Anda di halaman 1dari 31

RHINOSINUSITIS KRONIK

OLEH : NOVITA AMELIA

PEMBIMBING: dr. Sri Marhaeni, Sp. THT-KL


Anatomi sinus
Fungsi sinus
Sebagai pengatur kondisi udara (air
conditioning)
Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Membantu keseimbangan kepala
Membantu resonansi suara
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Membantu produksi mukus
Definisi
Inflamasi pada hidung dan sinus paranasal
Etiologi
Patogenesis rinosinusitis

Diawali dengan rinitis boleh karena Terjadi inflamasi pada mukosal


rinitis alergi / infeksi virus biasanya hidung dan oleh karena
karena dapat merusakkan cilia pada pemeabilitas pembuluh darah
hidung diawali dengan memicu yang meningkat menyebabkan
mediator inflamasi. oedem pada bagian konka
hidung.

Obstruksi akan menyebabkan


menyebabkan statis dari sekresi mukus
yang berlebihan dan akan memicu Ini akan menyebabkan obstruksi
meningkatnya IL-8 , TNF-alfa, IL-1 ostia sinus. Biasanya keadaan ini
dan IL-6 serta IL-10 yang akan terjadi pada persisten rhinorrhea.
menyebabkan peningkatan dari
neutrofil , eosinofil dan sel mast.
Terjadi inflamasi pada mukosa sinus
(sinusitis akut).

Sehingga ini akan menyebabkan


perubahan mikroflora normal dalam
sinus.
Ini akan menyebabkan port d entre (hidung)
bakteri pseudomonas karena sudah tidak ada Infeksi bakteri ini akan menyebabkan reaksi
pertahanan primer disfungsi dari silia dan inflamasi yang menyebabkan meningkatnya IL-
karena perubahan mikroflora normal serta 1,IL-6 , IL-8 yang akan memicu neutrofil , IL-3,
terjadi penurunan pH pada sinus dan oksigen GM-CSF, ICAM-1, MPO , ECP dan IL-10.
tension berkurang yang menyebabkan lebih
mudah bakteri pseudomonas menginfeksi.
Seterusnya IL-10 akan kemudian memicu Th1 yang
kemudian memicu peningkatan IFN-gamma yang
akan meningkat makrofag , iNOS, NK dan
mensuppresi Th2.
Ini menyebabkan inflamasi berlamaan
melebihi 12 minggu . Terjadi
RINOSINUSITIS KRONIS dengan
simptom-simptom. Terjadi penebalan basement membrane, hiperplasia
goblet, oedem subepitel dan infiltrasi sel
mononuklear

Oleh karena teraktivasi jalur humoral dan


Selain itu , pengudaran mukosa sinus
suppresi terhadap sel mediated sehingga berkurang (AIR-FLUID LEVEL meningkat)
menyebabkan bakteri tidak dapat diatasi oleh sehingga menyebabkan disfungsi sinus
sistem imun tubuh.
Bagaimana terjadi discharge dari hidung ?
Inflamasi menyebabkan pengeluaran substansi P, neurokinin A dan CRGP serta degranulasi dari
sel mast yang akan mengeluarkan histamin.

Neuropeptida yang dikeluarkan akan merangsang syaraf ganglion trigeminal yang kemudian ke
cerebral cortex dan menghantar impuls eferen melalui sphenopalatine ganglion (parasimpatis)
yang menyebabkan aktivasi glandular , vasodilatasi dan ekstravasi plasma.

Histamin akan merangsang serabut syaraf C akan kemudian akan menyebabkan efek
parasimpatis.
Pada chronic rhinosinusitis menyebabkan hiperplasia goblet yang menyebabkan meningkat
produksi mukus.

Neutrofil yang meningkat akan melakukan fagositosis dan mati menjadi pus.

Selain itu IL-10 akan menyebabkan meningkatnya PGE2 yang akan meningkatkan pemeabilitas
pembuluh darah sehingga keluar cairan dari pembuluh darah ke hidung.
Sedikit cairan dari pembuluh darah kemudian akan bercampur dengan mukus dan pus
yang kemudian menjadi discharge yang berwarna putih kekuningan.

Discharge adalah kental karena tidak banyak cairan dari pembuluh darah yang
bercampur dalam rinorrhea.

Sehingga menyebabkan hidung tersumbat.

Hidung tersumbat yang hilang timbul karena discharge dikeluarkan ke mulut POST
NASAL DRIP sehingga dapat mengosongkan konka dan menyebabkan hidung tidak
tersumbat lagi dan pergerakan silia pada konka berusaha mengeluarkan discharge.

Namun karena infeksi bakteri pseudomonas tidak dapat dihapuskan maka masih terjadi
proses inflamasi yang kemudian akan menyebabkan KEKAMBUHAN dari rinorrhea.
Bagaimana terjadi sakit kepala ?
Oleh karena terjadi Sehingga terjadi gangguan
inflamasi pada sinus ventilasi terhadap Kompleks
menyebabkan OstioMeatal.
meningkatkan air-fluid
level.
Ini akan menyebabkan
disventilasi terhadap sinus
maksillaris .

Yang menyebabkan serabut Terjadi perbedaan tekanan


syaraf alfa-delta ke spinal cord kavitas sinus dan saluran
dan kemudian ke talamus medial hidung yang akan
dan seterusnya ke somatosensori merangsang mekanoresptor
sehingga terjadi pada ostium.

