Anda di halaman 1dari 25

Pembesaran Lingkar Leher dengan

Gejala Hipertiroidisme

Kelompok C3
10-2012-009 Vincent Okta Vidiandika
10-2013-007 Lusia Paramita
10-2013-184 Ahmad Badawi
10-2013-211 Felysia Margaret G
10-2014-010 Willis
10-2014-061 Lisda Yolanda
10-2014-132 Yoan Carolin Saron K
10-2014-194 Dwiki Widyanugraha
Skenario 8
Seorang perempuan berusia 35 tahun datang ke
poliklinik karena lehernya tampak membesar
sejak 3 bulan yang lalu.
Rumusan Masalah
Perempuan berusia 35 tahun datang ke poliklinik
karena lehernya tampak membesar sejak 3 bulan
yang lalu
Mind map

Penatalaksan
aan Komplikasi
Prognosis
Gejala
Klinis
Anamnesi
RM
s
Patofisiologi
Pemeriksa
an Epidemiolo
Diagnosi gi
s Etiologi
Anamnesis
Identitas pasien Riwayat penyakit sekarang
Bagaimana dengan nafsu makan?
Keluhan utama Apakah berat badan naik atau turun?
Apakah ada gangguan saluran cerna (diare)?
Riwayat penyakit Apakah leher terasa membesar? Apakah ada
sekarang pembengkakan pada leher?
Apakah ada sulit menelan?
Riwayat penyakit Apakah ada rasa nyeri pada pembengkakan?
Apakah banyak berkeringat dan tidak tahan
terdahulu panas?
Riwayat penyakit keluarga Apakah ada palpitasi dan nyeri dada?
Apakah penglihatan kabur/ double?
Riwayat pribadi/sosial Apakah merasa cepat lelah?
Adakah riwayat pembengkakan kaki di
Riwayat pengobatan pretibia? Sejak kapan? Ada nyeri tekan atau
tidak?
Riwayat Alergi
Hasil anamnesis: Leher membesar(+), berdebar-debar, berkeringat
lebih banyak(+) Makan , BB, Pengelihatan kabur dan dobel, sakit saat dan
ada gangguan menelan, ada riwayat jantung, darah tinggi. Ibu pasien memiliki
riwayat penyakit gondok.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Inspeksi
Kesadaran
Palpasi TTV
Auskultasi
Hasil:
Tampak sakit ringan, compos mentis
Tampak sakit ringan, compos mentis
TTV= 140/80 mmHg, N= 110x/menit, RR
20x/menit, T=37 C
Kelopak mata kanan, kiri bergetar dan
sulitb menutup
bola mata terlihat menonjol
Pembesaran yang ikut bergerak saat
menelan
Lingkaran lehar 36 cm
Tremor kedua tangan
Bunyi jantung ireguler, murmur sistolik
Pemeriksaan khusus tiroid
Pamberton sign
Tremor kasar
Anterior dan posterio approach
Pemeriksaan Oftalmopati
Jofroy sign
Von Stelwag sign
Von Grave sign
Rosenbach sign
Moebius sign
Exophtalmus
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis :
1. Pemeriksaan kadar serum dalam
darah
FT4 dan TSHs, maka diagnosis
hipertiroid dapat ditegakkan.
FT4 normal , TSHs , maka FT3 harus
diperiksa juga, diagnosis Graves
disease stadium awal dan T3-
secreting toxic nodules dapat
ditegakkan apabila FT3 meningkat.
2. USG
untuk membedakan massa yang solid
atau kistik, namun tidak dapat
membedakan massa jinak atau ganas.
3. Thyroid needle biopsy
membedakan cold nodule (tumor
jinak) atau hot nodule (bukan tumor
Anatomi

