Anda di halaman 1dari 38

Trauma Capitis

Sahid P. Zein Tuharea


Abdul Qadir Afin Kolly
Definisi
Trauma kapitis adalah trauma mekanik

terhadap kepala baik secara langsung

ataupun tidak langsung yang menyebabkan

gangguan fungsi neurologi yaitu gangguan

fisik, kognitif, fungsi psikososial baik

temporer maupun permanen


Epidemiologi
Penyebab yang sering adalah

kecelakaan lalu lintas dan terjatuh.

Cedera kepala melibatkan kelompok

usia produktif yaitu antara 15-44 tahun

dengan usia rata-rata 30 tahun dan

lebih didominasi oleh kaum laki-laki.


Klasifikasi Trauma Capitis
Mekanisme

Berat

Morfologi
1. Berdasarkan
Mekanisme

A. Cedera kepala tumpul, biasanya berkaitan dengan


kecelakaan lalu lintas, jatuh atau pukulan benda
tumpul. Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan
deselerasi yang cepat menyebabkan otak bergerak
di dalam rongga cranial dan melakukan kontak
pada tulang tengkorak.
B. Cedera tembus, disebabkan oleh luka tembak
ataupun tusukan.
2. Berdasarkan
morfologinya
A. Fraktur
kranium
.Gambaran fraktur, dibedakan atas :
Linier
Diastase
Comminuted
Depressed
.Lokasi anatomis, dibedakan atas :
Calvarium (kubah/ atap tengkorak)
Basis Cranii (dasar tengkorak)
.Keadaan luka, dibedakan atas :
Terbuka
Tertutup
B. Lesi intrakranial
Dapat berbentuk lesi fokal
(perdarahan epidural, perdarahan
subdural, kontusio, dan
peradarahan intraserebral), lesi
difus dan terjadi secara
bersamaan.
a. Komosio Serebri (geger
otak)
Geger otak berasal dari benturan kepala yang
menghasilkan getaran keras atau
menggoyangkan otak, menyebabkan perubahan
cepat pada fungsi otak, termasuk kemungkinan
kehilangan kesadaran lebih 10 menit yang
disebabkan cedera pada kepala. Tanda-
tanda/gejala geger otak, yaitu: hilang kesadaran,
sakit kepala berat, hilang ingatan (amnesia), mata
berkunang-kunang, pening, lemah, pandangan
ganda.
b. Kontusio Serebri (memar
otak)
Diakibatkan oleh pukulan atau benturan pada
kepala. Kontusio Serebri menimbulkan memar
dan pembengkakan pada otak, dengan
pembuluh darah dalam otak pecah dan
perdarahan pasien pingsan, pada keadaan
berat dapat berlangsung berhari-hari hingga
berminggu-minggu. Terdapat amnesia
retrograde, amnesia pascatraumatik, dan
terdapat kelainan neurologis, tergantung pada
daerah yang luka dan luasnya lesi:
Gangguan pada batang otak menimbulkan peningkatan

tekanan intracranial.

Gangguan pada diensefalon, pernafasan baik atau bersifat

Cheyne-Stokes, pupil mengecil, reaksi cahaya baik, mungkin

terjadi rigiditas dekortikal (kedua tungkai kaku dalam sikap

ekstensi dan kedua lengan kaku dalam sikap fleksi)

Gangguan pada mesensefalon dan pons, kesadaran menurun

hingga koma, pernafasan hiperventilasi, pupil melebar,

refleks cahaya tidak ada, gerakan mata diskonjugat (tidak

teratur), regiditasdesebrasi (tungkai dan lengan kaku dalam

sikap ekstensi).
c. Perdarahan Epidural
Hematoma epidural merupakan
pengumpulan darah diantara tengkorak
dengan duramater (hematom ekstradural).
Cirinya berbentuk bikonveks atau
menyerupai lensa cembung. Sering terletak
di area temporal atau temporo-parietal yang
disebabkan oleh robeknya arteri meningea
media akibat retaknya tulang tengkorak.
d. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural lebih sering terjadi
daripada perdarahan epidural (kira-kira
30% dari cedera kepala berat).
Perdarahan ini sering terjadi akibat
robeknya vena-vena yang terletak antara
korteks serebri dan sinus venosus.
Namun dapat juga terjadi akibat laserasi
pembuluh arteri pada permukaan otak.
Subdural hematom dibagi menjadi:

1. Hematoma Subdural Akut


Menimbulkan gejala neurologik dalam 24 sampai
48 jam setelah cedera.
Gejala neurologis yang sering muncul adalah :
Perubahantingkatkesadaran,dalam hal ini
terjadi penurunan kesadaran
Dilatasipupilipsilateralhematom

Kegagalanpupilipsilateralbereaksiterhadapca

haya
Hemiparesiskontralateral

Papiledema
2. Hematoma Subdural Subakut

Menyebabkan defisit neurologik


dalam waktu lebih dari 48 jam
tetapi kurang dari 2 minggu
setelah cedera. Seperti pada
hematoma subdural akut,
hematoma ini juga disebabkan
oleh perdarahan vena dalam
3. Hematoma Subdural Kronik

Timbulnya gejala pada umumnya tertunda beberapa


minggu, bulan dan beberapa tahun setelah cedera
pertama. Trauma pertama merobek salah satu vena
yang melewati ruangan subdural. Terjadi perdarahan
secara lambat dalam ruangan subdural. Dalam 7
sampai 10 hari setelah perdarahan terjadi. Dengan
adanya selisih tekanan osmotik yang mampu menarik
cairan ke dalam hematoma, terjadi kerusakan sel-sel
darah dalam hematoma. Penambahan ukuran
hematoma ini yang menyebabkan perdarahan lebih
lanjut dengan merobek membran atau pembuluh darah
di sekelilingnya, menambah ukuran dan tekanan
hematoma.
e. Subarachnoid Hematom
Perdarahan subarachnoid terjadi di dalam
ruang subarachnoid (yang memisahkan
antara membrana arachnoid dan
piamater).
Selain karena trauma, perdarahan juga
dapat terjadi secara spontan akibat
aneurisma (Saccular Berrys Aneurism)
atau malformasi arteriovenosa.
Gejala yang timbul antara
lain :
Sakit kepala berat yang
mendadak
penurunan kesadaran,
mual/muntah dan terkadang
kejang
Dilatasi pupil terisolasi dan
hilangnya refleks cahaya
menunjukkan adanya herniasi
otak akibat peningkatan tekanan
intrakranial
f. Cedera Difus
Cedera otak difus merupakan kelanjutan
kerusakan otak akibat cedera akselerasi dan
deselerasi yang merupakan bentuk yang sering
terjadi pada cedera kepala.
Komosio serebri ringan adalah cedera dimana
kesadaran tetap tidak terganggu namun terjadi
disfungsi neurologis yang bersifat sementara
dalam berbagai derajat.
Komosio serebri klasik adalah cedera yang
mengakibatkan menurunnya atau hilangnya
kesadaran. Keadaan ini selalu disertai dengan
amnesia pasca trauma dan lamanya amnesia ini
merupakan ukuran beratnya cedera.
g. Hematoma Intraserebral
Perdarahan dalam jaringan otak karena
pecahnya arteri yang besar di dalam
jaringan otak, sebagai akibat trauma
kapitis berat, kontusio berat. Gejala-
gejala yang ditemukan adalah:
Hemiplegi