SAKIT KEPALA.
Diagnosis
Radang hidung dan sinus paranasal Hal ini harus didukung oleh penyakit
ditandai dengan dua atau lebih gejala, dibuktikan baik tanda-tanda
salah satunya: endoskopik:
1. hidung tersumbat atau,
2. obstruksi atau, polip hidung, dan / atau
3. kongesti atau discharge hidung mukopurulen debit terutama dari
(anterior / posterior nasal drip): meatus tengah dan / atau
edema obstruksi / mukosa
. wajah nyeri / tekanan terutama di meatus tengah dan /
.pengurangan atau hilangnya bau atau
.untuk 12 minggu CT Scan menunjukkan perubahan
mukosa dalam kompleks
ostiomeatal dan / atau sinus.
Anamnesis
keluhan yang dialami penderita mencakup
durasi
Keluhan
Lokasi
faktor yang memperingan atau memperberat
serta riwayat pengobatan yang sudah dilakukan
Riwayat alergi
Pemeriksaan fisik
Rinoskopi anterior
kelainan rongga hidung yang berkaitan dengan rinosinusitis
kronik seperti udem konka, hiperemi, sekret (nasal drip),
krusta, deviasi septum, tumor atau polip
Rinoskopi posterior
melihat patologi di belakang rongga hidung.
Pemeriksaan penunjang
Transiluminasi
Endoskopi nasal
Radiologi
Pemeriksaan lain
Sitologi nasal, biopsi, pungsi aspirasi dan bakteriologi
Tes alergi
Tes fungsi mukosiliar : kliren mukosiliar, frekuensi getar siliar, mikroskop
elektron dan nitrit oksida
Penilaian aliran udara nasal (nasal airflow): nasal inspiratory peakflow,
rinomanometri, rinometri akustik dan rinostereometri
Tes fungsi olfaktori: threshold testing
Laboratorium : pemeriksaan CRP ( C-reactive protein)
Penatalaksanaan
Terapi Medikamentosa
Antibiotika spektrum luas
Anti inflamatori dengan menggunakan kortikosteroid topikal atau
sistemik.
Terapi penunjang lainnya meliputi:
Dekongestan oral/topikal yaitu golongan agonis -adrenergik
Antihistamin
Stabilizer sel mast, sodium kromoglikat, sodium nedokromil
Mukolitik
Antagonis leukotrien
Imunoterapi
Lainnya: humidifikasi, irigasi dengan salin, olahraga, avoidance
terhadap iritan dan nutrisi yang cukup
Pembedahan
Beberapa jenis pembedahan:
Antrostomi meatus inferior
Caldwel-Luc
Trepanasi sinus frontal
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional
(BSEF)
Skema penatalaksanaan RSK dewasa di layanan primer
Skema penatalaksanaan RSK dewasa (tanpa polip hidung) oleh
spesialis THT
Skema penatalaksanaan RSK dewasa (dengan polip hidung) oleh
spesialis THT
Skema penatalaksanaan RSK pada anak
Komplikasi
Osteomielitis dan abses subperiostal
Kelainan Orbita
Kelainan Intrakranial
Kelainan Paru
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. SR
Umur : 43 tahun
JenisKelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Kontraktor
Alamat : Sedinginan, Rohil
Suku : Melayu
KeluhanUtama
Nyeri pada pipi sebelah kanan sejak 1 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien seorang laki-laki usia 43 tahun datang ke poliklinik THT-KL RSUD
dumai dengan keluhan nyeri pada pipi sebelah kanan dan hidung berair sejak
1 bulan yang lalu. Nyeri di rasakan seperti tertusuk, terutama dirasakan pada
saat pasien sujud dan pipi terasa tebal. Selain itu, pasien juga mengaku
hidungya sering berair dan tersumbat dipagi hari dan apabila terpapar oleh
udara dingin dan debu pada kedua hidung. Pada saat bersin hidung juga
terasa berbau sejak 4 hari yang lalu dan ada cairan yang mengalir dari
belakang hidung ke arah tenggorokan. Pasien juga mengeluhkan sering sakit
kepala, keluhan gangguan menghidu disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa
sebelumnya
Riwayat rhinitis alergi ada sejak kecil
Riwayat alergi lainnya disangkal
Riwayat trauma kepala disangkal
Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien tidak pernah mengalami keluhan
serupa
Riwayat alergi dalam keluarga tidak diketahui
Riwayat Pengobatan:
Pasien sudah pernah berobat ke puskesmas dan di
rujuk ke RS. Pasien pernah diberikan obat minum,
namun lupa nama obatnya.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang kontraktor, pasien mengaku datang
ketempat kerja dengan menggunakan motor dengan
jarak tempuh lebih kurang setengah jam dari rumah
ketempat kerjanya dan tidak menggunakan masker
Pemeriksaan fisik
Keadaaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan rinoskopi anterior
Terlihat adanya cairan yang mengalir dari
muara meatus media nasal dextra
Konka dextra membesar
Pemeriksaan rhinoskopi posterior
Tampak cairan yang keluar dari belakang
hidung mengalir ke orofaring.
Nyeri tekan dan nyeri ketok pipi kanan
positif.
Pemeriksaan penunjang

Radiologi
sinusitis maksilaris dextra
DIAGNOSIS KERJA
Rhinosinusitis Kronis
DIAGNOSIS BANDING
Sinusitis maksilaris dextra
RENCANA PENGOBATAN/TERAPI

Non-medikamentosa:
Pasien di edukasi sering mencuci hidung, hindari asap,
debu dan udara dingin, menggunakan masker penutup
hidung, tidak merokok dan olahraga ringan.
Medikamentosa
Antibiotik : klaneksi
Steroid sistemik : metilprednisolon tablet 4mg pagi-4mg sore
Antihistamin : cetirizine 1 kali sehari
Stabilisasi sel mast : aquamaris
Rencana tindakan :
Irigasi sinus maksilaris.
PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam