Anda di halaman 1dari 38

SIKLUS GIZI

KESEHATAN
MASYARAKAT

AKMAL NOVRIAN SYAHRUDDIN


P1803215012
S2 GIZI
MONITORING IMPLEMEN
EVALUASI TASI

IDENTIFIKASI
MASALAH SIKLUS
SIKLUS
PENYUSUNAN
PROGRAM
GIZI
GIZI
TARGET
TUJUAN
KUANTITATIF
UMUM
TUJUAN
KHUSUS
IDENTIFIKASI MASALAH
KEP
keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi
dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka
Kecukupan Gizi (AKG). Manifestasi dari KEP adalah status gizi
seseorang, baik itu gizi kurang maupun gizi buruk

SK Menkes ttg Antropometri tahun 2010 tentang standar antropometri


penilaian status gizi anak, gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan
pada indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U), yaitu bila nilai z-skor
berat BB/U kurang dari -3,0 SD baku WHO 2005

Padanan gizi buruk sesuai SK Menkes ini adalah severe underweight.


dalam klasifikasi, severe malnutrition meliputi 3 tipe, yaitu: oedematous
malnutrition, severe wasting, dan severe stunting
Severe acute malnutrition (SAM), yaitu
bila z-skor BB/PB <-3,0 SD, edematous
malnutrition atau LiLA <110 mm. Istilah
chronic malnutrition dimaksudkan untuk
masalah stunting menggunakan kategori
Tinggi Badan menurut umur (TB/U).
GIZI BURUK
INDEKS STATUS GIZI WHO-2005

BB/U Gizi Lebih > 2SD


0-60 bulan Gizi baik -2SD s/d 2SD
Gizi Kurang < -2SD s/d 3SD
Gizi Buruk (Sangat Kurang) < -3SD

PB/U atau Tinggi > 2SD


TB/U Normal -2SD s/d 2SD
0-60 bulan Pendek -3SD s/d < -2SD
Sangat Pendek < -3SD

BB/PB atau Gemuk > 2SD


BB/TB Normal -2SD s/d 2SD
SAM atau Gizi Buruk
Gizi Buruk Tanpa
Komplikasi
BB/TB: < -3 SD dan atau;
Terlihat sangat kurus dan atau;
Adanya Edema dan atau;
LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59
bulan
Gizi Buruk dengan
Komplikasi
disertai salah satu atau lebih dari
tanda komplikasi medis berikut:
Anoreksia
Pneumonia berat
Anemia berat
Dehidrasi berat
Demam sangat tinggi
Kemenkes, 2011 Pedoman tata laksana gizi buruk
Penurunan kesadaran
KEP TANDA KLINIS
Kwashiorkor
Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama
pada punggung kaki (dorsum pedis)
Wajah membulat dan sembab
Pandangan mata sayu
Rambut tipis, kemerahan seperti warna
rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa
sakit, rontok
Perubahan status mental, apatis, dan rewel
Pembesaran hati
Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila
diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
Kelainan kulit berupa bercak merah muda
yang meluas dan berubah warna menjadi
coklat kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement dermatosis)
Marasmus
Tanpa Odema
Tampak sangat kurus, tinggal tulang
terbungkus kulit
Wajah seperti orang tua
Cengeng, rewel
Kulit keriput, jaringan lemak subkutis
sangat sedikit sampai tidak ada (baggy
pant/pakai celana longgar)
Perut cekung
Marasmik-Kwashiorkor
merupakan gabungan dari kedua KEP
di atas.
WHY KEP ???
Kurang Energi Protein (KEP) adalah salah satu
masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada
balita di Negara berkembang
Kurang energy protein faktor risiko tingginya angka
kesakitan dan kematian terutama anak-anak.
WHO memperkirakan terdapat 60% dari total
keseluruhan angka kematian, terjadi pada anak
usia dibawah 5 tahun pada Negara berkembang
WHY ??
KEP dapat menghambat pertumbuhan,
rentan terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya
tingkat kecerdasan,
menyebabkan hilangnya masa hidup sehat
balita, serta dampak yang lebih serius adalah
timbulnya kecacatan, tingginya angka
kesakitan dan percepatan kematian
Gizi buruk (BB/U <-3SD) pada balita dari tahun ke tahun
cenderung naik. Tahun 2007 tercatat prevalensi Gizi buruk 5,4 persen
semntara tahun 2013 naik menjadi 5,7%. Sedangkan status gizi kurang
tahun 2007 tercatat 13.0 sementara tahun 2013 naik menjadi 13.9%.
(Riskesdas, 2013)

Sulsel, berdasarkan Pemantauan status gizi (2015), prevalensi gizi


buruk balita berdasarkan BB/U 5,0% jauh diatas rata-rata nasional
yaitu 3,9% dan prevalensi Gizi Kurang 17,1% dengan rata-rata nasional
14,9%. (PSG,2015)
Puskesmas tamalate Makassar, jumlah balita gizi kurang
menurut BB/U tercatat 217 anak (bulan Maret) dan untuk gizi buruk (<-
3SD) tercatat 61 anak (bulan Maret).

