Anda di halaman 1dari 28

RESPON IMUN

TERHADAP JAMUR
Drg. Eliza Kristina M
160721160004

1
Sistem imun (Kekebalan tubuh)

Berbagaipatogen: bakteri, virus, jamur, parasit ditemukan


dalam lingkungan hidup yang setiap saat dapat masuk ke dalam
tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit

Sistem
imun diperlukan agar tubuh dapat mempertahankan
keseimbangan antara lingkungan di luar dan dalam tubuh

2
Sistem imun - Kekebalan tubuh

Sistemimun = mekanisme tubuh untuk mempertahankan


keutuhannya thd bahaya, baik yg berasal dari luar tubuh,
maupun dari dalam tubuh sendiri

Bila patogen tidak dapat disingkirkan penyakit, kerusakan


jaringan bahkan kematian

3
SISTEM IMUN

NON SPESIFIK / ALAMIAH SPESIFIK / DIDAPAT

FISIK LARUT SELULER HUMORAL SELULER

Kulit Biokimia Fagosit Sel B Sel T


Selaput lendir Mononuklier
Lisozim (keringat) IgD Th1
Polimorfonuklier
Silia Sekresi sebaseus IgM Th2
Sel NK
Batuk Asam lambung IgG Ts
Sel mast
Bersin Laktoferin IgE Tdth
Basofil
Asam neuraminik IgA Tc
Eosinofil
Humoral
Komplemen
Interferon
CRP

4
Fungsi
sistem imunitas tubuh :
Mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus,
dan organisme lain
Menghasilkan antibodi (sejenis protein yang disebut
imunoglobulin) untuk memerangi serangan bakteri dan virus
asing ke dalam tubuh.
Tugas sistem imun adalah mencari dan merusak invader
(penyerbu) yang membahayakan tubuh manusia.

5
JAMUR
Jamur merupakan
mikroorganisme saprofit
pada manusia yang
terdapat pada permukaan
tubuh maupun pada
mukosa.
Infeksijamur dapat
bersifat invasif dan
menginduksi infeksi
oportunistik pada pasien
yang imunokompromais. Sumber : Yusuke Kiyoura, Riyoko Tamai. Innate immunity to
6
Candida albicans. 2014
7
8
9
Regezi et al, 2012

Shmuel Shoham and


Stuart M. Levitz. The
immune response to
10
fungal infections.2005
IMUNITAS ALAMIAH
Pertahanan pertama: - LL-37
Hambatan fisik epitel LL-37 bersifat chemotactic untuk neutrofil dan
Peptida antimikroba : monosit. Peptida ini menghambat adhes C. albicans
defensin dengan aktivitas dan membunuh microorganism. LL-37 juga
antimikroba spektrum luas mengganggu membran sel C. Albicans.
yang terdapat dalam epitel - B-Defensin
oral Telah diidentifikasi terdapat dalam epitel gingiva,
air liur, dan cairan sulkus gingiva, menunjukkan
Sekretori IgA, yang aktivitas antijamur.
mengagregasi ragi dan - Histatin
membantu clearance. Disekresi kelenjar parotis, submandibular,
saliva. sublingual.Histatin 5 memiliki aktivitas fungisida
paling ampuh pada C. albicans. Peptida
menyebabkan cacat pada membran C. albicans
11
Garis pertahanan kedua : Fagosit.
Pada host imunokompeten, neutrofil,
eosinofil, monosit menfagositosis ragi
dan hifa.
Pada respon inflamasi akut, neutrofil
mendominasi dalam proses
candidacidal.
Untuk meningkatkan efisiensi,
granulosit dan makrofag
membutuhkan augmentation sitokin
seperti interferon-gamma (IFN-
),granulocyte-macrophage colony-
stimulating factor (CSF), dan IL-1 dan
IL-2, yang diproduksi oleh sel-T
12
Terdapat 2 bentuk PPRs :

1. Melekat pada permukaan sel


imun: Toll like receptors
(TLRs), Mannan binding lectin
(MBL) dan C-type lectin
receptor/ CLR (dectin-1).

2. PPRs yang terdapat dalam


bentuk sekresi antara lain Lung
surfactant proteins A dan D (SP-
A and SP-D).

13
- Pengenalan PAMPS
melalui dektin-1, TLR2,
dan TLR4 : meningkatkan
pembentukan sitokin
proinflamatori tumor
necrotic factor-/ TNF-.
- Pengenalan PAMPS
melalui SP-A dan SP-D :
meningkatkan
kemotaksis, fagositosis,
oxidative killing, serta
aglutinasi konidia.

