air, angin, api, tanah. Tokohnya
Empedokles, Leukippos.
lanjutan 30

2. Kualitas
Pandangan ini membicarakan
bagaimana alam berproses, dalam
kaitannya muncul 4 teori:
-Mekanisme, yang mengatakan bahwa
segala sesuatu berproses secara
mekanik.
-Teleologi, mengatakan bahwa segala sesuatu
yang terjadi di alam raya berproses menuju
suatu tujuan, yaitu Tuhan.
31

-Determinisme, kejadian di alam


iniberproses melalui suatu ketentuan
yang telah ditetapkan sebelumnya,
baik oleh hukum alam maupun oleh
Tuhan
-Indeterminisme, segala kejadian di
alam ini berlangsung secara bebas,
tanpa kendali tertentu dari Tuhan
atau kekuatannya.
PROBLEM FILSAFAT 32

2. EPISTEMOLOGI, membicarakan 2 hal;


a. Hakikat pengetahuan, muncul 2
pandangan;
- realisme, yaitu pengetahuan manusia riil
adanya dalam kehidupan.
- idealisme, yaitu hakikat ilmu pengetahuan
tidak terdapat dalam dunia riil, melainkan
konsep ideal atau dunia ide-ide.
lanjutan 33

b. Sumber Pengetahuan, muncul 3


pandangan;
- rasionalisme, mengatakan bahwa sumber
pengetahuan muncul dari rasio (akal)
manusia.
- Empirisme, sumber pengetahuan adalah
indera manusia.
- Kritisme, pengetahuan manusia bersumber
dari luar diri manusia, yaitu Tuhan.
PROBLEM FILSAFAT 34

3.AXIOLOGI, TERBAGI MENJADI 6


PANDANGAN;
a. naturalisme, yang menyatakan
ukuran baik buruk ialah sesuai
tidaknya perbuatan tersebut sesuai
dengan fitrah (natura) manusia.
b. Hedonisme, yang menyatakan
bahwa ukuran baik buruk ialah
sejauh mana suatu perbuatan
mendatangkan kenikmatan (hedone)
bagi manusia.
lanjutan 35

a. Vitalisme, ukuran baik buruk


ditentukan oleh sejauh mana suatu
perbuatan tersebut dapat
mendorong manusia untuk hidup
lebih maju.
b. Ultitarianisme, Ukuran baik buruk
ditentukan oleh ada tidaknya suatu
perbuatan mendatangkan manfaat
bagi manusia.
lanjutan 36

e. Idealisme, ukuran baik buruk ditentukan


oleh sesuai tidaknya sesuatu perbuatan
dengan konsep ideal (rancang bangun)
pikiran manusia.
f. Teologis, baik buruknya suatu perbuatan
ditentukan oleh sesuai tidaknya suatu
perbuatan dengan ketentuan agama
(teos=Tuhan, agama)
lanjutan 37

Berdasarkan uraian
problematika di atas
kebenaran itu bersifat relatif
tergantung pada latar
belakang pendidikan, sosial,
budaya, agama dan
sebagainya.
BAGAIMANA HUBUNGAN ILMU, 38
FILSAFAT, DAN AGAMA

Ilmu adalah sistem dari berbagai pengetahuan


yang masing-masing mengenai suatu
pengalaman tertentu yang disusun melalui
sistem tertentu, sehingga menjadi suatu
kesatuan.
Menuurut Harsojo, ilmu terdiri dari tiga
kesimpulan, yaitu;
lanjutan 39

1. Merupakan akumulasi pengetahuan yang


disistematikan
2. Suatu pendekatan/metode pendekatan
terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia
yang terikat oleh faktor ruang dan waktu,
dunia yang pada prinsipnya dapat diamati
oleh panca indra manusia, dan
lanjutan 40

1. Suatu cara yang mengijinkan


kepada ahli-ahli lainnya
untuk menyatakan suatu
proporsi.
lanjutan 41

Filsafat menurut Plato dan Al Faraby; filsafat


adalah pengetahuan tentang segala yang ada.
AGAMA
Terdapat perbedaan pengertian agama
dikalangan tokoh agama. Hal ini disebabkan
oleh perbedaan bidik terhadap agama.
lanjutan 42

Agama diartikan secara praktis,


adalah suatu keyakinan akan
adanya aturan/jalan hidup (way of
life) yang bersumber dari suatu
kekuatan yang absolut (Tuhan).
Agama memiliki empat perangkat
sbb:
1. Adanya pengatur (Tuhan) sebagai
kebenaran yang pertama dan
terakhir.
lanjutan 43

2. adanya aturan (code hukum) yang harus


dipahami yang termaktub dalam kitab suci dan
kebenarannya bersifat ansolut.
3. Adanya seorang nabi sebagai pembawa aturan
hukum.
4. Adanya komunitas (manusia) sebagai
pelaksana aturan yang bersumber dari Tuhan.
HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN 44
AGAMA

ILMU, mencari kebenaran dengan cara


penyelidikan (riset) sesuai dengan
eksistensinya yang berhubungan dengan alam
empiris.Dalam penyelidikan ilmu selalu
mencari hukum sebab akibat. Sebagai hukum
sebab akibat maka kebenaranya pasti ada.
lanjutan 45

ILSAFAT, karena selalu berhadapan denga alam


empiris, (metafisika, ghaib) maka ia komit
dengan organon (alatnya) yaitu logika. Cara
kerjanya selalu diawali dengan pertanyaan
apa. Berpikir logis, sistematis, radikal, dan
universal.
lanjutan 46

AGAMA, menemukan konsep


kebenaran bersumber pada
wahyu, kebenarannya bersifat
mutlak, absolut sebagiai
kebenaran tertinggi.
47

Ilmu kebenarannya bersifat empiris, filsafat


kebenarannya bersifat spekulatif (berdasrkan
nalar dan logika), keduanya bersifat nisbi.
Agama kebenarannya bersifat absolut mutlak,
dalam penentuannya semua perlu perumusan
lanjutan 48

Hubungan ilmu filsafat dan agama, Albert


Einstein menagatakan dengan singkat
science with out is blind, religion with out
science is blame Ilmu tanpa agama buta,
agama tanpa ilmu lumpuh.
BAGAIMANAKAH KATEGORI 49
MANUSIA ITU?

1. MANUSIA ADA YANG TIDAK TAHU


DALAM KETIDAKAHUANNYA
2. MANUSIA TIDAK TAHU DALAM
KETAHUANNYA
3. MANUSIA TAHU AKAN
KETIDAKTAHUANNYA
4. MANUSIA TAHU AKAN KETAHUANNYA
Kategori manakah yang paling baik?
Manusia adalah akhluk ciptaan Tuhan yang
tercanggih. Memiliki banyak kelebihan 50
dibanding dengan makhluk lain terutama
akalnya.
Memiliki rasa ingin tahu, maka
diaktuakisasikan dalam bentuk bertanya.
Melalui rasio maka manusia memberikan
jawaban terhadap aneka pertanyaan
Manusia bertanya, manusia pula menjawab
Manusialah yang benar-benar bereksistensi
karena memiliki kesadaran dan otonomi
dirinya.
Lanjutan 51

DENGAN KATA LAIN


Malalui akalnya manusia mampu menyamai
makhluk lain.
Burung terbang tinggi, manusia tefrbang
dengan pesawat ciptaannya.
Angsa bisa berenang ke ujung pulau,
manusia berenang dengan kapal Feri
ciptaannya.
Ikan mampu menembus dasar lautan,
manusia menembus lautan dengan kapal
selam ciptaannya.
APAKAH SETIAP MANUSIA MAMPU BERFILSAFAT?
Tidak juga. Rule of the game ( ada aturan 52
mainnya)

Berpikir logis, sistematis, radikal, dan


universal.

Dengan mengindahkan ke empat aturan main


tersebut, maka Anda bisa menjadi seorang
filsuf
LAHIRNYA ILMU PENGETAHUAN
SEJAK KAPAN LAHIRNYA ILMU PENGETAHUAN? 53

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang


tercanggih.
Dengan akalnya manusia mampu. berpikir,
dengan pikirannya memperoleh pengetahuan,
dengan pengetahuannya manusia memiliki
ilmu, dengan ilmunya manusia mampu berpikir
rasional, logis dan sistematis.
JADI PENGETAHUAN LAHIR SEJAK 54
MANUSIA ITU ADA
SEJAK MANUSIA BERPIKIR
SEJAK MANUSIA BERINTERAKSI DENGAN
ALAM
BAGAIMANA HUBUNGAN (ILMU
PENGETAHUAN DENGAN FILSAFAT? 55

Pengetahuan bagian dari kajian filsafat


ilmu, pengetahuan lahir sejak adanya
peradaban manusia dan berkembang pesat
sesuai dengan budayanya.
Pengetahuan lahir dari aktivitas
Aktivitas memerlukan metode
Pengetahuan melahirkan ilmu-ilmu.
Ilmu dan pengetahuan tidak bisa
dipisahkan.
lanjutan 56

Aktivitas memerlukan metode


Pengetahuan melahirkan ilmu-
ilmu.
Ilmu dan pengetahuan tidak
bisa dipisahkan.
SIKLUS ILMU 57

ILMU AKTIVITAS

METODE PENGETAHUAN
PENGERTIAN ILMU SEBAGAI 58
PENGETAHUAN

Dari segi maknanya pengertian ilmu sekurang-


kurangnya merujuk tiga hal:
Pengetahuan
Aktivitas
metode
Pengertian Umum
59

Ilmu adalah sesuatu kumpulan


yang sistematis dari
pengetahuan.
Ilmu berarti semua
pengetahuan yang dihimpun
dengan perantara metode
ilmiah (John G. Kemeny).
lanjutan 60

Menurut Norman Campbell :


Ilmu adalah suatu kumpulan
pengetahuan yang berguna dan praktis
dan suatu metode untuk memperoleh
pengetahuan
Ilmu tidak bersangkutan dengan
kehidupan praktis dan tidak dapat
mempengaruhinya kecuali dalam cara
yang paling tak langsung, baik
kebaikan atau keburukan.
SIMPULAN 61

Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia


yang rasional dan kognitif dengan berbagai
metode berupa aneka prosedur dan tata
langkah sehingga menghasilkan kumpulan
pengetahuan yang sistematis mengenai
gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan
atau keorangan untuk tujuan mencapai
kebenaran, memperoleh pemahaman,
memberikan penjelasan, ataupun
melakukan penerapan.
LANJUTAN 62
ILMU SEBAGAI RANGKAIAN AKTIVITAS MANUSIA:

1. Rasional: proses pemikiran yang


berpegang pada kaidah-kaidah
logika
2. Kognitif : proses mengetahui dan
memperoleh pengetahuan
lanjutan 63

1. Teologis:
mencapai kebenaran
memperoleh pemahaman
Memberi penjelasan
Meakukan penerapan dengan
peramalan atau pengendalian
ILMU SEBAGAI METODE ILMIAH 64

ANALISIS (analysis)
PEMERIAN (description)
PENGUKURAN (measurement)
PERBANDINGAN (comparison)
SURVAI (survey)
Pengelompokan Pengetahuan 65

Menurut Bertrand Russell, pengetahuan


dibedakan menjadi 2:
1. Pengetahuan mengenai fakta-fakta
(knowledge of facts)
2. Pengetahuan mengenai hubungan umum
antara fakta (knowledge of general
connection berween facts)
Ledger Wood membagi 66
pengetahuan menjadi:

1.Non inferential
Apprehension; pengetahuan
nonpenyimpulan yang
merupakan pengenalan
terhadap benda, orang, atau
sifat tertentu.
67

Bentuknya:
Perception ;pengenalan objek diluar diri
seseorang
Introspection; pengenalan terhadap dirinya
sendiri dengan segenap kemampuan, pikiran
kehendak, dan perasaan
Lanjutan 68

2. Inferential Knowledge, meliputi;


Knowledge of other selves; pengetahuan
mengenai diri orang lain.
Historical knowledge; pengetahuan
menyangkut masa lampau.
Scientific knowledge; pengetahuan ilmiah.
George Klubertanz 69

Pengetahuan langsung berdasarkan


pengenalannya terhadap objek-objek
pengalaman.
Pengetahuan kemanusian (humanistic
knowledge) yang diperoleh karena
mempelajari
Pengetahuan Ilmiah (scientific knowledge)
berdasarkan azas-azas yang cocok dan
dapat membuktikan kesimpulannya
kebenaran.
lanjutan 70

Pengetahuan Ilmiah (scientific


knowledge) berdasarkan azas-
azas yang cocok dan dapat
membuktikan kesimpulannya
kebenaran.
HAKIKAT PENGETAHUAN 71

Darimanakah hakikat pengetahuan itu?


1. Realisme; pengetahuan manusia riil adanya
dari kehidupan.
2. Idealisme; pengetahuan tidak terdapat
dalam dunia riil melainkan hanya dalam
dunia konsep ideal atau dunia ide-ide.
Dari manakah sumber 72
pengetahuan manusia?

