Anda di halaman 1dari 46

REFERAT

LUKA BAKAR (COMBUTIO)

OLEH
Ni Wayan Eka Ari Sawitri (16710081)

Pembimbing : dr. Albert Linardy, Sp.B


BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar atau combustio merupakan
cedera yang cukup sering dihadapi para
dokter. Luka bakar adalah suatu bentuk
kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas
seperti api, air panas, bahan kimia, listrik
dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu
jenis trauma dengan morbiditas dan
mortalitas tinggi. Biaya penanganan yang
dibutuhkan pun tinggi
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan
permasalahan tentang Bagaimana definisi dan penanganan
kegawatdaruratan Luka Bakar?
Tujuan
Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami definisi dan penanganan
kegawatdaruratan Luka Bakar.
Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat memahami :
1.Pengertian Luka bakar
2. Penyebab terjadinya luka bakar
3. Fase Terjadinya luka bakar
4. Klasifikasi luka bakar
5. Cara menghitung luas luka bakar
6. Tingkat keparahan luka bakar
7. Patofisiologi luka bakar
8. Indikasi pasien rawat inap luka bakar
9. Penatalaksaan luka bakar
10.Komplikasi yang terjadi akibat luka bakar
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Anatomi Kulit
1. Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit
yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari
epitel berlapis gepeng bertanduk,
mengandung sel melanosit,
Langerhans dan Merkel. Terdiri dari:
Stratum Korneum
Stratum Lusidum
Stratum Granulosum
Stratum Spinosum
Stratum Basale (Stratum
Germinativum)
2. Dermis
Terdiri atas jaringan ikat yang
menyokong epidermis dan
menghubungkannya dengan jaringan
subkutis. Fungsi Dermis: struktur
penunjang, mechanical strength,
suplai nutrisi, menahan shearing
forces dan respon inflamasi. Terdiri
dari 2 lapisan :
Lapisan papiler (tipis): mengandung
jaringan ikat jarang.
Lapisan retikuler (tebal): terdiri dari
3. Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis
atau hipodermis yang terdiri dari
lapisan lemak. Lapisan ini terdapat
jaringan ikat yang menghubungkan
kulit secara longgar dengan jaringan di
bawahnya. Jumlah dan ukurannya
berbeda-beda menurut daerah di tubuh
dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi
menunjang suplai darah ke dermis
untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis atau hipodermis:
melekat ke struktur dasar, isolasi
panas, cadangan kalori, kontrol bentuk
tubuh dan mechanical shock absorber.
II. Fisiologi Kulit

Kulit berperan sebagai:


Memungkinkan bertahan dalam berbagai
kondisi lingkungan
Sebagai barier infeksi
Mengontrol suhu tubuh (termoregulasi),
sensasi, eskresi
Melindungi dari kehilangan cairan dari
elektrolit, trauma mekanik dan ultraviolet
Merespon rangsang raba karena
banyaknya akhiran saraf seperti pada
daerah bibir, puting dan ujung jari.
Pengaturan keseimbangan cairan elektrolit
LUKA BAKAR
(COMBUTIO)
DEFINISI
Luka Bakar adalah suatu bentuk
kerusakan dan atau kehilangan
jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber yang memiliki suhu
yang sangat tinggi (misalnya api, air
panas, bahan kimia, listrik dan radiasi)
atau suhu yang sangat rendah. Ada
beberapa istilah yang digunakan
didalam ilmu kedokteran disebut
Combutio.
FASE-FASE LUKA BAKAR
1. Fase Awal, Fase Akut, Fase Syok
(A, Airway)
Gangguan asupan oksigen timbul akibat trauma
pada saluran nafas misalnya trauma inhalasi
(B, Breathing)
Gangguan mekanisme bernafas (akibat eskar
melingkar di dinding dada yang menghambat
gerakan pengembangan rongga toraks, atau
adanya trauma multipel di rongga thorax yang
tidak jarang terjadi.
(C, Circulation)
Kedua masalah ini (gangguan A dan B)
menyebabkan terhambatnya asupan oksigen.
Gangguan distribusi oksigen terjadi karena
adanya gangguan sirkulasi
Otak

