Anda di halaman 1dari 13

STADIUM

ANESTESIA
OLEH
D E S I I N T A N , FA R I D A , H E R Y U N I , Y O K A
(GUEDEL)

PLANA 1

PLANA 2

PLANA 3

PLANA 4
1 . S T A D I U M A N A L G E S I A

Dimulai dari saat pemberian zat anestetik


sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini
pasien masih dapat mengikuti perintah dan
terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).
Tindakan pembedahan ringan, seperti
pencabutan gigi dan biopsi kelenjar, dapat
dilakukan pada stadium ini. Stadium ini berakhir
dengan ditandai oleh hilangnya refleks bulu
mata.
2 . S T A D I U M E K S I T A S I

Dimulai dari akhir stadium I dan ditandai dengan


pernapasan yang irreguler, pupil melebar
dengan reflekss cahaya (+), pergerakan bola
matatidak teratur, lakrimasi (+), tonus otot
meninggi dan diakhiri dengan hilangnya reflex
menelan dan kelopak mata.
3 . S T A D I U M P E M B E D A H A N

Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya


lagi pernapasan hingga hilangnya pernapasan
spontan. Stadia ini ditandai oleh hilangnya
pernapasan spontan, hilangnya reflekss
kelopakmata dan dapat digerakkannya kepala
ke kiri dan kekanan dengan mudah. Stadium III
dibagi menjadi 4 plana yaitu:
PLANA 1
Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut
seimbang, terjadi gerakan bola mata yang tidak
menurut kehendak, pupil midriasis, refleks cahaya
ada, lakrimasi meningkat, refleks faring dan
muntah tidak ada, dan belum tercapai relaksasi
otot lurik yang sempurna. (tonus otot mulai
menurun)
PLANA 2
Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume
tidak menurun, frekuensi meningkat, bola mata
tidak bergerak, terfiksasi di tengah, pupil
midriasis, refleks cahaya mulai menurun, relaksasi
otot sedang, dan refleks laring hilang sehingga
dikerjakan intubasi.
PLANA 3
Pernapasan teratur oleh perut karena otot
interkostal mulai paralisis, lakrimasi tidak ada,
pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan
peritoneum tidak ada, relaksasi otot lurik hampir
sempuma (tonus otot semakin menurun).
PLANA 4
Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot
interkostal paralisis total, pupil sangat midriasis,
refleks cahaya hilang, refleks sfmgter ani dan
kelenjar air mata tidak ada, relaksasi otot lurik
sempuma (tonus otot sangat menurun).
4 . S T A D I U M D E P R E S I M E D U L A

Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea)


yang kemudian akan segera diikuti
kegagalansirkulasi/ henti jantung dan akhirnya
pasien meninggal. Pasien sebaiknya tidak
mencapaistadium ini karena itu berarti terjadi
kedalaman anestesi yang berlebihan
Tabel 1 : Stadia Anastesia Menurut Guedel
Stadia (St) Respirasi Pupil Depresi
Refleks
Ritme Volume Ukuran Letak

I Analgesia sampai Tidak teratur Kecil Kecil Divergen Tidak ada


tidak sadar

II Sampai Tidak teratur Besar Lebar Divergen Bulu mata


pernafasan kepopak mata
teratur/otomatis
III P1: sampai gerakan Teratur Besar Kecil Divergen Kulit konyungtiva
bola mata hilang

P2: Sampai awal Teratur Sedang lebar Menetap Kornea


parese otot ditengah

P3: Sampai otot Teratur pause Sedang lebar Menetap Faring


nafas penuh ditengah peritonium

P4: Sampai Tidak teratur, Kecil Lebar maksimal Menetap Sfingter ani dan
diafragma lumpuh jerky, nafas ditengah Karina
cepat dan
panjang
IV Henti nafas -henti - - - - -
jantung Sumber: Mangku dan Senapathi, 2010
TABEL 2 : REAKSI ANESTESI, MENU
RUT STADIUMNYA.
TERIMA K A SIH