1. Rasionalisme; sumber pengetahuan berasal


dari rasio (akal) manusia.
2. Empirisme; sumber pengetahuan adalah
indra manusia (empiri)
3. Kritisisme/transidentalisme; pengetahuan
manusia bersumber dari luar diri manusia,
yaitu Tuhan.
PENGETAHUAN SEBAGAI DASAR TEORITIS
YANG MELAHIRKAN PENGETAHUAN 73
ILMIAH
CAKUPAN PENGETAHUAN ILMIAH:
1. Jenis sasaran
2. Bentuk-bentuk pernyataan
3. Ragam-ragam proposisi
4. Ciri-ciri pokok
5. Pembagian sistematis
Lanjutan
74
Jenis sasaran Pengetahuan Ilmiah:
Objek material; fenomena di dunia
ini yang ditelaah oleh ilmu
Objek formal; pusat perhatian
penelaahan ilmuwan terhadap
fenomena itu.
lanjutan 75

OBJEK MATERIAL PENGETAHUAN ILMIAH


DIKELOMPOKAN MENJADI 6:
IDE ABSTRAK
BENDA FISIK
JASAD HIDUP
GEJALA ROHANI
PERISTIWA SOSIAL
PROSES TANDA
76

OBJEK MATERIAL

KONSEP GUNUNG MERAPI, BURUNG, INGATAN


DST

DITELAAH BERDASARKAN OBJEK FORMAL


TELAAH OBJEK FORMAL 77
BIOLOGI
MANUSIA PSIKOLOGI
FILSAFAT KODRATI

OBJEK TELAAH FORMAL


SEPERTI APA BENTUK 78
PENGETAHUAN ILMIAH ITU?
ANATOMI
1. DESKRIPTIF
GEOGRAF
I
2. PRESKRIPSI UKURAN
AZAS-AZAS
PETUNJUK
PROSEDUR
LANJUTAN 79

SOSIOLOGI
3. EKSPOSISI POLA POLA-POLA BUDAYA
ANTROPOLOGI
PERKEMBANGAN
BUDAYA
LANJUTAN 80

4.REKONTRUKSI
HISTORIS

HISTORIOGRAFI
PURBAKALA
PALEONTOLOGI
PROPOSISI ILMU PENGETAHUAN 81
MENGANDUNG
KEBENARAN UMUM
BERDASARKAN FAKTA
YANG TELAH DIAMATI
1. AZAS ILMIAH

ILMU SOSIAL
LANJUTAN

2. KAIDAH ILMIAH

Mengungkapkan keajegan
atau hubungan tertib
yang dapat diperiksa
kebenarannya diantara
fenomena secara umum
berlaku pula untuk
berbagai fenomena yang
sejenis.
Boyle, Newton, Pascal

82
LANJUTAN 83
3. TEORI ILMIAH Teori Darwin
Kemampuan
proposisi yang saling
berkaitan secara
logis untuk memberi
penjelasan
mengenai sejumlah
fenomena. Kau lahir dariku
bodoh
lanjutan 84

Teori; sekumpulam proposisi


yang mencakup konsep-konsep
tertentu yang saling
berhubungan
APA MANFAAT DAN PERANAN TEORI?
85
Mensistematiskan dan menyususn data maupun
pemikiran tentang data sehingga tercapai pertalian
yang logis diantara aneka data yang semula kacau
balau. Jadi teori berfungsi sebagai kerangka,
pedoman, bagan sistematisasi atau sistem acuan.
lanjutan 86

Memberikan skema atau rencana sementara


mengenai medan yang semula belum dipetakan
sehingga terdapat suatu orientasi
Menunjukkan atau menyarankan arah-arah
untuk penyelidikan lebih lanjut.
87
PEMBAGIAN ILMU
PENGETAHUAN
Ilmu Pengetahuan dibedakan atas:
1. Ilmu Pengetahuan Sosial (social science);
membahas hubungan manusia sebagai
makhluk sosial.
a. Psikologi; ilmu pengetahuan yang
mempelajari proses mental dan tingkah
laku.
b. Pendidikan; suatu perlakuan atau
nproses latihan yang terarah dan
sistematis meneju ke suatu tujuan.
Lanjutan 88

c. Antropologi; suatu ilmu pengetahuan


yang pempelajari asal-usul dan
perkembangan jasmani, sosial,
kebudayaan serta tingkah laku manusia.
d. Etnologi; studi antropologi dari aspek
sistem sosio ekonomi dan pewarisan
kebudayaan terutama keaslian,
perkembangan dan perubuhan dalam
masyarakat primitif.
Lanjutan 89

e. Sejarah; suatu pencataan peristiwa


peristiwa yang telah terjadi pada suatu
bangsa, negara atau individu.
f. Ekonomi; ilmu penghetahuan yang
berhubungan dengan produksi, tukar menukar
barang produksi, pengelolaan dalam lingkup
rumah tangga, perusahaan atau negara.
Lanjutan 90

g. Sosiologi; suatu studi tingkah laku sosial,


terutama asal-usul organisasi, institusi dan
perkembangan masyarakat manusia.
2. Ilmu Pengetahuan Alam; yang membahas
alam semesta dengan segala isinya, ilmu ini
terbagi atas:
a. Fisika (physics); suatu kajian tentang
benda mati dari aspek wujud dengan
perubahan yang bersifat sementara.
lanjutan 91

b.Kimia (chemistry); mempelajari benda


hidup dan tidak hidup dari aspek susunan
materi dan perubahan-perubahan yang
bersifat tetap;
Kimia secara garis besar dibagi menjadi:
Kimia anorganik
Kimia organik
c. Biologi (biological science); ilmu
pengetahuan yang mempelajari makhluk
hidup dan gejala-gejalanya.
lanjutan 92

Cabang-cabang biologi:
1. Botani; mempelajari seluk beluk
tumbuhan
2. Zoologi; mempelajari hewan
3. Anatomi; mempelajari strukur
dalam makhluk hidup
4. Fisiologi; studi tentang fungsi
tubuh
93

5. Sitologi; studi tentang sel secara


mendalam
6. Sitologi; studi tentang jaringan
tubuh atau organ makhluk hidup
7. Palaentologi:studi tentang
makhluk masa lampau yang
kebanyakan hanya berupa fosil
lanjutan 94

3. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (earth


science and space)
a. Geologi; studi tentang struktur bumi
Petrologi membahas batu-batuan
Vulkanologi, membahas gempa bumi
Mineralogi, membahas bahan mineral/bahan
galian
Kristalografi, membahas bentuk-bentuk
kristal dari mineral.
lanjutan 95

b. Astronomi; suatu ilmu pengetahuan yang


membahas benda-benda ruang angkasa dan
alam semesta.
b. Geografi; ilmu pengetahuan tentang muka
bumi dan produk ekonomi sehubungan dengan
makhluk hidup terutama manusia.
ILMU PENGETAHUAN BERDASARKAN
KURUN WAKTUNYA 96

ILMU PENGETAHUAN
KONVENSIONAL

ILMU PENGETAHUAN MODERN


Lanjutan 97

Ilmu penetahuan konvensional mengedepankan


mitos, daripada logos.
Ilmu pengetahuan modern mengutamakan
rasio, akal sehingga segala sesuatu harus
bersifat rasional. Mengedepankan logos
daripada mitos.
PERKEMBANGAN PENGETAHUAN 98
MODERN

Konsep atau teori Pengetahuan modern


berkembang berabad-abad, sejak manusia
mempelajari alam semesta. Thales sebagai
Bapak ilmu pengetahuan, Aristoteles,
Scorattes sampai ke generasi Newton.

Berdasarkan pemikiran manusia pengetahuan


terus berkembang hingga melahirkan teori-
teori dan wujud untuk kepentingan umat
manusia.
lanjutan 99

Berdasarkan pemikiran manusia pengetahuan


terus berkembang hingga melahirkan teori-
teori dan wujud untuk kepentingan umat
manusia.
lanjutan 100

Aristoteles berpendapat, berdasarkan


pengamatan bebnda-benda hidup itu mungkin
dapat timbul dari benda tak hidup. Contoh
cacing berasal dari lumpur, ulat berasal dari
daging yang membusuk dan lain lain.
ILMU PENGETAHUAN ABAD KE-13 101

TOKOH; NIKOLAS KOPERNIKUS


Berkebangsaan Polandia yang mencetuskan
revolusi dunia ilmu.
Teorinya menyatakan bahwa matahari
merupakan pusat tata surya yang diedari oleh
bumi serta planet lainnya.
ILMU PENGETAHUAN ABAD KE-16 102

TOKOH; SIR ISAAC NEWTON


Berkebangsaan Inggris yang mencetuskan
hukum gravitasi bumi,pencipta teleskop
cermin.
Teorinya sangat mempengaruhi alam pikiran
abad-18
lanjutan 103

Perkembangan ilmu pengetahuan abad 18, 19


melahirkan ilmu ilmu yang sangat bermanfaat
bagi kehidupan umat manusia.
Thomas Alpha Edison, dengan lampu listriknya
Albert Enstain dengan teori atomnya
PUNCAK PENGETAHUAN 104
DI ABAD 20

Para ilmuwan memanfatkan materi dan energi.


Materi merupakan benda sedangkan energi
yang memiliki kekuatan.
Materi merupakan benda-benda hasil olahan
lanjutan 105

Dalam kehidupan modrn penggunaan energi


semakin meluas.
Energi berwujud dalam berbagai bentuk;
cahaya, kimia, panas, gerak, nuklir dan
sebagainya.
TERIMA KASIH
SELAMAT BELAJAR 106
REFERENSI 107

Nasution, HB. 2001. Filsafat Umum. Jakarta


:Gaya Media Pratama
Haryono Imam. 1994. Filsafat Ilmu
Pengetahuan. Jakarta : Gramedia
The Lian Gie. 1991. Pengantar Filsafat Ilmu.
Yogyakarta : Liberty
108
Bab 3
109

Filsafat dan Ilmu dalam Sejarah


Orientasi Sejarah
110

Hubungan Sejarah
Filsafat dan ilmu di dalam filsafat ilmu berhubungan dengan
sejarah barat
Berpusat di Eropa, terutama Eropa Barat

Pembabakan Sejarah
Sejarah dibagi ke dalam sejumlah babak, dari zaman dahulu
sampai sekarang
Pembabakan sejarah mengikuti pembabakan yang lazim di
sejarah Eropa

Filsafat dan Ilmu


Di dalam sejarah ini, filsafat dan ilmu tidak diuraikan secara
terpisah
Pembabakan Zaman

111
Zaman Kuno
sebelum abad ke-5 sM
Zaman Yunani Kuno
abad ke-5 sM sampai abad ke-1 sM
Zaman Romawi
abad ke-1 sM sampai abad ke-5
Zaman Gelap (Dark Ages)
abad ke-5 sampai abad ke-10
Zaman Pertengahan (Medieval)
abad ke-10 sampai abad ke-15
Zaman Kebangkitan (Rennaissance)
abad ke-15 sampai abad ke-18
Zaman Modern
abad ke-18 sampai sekarang
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
112
Keteraturan Alam (Louis de Broglie)
Gembala Chaldea di Mesopotamia memperhatikan gejala di
langit terutama di malam hari
Gerak benda langit teratur sehingga mereka yakin akan
keteraturan alam
Muncul pengetahuan astronomi termasuk kalender bulan dan
muncul ilmu
Mereka juga mengenal musim, sehingga satu tahun terdiri atas
12 bulan (tidak tepat)

Keteraturan Alam (Dennis Gabor)


Manusia percaya bahwa ada keteraturan pada dasar gelaja alam
Keteraturan ini layak dinyatakan melalui logika
Kepercayaan ini melahirkan ilmu
THE HISTORY OF SCIENCE
On the simplest level, science is knowledge of the world of
nature. There are many regularities in nature that mankind has 113
had to recognize for survival since the emergence of Homo Sapiens
as a species. The Sun and the Moon periodically repeat their
movements. Some motions, like the daily motions of the Sun,
are simple to observe; others, like the annual motion of the Sun,
are far more difficult. Both motions correlate with important
terrestial events. Day and night provide the basic rhythm of human
existence; the seasons determine the migration of animals upon
which human depended for millennia for survival. With the
invention of agriculture, the seasons became even more crucial,
for failure to recognize the proper time for planting could lead to
starvation. Science defined simply as knowledge of natural
processes is universal among mankind, and it has existed since the
dawn of human existence.
The mere recognition of regularities does not exhaust the full
meaning, however. In the first place, regularities may be simply
constructs of the human mind. Humans leap to conclusions; the
mind cannot tolerate chaos, so it constructs regularities even when
none objectively exists. Thus, for example, one of the
astronomical laws of the Middle Ages was that the appearance of
comets presaged a great upheaval, as the Norman Conquest of Britain
114
followed the comet of 1066. True regularities must be established by
detached examinations of data. Science, therefore, must employ a
certain degree of skepticism to prevent premature generalization.
Regularities, even when expressed mathematically as laws of
nature, are not fully satisfactory to everyone. Some insist that
genuine understanding demand explanations of the causes of the
laws, but it is in the realm of causation that there is the greatest
disagreement. Modern quantum mechanics, for example, has given up
the quest for causation and today rests only on mathematical
expression . Modern biology, on the other hand, thrives on causal
chains that permit the understanding of physiological and
evolutionary processes in terms of the physical activities of entities
such as molecules, cells, and organism. But even if causation and
explanation are admitted as necessary, there is little argument on
the kinds of causes that are permissible, or possible in science. If the
history of science is to make any sense whatsoever it is necessary to
deal with the past on its own terms, and the fact in that for most of
the history of science natural philosophers appealed to causes that
would be summarily rejected by modern scientists. Spiritual and
divine forces were accepted as both real and necessary until the end
of 18th century and, in areas such as biology, deep into the 19th 115
century as well.
Certain conventions governed the appeal to God or the gods or
the spirits, it was held, could not be completely arbitrary in their
actions; otherwise the proper response would be propitiation, not
rational investigation. But since the deity or deities were themselves
rational, or bound by rational principles, it was possible for humans
to uncover the rational order of the world. Faith in the world could
actually stimulate original scientific work. Keplers laws, Newtons
absolute space, and Einsteins rejection of the probabilistic nature of
quantum mechanics were all based on theological, not scientific,
assumptions. For sensitive interpreters of phenomena, the ultimate
intelligibility of nature has seemed to demand some rational guiding
spirit. A notable expression on this idea is Einsteins statement that
the wonder is not that mankind comprehends the world, but that the
world is comprehensible.
Science, then is to be considered in this article as knowledge of
natural regularities that is subjected to some degree of skeptical
vigour and explained by rati-
onal causes. One final caution is necessary. Nature is known only
through the senses, of which sight, touch, and hearing are the
116
dominant ones, and the human notion of reality is skewed toward
objects of these senses. The invention of such instruments as the
telescope, the microscope, and the Geiger counter has brought
an ever-increasing range of phenomena with the scope of the
senses. Thus, scientific knowledge of the world is only partial,
and progress of science follows the ability of humans to make
phenomena perceivable.
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
117