Arnelia (2011) menyatakan bahwa Pemberian formula f-75 dan


f-100 dalam kemasan sachet serta paket makanan lain bagi anak gizi
buruk dalam program pemulihan rawat jalan secara signifikan
meningkatkan rerata asupan energi mendekati jumlah yang dianjurkan
150-220 kkal/kg/ha
Kemenkes, 2011 Pedoman tata laksana gizi buruk
Tujuan Umum

Semua Balita yang Mengalami Gizi


Buruk Tanpa Gejala Klinis
berdasarkan indeks BB/U dan
BB/PB (<-3SD) Mendapat
Perawatan
Tujuan Khusus
Meningkatnya cakupan tatalaksana kasus gizi buruk
tanpa gejala klinis (BB/U dan BB/PB) di Puskesmas
Meningkatnya kualitas tatalaksana kasus gizi buruk
tanpa gejala klinis (BB/U dan BB/PB) di Puskesmas
Meningkatnya kepatuhan keluarga dalam
memberikan makanan tambahan
Target

Cakupan balita gizi buruk mendapat


perawatan dengan target 100%
Cakupan Anak mendapat Makanan Tambahan
100%
Penyusunan Program
1. Revitalisasi Posyandu
2. Perawatan/pengobatan gratis di rumah
sakit/puskesmas

3. Peningkatan Surveilance Gizi


a. Sistem Kewaspaadaan Gizi
b. Pemantauan Status Gizi
c. Pemantauan Konsumsi Gizi
(Ketersediaan bahan pangan dan
pola konsumsi)
d. Analisis Data Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS) Gizi Program
PKM
Penyusunan Program (2)
4. Advokasi dan pendampingan
5. Promosi keluarga sadar gizi (KADARZI)
6. Penanggulangan masalah gizi dengan melakukan
Intervensi Gizi terdiri dari pemberian MP-ASI, Suplemen
Gizi (Vit. A dan Tab. Fe), PMT Pemulihan Balita Gizi Kurang,
PMT Penyuluhan, PMT Bumil KEK dan Tablet Fe
(terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu hamil),
Mineral Mix, Taburia
Pendidikan Gizi (penyuluhan gizi, konseling ASI & MP-ASI),
Pembentukan Pusat Pemulihan Gizi sebagai tempat perawatan
intesnsif bagi anak gizi buruk dilakukan secara rawat inap

Program
PKM
Implementasi
Sesuai dengan tatalaksana gizi buruk, maka program yang
akan di implementasikan adalah penanganan gizi buruk
untuk rawat jalan bagi balita tanpa Gejala Klinis.
Apakah Penderita gizi buruk atau anak sangat kurus
harus dirawat inap di rumah sakit ??
Banyak Kendala ; fasilitas rawat inap, tata laksana
rawat jalan belum berjalan maksimal, kendala
keluarga, biaya
Rawat jalan dan PMT Pemulihan
merupakan alternatif Perawatan anak Gizi Buruk
Langkah Persiapan
1. Peralatan
Alat antropometri : timbangan atau dacin, alat ukur PB/TB, pita
LiLA
Formulir pencatatan dan pelaporan.
PMT Pemulihan: makanan lokal, Makanan Untuk Pemulihan
Gizi, F-100
Obat gizi seperti Kapsul Vitamin A, Tablet Tambah Darah,
Mineral Mix, dan Taburia
Obat-obatan lain, misalnya obat cacing, antibiotic
Peralatan lain seperti: ATK, APE, alat masak, dll
2. Pelatihan ; nakes (TPG, Perawat,
Bidan) dan kader
Pelaksanaan
Tenaga Pelaksana
Perawat : pendaftaran dan asuhan keperawatan
Ahli gizi (TPG) melakukan pemeriksaan antropometri,
konseling, pemberian Makanan untuk Pemulihan Gizi, makanan
therapeutic/gizi siap saji, makanan formula
Bidan di desa koordinator di wilayah kerjanya, skrining dan
pendampingan bersama kader
Kader melakukan penemuan kasus, merujuk dan melakukan
pendampingan
Waktu dan frekuensi
pelaksanaan
Pelayanan pemulihan anak gizi buruk dilaksanakan sampai
dengan anak berstatus gizi kurang (-2 SD sampai -3 SD).
frekuensi sebagai berikut:
3 bulan pertama, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap minggu
Bulan ke 4 sampai ke 6, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap 2
minggu
Anak yang belum dapat mencapai status gizi kurang (-2 SD
sampai -3 SD, dan tidak ada edema) dalam waktu 6 bulan, dapat
melanjutkan kembali proses pemulihan, dengan ketentuan, jika:
Masih berstatus gizi buruk, rujuk ke RS atau Puskesmas
Perawatan atau Pusat Pemulihan Gizi (PPG)
Sudah berstatus gizi kurang, maka dilanjutkan dengan program
pemberian makanan tambahan dan konseling.
Pelayanan penanganan anak
secara rawat jalan
Pendaftaran
Pengukuran antropometri : BB ditimbang tiap minggu dan PB
atau TB tiap bulan. indeks antropometri yang digunakan adalah TB/U,
BB/U, BB/TB atau BB/PB
Pemeriksaan Klinis.
Pemberian Konseling; informasi terkait pertumbuhan anak,
mencari penyebab dan memberi nasihat terkait kurang gizi, memberikan
anjuran makan sesuai umur dan kondisi, menyiapkan formula,
melaksanakan anjuran makan, memilih atau mengganti makan
Pemberian paket obat dan Makanan untuk Pemulihan Gizi :
a. Obat
b. Makanan untuk pemulihan gizi
Lanjutan
a. Jenis pemberian ada 3 pilihan: makanan therapeutic atau gizi siap
saji (RUTF), F100 atau makanan lokal
b.Pemberian jenis Makanan untuk pemulihan gizi disesuaikan masa
pemulihan (rehabilitasi) : 1 minggu pertama pemberian F 100/RUTF,
Minggu berikutnya jumlah dan frekuensi F100/RUTF dikurangi
seiring dengan penambahan makanan keluarga.
c.Tenaga kesehatan memberikan makanan untuk pemulihan gizi
kepada orangtua anak gizi buruk pada setiap kunjungan sesuai
kebutuhan hingga kunjungan berikutnya.
Kunjungan Rumah
Rujukan ; Komplikasi medis/penyerta, BB tdk naik 3 kali knjungan,
timbul edema baru
Drop Out
Telah Pulih Keadaan Gizinya
Tempat Pelaksanaan
Pelayanan Kesehatan dilakukan di
fasiltas kesehatan
Pemberian makanan dilakukan di
rumah
Prinsip Makanan Pemulihan

