Anda di halaman 1dari 28

BASIN SEDIMENTOLOGY

Struktur Sedimen
Struktur sedimen merupakan pengertian
yang sangat luas, meliputi kelainan dari
perlapisan normal termasuk kelainan
kofigurasi perlapisan dan/atau juga
modifikasi dari perlapisan yang
disebabkan proses baik selama
pengendapan berlangsung maupun
setelah pengendapan berhenti. Studi
Struktur paling baik dilakukan di
lapangan (Pettijhon, 1975 ).
Struktur Sedimen
Menurut Selley, 1970, struktur
sedimen yang terbentuk dapat dibagi
menjadi tiga macam yaitu :
Struktur Sedimen Pre-Depositional
Struktur Sedimen Syn-Depositional
Struktur Sedimen Post-Depositional
Struktur Sedimen Pre-
Depositional
Struktur sebelum endapan boleh ditemui di
atas lapisan, sebelum lapisan atau endapan
yang muda atau baru di endapkan. Ia adalah
struktur hasil hakisan seperti terusan
(channel), scour marks, flutes, grooves, tool
marking dan sebagainya. Struktur ini sangat
penting kerena ia juga boleh memberikan
arah aliran arus. Struktur ini berkaitan dengan
struktur yang dibawahnya, dan ditemui diatas
permukaan antar lapisan. Contoh: Grooves,
Flutes, Scour Mark, Tool Markings
Struktur Sedimen Pre-
Depositional
Groove Cast merupakan bentukan parit memanjang
pada lapisan batupasir karena pengisian gerusan
memanjang memotong pada batulempung.
Flute Cast merupakan bentukan sole mark yang
menyerupai cekungan memanjang yang melebar
ujungnya membentuk jilatan api.
Scours Mark merupakan cetakan gerusan yang
memotong bidang perlapisan dan laminasi dengan
ukuran kecil.
Tool Markings merupakan tanda yang dihasilkan oleh
pemotongan atau bekas tindakan dari air atau pun
udara yang mengalir di atas dasar sungai atau badan
sungai.
Struktur Sedimen Syn-
Depositional
Ini merupakan struktur yang terdapat
didalam lapisan dan terbentuk
sesama sedimen yang terendap.
Struktur yang terbentuk semasa
proses endapan sedang berlaku
termasuk lapisan mendatar (flat
bedding), lapisan silang, laminasi,
dan laminasi silang yang mikro
(micro-crosslamination), yaitu kesan
riak. Contoh : Cross Bedding, Graded
Struktur Sedimen Syn-
Depositional
Cross Bedding merupakan perlapisan silang ini mirip
dengan perlapisan hanya saja antara lapisan satu
dengan yang lain membentuk sudut yang jelas. Hal ini
dipengaruhi karena perpindahan dune atau gelembur
akibat pertambahan material.
Graded Bedding merupakan perlapisan gradasi ini
memiliki cira adanya perubahan ukuran butir secara
gradasi.
Struktur Laminasi Struktur ini hampir sama dengan
perlapisan namun yang membedakannya adalah jarak
perlapisan yang kurang dari 1 cm. Biasanya struktur ini
diakibatkan oleh proses diagenesis sediment yang cepat
dengan media pengendapan yang tenang.
Struktur Sedimen Post-
Depositional
Terbentuk setelah terjadi
pengendapan sedimen, yang
umumnya berhubungan dengan
proses deformasi Contoh: Slump,
Load Cast, Flame Structure
Struktur Sedimen Post-Depositional

Slump terbentuk karena ada luncuran pada


lapisan batuan namun berupa bidang lengkung.
Load Cast struktur ini terbentuk karena adanya
pembebanan material suatu lapisan terhadap
lapisan lainnya sehingga membentuk
lengkungan ke bawah.
Flame Struktur merupakan bentukan seperti
api yang di akibatkan lapisan di atasnya lebih
berat dan lapisan yang di bawahnya tertarik ke
atas.