Yang secara mutlak memerlukan


oksigen, dalam 4 menit otak dapat
mengalami hipoksia atau hipoksemia
dan perubahan degeneratif sel
berbagai derajat (edem sampai atrofi
sel-sel glia). Maka dari itu, otak
merupakan prioritas utama untuk
dipertahankan pada kondisi perfusif.
Jantung
Sebagai alat pemompa darah, jantung
melakukan kompensasi dengan
meningkatkan aktivitasnya untuk
memenuhi kebutuhan oksigen jaringan.
Mekanisme kompensasinya yaitu dengan
meningkatkan frekuensi heart rate. Hal
ini terjadi terjadi karena penurunan pre-
load dan after-load
Paru
Sebagai organ yang berfungsi sebagai
tempat pertukaran O2 dan CO2.
Mekanisme kompensasinya yaitu dengan
meningkatkan frekuensi pernafasan
Hepar
Peningkatan SGOT, SGPT, Enzim
fosfatase alkali, gamma globulin
transferase dan kadar bilirubin,
menggambarkan adanya stress
metabolik fase awal. Pada fase syok
ini terjadi hipometabolisme yang
berakhir dengan hepatic failure
Saluran Cerna
Manifestasi klinik yang nampak
antara lain: Pendarahan (stress ulcer,
curlings ulcer), gangguan motilitas
saluran cerna (ileus).
Renal
Akibat penurunan sirkulasi di renal
menyebabkan iskemia ginjal. Dimana akan
tampak tanda-tanda yaitu penurunan
ekskresi urine mulai dari oliguria sampai
anuria.
Tingkat Sel
Systemic Inflammation Response
Syndrome (SIRS) dan gejala klinis yang
terlihat sebagai Multisystem Organ
Disfunction (MOD) dan berakhir sebagai
Multisystem Organ Failure (MOF) dan
kemudian terjadi kematian
2. Fase setelah syok berakhir,
pasca syok, fase sub akut

Berlangsung setelah shock berakhir dan


dapat diatasi. Luka terbuka akibat
kerusakan jaringan menimbulkan masalah
yang dapat terjadi, antara lain:
Proses inflamasi pada luka bakar lebih
hebat disertai eksudasi dan kebocoran
protein.
Infeksi yang berakhir dengan sepsis
Terjadi penguapan cairan tubuh disertai
panas/energi (evaporative heat loss) yang
menyebabkan perubahan dan gangguan
proses metabolisme
3. Fase Lanjut
Fase ini berlangsung sejak proses
epithelialisasi sempurna hingga maturasi
jaringan. Fase inflamasi berlangsung lebih
hebat dan lama. Fase fibroplasia terganggu,
sehingga fase maturasi (remodeling)
terhambat. Masalah yang dihadapi pada fase
ini adalah:
Proses epithelialisasi yang berlangsung
lambat, lebih lama daripada proses
epithelialisasi pada luka oleh sebab lain
(misal luka sayat)
Penyulit dari luka bakar berupa parut
hipertrofik, kontraktur dan deformitas lainnya.
Zona Kerusakan Jaringan
1. Zona Koagulasi, Zona Nekrosis
Daerah yang mengalami kontak langsung. Kerusakan jaringan
berupa koagulasi (denaturasi protein) akibat trauma termis.
Jaringan ini bersifat nonvital dan dapat dipastikan mengalami
nekrosis beberapa saat setelah kontak.

2. Zona Statis
Daerah di luar/disekitar dan langsung berhubungan dengan
zona koagulasi. Kerusakan yang terjadi pada daerah ini
terjadi karena perubahan endotel pembuluh darah, trombosit,
dan leukosit yang diikuti perubahan permeabilitas kapiler,
trombosis, dan respons inflamasi lokal, mengakibatkan
terjadinya gangguan perfusi (no flow phenomena). Proses
tersebut belangsung biasanya 12-24 jam pasca trauma dan
mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.