Papilledemaserta gejala-gejala lain


dari tekanan intrakranium yang
meningkat.
h. Fraktur Basis Cranii

Penderita biasanya masuk rumah sakit dengan


kesadaran yang menurun, bahkan tidak jarang
dalam keadaan koma yang dapat berlangsung
beberapa hari. Dapat tampak amnesia retrogad
dan amnesia pascatraumatik. Gejala tergantung
letak frakturnya:
Fraktur fossa anterior
Darah keluar beserta likuor serebrospinal dari
hidung atau kedua mata (Brill Hematoma atau
Racoons Eyes), rusaknya Nervus Olfactorius
sehingga terjadi hyposmia sampai anosmia.
Fraktur fossa media
Darah keluar beserta likuor serebrospinal
dari telinga. Fraktur memecahkan arteri
carotis interna yang berjalan di dalam sinus
cavernous sehingga terjadi hubungan
antara darah arteri dan darah vena (A-V
shunt).
Fraktur fossa posterior
Getaran fraktur dapat melintas foramen
magnum dan merusak medula oblongata
sehingga penderita dapat mati seketika.
3. Berdasarkan Beratnya
a. Cedera Kepala Ringan (CKR),
termasuk didalamnya Laseratio dan
Commotio Cerebri
Skor GCS 13-15
Tidak ada kehilangan kesadaran, atau
jika ada tidak lebih dari 10 menit
Pasien mengeluh pusing, sakit kepala
Ada muntah, ada amnesia retrogad
dan tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan neurologis
b. Cedera Kepala Sedang (CKS)
Skor GCS 9-12
Ada pingsan lebih dari 10 menit
Ada sakit kepala, muntah, kejang dan
amnesia retrogad
Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan
saraf dan anggota gerak
c. Cedera Kepala Berat (CKB)
Skor GCS < 8
Gejalanya serupa dengan CKS, hanya dalam
tingkat yang lebih berat
Terjadinya penurunan kesadaran secara
progesif
Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan
otak yang terlepas
Penatalaksanaan
Pada cedera kulit kepala,
suntikan prokain melalui
subkutan membuat luka mudah
dibersihkan dan diobati. Daerah
luka diirigasi untuk mengeluarkan
benda asing dan miminimalkan
masuknya infeksi sebelum
Penanganan emergensi sesuai dengan
beratnya trauma kapitis (ringan, sedang, berat)
berdasarkan urutan:

1. Survei primer, gunanya untuk menstabilkan kondisi


pasien meliputi tindakan:

a. Menilai jalan nafas (airway):


.membersihkan jalan nafas dari debris dan muntahan,
lepaskan gigi palsu, mempertahankan tulang servikal
segaris dengan badan dengan memasang collar
cervikal, memasang guedel atau mayo bila dapat
ditolerir. Jika cedera orofasial mengganggu jalan
nafas, maka pasien harus di intubasi.
b. Menilai pernafasan (breathing),
menentukan apakah pasien bernafas
spontan/tidak. Jika tidak beri O2 melalui
masker O2. Jika pasien bernafas spontan
selidiki dan atasi cedera dada berat seperti
pneumotoraks tensif, hemopneumotoraks.
Memasang oksimeter nadi untuk menjaga
saturasi O2 minimum 95%. Jika jalan nafas
pasien tidak terlindungi bahkan terancam
atau memperoleh O2 yg adekuat (Pa O2>95%
dan Pa CO2<40% mmHg serta saturasi O2
>95%) atau muntah maka pasien harus
diintubasi serta diventilasi oleh ahli anestesi.
c. Menilai sirkulasi (circulation):
otak yang rusak tidak mentolerir hipotensi.
Menghentikan semua perdarahan dengan menekan
arterinya. Memperhatikan adanya cedera intra
abdomen atau dada mengukur dan mencatat
frekuensi denyut jantung dan tekanan darah pasang
EKG. Memasang jalur intravena yg besar dan
memberikan larutan koloid sedangkan larutan
kristaloid menimbulkan eksaserbasi edema.
d. Menilai disability:
untuk mengetahui lateralisasi dan kondisi umum
dengan pemeriksaan cepat status umum dan
neurologi.
2. Survei sekunder, meliputi pemeriksaan, dan
tindakan lanjutan setelah kondisi pasien stabil.
Laboratorium :
Darah:Hb, leukosit, hitung jenis lekosit,
trombosit, ureum, kreatinin, gula darah
sewaktu, analisa gas darah dan elektrolit
Urin: perdarahan (+/-)
Radiologi
Foto polos kepalaAP/lateral
CT scan kepala
Foto lain dilakukan atas indikasi termasuk
foto servikal
Consensus di ruang rawat- Trauma kapitis sedang dan
berat:

