Anda di halaman 1dari 33

Thermodynamics

Silvia Surini, Ph.D

Department of Pharmacy, University of Indonesia


Termodinamika I

Termodinamika memberikan hubungan kuantitatif antara


panas dan bentuk energi lain, yaitu mekanik, kmia, listrik
dan energi radiasi.

Suatu benda dikatakan mempunyai energi kinetik karena


gerakannya atau gerakan dari bagian2nya, misalnya,
molekul, atom, dan elektron, dan mempunyai energi
potensial karena posisinya atau konfigurasi dari
bagian2nya.
Energi

Tidak mungkin untuk mengetahui energi absolut dari suatu


sistem, yang dimungkinkan adalah mencatat perubahan
energi yang terjadi karena sistem mengalami
transformasi/perubahan

Energi mekanik dinyatakan dalam: Joule; erg.


Energi panas dalam kalori.
1 kalori = 4,1840 x 107 erg
1 kalori = 4,1840 joule
Energi

Energi = faktor intensitas x faktor kapasitas


Energi = sifat intensif yang tidak bergantung pada jumlah
bahan x deferensial dari sifat ekstensif yg sebanding dgn
massa sistem

Kerja mekanik yang dilakukan gas thd sekelilingnya


adalah: W = P dV
Kerja yang dilakukan molekul dalam permukaan cairan
thd tegangan permukaan adalah: W = dA
Faktor Intensitas dan Faktor Kapasitas dari Energi

Bentuk Intensitas atau Faktor Kapasitas atau Satuan Energi


Energi Potensial (sifat intensif) Faktor Jumlah yg umum
(sifat ekstensif) digunakan
Panas Suhu (derajat) Perubahan Kalori
(termal) entropi (kal/der)
Ekspansi Tekanan (dyne/cm2) Perubahan Erg
volume (cm3)
Permukaan Tegangan permukaan Perubahan luas Erg
(dyne/cm) (cm2)

Listrik Gaya geral listrik atau Besaran listrik Joule


perbedaan potensial (volt) (Coulomb)

Kimia PotensiaL kimia (kal/mol) Jumlah mol Kalori


Hukum I Termodinamika

Energi total dari sistem dan sekelilingnya (sistem


terisolasi) tetap konstan selama proses.

Berbagai bentuk energi adalah setara, jika satu jenis


energi terbentuk, sejumlah energi yg sama dari jenis
lain akan hilang

Persamaan Einstein mengenai relativitas alam:


Energi = perubahan massa x kecepatan cahaya
The First Law of Thermodynamics

Mengenai hukum kekekalan


energi.
Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain,
namun tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.

E = Q - W (1)

E = kenaikan energi dalam


Q = panas yg diabsorpsi
W = kerja yg dilakukan sistem
Biasanya sebelum kerja dilakukan oleh sistem,
dibutuhkan asupan energi/panas.
Sebaliknya kerja yg dilakukan thd sistem biasanya
diikuti dgn pelepasan panas.

Kesepakatan menurut Hukum I Termodinamika:


Q = + untuk absorpsi/asupan panas
W = - untuk kerja yg dihasilkan
Kebalikannya, bila Q = - maka W = +
Energi internal dihasilkan oleh gerakan molekul,
elektron, inti, dalam suatu sistem dan bergantung pada
besaran yg terukur, misalnya tekanan, volume, suhu

Untuk perubahan energi yg sangat kecil, maka


persamaan (1) menjadi:

dE = q w (2)

q = panas yg diserap
w = kerja yg dilakukan selama perubahan kecil sistem

Q dan W adalah perubahan besar


q dan w adalah perubahan kecil
E = E 2 E 1 (3)
E2 = energi sistem dalam keadaan akhir
E1 = energi sistem dalam keadaan awal

dE = (E/P)T dP + (E/T)P dT (4)

energi dalam hanya bergantung pada keadaan awal


dan akhir, misalnya tekanan atau suhu, dan tidak
berlaku jika faktor2 ini bervariasi

