Anda di halaman 1dari 33

RONA MERAH DI PIPI

KELOMPOK A 16

Ketua : Aldinugraha Atmadinata 1102015015


Sekertaris : Annisa Iftitahul Jannah 1102014033
Anggota : Abellani Yulitasari
1102015001
Akbar Fitrianto 1102015013
Andi Aulia Ari Nurdewi 1102015021
Anggriani Rahayu 1102015026
Asa Gema Karuniawan 1102015036
Khalfia Khairin 1102015116
Rona Merah di Pipi
Seorang perempuan berusia 30 tahun, datang ke Rumah
Sakit dengan keluhan demam yang hilang timbul sejak 6
bulan yang lalu. Keluhan lainnya mual, tidak nafsu makan,
mulut sariawan, nyeri pada persedian, rambut rontok dan
pipi berwarna merah bila terkena sinar matahari.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu subfebris,
konjungtiva pucat, terdapat sariawan di mulut. Pada wajah
terlihat malar rash. Pemeriksaan fisik lain tidak didapatkan
kelainan. Dokter menduga pasien menderita Sistemic Lupus
Eritematosus.
Kemudian dokter menyarankan Pemeriksaan laboratorium
hematologi, urin dan marker autoimun (autoantibodi
misalnya anti ds-DNA). Dokter menyarankan untuk dirawat
dan dilakukan follow up pada pasien ini. Dokter menyarankan
agar pasien bersabar dalam menghadapi penyakit karena
membutuhkan penanganan seumur hidup.
Kata Sulit
1. Malar rash : Bercak merah sekitar hidung dan pipi dan tidak perih
2. Konjungtiva : Selaput lendir yang menutupi kelopak mata,
melipat kembali pada bola mata dan menutupi permukaan depan
bola mata
3. Suhu subfebris : Suhu tubuh yang tidak meningkat (37,5 o 38o C).
4. Autoimun : Respon imun terhadap antigen jaringan sendiri yang
disebabkan oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk
mempertahankan self-tolerance, Sel B dan Sel T atau keduanya
5. Autoantibodi : Antibodi yang dibentuk dalam respon dan bereaksi
terhadap antigen-antigen dari satu individu yang normal
6. Anti ds-DNA : Pemeriksaan untuk menentukan apakah
autoantibodi terhadap inti, sering muncul didalam darah atau
tidak
7. Sistemic Lupus Eritematosus : Penyakit multisistem yang hilang
timbul dengan berbagai presentsi klinis fungsi dan pormsi
imunologi yang abnormal dari antibodi yang menyerang antigen
dalam tubuh diri sendiri
Pertanyaan
1. Apakah penyebab dan faktor resiko pada penyakit
SLE ?
2. Kenapa pipi berwarna merah saat terkena sinar
matahari ?
3. Kenapa gejalanya timbul 6 bulan yang lalu ?
4. Apakah penyakit SLE dapat disembuhkan ?
5. Organ tubuh apa saja yang diserang oleh SLE ?
6. Pemeriksaan untuk SLE ?
7. Apakah SLE terjadi pada perempuan saja ?
8. Bagaimana sikap seorang muslim dalam
menghadapi suatu penyakit ?
Jawaban
1. Etiologi masih belum diketahui, tetapi kemungkinan
faktor resiko seperti : jenetik, lingkungan dan
hormonal
2. Pada SLE patosensivitas dan bila terkena sinar uv
menyebabkan mutasi DNA
3. Karena SLE merupakan penyakit kronis, sehingga
membutuhkan waktu
4. Karena SLE tidak dapat disembuhkan dan
membutuhkan penanganan seumur hidup
5. Beragam organ
6. Pemeriksaan ANA, pemeriksaan anti ds-DNA,
pemeriksaan primer dan sekunder, serologi
7. Karena perempuan mempunyai hormon estrogen
dapat memicu autoantibodi dan peningkatkan
produksi sitoksin
8. Banyak ikhtiar, sabar, tawakal
Hipotesis

LES merupakan penyakit autoimun.