3. Zona Hiperemi
Daerah di luar zona statis. Terjadi reaksi vasodilatasi tanpa
banyak melibatkan reaksi sel pada daerah ini. Tergantung
pada keadaan umum dan terapi yang diberikan, zona ketiga
dapay mengalami penyembuhan spontan atau berubahn
menjadi zona kedua atau zona pertama.
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
Berdasarkan penyebab:
Luka bakar karena api dan atau benda panas
lainnya
Luka bakar karena minyak panas
Luka bakar karena air panas (scald)
Luka bakar karena bahan kimia yang bersifat
asam kuat atau basa kuat (chemical burn)
Luka bakar karena listrik dan petir (electric
burn atau electrocution dan lightning)
Luka bakar karena radiasi
Luka bakar karena ledakan
Trauma akibat suhu sangat rendah (frost
bite).
Berdasarkan kedalaman kerusakan
jaringan (luka):
1. Luka Bakar derajat I
Kerusakan jaringan terbatas pada bagian
permukaan (superfisial) yaitu epidermis
Perlekatan epidermis dengan dermis
(dermal-epidermal junction) tetap
terpelihara dengan baik
Kulit kering, hipermik memberikan
efloresensi berupa eritema
Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik
teriritasi
Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu
5-7 hari
Contohnya: luka Bakar akibat sengatan
matahari (Sun Burn)
2. Luka Bakar derajat II

Luka bakar derajat II Dangkal


(Superficial partial thickness burn)
Luka Bakar derajat II dalam (Deep
Partial thickness burn)
Luka bakar derajat II Dangkal
(Superficial partial thickness
burn)
Kerusakan mengenai epidermis dan sepertiga
bagian superfisial dermis
Dermal-epidermal junction mengalami
kerusakan sehingga terjadi epidermolisis
yang diikuti terbentuknya (bula, blister).
Lepuh ini merupakan karakteristik luka bakar
derajat II dangkal. Bagian epidermis terlepas,
terhingga terlihat dasar luka berwarna
kemerahan, kadang pucat, edematus, dan
eksudatif
Apendises kulit (integumen, adneksa kulit)
seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea utuh
Penyembuhan terjadi spontan dalam 10-14
hari. Hal ini dimungkinkan karena membrana
basalis dan apendises kulit tetap utuh,
diketahui keduanya merupakan sumber
proses epithelialisasi.
Luka Bakar derajat II dalam
(Deep Partial thickness burn)
Kerusakan mengenai hampir
duapertiga bagian superfisial dermis
Apendises kulit (integumen) seperti
folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea sebagian utuh
Kerap dijumpai eskar tipis
dipermukaan
Eskar adalah jaringan non vital yang
mengalami kerusakan akibat trauma
termis berwarna putih kekuningan
kadang keabuan, terjadi akibat
proses denaturasi (koagulasi protein)
Luka Bakar Derajat III
(Full thickness burn)
Kerap diberi simbol 30
Kerusakan meliputi seluruh ketebalan kulit
(epidermis dan dermis) serta lapisan yang
lebih dalam
Apendises kulit (integumen, adneksa kulit)
seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea mengalami kerusakan
Kulit yang terbakar tampak berwarna
pucat atau lebih putih karena terbentuk
eskar dan tidak terdapat bula
Tidak ada rasa nyeri karena ujung ujung
serabut saraf sensorik mengalami
kerusakan
Penyembuhan terjadi lama.
Perhitungan Luas Luka
Bakar
Rumus rule of nine yang
dipublikasikan oleh Wallace.
Pada anak-anak menggunakan tabel
dari Lund and Browder yang
mengacu pada ukuran bagian tubuh
terbesar pada seorang bayi/anak
yaitu kepala.
Berdasarkan Luas luka bakarnya, dapat dibagi menjadi 3
yaitu:
a. Luka bakar Ringan
Luka bakar 20 dan 30 <10% pada kelompok usia <10th dan >50thn
Luka bakar 20 dan 30 <15% pada kelompok usia lain
Luka bakar 20 dan 30 <10% pada semua kelompok usia tanpa
cidera pada tangan, kaki dan perineum

b. Luka bakar Sedang (Moderat)


