Anda di halaman 1dari 25

kwashiorkor

NAMA KELOMPOK :
1. IRFANI MUNIFA
2. LENIH
3. LISA SULISTYANI
4. LULU HAVIPAH
5. MEGA OKTAVIANI
6.MEI YULIANTI
PENGERTIAN
Kata kwarshiorkor berasal dari bahasa Ghana-
Afrika yang berati anak yang kekurangankasih
sayang ibu.
Kwashiorkor adalah suatu syndrome klinik yang
timbul sebagai akibat adanyakekurangan protein
yang parah dan pemasukan kalori yang kurang dari
yang dibutuhkan.(Behrman, Richard E. 1994 : 299)
kwashiorkor, adalah suatu syndrome klinik yang
timbul sebagai akibat adanyakekurangan protein
dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi
dikenali sebagaiMalnutrisi Energi Protein (MEP)
dengan beberapa karakteristik berupa edema
dankegagalan
pertumbuhan,depigmentasi,hyperkeratosis
ETIOLOGI
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah
inadekuatnya intake protein yang berlansung
kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal
tersebut antara lain :
1.Pola makan Protein (asam amino) adalah zat yang
sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh danberkembang.
Meskipun intake makanan mengandung kalori yang
cukup, tidak semua makanan mengandung protein /
asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui
umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan
ibunya, namun bagi yang tidakmemperoleh ASI protein
dari sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dll)
sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu
mengenai keseimbangan nutrisi anak berperanpenting
terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa
peralihan ASI ke makananpengganti ASI.
2.Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan
penduduk yang tinggi, keadaan sosial
danpolitik tidak stabil, ataupun adanya
pantangan untuk menggunakan makanan
tertentu dansudah berlansung turun temurun
dapat menjadi hal yang menyebabkan
terjadinyakwashiorkor.
3.Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga / penghasilan yang
rendah yang tidak dapat memenuhi
kebutuhanberakibat pada keseimbangan
nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana
ibunya pun tidakdapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.
4.Faktor infeksi dan penyakit lain telah lama
diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara
MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat
memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP,
walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan
imunitas tubuh terhadap infeksi. Seperti gejala
malnutrisi protein disebabkan oleh gangguan
penyerapan protein, misalnya yang dijumpai pada
keadaan diare kronis, kehilangan protein secara
tidak normalpada proteinuria (nefrosis), infeksi
saluran pencernaan, serta kegagalan
mensintesisprotein akibat penyakit hati yang kronis

PENGKAJIAN
1. Aktifitas
Tanda : Penurunan otot, ekstermitas kusus, otot
flaksid, penurunan toleransi aktifitas, jaringan sub
kutan tipis dan lembek, cengeng.

2. Sirkulasi
Tanda : Takikardia, bradikardia.
Diaforosis, sianosis.

3. Eliminasi
Gejala : Diare atau konstipasi : flatulen berkenaan
dengan masukan makanan
Tanda : Distensi abdomen, ansites, nyeri tekan,
fases encer, berlemak atau warna seperti tanah liat
4. Makanan / cairan

`
Gejala :
- Penurunan berat badan, tinggi badan
- Masalah menelan mengunyah, tersedak atau produksi
saliva
- Anorexia, mual, muntah, ketidak adekuatan masukan
oral
- Pemberian ASI ( lamanya
Tanda :
- Penyimpangan berat badan aktual mungkin terjadi
karena terjadinya edema, asites, organomegali,
anasarka
- Pertumbuhan gigi / ompong
- Bising usus menurun, hiperaktif atau tidak ada.
- Lidah lembut, pucat, kotor.
- Bibir kering, pecah, kemerahan, bengkak, stomatitis
- Gusi bengkak / berdarah, carries.
- Membran mukosa kering, pucat, merah, bengkak
5. Neuro sensori
Tanda : Letargi, apatis, gelisah, peka rangsang,
disorientasi, koma.
Reflek gagal/menelan mungkin menurun

6. Pernafasan
Tanda :
- Penurunan fungsi pernafasan / peningkatan fungsi
pernafasan
- Dipnea, peningkatan produksi sputum.
- Bunyi nafas : Krekers ( defisiensi protein akibat
perpindahan cairan).

7. Keamanan
Gejala : Adanya program terapi
Tanda : Rambut mungkin rapuh, berstruktur kasar
dan kaku, serta mudah dicabut.
8. Penyuluhan / Pembelajaran.
Gejala : Riwayat kondisi yang menyebabkan
kehilangan protein, peningkatan diare.
Kurang pengetahuan nutrisi, keterbatasan
sumber finansial / fasilitas dapar menurun.

9. Sosio Ekonomi
- Pekerjaan orang tua : Keuangan / pendapatan.
- Faktor-faktor lingkungan rumah, pekerjaan
dan rekreasi.
- Kelas sosial
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak
adekuatnya intake nutrisi.

2. Kurangnya volume cairan dan konstipasi b.d intake cairan


yang tidak adekuat.

3. Gangguan integritas kulit b.d tidak adekuatnya kandungan


makanan yang cukup

4. Resiko tinggi gangguan respon imun skunder ( infeksi ) b.d


malnutrisi.

5. Kurang pengetahuan b.d ketidaktahuan intake nutrisi yang


adekuat.
INTERVENSI
Dx 1 : Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
tidak adekuatnya intake nutrisi.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
Nafsu makan baik
Berat badan meningkat
Klien menghabiskan porsi makannya
Klien idak lemas
Rencana Tindakan :
1. Kaji antropometri
2. Kaji pola makan klien.
3. Berikan intake makan tinggi potein,
kalori, mineral, dan vitamin.
4. Berikan makanan selingan yang tinggi
protein dan kalori
5. Timbang berat badan
6. Tingkat pemberian ASI dengan
pemasukan nutrisi yang adekuat pada
ibu
7. Kolaborasi dengan ahli gizi
8. Berikan makanan enteral / perenteral
bila diindikasikan.
Dx II : Kurangnya volume cairan
berhubungan dengan intakwe cairan yang
tidak adekuat

Tujuan : Kebutuhan cairan adekuat

Kriteria hasil :
- Membran mukosa lembab
- Kulit tidak kering
- Tekstur kulit elastis
- TTV dalam batas normal
- Haluaran urine adekuat
Rencana tindakan :
1. Berikan cairan yang adekuat sesuai
dengan kondisi.
2. Ukur intake dan output
3. Auskultasi bising usus.
4. Kaji terjadinya kulit kering, membran
mukosa kering dan pengisian kapiler.
5. Pantau Tanda-tanda vital
6. Pantau adanya edema.
7. Kolaborasikan untuk adanya
pemberian cairan parental.
8. Berikan anti diare sesuai indikasi
Dx III : Gangguan integritas kulit berhubungan
dengan tidak adekuatnya kandungan makanan
yang cukup.

Tujuan : Intregitas kulit utuh

Kriteria Hasil :
- Kulit lembab
- Kulit utuh
- Kulit tampah bersih
- Kulit tidak bersisik
- Tanda-tanda radang (-)
Rencana tindakan :
1. Kaji keutuhan kulit
2. Berikan krim kulit
3. Ganti segera pakaian yang lembab atau
basah.
4. Lakukan kebersihan kulit.
5. Hindari penggunaan sabun yang dapat
mengiritasi kulit.
Dx IV : Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan
ketidaktahuan kandungan nutrisi yang adekuat.

Tujuan : Pengetahuan orang tua dan klien bertambah.

Kriteria Hasil :
- Anak berpartisipasi dalam proses pengobatan.
- Orang tua mengetahui jenis makanan yang banyak
mengandung protein, kalori, vitamin dan mineral
- Anak/keluarga mengetahui manfaat masing-masing
kandungan makanan
Rencana Tindakan :
1. Ajarkan orng tua dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi.
2. Jelaskan pentingnya nutrisi yang
adekuat,
3. Jelaskan kondisi yang terkait dalam
malnutrisi.
4. Anjurkan ibu untuk meningkatkan
nutrisi yang adekuat.
Dx V : Resiko tinggi gangguan respon imun
sekunder / infeksi berhubungan dengan
malnutrisi

Tujuan : Infeksi tidak terjadi

Kriteria Hasil : - Tidak demam dan


menggigil .
- Suhu tubuh antara 36,5 - 37,5 0C
- Tanda-tanda radang (-)
Rencana Tindakan :
1. Kaji tanda-tanda infeksi
2. Ukur suhu tubuh klien.
3. Lakukan teknik pencucian tangan
yang benar.
4. Berikan vitamin sesuai indikasi.
EVALUASI
1. Masukan nutrisi
adekuat.
2. Masukan cairan
terpenuhi.
3. Pengetahuan orang tua
dan anak bertambah .
4. Komplikasi tidak terjadi
5. Berat badan anak
SEKIAN PRESENTASI DARI KELOMPOK
KAMI

KURANG LEBIHNYA MOHON MAAF

WASSALAMUALAIKUM WR.WB