Keteraturan Alam (di Mesir Kuno)


Sungai Nil banjir setiap tahun secara teratur menghapus
batas tanah sehingga lahir ilmu ukur untuk menemukan
kembali batas itu
Ilmu ukur digunakan juga untuk membuat piramida
Secara teratur, gerak naik bintang sothis (sirius) sinkron
dengan siklus banjir sungai Nil, dan berlangsung setahun
sekali
Muncul pengetahuan astronomi dan kalender matahari di
samping kalender bulan

Keteraturan Alam (di Yunani Kuno)


Pengetahuan dari Mesopotamia dan Mesir Kuno masuk ke
Yunani Kuno
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
118
Keteraturan Alam (di Romawi Kuno)
Sebelum Romawi menjadi negara adikuasa (abad ke-1 sM),
mereka juga menerima kalender dari Yunani Kuno
Romawi menyusun kalender matahari yang berubah-ubah yang
kemudian distandardisasi oleh Julius Ceaser
Kalender inilah yang kemudian menjadi kalender internasional
yang kita pergunakan sekarang (disempurnakan oleh Paus
Gregorius)

Keteraturan Alam (Kalender)


Salah satu pengetahuan astronomi (mungkin tertua) yang
dilahirkan oleh keteraturan alam adalah kalender
Di samping astronomi, muncul pula pengetahuan lain yang
dikenal sebagai astrologi
LUNAR CALENDAR
119
Any dating system based on a year consisting of synodic
monthsi.e. complete cycles of phases of the Moon. In every solar
year (or year of the seasons), there are about 12.37 synodic months.
Therefore, if a lunar-year calendar is to be kept in step with the
seasonal year, a periodic intercalation (addition) of days is necessary.
The Sumerians were probably the first to develop a calendar
based entirely on the recurrence of lunar phases. Each Sumero-
Babylonian month began on the first day of visibility of the new
Moon. Although an intercalary month was used periodically,
intercalations were haphazard, inserted when the royal astrologers
realized that the calendar had fallen severely out of step with the
seasons. Starting about 380 BC, however, fixed rules regarding
intercalations were established, providing for the distribution of
seven intercalary months at designated intervals over 19-year
periods. Greek astronomers also devised rules for intercalations to
coordinate the lunar and solar years. It is likely that the Roman
republican calendar was based on the lunar calendar of the Greeks.
Lunar calendars remain in use among certain religious
groups today. The Jewish calendar, which supposedly dates from
3,760 and three months before the Christian Era (BCE) is one 120
example. The Jewish religious year begins in autumn and consists
of 12 months alternating between 30 and 29 days. It allows for a
periodic leap year and an intercalary month. Another lunar
calendar, the Muslim, dates from the HegiraJuly 15, AD 622, the
day on which sthe prophet Muhammad began his migration from
Mecca to Medina. It makes no effort to keep calendric and
seasonal years together.

SOLAR CALENDAR
Any dating system based on the seasonal year of
approximately 365 days, the time it takes the earth to revolve
once around the Sun. The Egyptians appear to have been the first
to develop a solar calendar, using as a fixed point the annual
sunrise reappearance of the Dog StarSirius, or Sothis--in the
eastern sky, which coincided with the annual flooding of the Nile.
They constructed a calendar of 365 days, consisting of 12
months of 30 days each, with a 5 days added at the years end.
The Egyptians failure to account for the extra fraction of a day,
however, caused their calendar to drift gradually into error. 121
Ptolemy III Euergetes of Egypt, in the Decree of Canopus
(237 BC), introduced an extra day every four years to the basic
365-day calendar (this practice also having been introduced in the
Seleucid calendar adopted in 312 BC). In the Roman Republic,
Julius Ceaser in 45 BC replaced the confused Roman Republican
calendar. Which probably was based on the lunar calendar of the
Greeks, with the Julian calendar. The Julian calendar assigned 30
or 31 days to 11 months but fewer to February; it allowed for a
leap year every four years. The Julian calendar, however, made
the solar year slightly too long by adding a full quarter of day
annuallythe solar year actually runs 365.2422 days. By mid-16 th
century the extra time had resulted in an accumulated error of
about 10 days. To correct this error, Pope Gregory XIII instituted
the Gregorian calendar in 1582, dropping October 5-14 that year
and omitting leap years when they fell on centurial years not
divisible by 400e.g., 1700, 1800, 1900.
122
Penanggalan Romawi mula-mula hanya 10 bulan, dari Martius sampai December. Oleh kaisar
Romawi ke-2, ditambah 2 bulan pada musim dingin sehingga menjadi

Martius
Aprilis
Maius
Junius
Quintilis (Julius)
Sextilis (Augustus)
September
October
November
December
Januarius
Februarius

Karena ada upacara pada bulan Januarius, maka kemudian awal tahun digeser ke Januarius
Pada tahun ke-45 sebelum Masehi, penanggalan Romawai cukup
kacau. Julius Ceaser minta Sosigenes membenahi kalender. 123
Dasar pembenahan adalah 365 hari setahun sehingga setahun
365 hari dan interkalasi 4 tahun sekali dengan 366 hari. Dimulai
tahun 44 sebelum Masehi sehingga tahun 45 sM menjadi 400 hari
lebih.

Senat menghormati Julius Ceaser dan mengganti Quintilis menjadi


Julius. Pada tahun 4 sM, Senat menghormati Augustus Ceaser dan
mengganti Sextilis menjadi Augustus. Bulan Julius dan Augustus
dibuat sama 31 hari.

Ternyata setahun mengandung 365 hari kurang sedikit sehingga


kelebihan. Pada abad ke-16 kelebihan sampai 10 hari. Agar cocok
pada tahun 1527, 10 hari itu dihilangkan pada bulan Oktober
(tanggal 5 lompat ke 15) dan selanjutnya setiap 400 tahun
dikurangi 3 hari pada tahun ratusan.
Penanggalan
124
Masehi : 1 1 2000
Hijrah : 24 Ramadhan 1420
Jawa : 24 Pasa 1932
Yahudi : 5761
Koptik : 1717
Ethiopia : 1993
Persia : 1379
Hindu : 5101
Konghucu : 25 11 2550
Jepang : 1 1 2660
Romawi : 2753
Thailand : 1 1 - 2543
TA NGGA L JULIAN DI DALA M KOMPUTER

Oleh Dali S. Naga

125
Abstract. Database management systems u ses Julian d ate in calculating calendar d ays. To understand Julian date, we h ave to trace it into the his tory of our calen dar. Our c alendar is based on the movement of the moon and the sun. Intercalations and cycles are n eeded to come back to th e p revious positions of the moon an d the sun. One of the in tercalation and system of cycle is Julian date. Julian date begin s from 1 January 4713, B.C.

Di dalam komputer, seper ti pada pr ogr am manajemen basis data, tanggal yang digunakan adalah tanggal Julian. Apa sebenar nya tanggal Julian itu? Untuk itu, kita per lu menelaah sejar ah kalend er yang sekar ang kita gunakan. Namun, sebelumnya, kita p er lu membedakan dua hal yakni kalender dan er a. Tanggal kita 2 Apr il, har i Rabu, jam 12.00 adalah kalender, tetapi tahun kita 2003 adalah er a. Gabungan mer eka, kalender dan er a M asehi menghasilkan tanggal 2 Apr il 2003.

Er a Masehi

Er a yang digunakan pad a penanggalan kita ad alah er a M asehi, d i samping er a lain seper ti er a Hijr ah, er a Saka, dan er a Konghucu. Er a M asehi dihitung sejak kelahir an Yesus. Sekalip un demikian, pada waktu kelahir an Yesus, belum ada er a M asehi. Er a M asehi bar u kemudian d isusun dan diusulkan oleh seor ang r ahib ber nama Denys le Petit pada tahun 532 Masehi. Pad a waktu itu, Denys mencoba menghitung mundur untuk menemukan tanggal lahir Yesus. M enur ut hasil hitung Denys, Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, 532 tahun lalu. Dengan demikian, Denys menetapkan bahwa er a Masehi dimulai p ada har i Sab tu, tanggal 1 Januar i 532 tahun seb elumnya.

Walaupun Denys le Petit telah menciptakan er a M asehi pada tahun 532, namun er a M asehi bar u dipakai di Bar at setelah tiga atau empat ab ad kemudian. Dengan demikian, er a Masehi bar u ada di dalam p emakaian p ada ab ad ke-9 atau ke-10. Sebelum abad ke-9 atau ke-10, belum ada penggunaan er a M asehi. Selanjutnya, er a Masehi tid ak mengenal tahun 0. Di dalam per hitungan mundur, hanya ad a tahun 1 M asehi dan tahun 1 seb elum M asehi.

Kalender

Kini kita b er alih ke kalend er. Di dalam kalender, kita mengenal har i. Kapan suatu har i d imulai? Ter nyata banyak car anya. Ada or ang yang menghitungnya sejak subuh ke subuh, ada or ang yang menghitungnya sejak senja ke senja, ada or ang yang menghitungnya sejak tengah har i ke tengah har i. Or ang Romawi kuno menghitungnya dar i tengah malam ke tengah malam. Tr ad isi Romawi inilah yang kita gunakan sekar ang p ada kalender kita yakni har i kita dimulai sejak tengah malam ke tengah malam ber ikutnya.

Sehar i dib agi menjadi 24 jam b er asal d ari zaman kuno yakni dar i zaman B ab ylonia. M er eka menggunakan bilangan Sumer ia yakni bilangan yang ber basis 60. Dar i basis 60 inilah ditemukan b ilangan 12 yang masing-masing digunakan untuk siang dan untuk malam sehingga sehar i menjad i 2 x 12 jam = 24 jam. Hal ini pun d iter ima di mana-mana. Har i kita pada saat ini juga ter dir i atas 2 x 12 jam = 24 jam. Satu jam sebanyak 60 menit d an satu menit sebanyak 60 detik juga ber asal dar i bilangan ber basis enam p uluh (sexagesimal) yang digunakan oleh or ang Sumer ia.

Siklus Minggu kita yang 7 har i panjangnya ber asal dar i Bab ylonia dan Yahudi. Di Afr ika Bar at, siklus itu ad alah 4 har i; di Asia Tengah dan juga di Jawa dikenal siklus 5 har i; Mesir kuno mengenal siklus 10 har i; d an Romawi kuno mengenal siklus 8 har i. Diduga bahwa siklus 7 har i b erasal d ar i penanggalan bulan yakni waktu selama sep er empat bulan. Pengguaan siklus 7 har i di dalam kalender kita didasar kan atas d ekr it Kaisar Constantine I dan dimulai pada tahun 321 dengan hari Minggu seb agai har i per tama. Di d alam dekr it Kaisar Constantine I itu, har i Minggu d inyatakan seb agai har i libur. Dan libur Minggu itu masih ter us kita gunakan samp ai sekar ang.

Bulan mer up akan satu b agian dar i kalender. Per hitungan bulan dilakukan melalui fasa bulan. Per hitungan bulan menimbulkan masalah kar ena satu b ulan ter d ir i atas 29 har i lebih sekian jam, pada hal jumlah har i di dalam bulan adalah bulat. Demikian pula dengan tahun. Satu tahun matahar i ter dir i atas 365 har i leb ih sekian jam, p ada hal jumlah har i di dalam setahun adalah bulat. Akib atnya, pada ulang bulan, kedudukan bulan tidak tepat sama sep erti kedudukannya pada bulan lalu. Pada ulang tahun, kedud ukan matahar i tidak tepat sama seper ti kedud ukannya p ad a tahun lalu.

Untuk menyelesaikan masalah sekian jam yang lebih pada setiap bulan dan pada setiap tahun, maka pada bulan d an tahun ter tentu d ib er ikan tambahan har i. Hal ini dikenal sebagai inter kalasi. Inter kalasi mer upakan hal yang cukup r umit di dalam kalender. Tidak mudah untuk menemukan inter ikalasi yang menyebab kan ked udukan b ulan atau matahar i tepat kemb ali sama seper ti pad a waktu sebelumnya.

Kalender Romaw i

Kita tinggalkan dulu inter kalasi ini dan menengok ke sejar ah kalender kita. Kalend er kita ber asal dar i kalender Romawi kuno. Konon kab ar nya, kalend er Romawi kuno ditetap kan oleh r aja per tamanya pada abad ke-7 atau ke-8 sebelum Masehi. Pada ketentuan r aja Romulus ini, awal tahun dimulai pada bulan M ar tius d an diakhiri pada bulan December (d esi = 10). P anjang tahun ad alah 10 bulan. Setiap bulan ter d ir i atas 30 atau 31 har i sehingga d i dalam setahun ter dapat 304 har i. Setelah itu ter dapat celah musim dingin yang tidak ad a kalender nya.

Raja kedua Numa P ompilius membagi celah musim dingin itu menjadi dua bulan yakni bulan Januar ius dan Febr uar ius. Dua bulan tambahan sebanyak 50 har i ini diletakkan di akhir tahun sehingga di dalam setahun ter d apat 354 har i. Kemudian pada bulan Januar ius ditamb ahkan satu har i lagi sehingga di dalam setahun ter dapat 355 har i.