Keadaan termodinamik (thermodynamic state) adalah:


keadaan dimana sifat terukur mempunyai harga tertentu.
Misalnya 1 gr air pada E1 diartikan lebih khusus misalnya
pada tekanan 1 atm dan suhu 10C; dan keadaan E2 adalah
5 atm dan 150C.
Persaman keadaan (equation state) adalah setiap
persamaan yg menghubungkan variabel yg dibutuhkan
untuk menggambarkan keadaan dari sistem. Misal
persamaan gas ideal, persamaan van der Walls

Variabel keadaan termodinamik disebut sifat


termodinamik (thermodynamic properties), misalnya
E, V, P dan T, juga luas permukaan

Sedangkan, q dan w bergantung pada cara perubahan


itu dilakukan, jadi bukan sifat termodinamik.

Energi dalam hanya dicirikan oleh dua dari variabel bebas


berikut: tekanan, volume, suhu dalam suatu sistem tertutup
Sistem Tertutup dan Terbuka

Sistem tertutup: dapat terjadi pertukaran panas


dan kerja, tetapi tidak ada pertukaran zat

Sistem terbuka: selain terrjadi pertukaran panas


dan kerja, juga terjadi pertukaran zat
Proses Isotermal dan Adiabatik

Proses Isotermal: jika suhu dijaga konstan selama proses


Reaksi isotermal sistem diletakkan dalam suatu
tempat besar pada suhu konstan, shg panas keluar
dan kembali dari dan ke sistem tanpa terjadi
perubahan suhu yg bermakna

Proses Adiabatik: jika tidak ada panas yang dilepaskan


atau diperoleh selama proses

Proses Adiabatik q = 0 w = -dE (5)


Kerja dilakukan thd sistem energi dalam turun
krn panas tdk diabsorpsi (q =0), maka suhu akan turun
Proses Reversibel

Proses Reversibel proses dapat balik: proses yg


selalu dalam keadaan kesetimbangan termodinamika
yg sesungguhnya

C/: P V
P V

Tidak ada sistem yang 100% reversibel


Kerja Maksimum & Kerja
Ekspansi
Kerja yang dilakukan sistem dalam proses isoterm
akan maksimum jika dilakukan secara reversibel

Kerja ekspansi thd tekanan konstan:


Pertambahan volume
P
W=PxAxh (6)
Total daya

A x h : pertambahan volume V = V2 V1
h
A W = P V (7)
W = P (V2 V1) (8)
Contoh soal 1

Gas mengembang sebesar 0,5 L thd tekanan konstan


sebesar 0,5 atm pada 25C. Berapa kerja dalam erg
yang dilakukan sistem?

Jawab:
1 atm = 1,013 x 106 dyne/cm2
W = P V
W = (0,5 x 1,013 x 106 dyne/cm2) x 500 cm3
= 2,53 x 108 erg
Contoh soal 2

Satu mol air dalam kesetimbangan dgn uapnya diubah


menjadi uap pada 100C dan 1 atm. Panas yang diabsorpsi
dalam proses ini, yaitu panas penguapan air pada 100C,
sekitar 9720 kal/mol. Berapakah harga Q, W, dan DE?
Jawab:
Q = panas yg diabsorpsi = 9720 kal/mol
W = P V = P (V2 V1)
V1 = Volume 1 mol air pada 100C
V2 = Volume 1 mol uap air pada 100C

1 mol H2O V1 = (BM x mol) / = 18 cm3 = 0,018 L


V2 = RT/P = (0,082 x 373) / 1 = 30,6 L
W = P (V2 V1)
= 1 x (30,6 0.018)
= 30,582 L . atm/mol

= (1,013 x 106 dyne/cm2) 1 atm = 1,013 x 106 dyne/cm2


x (30,582 x 103 cm3
= 30,98 x 109 erg / mol 1 kal = 4,184 x 107 erg

= 30,98 x 109 / 4,184 x 107


= 740,43 kal/mol
E = Q W
= 9720 -740,43
= 8979,57 kal/mol
Gas Ideal dan Hukum I Termodinamika

E
0 (9)
V T

Suatu gas ideal tdk memiliki tekanan dalam.