LOUIS Y. A. CHAI*$, MIHAI G. NETEA*, ALIEKE G.14VONK% & BART-JAN KULLBERG


Fungal strategies for overcoming host innate immune
response
Eradikasi konidia terjadi melalui
- Aktivasi sistem imun oleh hifa ke
proses asidifikasi dan pembentukan
ruang ekstraseluler ditandai
Reactive Oxygen Intermediet (ROI) di
1. proses inflamasi
fagolisosom.
2. sekresi ROI ke ekstraseluler
90% konidia yang diinternalisasi oleh 3. peningkatan kemotaksis netrofil
makrofag akan mati dalam 24 jam. 4. peningkatan produksi peptide
Sepuluh persen sisanya akan antimikrobial.
berkembang menjadi bentuk hifa
atau tetap bertahan dalam bentuk - Resting conidia akan menginduksi
resting conidia. aktivasi komplemen melalui jalur
Bentuk morfologi yang berbeda akan alternatif (alternative pathways)
mengaktivasi komplemen dari jalur
yang berbeda. - Hifa akan menginduksi aktivasi
komplemen melalui jalur klasik
(classical pathways).
15
Respon imun adaptif

Sel dendritik (DCs) : sel yang Sel imun yang berperan dalam pada
menghubungkan sistem imun alamiah mekanisme imun seluler adalah Sel
dan adaptif. Th1.
Aktivasi sel Th1 akan menginduksi
Respon imun seluler (Cell Mediated terjadinya proses inflamasi.
Immunity/ CMI) akan terinduksi oleh sitokin proinflamasi yang perperan
pengenalan konidia Aspergillus oleh dalam mekanisme ini : interferon-
DCs melalui TLR4. (IFN-), IL-6, IL-12, TNF-,
Respon imun humoral akan terinduksi Granulocyte-Macrophage Colony
oleh pengenalan hifa Aspergillus oleh Stimulating Factor (GM-CSF).
DCs melalui TLR 2.
Aktivasi sel Th2 akan menginduksi
antibodi. 16
Bentuk hifa memiliki karakteristik
khas mampu menginduksi terjadinya
infeksi kronis.
Bentuk hifa mampu memproduksi
kolagenase, elastase dan protease
yang berperan penting dalam
destruksi matriks ekstraseluler
secara lansung.
Bentuk morfologi hifa juga mampu
melekat pada matriks ekstraseluler.
Kedua hal ini akan memfasilitasi
terjadinya infeksi yang kronis dan
progresif.

LOUIS Y. A. CHAI*$, MIHAI G. NETEA*, ALIEKE G. VONK%


17 & BART-JAN KULLBERG
Fungal strategies for overcoming host innate immuneresponse
MEKANISME JAMUR DALAM
MENGHINDARI SISTEM IMUN TUBUH
- 3. Pembentukan molekul
Secara umum terdapat enam pengumpan pada permukaan sel
mekanisme jamur untuk menghindar jamur.
dari sistem imun. Mekanisme tersebut - 4. Menghindar dari respon
antara lain : fagositosis.
- 5. Kemampuan bertahan dengan
1. Menghindari pengenalan struktur
cara membentuk morfologi yang
PAMPs yang menginduksi respon
baru
inflamasi.
- 6. Evasi komplemen
2. Modulasi sinyal inflamasi.

18
1. Menghindari
pengenalan struktur
PAMPs yang menginduksi
respon inflamasi.
Jamur mampu beradaptasi
terhadap lingkungan yang
tidak menguntungkan
melalui perubahan bentuk
morfologi (switching
fenotip).

LOUIS Y. A. CHAI*$, MIHAI G. NETEA*, ALIEKE G. VONK% & 19


BART-JAN KULLBERG
Fungal strategies for overcoming host innate immuneresponse
Histoplasma capsulatum
menghindari sistem imun seluler
melalui penutupan struktur -
glukan oleh (1,3) glukan.
Struktur (1,3) glukan ini tidak
mampu dikenali oleh PRRs.
C. Albicans menghindari sistem
imun seluler melalui bentuk
tunas (budding). Bentuk
morfologi ini akan sulit dikenali
oleh dektin-1 oleh karena
terjadinya penutupan pada
struktur -glukan

20
2. Modulasi sinyal inflamasi

C. Albicans dan A. Fumigatus menghindari sistem


imun seluler melalui induksi pengenalan PAMPs
melalui TLR2. Aktivasi sistem imun ini akan
menghambat aktivitas antihifa oleh monosit.
C. neoformans memiliki kapsul yang mengandung
polisakarida glukoronoksilomanan yang
merupakan aktivator antiinflamasi IL-10 oleh
monosit dan aktivator sitokin proinflamasi Th2.
C. neoformans memiliki pigmen melanin yang
akan menginduksi sekresi sitokin IL-4 dari Th2

21
3. Pembentukan molekul pengumpan pada permukaan sel jamur.

Pembentukan molekul pengumpan


yang mirip struktur PAMPS pada
permukaan sel jamur akan
menggantikan fungsi pengenalan
antara PAMPS dengan PRRs yang
sesuai.
Dengan terjadinya pengenalan
pada struktur ini, maka akan
terjadi bloking pada reseptor
PRRs.