Raja kelima Tar q uinius Pr iscus (616 579 sM ) adalah or ang Etr uscan. Kalender diub ah menjadi kalender r epub lik. Pada kalend er r epublik ini, Febr uar ius 28 har i; M ar tius, Maius, Julius (waktu itu masih ber nama Quintilis), d an Octob er, masing-masing 31 har i; ser ta Januar ius, Ap r ilis, J unius, Augustus (waktu itu masih ber nama Sextilis), d an December, masing-masing 29 har i. Di dalam setahun terd apat 355 har i. Raja ini juga memind ahkan awal tahun ke bulan Januar ius namun pad a tahun 510 sM , melalui p engusir an or ang Estr ucan, awal tahun dikembalikan ke bulan M ar et.

Pada setiap akhir tahun, or ang Romawi melakukan p embayar an upah. Sering upah b er kenaan dengan peker jaan di dalam musim yang dip engar uhi oleh kedudukan matahar i. Namun dengan 355 har i setahun, kedud ukan matahar i ber geser d ar i akhir tahun ke akhir tahun. Kar ena itu or ang Romawi menambahkan 22 dan 23 har i selang-seling pada setiap dua tahun, dan tambahan diselip kan di antar a tanggal 23 d an 24 Febr uar ius. Dengan demikian, setiap empat tahun ter d apat 1465 har i atau r er ata di dalam setahun ter dapat 366,25 har i.

Julius Ceaser memanggil Sosigenes untuk membenahi kalend er. S osigenes menggunakan tahun dengan 365,25 har i. Pada tahun 46 sM , Sosigenes menamb ah 67 har i ke dalam kalender sehingga pada tahun itu ter dapat 445 har i. M ulai tahun 45 sM , Romawi menggunakan kalender bar u yakni tahun d imulai p ada tanggal 1 Januar ius. Bulan Januar ius, Mar tius, Maius, Quintilis (Juli), September, November ter d ir i atas 31 har i. Bulan Ap r ilis, Junius, Sextilis (Agustus), October, dan December ter dir i atas 30 har i. Bulan Febr uar ius ter d ir i atas 29 har i. Di dalam setahun ter d apat 365 har i. Dan setiap empat tahun, di antar a tanggal 23 dan 24 Febr uar i ditambah satu har i.

Pada tahun 44 sM , Senat Romawi mengusulkan bulan Quintilis diubah menjadi Julius untuk menghor mati Julius Caesar ser ta pada tahun 8 sM, Senat mengusulkan bulan Sextilis diubah menjadi Augustus untuk menghor mati Augustus Caesar. Kedua kaisar ini har us sama besar nya sehingga bulan Julius d an Augustus masing-masing har us ter dir i atas 31 har i. Satu har i tambahan pada bulan Agustus diamb il dar i bulan Febr uar ius sehingga bulan Febr uar ius ber kur ang menjadi 28 hari. Kar ena ter dap at ber tur ut-tur ut Julius, Augustus, September sebesar 31 har i, maka diad akan per ubahan. Dengan per ubahan itu, September dan November ter dir i atas 30 har i ser ta Octob er d an December menjadi 31 har i. Di dalam setahun ter d apat 365 har i. Dan setiap empat tahun, bulan Febr uar ius ter dir i atas 29 har i.

Ter nyata penambahan satu har i di d alam empat tahun adalah ter lalu banyak. Satu tahun tr op is ter d ir i atas 365,242199 har i sehingga setelah lebih dar i 15 ab ad, kelebihan itu menjadi sepuluh har i. Pada tahun 1582, Paus Gr egor ius XIII memangkas kalender sebanyak 10 har i sehingga setelah tanggal 4 October, besoknya menjadi tanggal 15 October. Selain itu, setiap empat abad, dikur angi 3 har i. Pengur angan ini ditempuh dengan menghilangkan tahun kabisat pada tahun r atusan yang tidak habis dibagi empat r atus. Ini ber ar ti tahun 1700, 1800, d an 1900 bukan tahun kabisat tetapi tahun 1600 dan 2000 ad alah tahun kabisat.

Interkalasi dan Tangg al Julian

Kini kita kembali ke inter kalasi. Inter kalasi ber usaha menamb ah har i agar keadaan fasa bulan atau kedudukan matahar i kembali ke keadaan sebelumnya. Ber sama itu muncul b er macam atur an inter kalasi, yang satu lebih tepat d ar i yang lainnya. Waktu di antar a inter kalasi d ikenal sebagai siklus. Dengan d emikian, kita mengenal sejumlah siklus. Selain siklus d ua bulanan yang menghasilkan bulan dengan 29 dan 30 har i, kita mengenal juga siklus Sothic setiap empat tahun, yakni tahun kabisat dengan menambah satu har i p ada bulan Feb r uar i.

Di Yunani kuno ada siklus octater is sepanjang 8 tahun. Ada siklus Metonik (dar i M eton, 432 sM) sep anjang 19 tahun. Ada siklus Callippus sepanjang 76 tahun, d an ada siklus Hippar chus sepanjang 304 tahun. Ad a juga siklus indiction sepanjang 15 tahun, ser ta ad a siklus dominik sepanjang 28 tahun. Siklus yang d ijadikan judul tulisan ini ad alah siklus Julian dan dikenal sebagai tanggal Julian yang digunakan di dalam komp uter kita.

Pada tahun 1583, Joseph Justus Scaliger (1540-1609) mencar i siklus yang akur at. Untuk itu, ia menggabungkan siklus M etonik, siklus indiction, dan siklus dominik menjadi satu. Kemudian ia menamakan siklus ini menur ut nama ayahnya Julius Caesar Scaliger (1484-1558) sehingga siklus ini dikenal sebagai siklus Julian. Panjang siklus Julian adalah 19 x 15 x 28 = 7980 tahun. Kemud ian ia mencar i saat pada masa lampau ketika ketiga siklus ini ber temu. Titik temu itu jatuh pada tahun 4713 sebelum Masehi. Kar ena itu, tanggal Julian dihitung mulai pada tengah har i, har i Senin, tanggal 1 Januar i 4713 sM .

Tanggal setelah itu dihitung sebagai tanggal Julian. Dengan car a ini, tengah har i tanggal 21 November 1967 ad alah tanggal Julian 2.439.816. Dan tengah har i tanggal 2 Apr il 2003 ad alah tanggal Julian 2.452.732. Tanggal inilah yang dicatat di d alam pr ogram komputer seper ti ter dapat di dalam pr ogr am manajemen basis data. Setelah 7980 tahun, siklus per tama dar i siklus Julian akan ber akhir. Siklus Julian per tama itu akan b er akhir pada tengah har i, har i Senin, tanggal 1 Januar i 3268. Sekir anya kita ingin menghitung tahun d engan tahun 4713 sebelum M asehi sebagai tahun 1 maka tahun 2003 ini menjadi tahun 6716.

Itulah penjelasan tentang tanggal Julian yang digunakan di dalam p rogr am komp uter ketika komp uter menghitung kalender. Ada sejumlah kemudahan yang dihasilkan oleh tanggal Julian ini. Kar ena tanggal Julian ber ur utan tanpa ter putus, maka per hitungan waktu d i antar a dua tanggal dapat dihitung dengan mudah. Dua tanggal ber beda, masing-masing diubah ke dalam tanggal Julian dan selisih di antar a kedua tanggal Julian itu mer upakan selisih waktu di antara kedua tanggal yang ber beda itu.

Rumus Ko nversi Tang gal Julian

Banyak or ang ber usaha menyusun rumus untuk mengubah tanggal kita ke dalam tanggal Julian dan sebagainya. Dar i r umus itu, dapat dibuat pr ogr am komputer sehingga konver si tanggal d apat d ilakukan melalui pr ogr am komputer d i komp uter. Kar ena tanggal kita menggunakan kalender Paus Gr egor ius, maka konver si itu ter jadi d i antar a tanggal Gr egor ius ke tanggal Julian dan sebaliknya. Di sini, tanggal Gregor ius d isingkat menjadi TG ser ta tanggal Julian disingkat menjadi TJ.

TG mengenal har i (H), bulan (B), dan tahun (TG) sedangkan TJ hanya mengenal har i yang d apat dinyatakan dengan TJ saja. Kalau jam d iper hitungkan maka jam dapat d inyatakan d engan J. Dar i Sciencewor ld .Wolfr am.com di inter net, kita menemukan beber apa r umus konver si. Satu d i antar anya adalah konver si dar i TG ke TJ untuk masa tahun 1901 sampai 2099. Untuk jangka waktu di antar a tahun-tahun itu, r umus konver si dap at dir ingkas menjad i sebagai ber ikut.

TJ = 367T INT(7(TG + INT((M + 9)/12))/4) + INT (275B/9) + 17210132,5 + J/24

Angka setengah p ada 17210132,5 muncul kar ena TG menghitung har i dar i tengah malam sedangkan TJ menghitungnya dar i tengah har i.

Dalam bentuk pr ogr am komputer, konver si itu dapat ditur unkan dar i b entuk ber ikut ini.

Dar i TG ke TJ

Z = 0,99999

W = INT((B 14)/12 + Z )

TJ = INT(1461 x (TG + 4800 + W)/4)

M = 367 x (B 2 W/12)/12

Jika M < 0 maka B = B + Z

M = INT(M )

TJ = TJ + M

M = INT(INT(3 x (TG + 4900 + W)/100/4)

TJ = TJ + H 32075 M

Dar i TJ ke TG

W = TJ + 68569

R = INT(4 x W/146097)

W = W INT((146097 x R + 3)/4)

TG = INT(4000 x (W + 1)/1461001

W = W INT(1461 x TG/4) + 31

B = INT(80 x W/2447)

H = W INT(2447 x B)/80)

W = INT(B /11)

B = B + 2 12 x W

TG = 100 x (R 49) + TG + W

TG adalah har i (H), bulan (B), tahun (TG)

Dengan r umus dan pr ogr am ini, kita dap at melakukan konver si d ua ar ah, dar i tanggal Gr egor ius ke tanggal Julian ser ta dar i tanggal Julian ke tanggal Gr egor ius. Satu hal yang per lu kita per hatikan yakni jam dimulainya suatu tanggal. P ada tanggal Gr egor ius, awal har i dimulai pada tengah malam sed angkan pad a tanggal Julian, awal har i dimulai pada tengah har i.

Daftar Bacaan

Encyclopedia Amer icana

The Encyclopedia Br itannica

Rugg, Tom and Phil Feld man. 32 Basic Programs for the Apple Comp uter. Beaver ton, Or egon: Dilithium Pr ess, 1981

Wolfr am. http://sciencewor ld.wolfr am.com/astr onomy/JulianDate.html


126
127
Tanggal Julian (tahun 1583 oleh Joseph Justus Scaliger)
128
Menggabungkan tiga siklus interkalasi

19 x 15 x 28 = 7980 tahun

Titik temu terakhir pada tahun 4713 sM

Patokan tanggaln Julian 1 Januari 4713 sM sebagai tanggal 1


(dimulai tengah hari)

2 Oktober 2004 = 2 454 178


Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
129

Keteraturan Alam (Ramuan Bahan)


Keteraturan alam lainnya terdapat pada ramuan bahan
(material, logam, obat)
Mereka menjadi ilmu bahan dan farmasi
Di samping ilmu bahan dan farmasi, terdapat pula
ramuan bercampur kepercayaan dan mistik yang dikenal
sebagai alkemi

Keteraturan Alam (Pengobatan)


Keteraturan alam juga terdapat pada pengobatan orang
sakit
Mereka menjadi tabib dan dukun
Di samping itu, terdapat pula kepercayaan dan mistik
yang dikenal sebagai tenung
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
130

Keteraturan Alam (Pertukangan)


Keteraturan alam lainnya adalah pembuatan alat
Mereka dikenal sebagai pertukangan
Salah satu kegiatan arkeologi adalah mencari karya
pertukangan pada zaman purbakala

Tenung
Merupakan kekuatan gaib yang dapat menyembuhkan
atau menyakitkan orang
Sekalipun tidak ada dasar ilmiahnya, sampai sekarang
pun, kalangan tertentu masih percaya akan kekuatan
tenung (guna-guna)
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM 131
Astrologi
Di samping astronomi, muncul juga pengetahuan lain yang
dikenal sebagai astrologi
Menurut astrologi, dunia bintang-bintang adalah makrokosmos
dan dunia manusia adalah mikrokosmos
Mikrokosmos adalah refleksi dari makrokosmos sehingga nasib
manusia dapat diramal dari gejala bintang-bintang di langit
Jam dan tanggal lahir menjadi patokan untuk ramalan nasib
manusia

Peranan Astrologi
Peranan astrologi melampau batas zaman kuno
Sampai sekarang pun masih muncul ramalan astrologi di dalam
majalah
ASTROLOGY