Faktor penyebab genetik dan non genetik.
Untuk pemeriksaan LES dapat dilakukan
dengan pemeriksaan Laboratorium anti DS
DNA. Penyakit LES membutuhkan
penanganan seumur hidup karena itu
penderita dianjurkan sabar sesuai dengan
anjuran agama Islam.
Sasaran Belajar
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Penyakit Autoimun
LO 1.1. Menjelaskan Definisi Autoimun
LO 1.2. Menjelaskan Etiologi Autoimun
LO 1.3. Menjelaskan Klasifikasi Autoimun
LO 1.4. Menjelaskan Pemeriksaan Laboratorium
LO 1.5. Menjelaskan Pencegahan
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Systemic Lupus Erytematosus
LO 2..1. Menjelaskan Definisi Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.2. Menjelaskan Etiologi Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.3 Menjelaskan Epidemiologi Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.4. Menjelaskan Manifestasi Klinis Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.5. Menjelaskan Patofisiologi Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.6. Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.7. Menjelaskan Komplikasi Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.8. Menjelaskan Penatalaksanaan Systemic Lupus Erytematosus
LO 2.9. Menjelaskan Pencegahan Systemic Lupus Erytematosus
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Bersabar dalam Menghadapi Penyakit
LI 1. Penyakit autoimun
LO 1. 1. Definisi
Autoimunitas adalah respon imun terhadap antigen
jaringan sendiri yang disebabkan oleh mekanisme normal
yang gagal berperan untuk mempertahankan self-
tolerance, sel B, sel T dan keduanya.

Penyakit autoimun adalah kerusakan jaringan atau


gangguan fungsi fisiologis yang ditimbulkan oleh respon
autoimun. (Bratawidjaja,2012)
LO 1. 2. Etiologi
Secara umum, penyakit autoimun terjadi karena fungsi kerja imun yang terganggu seperti :
a. Faktor lingkungan :
Drug-induced
Beberapa obat dapat menginduksi produksi antibodi anti-nuclear dan anti-DNA, tetapi
jarang disertai dengan LES klinis. Kebanyakan kasus adalah ringan, membaik dan antibodi
akan menghilang bila obat yang menimbulkannya dihentikan. Contohnya seperti
procainamide, hidralazin, D-penisilamin dan minosiklin.
Terpajan benda metal bawaan
Benda metal atau logam dapat menimbulkan ekspresi autoantibodi dan penyakit
autoimun dengan cara menghambat sel imun untuk berproliferasi dan aktivasi. Salah satu
bentuk yang sudah banyak diteliti antara lain adalah silica. Silica dapat memacu produksi
antibodi anti-nuclear, rheumatoid factor, gejala LES atau sindrom scleroderma dengan
endapan kompleks imun di glomerulus dan glomerulosklerosis lokal.
Radiasi sinar UV
Sinar UV dapat mengubah struktur DNA yang menyebabkan terbentuknya
autoantibodi.Sinar UV juga bisa menginduksi apoptosis keratinosit manusia yang
menghasilkan blebs nuklear dan autoantigen sitoplasmik pada permukaan sel. Sinar UV juga
dapat menyebabkan inflamasi serta kerusakan jaringan.
Agen infeksi mikroorganisme
Mikroorganisme yang menginfeksi dapat mengubah susunan antigen tubuh,
sehingga sistem imun tubuh melihatnya sebagai benda asing dan melakukan respon imun
terhadapnya.
b. Faktor genetik
Beberapa peneliti menemukan adanya hubungan antara penyakit
LES dengan gen Human Leukocyte Antigen (HLA) seperti DR2, DR3
dari Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II. Individu dengan
gen HLA DR2 dan DR3 mempunyai risiko relatif menderita penyakit
LES 2-3 kali lebih besar daripada yang mempunyai gen HLA DR4 dan
HLA DR5. Peneliti lain menemukan bahwa penderita penyakit LES
yang mempunyai epitop antigen HLA-DR2 cenderung membentuk
autoantibodi anti-dsDNA, sedangkan penderita yang mempunyai
epitop HLA-DR3 cenderung membentuk autoantibodi anti-Ro/SS-A dan
anti-La/SS-B. Penderita penyakit LES dengan epitop-epitop HLA-DR4
dan HLA-DR5 memproduksi autoantibodi anti-Sm dan anti-RNP.
c,. Faktor hormonal
Penyakit autoimun lebih sering ditemukan pada wanita
dibanding pria.Puncak awitan penyakit autoimun terbanyak
ditemukan pada periode reproduksi.Estrogen diduga merupakan
pemicu.Kadar prolaktin yang timbul tiba-tiba setelah kehamilan
cenderung menimbulkan penyakit autoimun seperti artritis
rheumatoid.