Lanjutkan penanganan ABC


Pantau tanda vital, pupil,
gerakan ekstrimitas, sampai
pasien sedar (pantauan dilakukan
tiap 4 jam). Dijaga jangan terjadi
kondisi sebagai berikut:
Tekanan darah sistolik < 90
mmHg
Suhu > 38C
Frekuensi nafas > 20x/m
Cegah kemungkinan terjadinya tekanan tinggi
intracranial dengan cara:
Elevasi kepala 30
Hiperventilasi
Berikan manitol 20% 1gr/kgBB intravena
dalam waktu 1/2 jam-1jam, drip cept,
dilanjutkan pemberian dengan dosis 0,5
g/kgBB drip cepat, /2 jam-1jam, setelah 6 jam
dari pemberian pertama dan 0,25 g/kgBB drip
cepat, /2 jam-1jam, setelah 12 jam dan 24 jam
dari pemberian pertama.
berikan analgetik dan bila perlu dapat
diberikan sedasi jangka pendek
Mengatasi komplikasi
kejang: profilaksis OEA selama 7 hari
untuk mencegah immediate dan early
seizure pada kasus risiko tinggi
infeksi akibat fratur basis kranii:
profilaksis antibiotika sesuai dosis
infeksi intrakranial selama 10-14 hari.
Gastrointestinal-pendarahan lambung
demam
DIC
Pemberian cairan dan nutrisi adekuat.
Indikasi untuk tindakan operatif pada kasus cedera kepala
ditentukan oleh kondisi klinis pasien, temuan
neuroradiologi dan patofisiologi dari lesi. Secara umum
digunakan panduan sebagai berikut, yaitu:
Volume masa hematom mencapai lebih dari 40 ml di
daerah supratentorial atau lebih dari 20 cc di daerah
infratentorial
Kondisi pasien yang semula sadar semakin memburuk
secara klinis, serta gejala dan tanda fokal neurologis
semakin berat
Terjadi gejala sakit kepala, mual, dan muntah yang
semakin hebat
Pendorongan garis tengah sampai lebih dari 3 mm
Terjadi kenaikan tekanan intrakranial lebih dari 25
mmHg
3. Pemeriksaan umum untuk menyingkirkan
cedera sistemik
4. Pemeriksaan neurologis terbatas
Pemeriksaan ronsen vertebra servikal dan
lainnya sesuai indikasi
5. Pemeriksaan kadar alkohol darah dan zat
toksik dalam urine
6. Pemeriksaan CT scan kepala sangat ideal
pads setiap penderita cedera kepala ringan,
kecuali bila memang sama sekali
asimtomatik dan pemeriksaan neurologis
normal
Prognosis
Lebih
kurang 80% penderita yang datang ke ruang
gawat darurat dengan cedera kepala ringan,
sebagian besar penderita sembuh dengan baik.
Sekitar 10% penderita dengan cedera kepala
sedang, masih dapat mengikuti perintah sederhana
tetapi sering kali bingung dan somnolen, mungkin
ada defisit neurologis fokal seperti hemiparesis.
Sekitar 10-20% di antaranya menurun dan koma.
Penderita yang tergolong dalam cedera kepala
berat, tidak dapat mengikuti perintah yang
sederhana, walaupun sudah dilakukan resusitasi
kardiopulmoner. Semua penderita mempunyai
resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
Thanks