Astrology is the type of divination that


132
consists in
interpreting the influence of planets and the stars on earthly
affairs in order ot predict the destinies of individuals, groups, or
nations. At times regarded as science, astrology has exerted an
extensive or a peripheral influence in many civilizations, both
ancient and modern. Astrology has also been defined as a
pseudoscience and considered to diametrically opposed to the
theories and findings of modern science.
Astrology originated in Mesopotamia, perhaps in the 3rd
millenium BC, but attained its full development in the Western
world much later, within the orbit of Greek civilization of the
Hellenistic period. It spread to India in its older Mesopotamian
form. Islamic culture absorbed it as part of the Greek heritage; and
in the Middle Ages, when Western Europe was strongly affected by
Islamic science, European astrology also felt the influence of the
Orient.
The Egyptian also contributed though less
directly, to the rise of astrology. They constructed a calendar,
containing 12 months of 30 days each with five days added at the
end of the year, that was subsequently taken over by the Greeks 133
as a standard of reference for astronomical observations. In order
that the starry sky might serve them as a clock, the Egyptians
selected a successian of 36 bright stars whose risings were
separated from each other by intervals of 10 days. Each of these
stars, called decans by Latin writers, was conceived of as a spirit
with power over the period of time for which it served; they later
centered the zodiac as subdivisions of its 12 signs.
In pre-Imperial China, the belief in an intelligible cosmic
order, comprehended aspects of which would permit influences
on correlated incomprehended aspects, found expression in
correlation charts that juxtaposed natural phenomena with the
activities and the fate of man. The transition from the belief to a
truly astrological belief in the direct influence of the stars on
human affairs was slow, and numerous systems of observation and
strains of lore developed. When Western astronomy and astrology
became known in China through Arabic influence in
Mongol times, their data were also integrated into the Chinese
astrological corpus. In the later centuries of Imperial China it was
universal practice to have a horoscope case for each newborn
child and at all decisive junctures in life.
134
Once established in the classical world, the astrological
conception of causation invaded the sciences; particularly
medicine and allied disciplines. The Stoics, espousing the
doctrine of a universal sympathy linking microcosm of man with
the macrocosm of nature, found in astrology a virtual map of such
a universe.
Greek astrology was slow to be absorbed by the Romans,
who had their own native methods of divination, but by the times
of Augustus, the art had resumed its original role as a royal
prerogative. Attempts to stress its influence on the populace met
repeatedly with failure.
Throughout pagan antiquity the words astronomy and
astrology had been synonymous; in the first Christian centuries
the modern distinction between astronomy, the science of stars,
began to appear. As against the omnipotence of the stars,
Christianity
taught the omnipotence of their Creator. To the determinism of
astrology Christianity opposed the freedom of the will. But within
135
these limits the astrological worldview was accepted. To reject it
would have been to reject the whole heritage of classical culture,
which had assumed an astrological complexion. Even at the
centre of Christian history, Persian magi were reported to have
followed a celestial omen to the scene of the Nativity.
Although various Christian councils condemned astrology
the belief in the worldview it implies was not seriously shaken. In
the late European Middle Ages, a number of universities, among
them Paris, Padua, Bologna, and Florence, had chairs of astrology.
The revival of ancient studies by the humanists only encouraged
this interest, which persisted into the Renaissance and even into
the Reformation.
It was Copernican revolution of the 16th century that
dealt with the geocentric worldview of astrology its shattering
blow. As a popular pastime or superstition, however, astrology
continued into modern times to engage the attention of millions
of people.
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
136

Alkemi
Di samping ramuan bahan secara alamiah, muncul
kepercayaan dan mistik berkenaan dengan ramuan bahan itu
Ramuan dengan kepercayaan seperti ini dikenal sebagai
alkemi
Alkemi bertujuan untuk membuat emas dari bahan murah
serta membuat obat panjang umur yang membuat orang
tidak mati
Ada alkemi yang hanya rajin menulis melalui sandi rahasia
serta ada alkemi yang rajin meramu bahan

Peranan Alkemi
Peranan alkemi melampaui batas zaman kuno
Mereka baru hilang pada zaman modern (abad ke-18 dan ke-
19)
Zaman Kuno
Sebelum Abad ke-5 sM
137
Asas Determinisme Universal
Ada keteraturan alam yang ditemukan oleh manusia
Ada kepastian tentang keteraturan alam itu
Mereka menjadi suatu asas yakni asas determinisme universal
Asas ini dikenal sejak Zaman Kuno dan terus berlangsung
sampai sekarrang
Asas determinisme universal menjadi dasar untuk menemukan
dan mengembangkan ilmu

Asas Indeterminisme
Dikenal sebagai uncertainty principle, ditemukan oleh
Heisenberg pada tahun 1928
Bertentangan dengan asas determinisme universal, tetapi
hanya berlaku di fisika partikel subatomik dan dalam ukuran
yang sangat kecil
Zaman Yunani Kuno
5 sM sampai 1 sM
138

Kebudayaan Yunani
Zaman ini merupakan zaman emas Yunani Kuno
Budaya berkembang ke arah kecendekiaan
Sekalipun Yunani Kuno mengenal dewa dan dewi,
pemikiran mereka tidak melibatkan dewa dewi itu
Di zaman itu lahir filsafat dan demokrasi dan sangat
berpengaruh terhadap kebudayaan barat sampai
sekarang

Babakan
Zaman pra-Sokrates
Zaman Sokrates
Zaman pasca-Sokrates
Zaman Yunani Kuno
5 sM sampai 1 sM
139
Zaman Pra-Sokrates
Ada tiga pemikiran besar pada zaman itu yang dibicarakan di
sini:
Unsur dasar pembentuk alam dan bentuk alam
Alam tunggal dan alam jamak
Realitas bilangan

Zaman Sokrates (Sokrates, Plato, Aristoteles)


Dialog
Metafisika dan epistemologi
Logika
Etika dan estetika

Zaman Pasca-Sokrates
Stoik, Epikurus, Cynics, dan Skeptik
Greece
Greece, officially called Hellenic Republic (Greek:
140
Eliniki Dhimokratia), is a country in the southeast of Europe on
the southern tip of the Balkan peninsula.
The historical name of Greece in Greek is Ellas. This name is
also written Hellas in English, following the ancient Greek pronunciation.
More commonly, it is called Elladha in modern Greek. The mythical
ancestor of the Greek is the eponymous Hellen.
The name of Greece in European languages (English: Greece,
French: Grce, Portuguese: Grcia, Spanish and Italian: Grecia, German:
Griechenland, Russian: , etc) comes from a different root:
Graiks (via Latin Graecus) which according to Aristotle was an ancient
name of the Greeks. On the other hand, the name of Greece in some
Middle Eastern and Eastern languages (Turkish: Yunanistan, Arabic (tulisan
Arab Yunan), Hebrew (tulisan Hebrew), ancient Persian: Yaun, Indian Pali:
Yona, Malay and Indonesian: Yunani) derives from the Greek toponym
Inia. Norwegian is one of the few languages apart from Greek in
which the name Hellas predominates.
THE HELLENISTIC WORLD
The history of the Greek-speaking world in antiquity may be 141
divided into three periods: that of the free City States, which was
brought to an end by Philip and Alexander; that of the Macedonian
domination, of which the last remnant was extinguished by the Roman
annexation of Egypt after the death of Cleopatra; and finally that of
the Roman Empire. Of these three periods, the first is characterized
by freedom and disorder, and the second by subjection and disorder,
the third by subjection and order.
The second of these periods is known as the Hellenistic age. In
science and mathematics, the work done during this period is the best
ever achieved by the Greeks. In philosophy, it includes the foundation
of the Epicurean and Stoic schools, and also of scepticism as a
definitely formulated doctrine; it is therefore still important
philosophically, though less so than the period of Plato and Aristotle.
After the third century BC, there is nothing really new in Greek
philosophy until the Neoplatonists in the third century AD. But
meanwhile the Roman world was being prepared for the victory of
Christianity. ...
After Alexanders death, there was an attempt to preserve the
unity of his empire. But of his two sons,
one was an infant and the other was not yet born. Each had
supporters, but in the resultant civil war both were thrust aside.
142
In the end, his empire was divided between the families of three
generals, of whom, roughly speaking one obtained the European,
one the African, and one the Asiatic parts of Alexanders
possessions. The European part fell ultimately to Antigonuss
descendants; Ptolemy, who obtained Egypt, made Alexandria his
capital; Seleucus, who obtained Asia after many wars, was too
busy with campaigns to have a fixed capital, but at later times
Antioch was the chief city of his dynasty.
From the point of view of Hellenistic culture, the most
brilliant success of the third century BC was the city of
Alexandria. Egypt was less exposed to war than the European and
Asiatic parts of the Macedonian domain, and Alexandria was in
extraordinarily favoured position for commerce. The Ptolemies
were patrons of learning, and attracted to their capital many of
the best men of the age. Mathematics became, and remained
until the fall of Rome, mainly Alexandrian [from Bertrand
Russell, History of Western Philosophy]
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Unsur Alam
143

Unsur Dasar Alam


Menurut Thales dari Miletus ( 624 sM - 546 sM) adalah air
Menurut Anaximenes ( 570 sM - 500 sM) adalah udara
Menurut Xenophanes ( 570 sM - 480 sM) adalah tanah
Menurut Heraklitus ( 540 sM - 475 sM) adalah api
Menurut Empedokles ( 490 sM - 430 sM) adalah kombinasi
dari air, udara, tanah, dan api

Sifat Dasar Unsur


panas dan dingin
kering dan basah
THALES OF MILETUS
144
Thales of Miletus (fl. 6th century BC), philosopher
remembered for his cosmology based on water as the essence
of all matter. According to the Greek thinker Apollodorus, he
was born in 624; the Greek historian Diogenes Laeritus placed
his death in the 58th Olympiad (548-545) at the age of 78.
No writings by Thales survive, and no contemporary
sources exist; thus, his achievement are difficult to assess.
Inclusion of his name in the canon of legendary Seven Wise Men
led to his idealization, and numerous acts and sayings, many of
them no doubt spurious, were attributed to him. According to
Herodotus, Thales was a practical statesman who advocated the
federation of Ionian cities of the Aegian region. The Greek
scholar Callimachus recorded a traditional belief that Thales
advised navigators to steer by the Little Bear (Ursa Minor)
rather than by the Great Bear (Ursa Major), both prominent
constellation in the north.
He is also said to have used his knowledge of geometry to measure
the Egyptian pyramids and to calculate the distance from the shore
145
of ships at sea. Although such stories are probably apocryphal, they
illustrate Thales reputation. The Greek writer Xenophanes claimed
that Thales predicted the solar eclipse that stopped the battle
between the Lydian Alyattes and the Median Cyaxares, evidently on
May 48, 585. Modern scholars believe, however, that he could not
possibly have had the knowledge to predict accurately either the
locality or the character of an eclipse. Thus, his feat was
apparently isolated and only approximate; Herodotus spoke of his
foretelling the year only. That the eclipse was nearly total and
occurred during a crucial battle probably contributed considerably
to his exaggerated reputation as an astronomer.
In geometry Thales has been credited with the discovery of
five theorems: (1) that a circle is bisected by its diameter, (2) that
angles at the base of a triangle having two sides of equal length
are equal, (3) the opposite angles of intersecting straight lines are
equal, (4) that the angle inscribed in a semicircle is a right angle,
and (5) that a triangle is determined if its base and the angles
relative to the base are given. His mathematical achievements are
difficult o assess, however, because of the ancient practice of
crediting particular discoveries to men with a general reputation
for wisdom.
The claim that Thales was the founder of a European
146
philosophy rests primarily on Aristotle, who wrote that Thales was
the first to suggest a single material substratum for the universe
namely, water, or moisture. Even though Thales as philosopher
renounced mythology, his choice of water as the fundamental
building block of matter had its precedent in tradition. A likely
consideration in this choice was the seeming motion that water
exhibits, as seen in its ability to become vapour; for what
changes or moves itself was thought by the Greeks to be close to
life itself. To Thales the entire universe is a living organism,
nourished by exhalations from water.
Thales significance lies in his choice of water as the
essential substance than in his attempt to explain nature by the
simplification of phenomena and in his search for causes within
nature itself rather than in the caprices of anthropomorphic gods.
Like his successors Anaximander and Anaximenes, Thales is
important in bridging the worlds of myth and reason.
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Unsur Alam
147

Letak Unsur
Tanah
di tengah alam, benda jatuh karena kembali ke letak asal
Air
di tepi tanah, air keluar dari tanah melalui mata air karena
kembali ke letak asal
udara
di tepi air, udara di dalam air bergelembung naik karena kembali
ke letak asal
api
di tepi udara, dalam bentuk kilat di langit

Unsur kelima (quintessential)


unsur pembentuk benda langit, unsur sempurna
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Unsur Alam
148

Sifat Unsur
tanah kering dingin
air basah dingin
udara basah panas
api kering panas

Benda
Benda merupakan kombinasi dari keempat unsur beserta sifat
mereka

Asumsi
Unsur alam beserta sifatnya ini dijadikan asumsi di dalam
pengetahuan kemudian
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Unsur Alam

U n s u r d a s a r p e m b e n t u k a la m d a n s ifa t m e r e k a

q u in te s s e n tia l ( u n s u r k e lim a )

api (k e rin g d a n p a n a s )

u d a ra (b a s a h d a n p a n a s )

a ir ( b a s a h d a n d in g in )

ta n a h ( k e r in g d a n d in g in )

149
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Unsur Alam
150
Bentuk Alam
Menurut Anaximander ( 610 sM - 546 sM) dari Miletus langit
berentuk bola serta permukaan bumi melengkung dan
berbentuk silinder dengan sumbu timur-barat
Menurut Anaximenes dari Miletus, bumi berbentuk meja
bundar (cakram)
Menurut Pythagoras, bumi berbentuk bola

Alam
alam terdiri atas substansi dan bentuk

Peta Zaman Kuno


Timur (orient) terletak di atas
Membaca peta, perlu mencari letak timur dulu
Pencarian letak timur (orient) adalah orientasi
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
151

Paham Alam Tunggal (Monisme)


Realitas alam adalah tunggal walaupun tampak
jamak
Tidak ada celah
Tidak terbagi
Tiada gerakan (statis)
Penganut: perguruan Elea yang dipimpin oleh
Parmenides
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
152

Paham Alam Jamak (Pluralisme)


