Anda di halaman 1dari 23

Penyakit Paru Obstruktif Kronis

(PPOK)
Sutriadi Riky Arjuanda S.ked

Pembimbing :
dr.H. Sugihartono, Sp.P

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT PARU


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LANGSA
2015
Defini
si

penyakit paru kronik yang ditandai


oleh adanya hambatan aliran udara
di saluran pernapasan yang bersifat
progressive irreversibel, atau parsial
irreversible. PPOK terdiri dari
Bronkitis Kronis, Emphysema atau
gabungan keduanya.
Definisi (lanjutan)

BRONCHITIS KRONIS

Bronkitis kronik adalah


keadaan
pengeluaran mukus
secara
berlebihan ke batang
bronchial
secara kronik atau
berulang
dengan disertai batuk
berdahak minimal 3
bulan dalam setahun,
sekurang-kurangnya 2
Definisi (lanjutan)

EMPHYSEMA

kelainan paru-
paru yang
ditandai dengan
pembesaran jalan
nafas
yang sifatnya
permanen
mulai dari
terminal
bronchial sampai
bagian distal (alveoli :
Epidemiolo
gi
{ Survei th 2009: Di US, kira-kira 12.1 jt pasien
menderita PPOK, 9 juta menderita bronkitis
kronis, dan sisanya menderita emphysema,
atau kombinasi keduanya.
{ The Asia Pacific CPOD Roundtable Group
memperkirakan, jumlah penderita PPOK sedang
hingga berat di negara-negara Asia Pasifik
mencapai 56, 6 juta penderita dengan angka
prevalensi 6,3 persen (Kompas, 2010).
{ Sementara itu, di Indonesia diperkirakan
terdapat 4,8 juta penderita, bronkitis kronik dan
emfisema menduduki peringkat ke-6 dari 10
penyebab kematian tersering di Idnonesia (PDPI,
2009)
ETIOLOGI BRONKITIS

Faktor lingkungan :
- Merokok

- Pekerjaan

- Polusi udara

- Infeksi
Faktor host :
- usia

- jenis kelamin
- penyakit paru yang
sudah ada
Etiolo
gi
Emphyse
ma

Smoking
Polusi udara

A1DA

PATOGENESIS BRONKITIS
KRONIS
ASAP ROKOK, POLUTAN

Hambatan
mucociliary
clearance

Iritasi bronchiole

Hiperplasia, hipertrofi
dan proliferasi kelenjar mukus

Hipersekresi mukus

OBSTRUKSI
Resiko infeksi
Patogenesis EMPHYSEM, ketidakseimbangan
protease dan anti protease
What happened with
smoking ?
Penelitian telah menunjukkan bahwa
merokok dalam jangka
panjang dapat menyebabkan aneka efek,
a.l. :
Mengganggu pergerakan rambut getar
epitel saluran nafas
(respiratory epithelial cilliary)
Menghambat fungsi alveolar macrophages,
Menyebabkan hypertrophy dan
hyperplasia kelenjar
penghasil mukus;
Juga menghambat antiproteases dan
Gambaran klinik serangan akut
PPOK
Gejala: Pemeriksaan
fisik:
{ Peningkatan volume sputum { Demam

{ Sesak nafas yang progresif { Mengi (wheezing)


{ Dada terasa sesak (chest
tightne
ss)
{ Sputum
yang
purulen
{ Meningkatnya
DIAGNOSIS
ANAMNESA

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN
PENUNJANG :
1. PULMONARY
FUNCTION TEST
Derajat keparahan PPOK
Tingkat Nilai FEV1 dan
gejala
0 Memiliki satu atau lebih gejala batuk kronis,
produksi sputum, dan dispnea.
berisiko Ada paparan terhadap faktor resiko (rokok, polusi),
spirometri normal