LO 1. 3. Klasifikasi autoimun

Penyakit
Autoimun

Penyakit
Penyakit autoimun
autoimun non-spesifik
spesifik organ organ /
sistemik

Sindroma
myxedema Lupus
Tiroiditis Tiritoksisitas artritis
primer eritematosus
Hashimoto Graves reumatoid
(Tiroiditis sistemik
atrofik)
LO 1. 4. Pemeriksaan Lab
A. Marker Autoimun
Anti-nuklear antibodi (juga dikenal sebagai anti-nuclear factor atau ANF)
adalah autoantibodi yang mempunyai kemampuan mengikat pada struktur-struktur
tertentu didalam inti (nukleus) dari sel-sel lekosit.ANA yang merupakan imunoglobulin
(IgM, IgG, dan IgA) bereaksi dengan inti lekosit menyebabkan terbentuknya antibodi, yaitu
anti-DNA dan anti-D-nukleoprotein (anti-DNP).Anti-DNA dan anti-DNP hampir selalu
dijumpai pada penderita SLE..Uji ANA merupakan skrining untuk lupus eritematosus
sistemik (SLE) dan penyakit kolagen lainnya.
B. Hematologi
Hematologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari morfologi darah dan
jaringan pembentukan darah serta fisiologi dan patologinya untuk membantu tegaknya
suatu diagnosis. Untuk pemeriksaan hematologi dipakai darah kapiler atau vena :
Pemeriksaan darah rutin, yaitu pemeriksaan Hb, eritrosit, leukosit, trombosit, hitung jenis
leukosit, LED, golongan darah.
Pemeriksaan anemia, meliputi retikulosit, indeks retikulosit, TIBC, ferritin, transferrin, dan
asam folat.
Pemeriksaan viskositas darah, pemeriksaan kekentalan darah yang disebabkan oleh
protein plasma dan jumlah sel darah yang ada di aliran darah.
C. Urin
Tes urin yang sederhana untuk menentukan 4 protein yang dapat mendeteksi lebih
awal penyakit ginjal pada orang penderita lupus.Lupus adalah salah satu dari banyak
penyakit autoimun yang menyerang organ internal, jaringan sendi, dan bagian lain dari
tubuh.
LO 1. 5. Pencegahan

Untuk pencegahan penyakit autoimun


dapat
dilakukan hal-hal seperti, menghindari
sinar UV,
olahraga teratur, mengurangi rokok,
dan minum
suplemen vitamin D.
LO 2. Penyakit Systemic Lupus
Erythematosus (SLE)
LO 2. 1. Definisi

SLE merupakan penyakit


autoimun yang ditandai oleh
produksi antibodi yang berlebih
terhadap komponen komponen
inti sel yang berhubungan
dengan manifestasi klinis yang
luas.
LO 2. 2. Etilogi

Genetik
Sering pada anggota keluarga dan saudara kembar
monozigot (25%) dibanding kembar dizigotik (3%),
berkaitan dengan HLA seperti DR2, DR3 dari MHC
kelas II.
Individu dengan HLA DR2 dan DR3 risiko 2-3 kali
dibanding dengan HLA DR4 dan HLA DR5.
Gen HLA diperlukan untuk proses pengikatan dan
presentasi antigen, serta aktivasi sel T.
Haploptip (pasangan gen yang terletak dalam
sepasang kromosom yang menetukan ciri seseorang),
HLA menggangu fungsi sistem imun yang
menyebabkan peningkatan autoimunitas.
Penemuan terakhir
menyebutkan tentang gen dari
kromosom 1. Hanya 10% dari
penderita yang memiliki kerabat
(orang tua maupun saudara
kandung) yang telah maupun
akan menderita lupus. Statistik
menunjukkan bahwa hanya
sekitar 5% anak dari penderita
lupus yang akan menderita
penyakit ini.
Defisiensi komplemen
Defisiensi C3 / C4 jarang pada yang manifestasi
kulit dan SSP.
Defisiensi C2 pada LES dengan predisposisi genetik.
80% penderita defisiensi komplemen herediter
cenderung LES.
Defisiensi C3 menyebabkan kepekaan tehadap
infeksi meningkat, yang akan menyebabkan
predisposisi penyakit kompleks imun.