Realitas alam adalah jamah (banyak)
Ada celah
Terbagi
Ada gerakan (dinamis)
Penganut: Heraklitus dan Empedokles
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
153
Perguruan Elea
Dipimpin oleh Parmenides
Pengikut terkenal adalah Zeno dari Elea
Menganut alam tunggal (monisme)

Heraklitus
Mengagumi api yang bergerak dan air yang mengalir
Ucapan terkenal panta rhei = semua mengalir
Menganut alam jamak

Empedokles
Substansi alam terus bergerak, berpadu melalui kasih, dan
bercerai melalui benci, berulang-ulang terjadi secara periodik
Menganut alam jamak
PARMENIDES
154
Parmenides (b. c. 515 BC), Greek philosopher of Elea in
southern Italy who founded Eleaticism, one of the leading per-
Socratic schools of Greek thought. His general teaching has been
diligently reconstructed from the few surviving fragments of his
principal work, a lengthy three-part verse composition titled On
Nature.
Parmenides held that the multiplicity of existing things,
their changing forms and motion, are but an appearance of a
single eternal reality (Being), thus giving rise to the
Parmenidian principle that all is one. From this concept of
Being, he went on to say that all claims of change or or bob-Being
are illogical. Because he introduced the method of basing claims
about appearances on a logical concept of Being, he is considered
one of the founders of metaphysics.
Platos dialogue the Parmenides deals with his thought.
An English translation of his work was edited by L. Taran (1965).
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
155

Paradoks Zeno
Zeno dari Elea (penganut paham alam tunggal)
membantah paham alam jamak melalui empat paradoks
Paradoks dikotomi
Paradoks Achilles
Paradoks panah
Paradoks stadion

Cara
Menggunakan paham alam jamak (terbagi) dan
menunjukkan ketidaklogisan
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
156

Paradoks Dikotomi
Dari titik A bergerak menuju ke titik B
Kalau jarak ini terbagi (paham jamak) maka jalan
itu dibagi dua
Setelah tiba di tengah jalan, sisa jalan dibagi dua
lagi
Setelah mencapai titik tengahnya, sisa jalan dibagi
dua lagi
Demikian seterusnya, sehingga kita tidak mungkin
tiba A
di B B
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
157

Paradoks Achilles
Achilles adalah dewa Yunani yang larinya tercepat;
kura-kura adalah hewan yang jalannya paling lambat
Achilles ingin menyusul kura-kura yang sudah lebih
dahulu berjalan
Setiap kali Achilles tiba ke tempat kura-kura, sang
kura-kura sudah maju sedikit
Demikian seterusnya, sehingga Achilles tidak
mungkin melewati kura-kura
Bahkan menurut paradoks dikotomi, Achilles tidak
mungkin mencapai tempat kura-kura
Achilles Kura-kura
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Wujud Alam
158

Teori Atom
Leucippus dan Democritos muncul dengan teori atom
( a tomos = tidak terpenggal)
Menurut mereka segala sesuatu memiliki bagian
terkecil berupa atom
Segala sesuatu itu meliputi benda dan bukan benda
(berbeda dengan atom unsur di kimia)
Benda: kayu, batu, air; bukan benda: api, jiwa,
perasaan, pikiran
Ada atom kasar seperti atom api; ada atom halus
(eidola) seperti atom jiwa (psyche)
Pemenggalan sesuatu akan terhenti pada atom
Tampaknya teori atom ini dapat menjawab paradoks
Zeno
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
159

Perguruan Pythagoras
Kita mengenal dalil Pythagoras di geometri (sebelum
Pythagoras, dalil ini sudah dikenal)
Sebenarnya, banyak hal yang dikemukakan oleh
Perguruan Pythagoras, dan kesemuanya berkenaan
dengan bilangan

Paham Pythagoras
Segala sesuatu duduk di atas bilangan dan dapat
dinyatakan dalam bilangan
Perguruan Pythagoras menemukan berbagai sifat bilangan
Tugas ahli filsafat, menurut perguruan Pythagoras,
adalah mencari bilangan itu
PYTHAGOREAN PHILOSOPHY
160
Although much of the tradition about Pythagorean philosophy
is confused because of dissensions within the school and on account
of intermixture of later speculation with earlier doctrine, yet some of
the chief principles are quite clear. Pythagorass discoveries in
musical theory, such as that the basic musical harmonies depend on
very simple numerical ratios between the dimensions of the
instruments (such as strings, pipes, disks) producing them, let him
interpret the world as a whole through numbers. The discovery was
the basis for the Pythagorean theory of numbers, of which the
systematic study induced the intense Pythagorean devotion to
mathematics and the subsequent development of this science by
Greek scientists. Pythagoras taught that number is the fundamental
part of the worlds framework. According to his theory that the
dominant note of the universe are proportion, order, and harmony. All
three are expressible by numerical relations. Pythagoreans thus
considered that the universes essential character is number, but they
went beyond this by asserting that the world is made of numbersa
doctrine that is the core of Pythagorean
philosophy. In preaching this principle the Pythagoreans both
propounded several semi mystical speculations and discovered
more scientific truths.
161
On the speculative side occurs the celebrated
Pythagorean table of opposites, derived from their proposition
that the universe is composed of pairs of contradictories. The
pairs are 10 in number: (1) limited and unlimited; (2) odd and
even; (3) one and many; (4) right and left; (5) masculine and
feminine; (6) rest and motion; (7) straight and crooked; (8) light
and darkness; (9) good and evil; (10) square and oblong. Though
this theory may not be so fantastic as it appears, the Pythagorean
development of numbers was quite arbitrary in the following
proposition. The number 1 is the point, 2 is the line, 3 is the
plane, 4 is the solid, 5 is physical qualities, 6 is animation, 7 is
intelligence and health, 8 is love, friendship, wisdom.
Identification of different numbers with different things
exemplifies no principle. The Pythagoreans themselves disagreed
on what number should be assigned to what things. Thus, since
justice is that which returns equal for equal, the only numbers
which do this are square numbers; thus 4 equals 2 into 2 and so
returns equal for
for equal; thus 4 must be justice. But since 9 is equally square of
3, 9 also can represent justice. Such speculation seems sterile,
save to numerologists. 162
Among the Pythagorean achievements in science were:
(1) The Pythagorean theorem, reliably reported to have
been discovered by Pythagoras, to whose speculation was owed
also, quite probably, most of the first book of Euclids Stoicheaia
(Elements) on geometry.
(2) By 500 BC the earth sphericity was proclaimed by
Pythagoreans, who were among the first, if not the first, to teach
it.
(3) Hippasus (fl. 450 BC) discovered incommensurability
and elaborated a theory of proportions applicable to
incommensurables.
(4) By 400 BC the Pythagoreans taught the theory that the
earth, sun, and moon, planets, and fixed stars revolve around a
central firea denial of the earlier and later geocentric view of
the universe and an anticipation of Nicolaus Copernicus
heliocentric hypothesis announced in 1543. From this theory they
developed the doctrine of the music of the spheres, which lasted
into modern times.
163
(5) Archytas of Tarentum (fl. 360 BC) developed a very
advanced theory of acoustics and founded mechanics.
(6) At an undetermined date Pythagoreans developed the
theory of mathematical means and they also invented the
theory of polygonal numbers.
Pythagorean ethics consisted in ascetics practice. Happiness
was the perfection of the souls virtue, which was a kind of
harmony. The process of purification of the soul was
accomplished by metemorsychosis, the transmigration of the
soul, a theory imported by Pythagoreans from the Orient and one
of their most characteristic dogmas.
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
164

Harmoni
Pythagoras menemukan bahwa nada dapat dinyatakan
dengan rasio panjang kawat yang menghasilkan nada
(1 : : 2/3 : ) atau (12 : 9 : 8: 6)
oktaf (diaspason) 12 : 6; fourth (diatessaron) 8 : 6;
fifth (diapente) 12 : 8
Rasio ini dinamakan harmoni
Menurut mereka, jarak benda langit ke bumi juga
memiliki rasio harmonis (music of the sphere)
Menurut mereka, tubuh manusia sehat memiliki tone
yang harmonis; sakit berarti tone tidak harmonis lagi,
diobati dengan tonikum
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
165
Arti Bilangan
1 = titik; penalaran
2 = garis; pendapat
3 = bidang
4 = bentuk ruang; keadilan
5 = kualitas fisik; perkawinan
6 = animasi; semangat
7 = inteligensi; kesehatan
8 = cinta; persahabatan; kearifan
9 = keadilan

Genap Ganjil
Bilangan genap (artios) tidak disukai karena mudah
terbagi/pecah
Bilangan ganjil (perissos) disukai karena tidak mudah
terbagi/pecah
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
166

Bilangan 10
Bilangan 10 adalah ideal karena 1 + 2 + 3 +4 = 10

Ada 10 pasang lawanan


terbatas lawan tak terbatas
ganjil lawan genap
satu lawan banyak
kanan lawan kiri
lelaki lawan perempuan
diam lawan gerak
lurus lawan bengkok
terang lawan gelap
baik lawan jahat
bujur sangkar lawan lonjong
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
167

Bilangan dan Gambar


Bilangan bulat = bilangan segi tiga
Bilangan ganjil = bilangan bujur sangkar
Bilangan genap = bilangan persegi panjang
Bilangan segi lima
Bilangan kubik

Number and Figure


Di dalam bahasa Inggris figure dapat diartikan number atau
bilangan; rupanya dari sini

Bilangan Irasional
Bilangan 2, 3 membingungkan perguruan ini karena tidak
dapat dinyatakan sebagai rasio dua bilangan bulat
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
168
THE SQUARE ROOT OF TWO
The square root of 2, which was the first irrational to be
discovered, was known to the early Pythagoreans, and ingenious 169
methods of approximating to its value was discovered. The best was
as follows: Form two columns of numbers, which we will call the as
and the bs; each starts with 1. The next a, at each stage, is formed
by adding the last a and b already obtained; the next b is formed by
adding twice the previous a to the previous b. The first 6 pairs so
obtained are (1,1), (2,3), (5,7), (12,17), (29,41), (70,99). In each
pair, 2a2b2 is 1 or 1. Thus b/a is nearly the square root of two, and
at each fresh step it gets nearer. For instance, the reader may satisfy
himself that the square of 99/70 is very nearly equal to 2. [from
Bertrand Russell, History of Western Philosophy]

(a, b), (a, b),

a = a + b
b = 2a +b = b/a
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Bilangan
170

Sifat Bilangan
Bilangan sempurna
jumlah faktor = bilangan
mis. 1 + 2 + 3 = 6
1 + 2 + 4 + 7 + 14 = 28
Bilangan berkekurangan
jumlah faktor < bilangan
mis. 1 + 2 + 4 < 8
Bilangan berlimpahan
jumlah faktor > bilangan
mis. 1 + 2 + 3 + 4 + 6 > 12
Bilangan bersahabat
jumlah faktor bilangan = bilangan sahabatnya
mis. 1+2+4+5+10+11+20+22+44+55+110=284
1+2+4+71+142=220
Zaman Yunani Kuno
Pra-Sokrates: Protagoras
171

Protagoras (c. 500 sM)


Menyatakan dirinya sebagai sophist
Tidak mendirikan perguruan, menerima bayaran dari jasa
mengajar

Ukuran
Menurut Protagoras, manusia adalah ukuran dari semua
benda, tentang benda yang ada dan tentang benda yang tidak
ada
Akibatnya, menurut orang yang satu, benda adalah seperti ini,
tetapi menurut orang yang lain, bisa lain lagi

Baik dan benar


Sesuatu bisa lebih baik tetapi belum tentu lebih benar
Zaman Yunani Kuno
Sokrates
172

Perguruan
Sokrates adalah guru dari Plato
Plato adalah guru dari Aristoteles
Sokrates, Plato, Aristoteles adalah tiga ahli filsafat yang
terkenal dari zaman Yunani Kuno
Setelah Aristoteles, Yunani ditaklukkan oleh Alexander, dan
mengalami kemunduran

Kegiatan Sokrates ( 470 sM - 399 sM)


Memiliki perguruan
Tidak menulis buku; karyanya terdapat di dalam tulisan Plato
Ikut dalam politik sehingga dihukum mati pada tahun 399 sM
Merintis metoda dialog
Filsafat moral dan hipotesis
Zaman Yunani Kuno
Plato
173
Perguruan
Memberi pelajaran di taman Akademon di pinggir kota
Athena
Dikenal sebagai Perguruan Akademia (asal usul dari kata
akademik) dari 387 sM sampai 529

Perguruan Akademia
Akademia tua oleh Plato (387 sM), diteruskan oleh
pengikutnya (dan kemanakan) Speusippus, Xenokrates dari
Khalkedon, Polemon dari Athena, Krates
Akademia pertengahan diteruskan oleh Arkesilaus (316 - 241
sM)
Akademia baru oleh Kameades (214?sM - 129 sM)
Dibubarkan oleh Kaisar Justinian pada tahun 529
Zaman Yunani Kuno
Plato
174
Kegiatan Plato ( 427 sM - 347 sM)
Meninggalkan banyak karya; paling terkenal adalah
Dialogue
Merintis teori bentuk (form, ide) yakni bentuk umum
(universal) dari sesuatu seperti kursi, biru, buku, pohon
Diduga bahwa bentuk umum ini ada di dalam ide, maka
dikenal juga sebagai ide
Berkarya juga di bidang epistemologi, logika, etika, hukum,
metoda dialektika (dialog)