Kelenjar thyroid berbentuk kupu-kupu terletak pada


leher bagian bawah disebelah anterior trakea.
Kelenjar ini terdiri 2 lobus yang dihubungkan oleh
isthmus.
Kelenjar ini diperdarahi A.tiroid superior dan inferio
Panjang 5 cm serta lebar 3 cm dan berat 30 gram
Aliran darah tinggi (5 ml/menit/gram thyroid) = tingkat
aktifitas metabolik yang sangat tinggi
Menghasilkan 2 jenis hormon yang berbeda: tiroksin
(T4), serta Triidotironin (T3).
Histologi
Kelenjar tiroid juga mengandung
clear cell / sel parafolikular atau sel
C yang mensintesis kalsitonin.
T3mempengaruhi pertumbuhan,
diferensiasi, dan metabolisme. T3
selain disekresi oleh kelenjar tiroid
juga merupakan hasil deiodinasi
dari T4 di jaringan perifer.
T3 dan T4 disimpan terikat pada 3
protein yang berbeda yaitu
glikoprotein tiroglobulin di dalam
koloid dari folikel, prealbumin
pengikat tiroksin dan albumin serum
Histologi
Terdiri dari atas banyak folikel
berbentuk bundar dengan diameter
antara 50-500 miumeter.
Folikel ini berkelompok-kelompok
sebanyak kira-kira 40 buah.
Setiap folikel berisi cairan yang
pekat, koloid, sebagian besar terdiri
dari protein, khususnya glikoprotein
triglobulin.
Working Diagnosis: Graves Disease
Penyakit autoimun
Penyebab hipertiroidisme, tirotoksikosis
Hipertiroidisme, strauma difusa, ophtalmopati, dan dermopati.
Produksi autoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada
kelenjar tiroid.
Serum antibody IgG, ini berinteraksi dengan thyroglobulin,
thyroid peroxidase, sodium iodide symporter dan reseptor TSH
Immunoglobulin (TSI) sehingga meningkatkan pembentukan
hormon tiroid, k/ kelainan imunitas yang bersifat herediter.
Kelompokan limfosit tertentu dapat bertahan, berkembangbiak
dan mensekresi immunoglobulin stimulator sebagai respon
terhadap beberapa factor perangsang.
Graves Disease Subakut Tiroiditis Plummer disease Ca Tiroid
Penyebab Peradangankelenjar Ada pertumbuhan nodul Pertumbuhan sel
hipertiroidisme (60- tiroidyang biasanya tiroid yang abnormal di dalam
80%), membuat terjadi setelah infeksi memproduksi dan kelenjar tiroid.
antibodi yang saluran pernafasan mengeluarkan jumlah
menyebabkan bagian atas. hormone tiroid secara
kelenjar tiroid berlebihan.
membuat hormon
yang lebih dari
biasanya
Et/ Autoimun Et/ Staphylococcos Et/ nodul (multinodular) Et/ -
aureus
G/Oftalmopati, G/nyeri di leher G/ Kebanyakan nodul G/ benjolan, sakit(-), Sakit
strauma difusa, mendadak, tiroid (pembesaran tenggorokan , leher (+),
tiroksikosis. malaise, demam, multi nodular), kesulitan dalam menelan.
Hipermetabolisme, menggigil, dan gej.hipertiroidisme (+) , # Perubahan suara atau
tahan udara panas, takikardi dapat terjadi suara menjadi serak ,
keringat, BB , serak (Hoarseness) membaik setelah
palpitasi. karena penekanan beberapa minggu.
nervus vagus dan nodul
dapat mendorong
trakea.
PF/ Pembesaran PF/ Nyeri tekan, PF/ Multinoduler, PF/ Benjolan bulat di regio
difus pda Kel. Tiroid. menelan (+) Oftamlopati (+/-) coli, teraba masa,
Oftamlopati (+) , takikardia, Orbitopathy, Pretibial bentuknya bulat, batasnya
pamberton, tremor berkeringat, demam, Myxedema, acropachy jeals, konsitensinya
(+), Takikardi. tremorn (+) , tanda (-) keras/kenyal , permukaan
PP/ TSH, FT4, I123 , hipertiroidisme. PP/ Anti Thyroid licin immobile, melekat pda
Anti Thyroid PP/ leukositosis, Peroxidase Antibodies (-), jar skitar.
Peroxidase Antibodies LED , I123 TSH, FT4, PP/ Biopsi aspirasi
(+) jarum halus,
Etiologi
Autoantibodi tiroid (TSHR-Ab) yang mengaktifkan reseptor TSH (TSHR)
Macam autoantibodi tersebut adalah :
1. Thyroid stimulating immunoglobulin
2. Thyroid-growth-stimulating immunoglobulin (TGI)
3. TSH-binding inhibitor immunoglobulin (TBII)
. Merangsang tiroid sintesis dan sekresi hormon, dan pertumbuhan
tiroid (menyebabkan gondok membesar difus).