Defisiensi komplemen menyebabkan eliminasi


kompleks imun terhambat, menaikkan jumlah
kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi lebih
lama, lalu mengendap di jaringan yang
menyebabkan berbagai macam manifestasi LES.
Hormon

Estrogen : imunomodulator terhadap fungsi


sistem imun humoral yang akan menekan
fungsi sel Ts dengan mengikat reseptor
menyebabkan peningkatan produksi antibodi.
Androgen akan induksi sel Ts dan menekan
diferensiasi sel B (imunosupresor).
Imunomodulator adalah zat yang
berpengaruh terhadap keseimbangan sistem
imun.
3 jenis imunomodulator :
Imunorestorasi
Imunostimulasi
Imunosupresi
Lingkungan

Bakteri atau virus yang mirip antigen atau berubah menjadi


neoantigen.
Sinar UV akan meningkatkan apoptosis, pembentukan anti
DNA kemudian terjadi reaksi epidermal lalu terjadi kompleks
imun yang akan berdifusi keluar endotel setelah itu terjadi
inflamasi.

Faktor fisika / kimia


Amin aromatik
Hydrazine
Obat obatan (prokainamid, hidralazin, klorpromazin, isoniazid,
fenitoin, penisilamin)
Merokok
Pewarna rambut
Sinar ultra violet (UV)
Faktor makanan
Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan
L canavenine (kuncup dari alfalfa)

Agen infeksi
Retrovirus
DNA bakteri / endotoksin

Hormon dan esterogen lingkungan


Terapi sulih hormone (HRT), pil kontrasepsi oral
Paparan estrogen prenatal
LO 2. 3. Epidemiologi

Prevalensi pada berbagai populasi berbeda-beda bervariasi


antara 3 400 orang per 100.000 penduduk (Albar,2003).SLE
lebih sering ditemukan pada ras-ras tertentu seperti bangsa
AfrikaAmerika, Cina, dan mungkin juga Filipina. Di Amerika,
prevalensi SLE kira-kira 1 kasus per 2000 populasi dan
insiden berkisar 1 kasus per 10.000 populasi (Bartels, 2006).
Prevalensi penderita SLE di Cina adalah 1 :1000 (Isenberg
and Horsfall,1998). Meskipun bangsa Afrika yang hidup di
Amerika mempunyai prevalensi yang tinggi terhadap SLE,
penyakit ini ternyata sangat jarang ditemukan pada orang
kulit hitam yang hidup di Afrika.
DiIndonesia sendiri jumlah penderita SLE secara tepat
belum diketahui tetapi diperkirakan sama dengan jumlah
penderita SLE di Amerika yaitu1.500.000orang (Yayasan
Lupus
Indonesia)
LO 2. 4. Manifestasi

Kulit
Serositis
Ginjal
Hematologi
Pneumonitis interstitialis
Susunan saraf pusat
Arthritis
Fenomena Raynaud
LO 2.5 . Patogenesis

Faktor pemicu akan memicu sel T autoreaktif yang


akan menyebabkan induksi dan ekspansi sel B. Lalu,
akan muncul antibodi terhadap antigen
nukleoplasma, meliputi DNA, nukleoprotein, dan
lain- lain yang akan membentuk kompleks
imun.Kompleks imun dalam keadaan normal, dalam
sirkulasi diangkut oleh eritrosit ke hati dan limpa lalu
dimusnahkan oleh fagosit. Tetapi dalam LES, akan
terdapat gangguan fungsi fagosit, yang akan
menyebabkan kompleks imun sulit dimusnahkan
dan mengendap di jaringan. Lalu, kompleks imun
tersebut akan mengalami reaksi hipersensitivitas
tipe IV.
LO 2.6. Diagnosis
Pemeriksaan tes imunologi seperti ANA merupakan pemeriksaan yang penting
dalam membantu diagnosis LES, walaupun tidak spesifik untuk LES tetapi
sangat sensitif (95%) sehingga dapat dipakai sebagai skrining tes ANA yang
positif bias juga didapatkan pada beberapa penyakit autoimun yang lain seperti
sclerosis sistemik, poliomisitis, dermatomiositis, artritis rheumatoid, tiroiditis
autoimun, keganasan serta obat-obatan.
Antibodi anti ds-DNA merupakan pemeriksaan yang penting pada penderita
LES, karena 70% didapatkan pada penderita dengan lupus dan sangat spesifik
untuk LES
Penegakan diagnosis LES dilakukan melalui kriteria yang ditetapkan oleh
American College of Rheumatology revisi tahun 1997. Diagnosis LES ditegakkan
bila ditemukan 4 dari 11 kriteria dibawah ini :
Ruam malar
Ruam discoid
Foto sensitivitas
Ulkus di mulut atau stomatitis
Artritis non erosif
Pleuritis atau pericarditis
Gangguan ginjal
Gangguan neurologik
Gangguan hematologic
Gangguan imunologik
LO 2. 7. Diagnosis banding