Luka bakar 20 dan 30 10-20% pada kelompok usia <10th dan
>50thn
Luka bakar 20 dan 30 15-20% pada kelompok usia lain dengan Luka
bakar 30 <10%
Luka bakar 30 <10% pada semua kelompok usia tanpa cidera pada
tangan, kaki dan perineum

c. Luka bakar Kritis, Luka bakar berat, Luka bakar masif


Luka bakar 20 dan 30 >20% pada kelompok usia <10th dan >50thn
Luka bakar 20 dan 30 >25% pada kelompok usia lain
Trauma inhalasi
Luka bakar multipel
Luka bakar pada populasi resiko tinggi
Luka bakar listrik tegangan tinggi
Luka bakar tangan, kaki dan perineum
PENATALAKSANAAN LUKA
BAKAR
1. AIRWAY
AIRWAY (A)
Pembebasan jalan nafas, di upayakan
dengan cara pemasangan pipa
endotracheal dan atau krikoidektomi dan
penghisapan lendir (sekret) secara berkala
Pemberian Oksigen
Oksigen diberikan 2-4Liter/menit melalui
mask face atau endotracheal tube adalah
memadai, apabila sekret sangat banyak,
ditambahkan menjadi 4-6Liter/menit.
Hindari pemberian oksigen >10Liter/menit
atau dengan tekanan karena akan
menyebabkan hiperoksia dan barotrauma
yang diikuti stress oksidatif.
BREATHING (B)
Memperbaiki complaince dinding
dada pada proses inspirasi. Tindakan
resusitasi dalam hal ini dilakukan
dengan melakukan eskarotomi
(memisahkan kedua hemithoraks,
memisahkan sisi kranial dan kaudal
sehingga ekspansi dada
terselenggara tanpa hambatan).
CIRCULATION (C)
1. Metode Baxter
Metode resusitasi ini mengacu pada
pemberian cairan kristaloid

4ml / kgBB / % luas luka bakar

Pedoman resusitasi dengan metode baxter


pada hari pertama diberikan separuh
kebutuhannya diberikan dalam 8 jam
pertama pasca trauma. Dan separuhnya lagi
diberikan dalam 16 jam sisanya. Kebutuhan
cairan dalam 24 jam kedua adalah separuh
jumlah kebutuhan hari pertama.
2. Metode Evans Brooke
Pada metode ini menggunakan larutan
fisiologik, koloid dan glukosa dalam
resusitas diberikan dalam waktu 24 jam
pertama. Cara pemberiannya dimana
pada hari pertama, separuh jumlah
kebutuhan cairan diberikan dalam
delapan jam pertama, sisanya diberikan
dalam 16 jam berikutnya. Kemudia pada
hari kedua, diberikan separuh jumlah
kebutuhan koloid (darah) dan larutan
normal salin ditambah 2000ml glukosa (
pemberian merata dalam 24 jam ).
3. Metode Advanced Trauma Life
Support

ATLS menerapkan pemberian cairan


kristaloid 2000 mL untuk mengatasi
syok pada kesempatan pertama.
Khusus luka bakar, direkomendasikan 2-
4 mL / kgBB / % Luas Luka Bakar.
Setelah penatalaksanaan ABC
traumatologi berdasarkan prioritas,
ATLS menyusun paduan merujuk pasien
ke pusat pelayanan luka bakar.
Perawatan Pasca Luka
Bakar
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka
bakar. Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan
dengan sedikit hilangnya barier pertahanan kulit.
Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan
pemberian salep antibiotik untuk mengurangi rasa
sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu dapat diberi
NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi
rasa sakit dan pembengkakan Luka bakar derajat II
(superfisial), perlu perawatan luka setiap harinya,
pertama-tama luka diolesi dengan salep antibiotik,
kemudian dibalut dengan perban katun dan dibalut
lagi dengan perban elastik. Pilihan lain luka dapat
ditutup dengan penutup luka sementara yang
terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin) atau
Allograft (homograft, cadaver skin) atau bahan
sintetis (opsite, biobrane, transcyte, integra) Luka
derajat II (dalam) dan luka derajat III, perlu dilakukan
eksisi awal dan cangkok kulit (early exicision and
grafting).
PERMASALAHAN PASCA LUKA
BAKAR
Keloid