Energi dalam suatu gas ideal hanya merupakan fungsi suhu

Gas ideal yg terlibat dlm proses isotermal (dT = 0),


dE = 0 dan Hk I Termo menjadi
q=w (10)
Kerja Isotermal Ekspansi thd Berbagai Tekanan
Perbedaan tekanan luar kecil dibanding tekanan gas ideal
isotermal, shg Pluar = Pgas ideal P = nRT/V
dV
V2
dWmaks nRT V1 V
V2 V2
Wmaks nRT ln 2.303RT log (11)
V1 V1
Kerja maksimum dlm ekspansi isotermal reversibel, dpt
dinyatakan dlm btk tekanan (P).
Krn Hk Boyle: V2/V1 = P1/P2 pd T tetap, maka pers. 11
P1
Wmaks 2.303RT log
P2 (12)
Kandungan Panas (Entalpi)

Jika kerja ekspansi dilakukan pada tekanan tetap


W = P V = P (V2 V1), maka Hk I Termodinamika
menjadi:
E = Qp P (V2 V1) (13)
Qp = panas yg diserap pada tekanan konstan

Qp = (E2 E1) + P (V2 V1) (14)


= (E2 + PV2) (E1 + PV1) (15)
(E + PV) disebut kandungan panas atau Entalpi, H
Kenaikan entalpi H = panas yg diabsorpsi pd tekanan
tetap.

Qp =H2 H1 = H (16)

Persamaan (13) menjadi:


E = H P V
H = E + P V (17)

Untuk perubahan yg sangat kecil:


dQP = dH (18)
Kapasitas Panas
Kapasitas panas molar, C
panas q yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 mol
zat sebesar 1 derajat.
q
Perubahan suhu yg sangat kecil C (19)
dT
Volume konstan dV = 0 dE = qv (20)
Maka kapasitas panas Cv
pada volume tetap: Jika pada tekanan tetap, Cp :
qv E qP H
Cv (21) Cp (22)
dT T v dT T P
Persamaan Hukum I Termodinamika yang
Dimodifikasi untuk Proses2 pada Berbagai Kondisi
Modifikasi
Kondisi Pendekatan umum untuk Hk I, dE=qw
Proses
Khusus tercapainya kondisi dlm kondisi
ttt
Tabung isolasi, misalnya
Panas tetap q=0 Adiabatis dE = -w
labu Dewar
Proses reversi- w = wmaks
dT = 0 Isotermal Penangas temperatur tetap
bel pd T tetap
Gas ideal pada (E/V)t = 0 dE = 0
Isotermal Penangas temperatur tetap
T tetap dT = 0 q = w
Isometrik Tabung tertutup pada volume W = P dV = 0
Volume tetap dV = 0
(Isochorik) tetap, spt Calorimeter Bomb dE = qV
Reaksi dlm wadah terbuka dH = q
P
Tekanan tetap dP = 0 Isobarir pd tekanan konstan
(atmosfir) dE= dH PdV
Termokimia

Panas diabsorpsi = endoterm


Panas dilepaskan = eksoterm

Termokimia berhubungan dengan perubahan panas yg


menyertai reaksi kimia isotermal, berlangsung pada tekanan
tetap atmosfir.

Panas yang diabsorpsi = kenaikan kandungan panas


QP = H, jika pada volume tetap QV = E
Termokimia

Reaksi dalam larutan, PV tidak berarti, maka H E.


Pendekatan ini tidak berlaku untuk reaksi yg melibatkan
gas.

C(s) + O2(g) CO2(g)


H25C = -94.052 kal (23)
= panas standar reaksi pada 25C

Satu mol karbon padat direaksikan dgn 1 mol oksigen


menghasilkan 1 mol gas karbondioksida pada 25C dan
dibebaskan 94,052 kalori
Panas Pembentukan
Panas Pembakaran
Panas Diferensial Larutan
Panas Reaksi dan Energi Ikatan
Panas netralisasi
Panas Pembentukan

Persamaan (23) adalah panas pembentukan standar


CO2 dari unsur2nya.