22
4. Menghindar dari respon fagositosis

Salah satu cara yang dilakukan oleh jamur


untuk dapat menghindari immune
surveillance dan fagositosis, adalah dengan
cara bersembunyi pada sel yang bersifat
nonfagositik.
Konidia A. fumigatus dapat diinternalisasi
di dalam sel epithelial,mampu hidup dalam
jangka waktu yang lama.
Temuan ini membuktikan bahwa patogen
jamur dapat bersembunyi pada sel
nonphagocyti dari deteksi fagosit, dan
ketika ada kesempatan dapat menyebarkan
dari reservoir dalam host. 23
5. Kemampuan bertahan dengan cara membentuk
morfologi yang baru (persistence despite adversity).
Pada dasarnya melalui mekanisme ini, - C. albicans yang diinternalisasi dalam
jamur yang telah diinternalisasi akan makrofag mampu mengubah zat NO
bertahan dari mekanisme destruksi yang diproduksi oleh makrofag menjadi
sel fagositik dengan cara membentuk senyawa lain dengan toksisitas yang
morfologi yang baru. lebih rendah sehingga mampu
berkembang menjadi bentuk morfologi
hifa.
C. neoformans membentuk varian
- Histoplasma capsulatum dapat hidup
koloni mukoid yang mampu
dalam jangka panjang didalam sel
memproduksi kapsul polisakarida
makrofag dengan cara menghambat fusi
yang lebih besar.
fagolisosom, mengatur PH fagolisosom,
serta menghambat pelepasan toxic
superoxide radicals.24
6. Evasi Komplemen
Dinding sel Jamur yang tebal dapat
bersifat resisten terhadap Membrane
Attack Complex (MAC) sistem
komplemen.
Sekresi pigmen melanin konidia A.
fumigates akan menghambat deposisi
komplemen C3 dan menghambat aktivasi
netrofil.
Konidia A. fumigates juga menekan
kaskade komplemen melalui pengikatan
faktor H (protein regulator alternative
pathways) serta faktor FHL-1 dan C4BP
(protein regulator classical pathways). 25
Kesimpulan
Tahap aktivasi sistem imun :
pengenalan molekul Mekanisme utama jamur
permukaan antara sel imun menghindari sistem imun tubuh
(makrofag) dengan sel jamur. host : upaya penghindaran
pengenalan struktur PAMPs spesifik
Sel dendritik (DCs) merupakan yang ada pada permukaan sel jamur
sel yang menghubungkan dari sel fagosit.
antara sistem imun alamiah Dengan mengetahui karakteristik
dan adaptif. Respon imun penghindaran jamur, diharapkan
dapat dikembangkan terapi spesifik
seluler (Cell Mediated
berdasarkan respon imun tubuh
Immunity/ CMI) akan yang ditekan pada infeksi jamur.
terinduksi oleh DCs. 26
DAFTAR PUSTAKA

1. Ahsani, D. N. Respon Imun Pada Infeksi Jamur. JKKI, Vol.6, No.2, Mei-Agustus 2014.
2. Bratawidjaja dan Rengganis. Imunologi Dasar Edisi X. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2009.
3. Cornelia Speth, Gunter Rambach, Reinhard Wurzner and Cornelia Lass-Florl. Complement and fungal pathogens: an
update. Journal compilation. Blackwell Publishing Ltd Mycoses 51, 477496. 2008.
4. Komariah, Ridhawati Sjam., Kolonisasi Candida dalam Rongga Mulut. Departemen Parasitologi FK UI. Majalah
Kedokteran FK UKI 2012 Vol XXVIII No.1. Januari Maret.
5. Louis Y A Chai, Mihai G Netea, Alieke G Vonk, Bart-jan Kullberg. Fungal strategies for overcoming host innate
immune response. Medical Mycology May 2009.
6. Regezi, Sciubba, Jordan Richard . Oral Pathology : Clinical Pathologic Correlatios. 2012
7. R. Prasad. Candida Albicans, Cellular and Molecular Biology. 1991.
8. Robert B Ashman, Camile S Farah, Siripen Wanasaengsakul, Yan Hu, Gerald Pang and Robert L Clancy. Innate versus
adaptive immunity in Candida albicans infection. Immunology and Cell Biology. 82, 196204. 2004.
9. Shmuel Shoham and Stuart M. Levitz. The immune response to fungal infections. Blackwell Publishing Ltd, British
Journal of Haematology, 129, 569582. 2005.
10. http://www.dynamyc.fr/images/articles/conidial-head-aspergillus-scheme.jpg. Diunduh tanggal 20 desember 2016.
11. Yusuke Kiyoura, Riyoko Tamai. Innate immunity to Candida albicans. Japanese Association for Dental Science. 2014.
27
TERIMA KASIH

28