Struktur Perlapisan
Faktor - faktor yang mempengaruhi
kenampakan adanya struktur
perlapisan adalah :
Adanya perbedaan warna mineral.
Adanya perbedaan ukuran besar butir.
Adanya perbedaan komposisi mineral.
Adanya perubahan macam batuan.
Adanya perubahan struktur sedimen
Adanya perubahan kekompakan
Klasifikasi Cekungan
Suatu struktur dapat dikatakan
sebagai cekungan apabila memiliki
tanda tanda peristiwa geologi
seperti bentuk struktur, lingkungan
pengendapan, fossil yang
terkandung dalam batuan serta
litologi batuan.
Klasifikasi Cekungan
Menurut Dickinson, 1974 dan Miall, 1999;
klasifikasi cekungan sedimen dapat
berdasarkan pada:
Tipe dari kerak dimana cekungan berada,
Posisi cekungan terhadap tepi lempeng,
Untuk cekungan yang berada dekat dengan tepi
lempeng, tipe interaksi lempeng yang terjadi
selama sedimentasi,
Waktu pembentukan dan basin fill terhadap
tektonik yang berlangsung,
Bentuk cekungan.
Klasifikasi Cekungan
Klasifikasi cekungan sedimen (Selley,
1988):
PROSES
PENYEBAB
TIPE CEKUNGAN TATAAN TEKTONIK
LEMPENG
TERBENTUKNYA
Crustal sag Cekungan intrakraton Intra-plate collapse
Puntir (tension) Epicratonic downward Tepian lempeng pasif
Rift (passive plate margin)
Sea-floor spreading
Tekanan Palung (trench) Subduksi (tepian lempeng
(compression) Busur depan (fore-arc) aktif)
Busur belakang (back-
arc)
Wrenching Strike-slip Gerakan mendatar
lempeng
Teknik Analisa Cekungan
Analisa cekungan merupakan hasil
interpretasi yang berdasarkan pada proses
sedimentasi, stratigrafi, fasies dan sistem
pengendapan, peleoseanografi, paleogeografi,
iklim purba, analisa muka laut, dan
petrografi/mineralogi (Klein, 1995; Boggs,
2001). Penelitian sedimentologi dan analisa
cekungan sekarang ini ditikberatkan pada
analisa fasies sedimen, siklus subsiden,
perubahan muka laut, pola sirkulasi air laut,
iklim purba, dan sejarah kehidupan.
Teknik Analisa Cekungan
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses
pengendapan dan sifat sedimen adalah:
Litologi batuan induk, akan sangat mempengaruhi
komposisi sedimen yang berasal dari batuan
tersebut;
Topografi dan iklim dimana batuan induk berada,
mempengaruhi kecepatan denudasi yang
menghasilkan sedimen yang kemudian diendapkan
dalam cekungan;
Kecepatan penurunan cekungan bersamaan dengan
kecepatan kenaikan/penurunan muka laut; dan
Ukuran dan bentuk dari cekungan.
Teknik Analisa Cekungan
Analisa cekungan dapat dilakukan dengan
cara:
Penampang Stratigrafi
Diagram Pagar
Peta Struktur
Peta Isopak
Peta Paleogeologi
Peta Litofasies
Analisa Arus Purba
Studi Provenan (Asal Mula) Batuan
Penampang Stratigrafi
Data lengkap dan akurat tentang sedimen dari
singkapan maupun inti bor, baik ketebalan
maupun litologi setiap himpunan sedimen,
merupakan hal yang sangat penting untuk
interpretasi sejarah bumi. Untuk menghimpun
data tersebut diperlukan pengukuran dan
pemerian secara teliti dan akurat pada singkapan
dan/atau inti bor. Kegiatan menghimpun data ini
jamak disebut pembuatan penampang stratigrafi
terukur, yang meliputi pemerian litologi, sufat-
sifat perlapisan, dan kenampakan lainnya dari
batuan.