Keloid terjadi ketika tubuh melanjutkan


prosesnya untuk menghasilkan kolagen suatu
protein berserta kuat, setelah luka telah
disembuhkan. Parut keloid biasanya
bersimpai, tebal, kaku, dan gatal selama
proses pembentukan dan perkembangannya
Parut Hipertrofik

Parut hipertrofik biasanya berwarna merah,


tebal dan timbul. Keloid berbeda dengan
parut hipertrofik. Keloid tumbuh dibawah
jaringan kulit yang luka sedangkan parut
hipertrofik akan tumbuh dari waktu ke
waktu dan hal ini dapat dikurangi dengan
bantuan steroid atau suntikan.
Kontraktur

Kontraktur akan melibatkan struktur dibawah kulit


seperti fascia, tendon, dan ligamentum bahkan
sendi. Kontraktur umumnya terjadi pada daerah
potensial yaitu bagian bagian tubuh berujud
persendian yaitu leher, aksila, sendi-sendi di
tungkai dan kaki, mulut, bibir dan kelopak mata.
Kontraktur ini jelas menimbulkan gangguan fungsi
dan penampilan dan berujung pada permasalahan
psikososial karena memberi kesan penampilan
yang menyeramkan.
Tata Laksana Nutrisi Pada
Luka Bakar
Dengan mengukur kebutuhan kalori secara
langsung menggunakan indirek kalorimetri.
Dengan formula HARRIS BENEDICK.

Pria : 66,5 + (13,7 X BB) + (5 X TB)


(6.8 X U) X AF X FS
Wanita : 65,6 + (9,6 X BB) + (1,8 X
TB)- (4,7 X U) X AF X FS
Nyeri pada luka bakar dan
Penatalaksanaannya
Penilaian nyeri diupayakan
menggunakan parameter obyektif
yaitu indikator yang umum
digunakan adalah Pain Intensity
Rating Scale (PIRS), meliputi:
Pada skala 0-4 tidak perlu diberikan
penghilang nyeri
Pada skala 5-6 diberikan penghilang
nyeri kelas menengah
Pada skala 7-10 diberikan penghilang
nyeri kuat.
PROGNOSIS
Prognosis pada luka bakar tergantung dari
derajat luka bakar, luas permukaan badan
yang terkena luka bakar, adanya komplikasi
seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan
medikamentosa. Luka bakar minor dapat
sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan
parut. Luka bakar moderat dapat sembuh
dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan
luka parut. Luka bakar mayor membutuhkan
lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan
membentuk jaringan parut. Jaringan parut
akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam
beberapa kasus, pembedahan diperlukan
untuk membuang jaringan parut.
KESIMPULAN
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau
kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar dibagi menjadi
4 grade dan ada 2 cara penentuan derajat luka
bakar yaitu Wallace rules of nine serta Lund and
Bowder Chart. Pemeriksaan penunjang mencakup
pemeriksaan darah, radiologi, tes dengan fiberoptic
bronchoscopy terutama untuk luka bakar inhalasi.
Penanganan luka bakar dapat secara konservatif
seperti resusitasi cairan, penggantian darah,
perawatan luka bakar, pemberian antibiotika serta
analgetik, perbaikan nutrisi sampai tindakan
pembedahan seperti Early Exicision and Grafting
(E&G), Escharotomy. Prognosis pada luka bakar
tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan
badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi
seperti infeksi dan kecepatan pengobatan
medikamentosa.
Terima kasih