Paham tentang Pengetahuan


Menganut paham tunggal dari Parmenides, terutama tentang
ketidakubahan pengetahuan
Benda berubah tetapi bentuk tidak berubah; pengetahuan
harus melalui bentuk atau ide yang tidak berubah
Zaman Yunani Kuno
Aristoteles
175
Perguruan
Memberi pelajaran sambil berjalan-jalan (peripatetik) di
taman Lyceum
Dikenal sebagai Perguruan Lyceum
Karena mengajar sambil berjalan-jalan, anggota perguruan ini
dikenal sebagai Peripatetik
Pernah memberi pelajaran kepada anak Raja yang kemudian
menjadi Alexander Agung

Kegiatan Aristoteles (384 sM - 322 sM)


Meninggalkan banyak sekali karya
Merintis logika, terutama silogisme
Merintis kategori: substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat,
waktu, posisi, status, aksi, kepasifan (terkena aksi)
Terkenal dengan metoda induksi dan deduksi, serta teleologi
Zaman Yunani Kuno
Aristoteles
176

Kegiatan Ilmiah
Sebagai anak dokter, ia banyak menelaah alam terutama
biologi dan psikologi
Tidak sepaham dengan Plato tentang bentuk (ide); Plato
bentuk sebelum materi, Aristotles bentuk di dalam materi

Bidang Karya Aristoteles


Dari karya yang masih dapat ditemukan, karya Aristoteles
dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bidang
Filsafat teoretik atau spekulatif (teologi, fisik, metafisika,
biopsikologi)
Filsafat Praktis (etika dan ilmu politik)
Filsafat Produktif (retorika, estetika, kritik sastra)
Zaman Yunani Kuno
Aristoteles
177

Karya Aristoteles
Logika di dalam Organon
kategori, tentang interpretasi, prior analytics
posterior analytics, topik, sophistical refutations
Filsafat Alam
tentang langit (meteorologi)
fisika (materi dan bentuk atau form)
tentang unsur (tanah, air, udara, api)
astronomi, geografi, kimia, biologi
Psikologi
raga dan jiwa (materi dan bentuk)
pikiran
Metafisika
Etika dan Politik
Seni dan Retorika
CATEGORY
178
Category, in logic, a term used to denote the several most general
or highest types of thought forms of entities, or to denote any
distinction such that, if a form or entity belonging to one category is
substituted into a statement in place of one belonging to another a
nonsensical assertion must result.
The term was used by Aristotle to denote a predicate type; i.e.,
the many things that may be said (or predicated) of a given subject
fall into classessuch as quantities, substances, relations, and states
which Aristotle called categories. To the Greeks, the clarification of
predicate categories helped resolve questions that seemed to be
paradoxes. In the course of a year or so, for example, Socrates could
cease to be taller and come to be shorter than Alcibiades; so he is not
now what he was at an earlier date. Yet he does not cease to be
human being. One may wonder how he can not be what he used to be
(taller) and still be what he used to be (a human being). The answer
is that the categories are different: a change of relation is not a
change of substance.
Though the Stoics, philosophers of ancient Greece, had
recognized only 4 most generic notions, Aristotles 10 categories
were treated throughout the
Middle Ages as though they were definitive. In a commentary on Aristotles
Categoriae (Categories), the Neoplatonist Prophyry set the stage for the
179
entire medieval controversy over universals, or general abstract terms (see
Nominalism), and he thus posed the issues that any theory of categories must
resolve.
In the 18th century Immanuel Kant revived the term category to designate
the different types of judgments or ways in which logical propositions
function. It should thus be clear that, whereas Kant retained the Aristotelian
term category and even some of the subterms, such as quality,
quantity, and relation, his distinctions were different from those of
Aristotle. For Aristotle, for example, quality referred to such predicates as
white or sweet, whereas for Kant it designated the distinction between
affirmative and negative.
After Kant, G.W.F Hegel arranged many categories in a dialectical
structure of ascending triads and thus initiated the modern tendency to
regard them as many and as comprising the basic principles of a logical
and/or metaphysical system; thus, for Hegel the categories encompassed
both form and content. Early in the 20th century, Bertrand Russell, faced with
a contradiction in the foundations of mathematics, developed the theory
of types, which distinguished different levels of language and held that the
levels should not be intermixed .
Meanwhile, Charles Sanders Peirce, an American logician and Pragmatist,
arguing from Kants categories, proposed a
reduced list of categories. He defended the view that there can be
three and only three types of predicates: firstness, that of pure
possibility; secondness, that of actual existence; and
180
thirdness, that of real generality. Clearly, if universals belong to
the category of thirdness, then the Nominalist, who urges that
universals have no existence (the secondness category) is confusing
categories and, by the definition of category, is making a
nonsensical statement. Such misjudgments, made famous as
category-mistakes by Gilbert Ryle, a mind 20 th-century Oxford
Analytical philosopher, have played an important role in recent
linguistic philosophy, which, with the proliferation of categories, has
applied this critique, with powerful therapeutic effect, to
philosophical discourse.
Stanislaw Lesniewski (1886-1939), a Polish logician, and Rudolf
Carnap (1891-1970), a German-American semanticist, distinguished
between syntactical categories (dealing with the interrelations of
concepts) and semantical categories (dealing with concepts and
referents). Distinctions akin to those of Aristotle are thus apt to be
described today as semantical, as distinctions between kinds and
modes of significance rather than kinds of linguistic expressions or of
things or happenings. P.F. Strawson, another Oxford philosopher,
discussed the implications of category theory for a descriptive
metaphysics.
Zaman Yunani Kuno
Aristoteles
181

Metoda Induksi dan Deduksi


Dari Aristoteles
Induksi: dari observasi ke penjelasan (teori)
Deduksi: dari teori ke konklusi sesuatu

Sebab
Ada material cause (bahan pembuat)
Ada formal cause (bentuk buatan)
Ada efficient cause (pengerjaan pembuatan)
Ada final cause (niatan pembuatan)
CAUSE
182
Cause, in the philosophy of Aristotle, is a special generic term
referring to the four principles through which one arrives at
knowledge of any entity. In distinguishing between the material,
formal, efficient, and final causes of a substance, Aristotle
attempted to take into account everything necessary to produce it.
Background. The theories of the pre-Socratic philosophers
postulated the elements from which all things were formed: earth,
air, fire, and water. This view corresponds somewhat to Aristotles
concept of a material cause; however, it was too limited to account
for an ordered cosmos and its intelligibility.
Platos concept of the causes of things in part resembles
Aristotles formal cause. Plato made the mistake of treating the
essences of entities (the Platonic Forms or Ideas) as though they were
substances in their own right.
The Four Causes. Aristotle found unacceptable Platos view that
the essence of entities reside in a separate realm of Forms. He
attempted to describe the existence of all things in terms of the
things themselves, without postulating a special metaphysical realm.
According to Aristotelian analysis, all material things (sensible
substances) are composed of matter and form. Matter, or the
material cause, is the stuff
of which a thing is madebrick is the material cause of a house.
It is important to note here that matter is a relative term for
Aristotle; by it he means the materials of a thing relative to the
structure that holds them together. Thus, the elements are the
183
material cause of organs; tissues are the material cause of the
living body.
The form of an entity, either its shape or its structural plan,
is its formal cause. The blueprint, or the actual structure of a
house, are the formal causes of the house. The formal and
material causes are generally inseparable for Aristotleeach
requires the other.
Although each individual entity is a composite of matter and
form, these two categories do not sufficiently account for why
things are what they are. There must be an agent or force that
imposes the form on the matter. That something is Aristotles
sufficient cause, the vis a tergo, or push from behind. The
builder of a house (or the builder in the act of building) is the
efficient cause of the house. This cause most closely corresponds
to the ordinary meaning of cause today.
Just as the push from behind pushes the substance
to change in a specific direction, that direction is predetermined
by the vis a fronte, or pull from the front: the entelechy, or
final cause. This cause is the end, purpose, or goal at which the 184
process of change aims and terminates. The final cause of a
house might be being comfortable to live in.
Present-Day Implications. The Aristotelian account of
causation is not generally used in modern analysis of cause, which
is interested in clarifying statements concerning cause in ordinary
and scientific discourse. However, the subject of final causes
(teleological explanation) is still vigorously discussed, particularly
in the life and social sciences.
Zaman Yunani Kuno
Aristoteles
185

Aristoteles tentang Alam


Alam di bawah bulan (sublunar) terdiri atas tanah
(berat), air, udara, dan api (ringan). Alam di atas bulan
terbuat dari unsur kelima (quintessential) yang
sempurna
Gerakan di bawah bulan adalah lurus; gerakan di atas
bulan adalah melingkar
Penggerak di alam adalah benda langit dan angin serta
hewan dan manusia
Pertumbuhan terjadi karena adalah prinsip internal
yang merupakan potensi
Tidak mungkin ada hampa
Pandangan Aristoteles diadopsi oleh katedral sehingga
sukar dibantah. Ketika dibantah oleh ilmuwan zaman
kebangkitan, terjadi kontradiksi
Zaman Yunani Kuno
Pasca-Aristoteles
186
Zaman Pasca-Arsitoteles
Yunani Kuno dikuasai oleh Alexander Agung dan mengalami
kemunduran, serta terus mundur pada masa pasca-Alexander
Agung
Ada empat paham dogmatis pada zaman itu, Stoik, Epikurus,
Skeptik, Cynics

Paham Stoik
Dasar kebahagiaan adalah hidup dalam kecocokan dengan diri
sendiri (kemudian dengan alam)
Kebaikan sejati adalah kebajikan dan bukan harta; dasar
kebajikan adalah kontrol diri

Paham Epikurus
Hal terpenting di dalam kehidupan adalah kesenangan
(pleasurre)
Zaman Yunani Kuno
Pengetahuan Matematika dan Alam
187

Matematika
Matematika cukup maju melalui tokoh seperti Euclides, Eratosthenes,
Pythagoras, Apollonius

Pengobatan
Tokoh terkenal di bidang pengobatan mencakup Hippocrates, Galen
(zaman Romawi)

Fisika
Tokoh terkenal di bidang fisika mencakup Archimedes (gaya timbul,
pengungkit, katrol)

Atronomi
Tokoh di bidang ini Aristarchus, Hipparchus, Sosigenes, Ptolemaeus (zaman
Romawi)
Zaman Yunani Kuno
Pendidikan
188

Pendidikan Sophist
Pendidikan tinggi (belum ada universsitas) berlangsung tanpa
perguruan dengan para sophist sebagai guru

Perguruan Philosopher
Para philosopher seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles
sebagai guru; mereka membentuk perguruan

Pendidikan Anak
Anak belajar pada waktu senggang
Dalam bahasa Yunani, waktu senggang adalah skhole, dan
daripadanya lahir kata sekolah
Guru adalah paidagogos yakni budak tua yang sudah
berpengalaman dan dipercaya
Zaman Romawi
Abad ke-1 sM - Abad ke-5
189

Karateristik Zaman
Romawi menjadi besar pada abad ke-1 sM dengan
menaklukkan Yunani, Eropa, Asia Barat, dan Afrika
Utara
Tokoh terkenal: Julius Ceaser, Augustus Ceaser
Lebih tertarik kepada peperangan, memerintah,
hukum, daripada kepada filsafat
Membiarkan filsafat diteruskan oleh orang Yunani,
sehingga perguruan Akademia dapat terus hidup
Mula-mula bukan nasrani, tetapi kemudian menjadi
nasrani (di mulai dari Romawi Timur)
Dengan alasan bukan nasrani, Perguruan Akademia
ditutup oleh Kaisar Justinian pada tahun 529
Zaman Romawi
Abad ke-1 sM - Abad ke-5
190

Runtuhnya Romawi
Romawi diserang oleh Goth dari Utara serta oleh
Vandals
Pada akhir abad ke-4, Romawi pecah menjadi Romawi
Barat (di Roma) dan Romawi Timur (di Konstantinopel)
Romawi Barat runtuh pada abad ke-5
Romawi Timur dapat bertahan sampai tahun 1475
namun mereka lebih dikenal sebagai Byzantium
daripada sebagai Romawi
Di sini, Zaman Romawi diakhiri dengan runtuhnya
Romawi Barat
Dengan demikian, Zaman Romawi adalah dari abad ke-
1 sM sampai abad ke-5
Zaman Romawi
Filsafat dan Ilmu
191

Filsafat
Diteruskan oleh orang Yunani
Mereka meneruskan filsafat dari zaman Yunani Kuno
Mereka dikenal sebagai Neo-Pythagoras, Neo-Plato,
Neo-Aristoteles

Astronomi
Pada waktu itu, Claudius Ptolemaeus mengemukakan
paham geosentris (benda langit beredar mengelilingi
bumi)
Asumsi ini cocok dengan anggapan bahwa manusia
adalah pusat alam dan dianut oleh katedral (gereja)
Asumsi ini bertahan sampai Zaman Kebangkitan
Zaman Romawi
Filsafat dan Ilmu
192
Kalender
Julius Ceaser menugaskan Sosigenes menstandarkan kalender
Sebelum menggunakan kalender baru, tahun terakhir
berlangsung selama 445 hari
Kalender ini yang kita gunakan sekarang (pada abad ke-15
dikoreksi oleh Paus Gregorius) dengan mengurangi tiga hari
pada setiap empat abad; ketika diterapkan, terjadi lompatan
10 hari

Ilmu
Sebagian ilmu diteruskan oleh orang Yunani dan sebagian lagi
oleh orang Romawi
Tokoh terkenal pada waktu itu: Ptolemaeus (astronomi),
Sosigenes (astronomi), Galen, Celsus (medik), Vitruvius
(arsitek), Diophantus, Pappus, Hypatia (matematika)
Zaman Romawi
Karya
193

Karya Zaman Romawi


Banyak karya peninggalan zaman ini
Karya arsitektur melalui bangunan besar yang
reruntuhannya masih tampak sampai sekarang
Karya di bidang jalan untuk transportasi yang
menghubungkan banyak daerah
Karya akuadak di bidang penyaluran air ke kota Roma
Karya di bidang bahan (logam dan nonlogam)

