Anda di halaman 1dari 26

Kelompok B-11

SKENARIO

Seorang laki-laki berusia 50 tahun datang ke


dokter dengan keluhan sering sakit kepala
dibagian belakang sejak 1 bulan yang lalu, dan
tidak berkurang meskipun sudah minum obat
sakit kepala. Ayahnya memang menderita
hipertensi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
tekanan darah 160/100 mmHg, batas jantung dan
bunyi jantung I, II dalam batas normal. Dokter
menganjurkan pasien tersebut untuk melakukan
diet dan minum obat antihipertensi.
Kata Sulit
Hipertensi : tingginya tekanan darah arteri ( 140
mmHg) secara persisten.
Bunyi jantung I : bunyi yang dihasilkan ketika
katup mitral dan triskuspidalis menutup.
Bunyi jantung II : suara yang dihasilkan oleh
penutupan katup aorta dan pulmonal pada akhir
sistol.
Pertanyaan
1. Berapa rentang normal tekanan darah?
2. Mengapa sakit kepala terjadi di bagian belakang?
3. Mengapa dokter menyarankan pasien untuk diet?
4. Apakah hipertensi bersifat genetik?
5. Kenapa setelah diberi obat sakit kepala tidak hilang?
6. Mengapa hipertensi menimbulkan gejala sakit
kepala?
7. Apakah ada hubungan antara usia pasien dengan
hipertensi? Dan apa saja faktor resiko hipertensi?
8. Apa hubungan pemeriksaan fisik jantung dengan
hipertensi?
Jawaban
1. Antara 90/60 mmHg sampai 120/80 mmHg (ambang sistol =
130mmHg).
2. Karena pembuluh darah masuk ke kepala lewat pembuluh darah
bagian belakang.
3. Untuk menjaga asupan makan dari makanan yang dapat
menyebabkan gangguan vaskuler seperti makanan berlemak yang
dapat menyebabkan vaskuler menyempit.
4. Iya, hipertensi dapat bersifat genetik.
5. Karena seharusnya yang diobati adalah tekanan darahnya yang
tinggi, bukan sakit kepalanya.
6. Ketika hipertensi aliran darah ke kepala berkurang sehingga terjadi
iskemik dimana asupan oksigen menjadi berkurang.
7. Ada, faktor resiko hipertensi adalah usia, gaya hidup (merokok,
konsumsi alkohol), stress, genetik, penyakit ginjal.
8. Untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada jantung
HIPOTESIS
Hipertensi adalah tingginya tekanan darah arteri
secara persisten ditandai dengan tekanan darah
lebih dari 140/90 mmHg dan sakut kepala. Sakit
kepala disebabkan oleh berkurangnya aliran
darah ke kepala sehingga asupan oksigen menjadi
berkurang. Faktor resiko yang dapat
menyebabkan hipertensi adalah usia, gaya hidup
(merokok, konsumsi alkohol), stress, genetik,
penyakit ginjal. Maka dari itu kita harus menjaga
asupan makan dari makanan yang dapat
menyebabkan gangguan vaskuler.
Sasaran Belajar
LO.1.Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Jantung
Makroskopis
Mikroskopis

LO.2.Mampu Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Tekanan Darah


1. Hubungan jantung dengan tekanan darah
2. Fase siklus jantung
3. Saraf otonom
LO.3.Mampu Memahami dan Menjelaskan Hipertensi
4. Definisi
5. Epidemiolgi
6. Etiologi
7. Patofisiologi
8. Manifestasi klinis
9. Diagnosis dan diagnosis banding
10. Penatalaksanaan
11. Pencegahan
12. Komplikasi
13. Prognosis
ANATOMI JANTUNG
MAKRO
ANATOMI JANTUNG MIKRO
Hubungan jantung dengan tekanan darah
Sinus caroticus dan arcus aorta berperan sebagai baroreseptor. Apabila pada
suatu kondisi tekanan arteri meningkat diatas normal, baroreseptor akan
meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen masing-
masing. Kecepatan pembentukan tersebut akan dibaca oleh pusat kontrol
kardiovaskular kemudian respons dari pembacaan tersebut adalah
diturunkannya aktivitas simpatis dan ditingkatkannya aktivitas parasimpatis ke
sistem kardiovaskular.
Sinyal eferen parasimpatis akan menurunkan kecepatan denyut jantung dan
volume sekuncup, vasodilatasi arteriol dan vena yang berakibat menurunnya
curah jantung dan tahanan perifer total sehingga tekanan darah kembali normal.
Sebaliknya pada kondisi dimana tekanan darah turun dibawah normal, aktivitas
baroreseptor turun kemudian menginduksi pusat kardiovaskular untuk
meningkatkan aktivitas jantung dan vasokonstriktor simpatis sementara
menurunkan aktivitas parasimpatis. Eferen simpatis akan meningkatkan
kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup disertai vasokonstriksi arteriol
dan vena. Perubahan ini menyebabkan peningkatan curah jantung dan tahanan
perifer total sehingga tekanan darah yang rendah akan kembali normal.
Fisiologi Tekanan Darah