begitu beragamnya manifestasi klinik penderita LES


diagnosis banding tergantung pada keluhan spesifik
yang ada pada masing-masing pasien. Diagnosis
banding diantaranya : artritis rheumatoid, sindrom
sjogren, sindrom antifosfolipid antibodi, fibromyalgia,
trombositopeni purpura idiopatik, lupus oleh karena
obat-obatan (drug induced lupus) dan penyakit tiroid
autoimun
LO 2. 8. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada Systemic Lupus
Eritematosus:
Gagal ginjal adalah penyebab tersering kematian pada
penderita LES. Gagal ginjal dapat terjadi akibat deposit
kompleks antibodi-antigen pada glomerulus disertai
pengaktifan komplemen resultan yang menyebabkan cedera
sel.
Dapat terjadi perikarditis (peradangan kantong perikardium
yang mengelilingi jantung).
Peradangan membran pleura yang mengelilingi paru-paru
dapat membatasi pernafasan. Sering terjadi bronchitis.
Dapat terjadi vaskulitis di semua pembuluh serebrum dan
perifer.
Komplikasi susunan saraf pusat termasuk stroke dan kejang.
Perubahan kepribadian, termasuk psikosis dan depresi, dapat
terjadi. Perubahan kepribadian mungkin berkaitan dengan
terapi obat atau penyakitnya.
LO 2. 9. Penatalaksanaan Tidak
mengancam
jiwa
Terapi
NSAID
Konservatif
Hidroksikloroku
in

Terapi Glukokortikoi
Agresif d dosis tinggi

Siklofosfamid

Myciphenolate
mofetil (MMF)
Penatalaksanaan Terapi
Azathioprine
Farmakologi

Leflunomide

Methotrexate

Edukasi

Terapi non- Dukungan sosial


farmakologi dan psikologis

Tabir surya
LO 2. 10. Pencegahan

Mencegah penyakit lupusbisa dilakukan


dengan cara:
1. Menghindari stres dan menerapkan
pola hidup sehat
2. Mengurangi kontak langsung
berlebihan dengan sinar matahari
3. Stop / berhenti merokok
4. Berolah-raga teratur
5. Melakukan diet nutrisi
LI 3. Bersabar dalam Menghadapi
Penyakit
SABAR
Definisi sabar
Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti: al-habs atau al-kaf
(menahan), Allah berfirman:

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang
menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari. (Al-Kahfi: 28)
Maksudnya: tahanlah dirimu bersama mereka.

Macam macam sabar


Sabar terdiri dari 3 macam, yaitu:
1. sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah
2. sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat terhadap Allah
3. sabar dalam menerima taqdir yang menyakitkan.
IKHLAS
Definisi ikhlas
Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak
tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya.
Definisi ikhlas menurut istilah syari (secara
terminologi)Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama
bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari
definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada
yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah menjadikan tujuan
hanyalah untuk Allah tatkala beribadah, yaitu jika engkau
sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan
kepada Allah bukan kepada manusia.
Ayat ayat Al-Quran tentang ikhlas:
"Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran)
dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan
Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)."(QS. Az-Zumar: 2-3).
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya
dalam (menjalankan) agama." (QS. Az-Zumar: 2-3).
RIDHO
Definisi ridho
Ridho (
) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan
dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah
mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang
menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik
menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah
kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi
hamba-Nya.
Ayat al-quran tentang ridho




Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang
diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali Imran ayat 19)







Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullahshollallahu
alaih wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab
ayat 21)
DAFTAR PUSTAKA

Akib, Arwin, et al.2010.Buku Ajar Alergi-Imunologi Anak Edisi Kedua. Jakarta: IDAI

Al-Quran Tafsir Per Kata, Tajwid Kode Angka, Alhidayah. Karim

Baratawidjaja KG, Rengganis I. 2010. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Bertsias, George, ell.2012.Systemic Lupus Erythematosus : Pathogenesis and Clinical


Features. Diakses
tanggal Minggu, 27 Mei 2012 pada pukul 20.15 WIB

Diminati, dr alifa dkk. (2010).Kamus Kedokteran Dorlan. Edisi 31, Jakarta : EGC

Eramuslim ( media islam rujukan )

Price SA, Wilson LM. 2015. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, 6thed, Jilid II. Jakarta :
EGC

Sudoyo AW, et al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 6th ed, Jilid I. Jakarta : Interna
Publishing

Tanto Chris, et al. 2014. Kapita Selekta Kedokteran,4th ed. Jakarta : Media Aesculapius