Diagram Pagar
Informasi stratigrafi dapat pula
disajikan dalam diagram pagar yang
menggambarkan pandangan tiga
dimensi stratigrafi dari suatu daerah
atau wilayah tertentu. Dengan cara
ini hubungan antar satuan stratigrafi
dapat dilihat dengan jelas.
Sayangnya, bagian pagar depan
akan menutup sebagian
belakangnya; sehingga menyulitkan
Peta Struktur
Untuk menggambarkan bentuk dan orientasi
cekungan serta geometri pengisian cekungan
diperlukan peta struktur. Pada dasarnya,
kontur pada peta ini adalah kumpulan titik-
titik yang mempunyai elevasi sama dari
bagian atas atau bawah suatu datum
tertentu. Struktur lokal seperti antiklin dan
sinklin dapat dengan mudah dikenali pada
peta jenis ini. Peta struktur ini sangat
berguna dalam eksplorasi baik hidrokarbon
maupun mineral dan batubara.
Peta Isopak
Peta isopak adalah suatu peta yang konturnya
menghubungkan titik-titik yang mempunyai
ketebalan sama dari suatu lapisan atau satuan
batuan. Ketebalan suatu satuan batuan tergantung
dari kecepatan pasokan sedimen dan ruang yang
tersedia pada cekungan. Bagian yang menebal
secara abnormal merupakan pusat pengendapan,
sebaliknya yang menipis abnormal adalah daerah
yang sebelum pengendapan merupakan tinggian atau
sudah lebih banyak tererosi setelah pengendapan.
Dengan peta jenis ini dapat digambarkan keadaan
cekungan sebelum dan selama pengendapan.
Peta Paleogeologi
Peta paleogeologi adalah peta yang
menggambarkan kondisi geologi
tertentu di bawah atau di atas suatu
unit tertentu. Sebagai contoh, kita
dapat mengupas semua satuan
batuan mulai dari unit stratigrafi
tertentu untuk melihat satuan
batuan di bawah unit stratigrafi
tertentu tersebut. Kemudian kita
gambarkan peta geologi di atas alas
Peta Litofasies
Peta fasies menggambarkan vareasi sifat
litologi atau biolofi dari satuan stratigrafi
tertentu (Boggs, 2001). Peta fasies yang
umum dipakai adalah peta litofasies
dimana menyajikan beberapa aspek
komposisi dan tekstur batuan. Peta
litofasies yang umum dipakai adalah:
a. peta perbandingan klastik (clastic-ratio
map) dan
b. peta litofasies tiga komponen.
Analisa Arus Purba
Analisa arus purba adalah suatu teknik
yang digunakan untuk mengetahui arah
aliran dari arus purba pembawa
sedimen ke dalam suatu cekungan
pengendapan (Boggs, 2001). Tentu
saja, dengan teknik ini akan diketahui
juga arah kemiringan lereng purba baik
lokal maupun secara regional dan
sekaligus asal dari sedimen yang
terendapkan.
Analisa Arus Purba
Analisa arus purba dapat dilakukan dengan
mempelajari secara mendalam dari berbagai
struktur sedimen, seperti silang siur, alur sungai,
dan ripple mark. Geometri dan kecenderungan
dari suatu unit batuan sering dapat membantu
untuk interpretasi lingkungan pengendapan dan
arah arus purba. Orientasi dari kepingan batuan
berbutir besar (seperti kerakal dan brangkal),
ketebalan lapisan, vareasi litologi dalam suatu
lapisan dapat dipakai untuk interpretasi arah
arus purba dan lokasi asal atau sumber batuan.
Studi Provenan
Komposisi dari suatu batuan sedimen
klastika yang mengisi suatu cekungan
sangat dipengaruhi oleh komposisi batuan
sumbernya. Komposisi itu tentu saja juga
dipengaruhi oleh pelapukan dan iklim daerah
yang bersangkutan. Studi provenan meliputi:
(a) Komposisi litologi dari asal batuan, (b)
tataan tektonik dari daerah asal batuan, dan
(c) iklim, topografi, dan kemiringan daerah
asal batuan (Boggs, 2001)