Makanan Pemulihan Gizi berupa: F100, makanan


therapeutic/gizi siap saji dan makanan lokal. Makanan lokal
dengan bentuk mulai dari makanan bentuk cair, lumat, lembik,
padat.
Bahan dasar utama Makanan Untuk Pemulihan Gizi dalam
formula F100 dan makanan gizi siap saji (therapeutic feeding)
adalah minyak, susu, tepung, gula, kacangkacangan dan
sumber hewani. Kandungan lemak sebagai sumber energi
sebesar 30-60 % dari total kalori.
Makanan lokal dengan kalori 200
kkal/Kg BB per hari, yang diperoleh
dari lemak 30-60% dari total energi,
protein 4-6 g/Kg BB per hari.
Jumlah dan Frekuensi

1. diberikan secara bertahap:


Fase rehabilitasi awal 150 kkal/kg BB per
hari,yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari.
Diberikan selama satu minggu dalam bentuk
makanan cair (Formula 100).
Fase rehabilitasi lanjutan 200-220 kkal/kg BB
per hari, yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari
(Formula 100).
2. Anak gizi buruk tanpa tanda klinis langsung
diberikan fase rehabilitasi lanjutan 200-220
kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali
pemberian/hari (Formula 100).

Catatan :
Bila berat badan anak < 7 Kg ; diberikan makanan bayi (lumat)
Bila berat badan anak > 7 Kg ; diberikan makanan anak (lunak)
Fase Rehabilitasi lanjutan diberikan
selama 5 minggu dengan pemberian
makanan secara bertahap dengan
mengurangi frekuensi makanan cair
dan menambah frekuensi makanan
padat.
Monitoring dan Evaluasi
Monitoring Rawat Jalan
Dilakukan berdasarkan
Status gizi. Pengukuran BB setiap minggu,
pengukuran TB setiap 1 bulan dilakukan oleh
tenaga kesehatan.
Konsumsi makanan. Pengisian formulir
catatan harian konsumsi khusus makanan cair
diisi oleh kader/keluarga di posyandu atau saat
kunjungan rumah. Formulir ini dibawa ke
Puskesmas 1 minggu sekali.
Pemeriksaan Klinis
Indikator
input : tenaga, alat antropometri, obat, media konseling,
makanan formula

Proses. Terlaksananya proses skrining,Kunjungan rumah,


Kelengkapan pencatatan pelaporan, Tidak terlambat melakukan
rujukan, Semua anak gizi buruk tidak ada yang Drop Out (DO),
Semua anak rutin hadir pada setiap jadwal buka, Penanganan Anak
Gizi Buruk Secara Rawat Jalan

Output. Semua anak gizi buruk yang sesuai kriteria mengikuti


rawat jalan, Peningkatan status gizi anak yang mengikuti rawat jalan
Evaluasi

Dilakukan selama 6 bulan untuk anak


yang mengikuti program pelayanan anak
gizi buruk
Evaluasi program satu tahun sekali:
mencakup jumlah anak yang mengikuti
program, lulus, Drop Out (DO), dan
meninggal.
THANK U