Kegiatan di Luar Ilmu


Astrologi
Alkemi
Tenung dan witchcraft
Zaman Romawi
Alkemi
194

Kemunculan
Berkembang sekitar tahun 100 di Alexandria, Mesir
Gabungan dari beberapa sumber
Filsafat Yunani Kuno
Tukang Mesir
Astrologi Mesopotamia

Filsafat Yunani Kuno


Semua bahan terbuat dari kombinasi panas, dingin, kering,
dan basah
Kombinasi ini membentuk tanah (kering dingin), air (basah
dingin), udara (basah panas) dan api (kering panas)
Benda lain terdiri atas kombinasi mereka
Zaman Romawi
Alkemi
195

Pertukangan Mesir
Mereka mahir di dalam pembuatan logam dan bahan warna
Mengetahui bahwa bahan dapat berubah
Bahan yang sempurna dan langka adalah emas

Astrologi Mesopotamia
Logam berkaitan dengan planet (makrokosmos)
Planet berkaitan dengan kehidupan manusia (mikrokosmos),
hewan, dan tumbuhan yang bisa lahir, tumbuh, sakit, dan
mati
Logam dapat lahir, tumbuh, sakit, dan mati
Karena itu, logam dapat disempurnakan
Emas adalah logam sempurna
Zaman Romawi
Alkemi
196
Kegiatan Alkemi
Meramu berbagai bahan dengan harapan menghasilkan
emas dari bahan murah
Membuat catatan yang dirahasiakan (emas tidak akan
berharga lagi kalau rahasia membuatnya dari bahan murah
diketahui orang lain)

Eksoterik dan Esoterik


Pada abad keempat, alkemi pecah menjadi kelompok
eksoterik dan esoterik
Eksoterik terus meramu bahan di laboratorium mereka
Esoterik hanya menuliskannya dengan sandi rahasia
Eksoterik melemah dan esoterik menguat sehingga alkemi
penuh dengan mistik
Zaman Gelap
Abad ke-5 sampai Abad ke-10
197

Karakteristik Zaman
Berlangsung setelah keruntuhan Romawi (Barat) pada
abad ke-5 karena serangan Goth dan Vandal
Penyerangan Goth dan Vandal berlangsung secara
barbarisme
Terjadi kemunduran di bidang ekonomi dan demofrafi
Terlalu sedikit dokumen yang ditemukan (survive)
untuk menceriterakan keadaan pada waktu itu,
sehingga muncul istilah Zaman Gelap (Dark Ages)
Pada zaman itu, Arab bangkit dan memiliki pusat
kecendekiaan di Baghdad (Sultan Harun Al-Rasyid) dan
di Cordoba (Spanyol)
Zaman Gelap
Cendekiawan Arab
198

Sultan Harun Al-Rasyid


Mula-mula penguasa adalah kalifat Umayyad dan
kemudian diganti oleh Kalifat Abbasid
Kalifat Abbasid memindahkan pusat pemerintahan dari
Damaskus ke Baghdad
Kalifat Abbasid mencapai puncaknya pada Sultan Harun
Al-Rasyid yang mengumpulkan para cendekiawan
Para cendekiawan ini mempelajari ajaran Plato dan
Aristitoles serta ajaran dari India dan Cina

Setelah Sultan Harun Al-Rasyid


Kekuasaan kalifat terpecah-pecah
Setelah abad ke-12, tidak lagi muncul cendekiawan
penerus
Zaman Gelap
Cendekiawan Arab
199

Cendekiawan Arab
Arab bangkit setelah bangkitnya Islam pada abad ke-7
Cendekiawan ini berpusat di Baghdad dan di Cordoba
Mereka menerjemahkan karya Yunani Kuno ke dalam
bahasa Arab
Mereka juga menyerap kebudayaan dari India dan dari
Cina
Terjemahan ini menyebabkan banyak karya Yunani
Kuno tidak sampai hilang
Setelah Zaman Gelap, terjemahan bahasa Arab ini
diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin oleh
cendekiawan Eropa
Zaman Gelap
Cendekiawan Arab
200
Cendekiawan di Bidang Filsafat
Al-Kindi ( - 867)
Ar-Razi ( 865 - 925)
Al-Farabi ( 870 - 950)
Ibn-Sina (980 - 1037)
Al-Ghazali (1058 - 1111) Teologi
Ibn-Rushdi (1126 - 1198) Teologi

Cendekiawan di Bidang Ilmu


Ibn-Hayyam : alkemi, kimia
Al-Khwarizmi : aljabar
Al-Razi : pengobatan
Al-Battani : astronomi
Ibn-Sani : fisika, pengobatan
Al-Zarkali : astronomi, geografi
Al-Haytham : optika, matematika
Zaman Gelap
Abad ke-5 sampai Abad ke-10
201
Akhir Cendekiawan Arab
Setelah tahun 1100, cendekiawan Arab terus berkurang (tidak
ada penerus)

Alkemi
Arab juga meneruskan kegiatan alkemi
Mereka memadukan alkemi dari Yunani dengan alkemi dari Cina
(dari Taoisme)
Kelompok eksoterik menguat lagi sehingga kedua-duanya
esoterik dan eksoterik sama kuatnya
Dari kegiatan mereka ditemukan bahan alkali caustik (soda
alkali)

Zaman Pertengahan
Zaman Gelap disusul oleh Zaman Pertengahan (Medieval) pada
abad ke-10
Zaman Gelap
Abad ke-5 sampai Abad ke-10
202

Akhir Cendekiawan Arab


Setelah tahun 1100, cendekiawan Arab terus berkurang (tidak ada
penerus)

Alkemi
Arab juga meneruskan kegiatan alkemi
Mereka memadukan alkemi dari Yunani dengan alkemi dari Cina (dari
Taoisme)
Kelompok eksoterik menguat lagi sehingga kedua-duanya esoterik dan
eksoterik sama kuatnya
Dari kegiatan mereka ditemukan bahan alkali caustik (soda alkali)

Zaman Pertengahan
Zaman Gelap disusul oleh Zaman Pertengahan (Medieval) pada abad
ke-10
Zaman Pertengahan
Abad ke-10 sampai Abad ke-15
203

Karakteristik Zaman
Kehidupan di Eropa relatif lebih tenang
Kegairahan belajar mulai bangkit lagi. Mulai ada pendidikan di luar
katedral
Karya Yunani dan Arab diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa
Latin terutama oleh orang Yahudi
Perhatian kepada filsafat tararah ke metafisika dan bahkan
diperdebatkan
Filsafat digunakan untuk menjustifikasi agama
Universitas dengan istilah universitas mulai muncul pada zaman
ini
Metoda induktif mulai digunakan di dalam pencarian pengetahuan
Zaman Pertengahan
Filsafat Metafisika
204

Aliran Filsafat
Sejak zaman Yunani Kuno sudah ada perbedaan aliran di bidang
metafisika
Pada zaman pertengahan, setiap aliran mengemukakan argumentasi
masing-masing
Ada yang berpegang kepada Plato serta ada yang berpegang kepada
Aristoteles

Perdebatan
Ada kalanya, aliran berbeda saling berdebat
Argumentasi cukup marak pada abad ke-12 sampai ke-14; Universitas
juga mempelajari esensi universal pada filsafat
Dari zaman ke zaman terjadi pergeseran anutan dari satu aliran ke aliran
lainnya
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas
205

Studium
Bermunculan studium yakni tempat orang mempelajari bidang
pengetahuan tertentu di bawah pengajar
Ada tiga studium yang sangat terkenal yakni studium di Salerno
(medik), Bologna (hukum dan teologi), dan Paris (seni dan
teologi); semacam program studi sekarang

Studium Generale
Studium generale adalah studium yang terbuka untuk semua
pelajar (dari berbagai negeri)
Jadi generale di sini berarti terbuka untuk semua jenis pelajar
Biasanya studium yang terkenal berbentuk studium generale
Zaman Pertengahan
Studium dan Uunivesitas
206

Docendi, Doctor, Magister


Pengajaran di studium dilakukan melalui docendi (menggurui)
Kemudian pengajar dibekali lisensi mengajar oleh katedral atau
kaisar berupa licentiae docendi dan ius ubique docendi (berhak
mengajar di mana-mana)
Pelaksana docendi adalah doctor sehingga arti doctor adalah
pemberi docendi atau guru
Pengajar juga dikenal sebagai magister yang artinya juga guru
Doctor dan magister adalah sejajar. Ada jenis studium yang
menggunakan istilah doctor dan ada yang menggunakan istilah
magister
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas 207
Legere
Jarang ada buku sehingga buku hanya dimiliki oleh para pengajar
Pengajaran berlangsung melalui pembacaan (legere, lectus) oleh
pengajar dan pelajar mencatatnya
Pengajar yang membaca dikenal sebagai lektor yakni mereka yang
membaca (sekarang dikenal sebagai lektor)
Ada juga commentatio (komentar) dan summa (ringkasan)

Disputatio dan Tesis


Sewaktu-waktu ada disputatio yakni perdebatan
Di dalam disputatio, ada yang mendudukkan atau menempatkan
(thesis) pemikiran yang perlu dipertahankannya terhadap sanggahan
Secara harfiah, thesis berarti mendudukkan atau menempatkan
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas 208
Tujuan Belajar
Tujuan belajar di studium adalah untuk menjadi doctor atau
magister dengan hak mengajar (dengan semua hak yang
berkenaan dengan jabatannya)

Gelar
Kecuali hukum, medik, dan teologi, semua lainnya adalah
filsasat, sehingga gelar lulusan menjadi PhD
Lulusan medik adalah MD dan luluan hukum LLD (bukan PhD)

Pakaian
Di Oxford dan Cambridge, toga adalah pakaian sehari-hari (kini
dipakai pada upacara saja)
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas 209
Universitas Scholarium
Dalam bahasa Latin, universitas berarti organisasi atau
korporasi
Karena mahasiswa luar kota di Bologna mengalami sejumlah
kesulitan (pemondokan, makan), pada tahun 1158, mereka
membentuk universitas scholarium (korporasi pelajar)
Mahasiswa berasal dari setiap negeri membentuk consiliarii
masing-masing
Mereka mengangkat rector scholarium (rektor pelajar) untuk
menentukan kurikulum dan upah pengajar
Dari Bologna, model universitas scholarium menyebar ke
Padua, Roma, Montpellier, Salamanca, Perancis bagian
selatan (umumnya di Eropa selatan)
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas
210

Universitas Magistrorum
Di Paris, universitas dibentuk oleh para magister menjadi
universitas magistrorum (korporasi pengajar)
Pimpinan dan organisasi universitas dipegang oleh para magister
Model universitas magistrorum menyebar ke Oxford, Cambridge,
dan Eropa utara (dan ke jajahan mereka)

Cessatio
Cessastio adalah berhenti (mogok). Cessatio terjadi kalau timbul
masalah serius
Pada tahun 1229, terjadi cessatio di Universitas Paris selama
hampir dua tahun. Banyak magister dan pelajar pergi ke Oxford
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas
211

Tradisi di Universitas Paris


Metoda ajar belajar: collatio (kuliah) dan lectio (penjelasan)
Masa kuliah:
1. St Remi (Okt) - Lent, dan
2. Easter - St. Pierre (29 Juni)
Lulusan: di bawah magister adalah determinatio (baccaulaureate)
dengan hak mengajar di bawah supervisi magister

Upacara di Universitas Paris


Di Paris terdapat upacara wisuda berupa pidato pengukuhan
(sekarang: untuk guru besar), duduk di kursi magister dan
memakai topi magister
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas
212

Pembentukan Universitas Baru


Mula-mula reputasi universitas bergantung kepada namanya
yang terkenal
Pengajar dari universitas kurang terkenal yang pindah ke
universitas lebih terkenal sering harus menempuh ujian dulu
Kaisar atau raja ingin mendirikan universitas. Agar memiliki
reputasi, pendiriannya dilakukan melalui keputusan kaisar atau
raja
Sering terjadi bahwa kaisar atau raja sendiri yang menjadi
kepala dari universitas itu dan menjabat sebagai chancellor
Dengan demikian, orang yang sehari-hari mengepalai
universitas menjadi vice chancellor. Di sejumlah universitas,
tradisi ini masih berlaku sampai sekarang
Zaman Pertengahan
Metoda Deduktif dan Induktif
213

Metoda Deduktif
Dimulai dari yang telah diketahui (premis), melalui penalaran,
mencapai konklusi
Metoda ini digemari karena argumentasinya sangat kuat dan lagi
pula mereka tidak usah melakukan kegiatan manual (kegiatan
manual dilakukan oleh para budak)

Asumsi
Kelemahan metoda deduktif terletak pada kasus ketika yang
diketahui itu (premis) tidak ada
Diciptakan asumsi untuk dijadikan yang diketahui itu yakni dijadikan
premis
Asumsi tidak diuji, terserah mau diterima atau tidak
Zaman Pertengahan
Metoda Deduktif dan Induktif
214

Belantara Asumsi
Karena banyak hal tidak memiliki atau menemukan premis, maka
asumsi bermunculan tanpa kendali
Hal yang sama dapat diterangkan melalui asumsi yang berbeda-beda

Parsimoni (Pisau Cukur Ockham)


William Ockham mempopulerkan kegiatan untuk hanya memilih
argumentasi yang paling sederhana untuk diterima dan yang lainnya
ditolak (seperti dicukur)
Prinsip untuk hanya menerima argumentasi yang paling sederhana
dikenal sebagai parsimoni atau pisau cukur Ockham
Parsimoni berlaku sampai sekarang

Anda mungkin juga menyukai