Kandungan panas 1 mol CO2 adalah 94,052 lebih


rendah dari unsur2nya pada keadaan standar 25C dan
tekanan 1 atm

Kandungan panas unsur dalam keadaan standar = 0


Panas yang terlibat dalam pembentukan senyawa dari
unsur2nya panas pembentukan senyawa tsb

Panas pembentukan CO2 adalah 94,052 kal


Panas Pembakaran
Adalah panas yang terlibat dalam oksidasi sempurna 1
mol senyawa pada tekanan 1 atm
CH4(g) + 2 O2(g) CO2(g) + 2 H2O(l)
H25C = 212,8 kal (24)
Panas pembentukan reaktan dan produk:
Hreaksi = Hproduk - Hreaktan (25)
Panas pembentukan CH4(g) = -17,889; CO2(g)= -94,052;
H2O(l) = -68,317 kkal, pada 25C
O2 adalah unsur, maka panas pembentukan = 0
(24) : -17,889 + 0 = -94,052 + 2 (-68,317)
(25) : (-94.052 136,634) (-17,889) = 212,797 kkal
Hukum Hess untuk Jumlah Panas Tetap

C(s) + O2(g) CO2(g); H25C = -94,052 kkal


CO(g) + O2(g) CO2(g); H25C = -67,636 kkal
Dgn mengurangkan pers kedua dari pers pertama
C(s) + O2(g) CO(g); H25C = -26,416 kkal

Panas Diferensial Larutan


Adalah efek panas yang dihasilkan jika 1 mol zat
terlarut dilarutkan dalam sejumlah besar larutan
dalam konsentrasi ttt.
Tidak ada perubahan konsentrasi bermakna,
perubahan panas terjadi pada konsentrasi tsb.
Panas Integral Larutan
Adalah efek panas yang diperoleh jika 1 mol zat terlarut
dilarutkan dalam sejumlah ttt pelarut murni, misalnya 1000
gram air untuk menghasilkan larutan
Panas diferensial panas integral
Pada panas diferensial tidak terjadi perubahan konsentrasi pada
penambahan zat terlarut. Panas yang dihasilkan hanya terjadi
karena pelarutan zat kristal menjadi terlarut, dan pelarut tetap
dlm keadaan sama sebelum dan sesudah pelarutan.
Dalam panas integral, baik zat terlarut maupun pelarut
dipengaruhi selama proses berlangsung.
Panas hidrasi dpt dihitung dari panas integral larutan.
Na2SO4 larut melepaskan panas
Na2So4.10H2O larut menyerap panas, krn adanya energi
kristal
Panas Reaksi dari Energi Ikatan

Dapat diperkirakan dari ikatan kovalen


H2C=CH2 + Cl-Cl Cl-CH2-CH2-Cl

Bila satu ikatan C=C dipecah membutuhkan 130 kkal,


satu ikatan Cl-Cl dipecah membutuhkan 57 kkal,
satu ikatan C-C dipecah membutuhkan 80 kkal,
dua ikatan C-Cl dibentuk melepaskan 2 x 78 = 156 kkal,
maka energi reaksi adalah :

H = 130 + 57 - 80 156 = -49 kkal


Aplikasi Tambahan Termokimia
Proses netralisasi HCl + NaOH
Reaksi hanya menyangkut: H+(aq) + OH-(aq) = H2O(l)
H25C = -13,6 kkal (26)
Tidak ada reaksi lain yang terjadi dalam reaksi netralisasi
asam kuat basa kuat spt di bawah ini, karena elektrolit
kuat terionisasi sempurna dalam air:
HCl(aq) + NaOH(aq) = H2O(l) + Na+(aq) + Cl-(aq)
Pada netralisasi elektrolit lemah oleh asam/basa kuat, ada
reaksi ionisasi disamping netralisasi, dan panas reaksi
-13,6 kkal lagi, krn sejumlah panas diserap pada ionisasi
elektrolit lemah shg panas yg dilepaskan < -13,6 kkal.

Anda mungkin juga menyukai