I FEV1/FVC < 70%, FEV1 80%, dan umumnya, tapi


tidak selalu, ada gejala
ringan batuk kronis dan produksi sputum. Pada tahap
ini, pasien biasanya bahkan
belum merasa bahwa paru-parunya bermasalah
II FEV1/FVC < 70%; 50% < FEV1 <
80%, gejala biasanya mulai
sedang progresif/memburuk, dengan nafas pendek-
pendek.
III FEV1/FVC < 70%; 30% < FEV1 < 50%. Terjadi
eksaserbasi berulang yang mulai
berat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Pada
(lanjutan) DIAGNOSIS
2. Pemeriksaan Radiologi
Emfisema Bronkitis Kronis
Tujuan Terapi ?

{ Memperbaiki keadaan obstruksi


saluran nafas
{ Mencegah dan mengatasi
eksaserbasi akut
{ Menurunkan progresivitas penyakit
{ Mencegah dan mengobati komplikasi
{ Memperbaiki dan mencegah
penurunan faal paru
{ Menurunkan angka kematian
TATA LAKSANA TERAPI
NON FARMAKOLOGI
Menghentikan kebiasaan
merokok

Rehabilitasi paru-paru
secara
komprehensif dan latihan
pernafasan

Perbaikan
nutrisi

Tidak ada obat yang


dapat
menunda
TATA LAKSANA TERAPI
FARMAKOLOGI
{ Antikolinergik : Ipratropium dan Tiotropium
bronida

{ B2 agonis : Agonis B2 kerja singkat (SABA)


dan Agonis B2 kerja lama (LABA)
{Terapi Kombinasi antikolinergik dan B2
agonis untuk
meningkatkan efektifitas
{ Metil santin sebagai pengobatan
pemeliharaan jangka panjang
{Mukolitik membantu pengenceran dahak,
namun tidak
memperbaiki aliran udara masih
lanjutan

{ Kortikosteroid sistemik laporan tentang


efektivitasnya masih bervariasi, kecuali jika
pasien juga memiliki
riwayat asma
{ Oksigen untuk pasien hipoksemia, cor
pulmonale
{ Antibiotik digunakan bila ada tanda infeksi
Terapi antibiotika yang direkomendasikan untuk
eksaserbasi akut PPOK
Karakteristik pasien Patogen penyebab yang
Terapi yang
mungkin direkomendasikan
Eksaserbasi tanpa S. pneumoniae, H. influenzae, H.
(azitromisin, makrolid komplikasi parainfluenzae, dan M.
catarrhalis makrolid
< 4 x eksaserbasi setahun umumnya tidak resisten
sefalosporin generasi 2 atau 3
tidak ada penyakit
doksisiklin
penyerta
FEV1 > 50%
Eksaserbasi kompleks seperti di atas, ditambah H.
Amoksisilin/klavulanat
umur > 65 th, influenza dan M.
catarrhalis Fluorokuinolon (levofloksasin,
> 4 eksaserbasi pertahun penghasil beta-laktamase
gatiflokasin, moksifloksasin)
FEV1 < 50% tapi > 35 %
Eksaserbasi kompleks seperti di atas, ditambah P.
KOMPLIKASI
Gagal Nafas
Cor pulmonal
Pneumothoraks
Hipertensi Pulmonal
Malnutrisi
Key points:
PPOK adalah penyakit yang
sebenarnya secara potensial
dapat dicegah : stop smoking
Sekali PPOK terjadi penderita
akan
memerlukan terapi yang
kompleks yang
efikasinya masih diperdebatkan
para ahli
Penyakit ini bersifat progresif dan
Prognosi
s?

{ Indikator: umur dan


keparahan
{ Jika ada hipoksia dan cor pulmonale
prognosis
Jelek
Prognosis penyakit ini bervariasi. Bila
pasien tidak berhenti
merokok,penurunan fungsi paru
akan lebih cepat dari pada bila
pasien berhenti merokok.
Prognosis jangka panjang dan pendek
TERIMA
KASIH