Epidemiologi
Usia bervariasi antara 20-40 tahun
Perempuan : laki-laki dari kejadian 5:1 10:1/ 5X>
daripada pria
Penyebab paling umum dari hipertiroid berat
30-50% orang dengan penyakit Graves (ophthalmopathy
Graves)
Faktor Resiko
Genetik 15x > dripda populasi umum ,Gen HLA rangkaian
kromosom ke-6 (6p21.3)
Wanita k/ modulasi respons imun oleh estrogen, epitope
ekstraseluler TSHR homolog dengan fragmen pada reseptor LH dan
homolog dengan fragmen pada reseptor FSH.
Status gizi dan BBL (prevalensi timbulnya penyakit autoantibodi
tiroid)
Stress (faktor inisiasi untuk timbulnya penyakit lewat jalur
neuroendokrin)
BakteriYersinia enterocolitica ( pnya protein antigen pada
membran selnya yang sama dengan TSHR pada sel folikuler
kelenjar tiroid)
Pada sindroma defisiensi imun (HIV), penggunaan terapi antivirus
dosis tinggi highly active antiretroviral theraphy (HAART).
Terapi dengan interferon
Gejala Klinis
Usia muda palpitasi, nervous, mudah capek,
hiperkinesia, diare, keringat berlebihan, tidak
tahan terhadap udara panas dan lebih suka udara
dingin.
Usia tua/ 60 thn kardiovaskuler dan miopati
(palpitasi, sesak waktu melakukan aktivitas,
tremor, nervous, dan BB).

Dermopati Penebalan pada kulit tibia bagian


bawah sebagai akibat dari penumpukan
glikoaminoglikan.
Patofisiologi
limfosit T perangsangan antigen yang berada didalam
kelenjar tiroid merangsang limfosit B mensintesis
antibodi terhadap antigen tersebut. Antibodi yang
disintesis reseptor TSH didalam membran sel tiroid
sehingga akan merangsang pertumbuhan dan fungsi sel
tiroid.
Adanya autoantibodi kerja mirip TSH (reseptor TSH) di membran
sel folikel tiroid
Autoantibodi IgG ini, yang disebut immunooglobulin perangsang
tiroid (Thyroid-Stimulating Immunoglobulin), thyroid peroksidase
antibodies (TPO), dan TSH receptor antibodies (TRAb)
menyebabkan perangsangan produksi hormon tiroid secara terus
menerus, sehingga kadar hormon tiroid menjadi tinggi.
Patoflow
Hipotalamus

Thyrotropin-Releasing Hormone

kelenjar hipofisa

Thyroid Stimulating Hormone -


Adanya autoantibodi reseptor pada sel folikel kel. tiroid

hormon tiroid dalam darah meningkat

Kadar TSH rendah


Komplikasi
Gagal Jantung
Terjadi ketika hipertiroid lama tidak diobati
Krisis tiroid
Terjadi dekompensasi tubuh terhadap tirotoksikosis.
Hipermetabolik yang mengancam jiwa, demam
tinggi dan disfungsi sistem kardiovaskular, sistem
saraf, dan sistem saluran cerna.
Tirotoksikosis yang terobati/ tuntas terobati
dicetuskan oleh tindakan operatif, infeksi, atau trauma
Gambaran klinisnya distress berat, sesak napas,
takikardia, hiperpireksia, lemah, bingung,
delirium,muntah, diare.
Penatalaksanaan
Medica mentosa:
1. PTU (Propyl thiouracyl)
dosis awal 100-150 mg setiap 6 jam, setelah 4-8
minggu dosis 50-200 mg 1-2 X/ hari
. Keuntungan PTU : Methimazole PTU dapat
menghambat konversi T4 T3 sehingga lebih efektif
dalam hormone tiroid secara cepat.

2. Methimazole
dosis awal dimulai 40 mg stiap pagi selama 1-2 bulan
dan menjadi 5-20 mg setiap pagi sebagai dosis
rumatan. Diberikan s/d remisi spontan, pada sekitar 20-
40% perbaikan dalam 6 bulan sampai 15 tahun.
. Keuntungan Methimazole :duration of action yang lebih
panjang > dgunkaan sbg single dose.
Prognosis
Pada umumnya penyakit Graves mengalami periode remisi
dan eksaserbasi, namun pada beberapa penderita setelah
terapi tetap pada kondisi eutiroid dalam jangka lama,
beberapa penderita dapat berlanjut ke hipotiroid. Follow up
jangka panjang diperlukan untuk penderita dengan
penyakit Graves.
Kesimpulan
Dari anamnesis dan gejala klinis serta pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan didapatkan bahwa
pasien pada skenario 8 ini di diagnosis Graves Disease. Penyakit
Graves merupakan penyebab tersering dari tirotoksikosis,
mencapai 60 hingga 80% dari total keseluruhan kasus
tirotoksikosis. Penyakit Graves saat ini dianggap sebagai penyakit
autoimun idiopatik. Tanda yang paling mudah untuk mengenali
pasien dengan penyakit Graves adalah dengan adanya
opthalmofati Graves. Dalam serum pasien ini ditemukan antibody
IgG. Prognosis penderita setelah terapi tetap pada kondisi eutiroid
dalam jangka lama, beberapa penderita dapat berlanjut ke
hipotiroid. Follow up jangka panjang diperlukan untuk penderita
dengan penyakit Graves