Fase siklus jantung


1. Diastol ventrikel
2. Depolarisasi atrium
3. Kontraksi ventrikel 150 volumetrik
4. Ejeksi ventrikel
5. Relaksasi volume isovolumetrik
Saraf otonom

Saraf simpatis : menstimulasi saraf viseral


(termasuk ginjal) melalui neurotransmiter
(katekolamin, epinefrin, maupun dopamin)

Saraf parasimpatis : menghambat stimulus saraf


simpatis
APA ITU HIPERTENSI?

Hipertensi didefinisikan sebagai


tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140
mmHg dan tekanan diastolik
diatas 90 mmHg. Pada populasi
lanjut usia, hipertensi didefinisikan
sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90
mmHg.
EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah,


prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke
atas tahun 2007 di Indonesia adalah sebesar 31,7%.
Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi ada di
Kalimantan Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat
(20,1%). Sedangkan jika dibandingkan dengan tahun 2013
terjadi penurunan sebesar 5,9% (dari 31,7% menjadi
25,8%). Penurunan ini bisa terjadi karena berbagai macam
faktor, seperti alat pengukur tensi yang berbeda,
masyarakat yang sudah mulai sadar akan bahaya penyakit
hipertensi. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bangka
Belitung (30,9%), dan Papua yang terendah (16,8)%).
ETIOLOGI
Patofisiologi
Manifestasi klinis

Peningkatan tensi di atas normal (>140/90


mmHg)
Mual dan muntah
Sakit kepala gejala lainnya adalah pusing,
mudah marah, telinga berdengung, sukar
tidur, sesak nafas, rasa berat di tengkuk,
mudah lelah, dan mata berkunang-kunang.
Keluhan yang mengarah ke penyakit
vaskuler : epistaksis, hematuria, pandangan
kabur , pusing, angina pekoris, dan dispnea
Diagnosis
Anamnesis

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding
Penyakit Jantung Hipertensi
Hipertensi Pulmonal
Hipertensi Sekunder
Koarktasio Aorta
Penatalaksanaan
OBAT-OBATAN
1.Diuretik
2. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-
inhibitor)
3. Angiotensin Receptor Blocker
4. Calcium Channel Blocker
5. Vasodilator
6. Beta Blocker
Pencegahan
Mengubah gaya hidup dapat membantu setidaknya mengurangi risiko
negatif yang ditimbulkan oleh hipertensi, seperti :

1. Menghabiskan waktu selama 30 sampai 40 menit untuk berolahraga


sebanyak 2-3 kali seminggu
2. Perbanyak jalan kaki daripada mengemudi atau menggunakan
kendaraan
3. Hindari konsumsi makanan berminyak, bergaram, dan bergula tinggi
4. Konsumsi makanan yang beraneka ragam dan bergizi seimbang
5. Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran segar
6. Mengolah makanan dengan cara merebus atau memanggang.
7. Hentikan kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol
8. Bebaskan pikiran dari stres dan tekanan pikiran buruk lainnya
9. Istirahat 5-10 menit di tengah rutinitas
10. Minum air 7-8 gelas setiap hari
11. Tidur cukup di malam hari selama 7-8 jam
Komplikasi

1. Stroke
2. Infark Miokard
3. Gagal ginjal
4. Gagal jantung
5. Ensefalopati
Prognosis
Usia, ras, jenis kelamin, kebiasaan mengkonsumsi
alkohol, hiperkolesterolemia, intoleransi glukosa dan
berat badan, semuanya mempengaruhi prognosis dari
penyakit hipertensi esensial pada lansia. Semakin
muda seseorang terdiagnosis hipertensi pertama kali,
maka semakin buruk perjalanan penyakitnya apalagi
bila tidak ditangani.

Prevalensi hipertensi pada wanita pre-menopause


tampaknya lebih sedikit dari pada laki-laki dan wanita
yang telah menopause. Adanya faktor resiko
independen (seperti hiperkolesterolemia, intoleransi
glukosa dan kebiasaan merokok) yang mempercepat
proses aterosklerosis meningkatkan angka mortalitas
hipertensi dengan tidak memperhatikan usia, ras dan
jenis kelamin.

Dengan pengobatan yang adekuat, dapat mendekati


normal tetapi dapat timbul di waktu lain karena telah
mempunyai riwayat hipertensi sebelumnya.