Anda di halaman 1dari 15

Tindakan Fisioterapi pada kasus

post Amputasi pada saat


bencana
Definisi
Secara definisi amputasi adalah
hilangnya bagian tubuh seseorang.
Operasi amputasi sendiri merupakan
suatu teknik operasi rekonstruksi dan
plastik yang akan membentuk sebuah alat
gerak yang sesuai untuk fitting sebuah
prostetik yang nyaman dan fungsional.

Penyebab amputasi

secara umum dapat dibedakan menjadi :


A. efek lahir kongenital (5%) Mayoritas tampak pada usia dari lahir hingga 16
tahun.
B. Didapat (95%), terdiri dari :
(1) Penyakit oklusi arterial (Occlusive Arterial Disease) 60%.
Sering dihubungkan dengan diabetes mellitus. Mempunyai insidensi pada
usia sekitar 60-70 tahun. 90% kasus melibatkan alat gerak bawah; 5% partial
foot and ankle amputations, 50% below knee amputation, 35% above knee
amputation dan 7-10% hip amputation).
(2) Trauma - 30%
Paling sering terjadi pada usia antara 17-55 tahun (71% pria). Lebih
banyak
mengenai alat gerak bawah, dengan ratio 10 : 1 dibandingkan dengan alat gerak
atas.
(3) Tumor 5%
Biasanya tampak pada usia sekitar 10-20 tahun. Indikasi dan Tujuan Operasi
Amputasi
Indikasi amputasi

1. Live saving (menyelamatkan jiwa) contoh


trauma disertai keadaan yang mengancam
jiwa (perdarahan dan infeksi).

2. Limb saving (memanfaatkan kembali kegagalan


fungsi ekstremitas secara maksimal), seperti
pada kelainan kongenital dan keganasan.
Tujuan operasi amputasi :

Untuk menghasilkan sebuah alat gerak yang


padat, berbentuk silindris, bebas dari jaringan
parut yang sensitif dengan tulang yang cukup
baik ditutupi oleh otot dan jaringan subkutan
yang sesuai dengan panjangnya.
Tindakan fisioterapi :

Sebelum insisi sembuh :


Fisioterapis melakukan positioning dan edukasi pada pasien, agar area
yang telah di amputasi tidak mengalami kontraktur.

Setelah insisi sembuh :


1. Melakukan massage secara lembut pada jaringan lunak bagian distal,
tujuannya membantu mempertahankan mobilitasnya di atas permukaan
atau ujung tulang.

2. Tapping jaringan parut dan bagian distal jaringan lunak sebanyak 4


kali sehari untuk membantu mendesensitasi area tersebut sebelum
penggunaan prosthesis. Tapping dilakukan dengan ujung jari, dimulai
dengan sentuhan ringan dan kemudian tekanan ditingkatkan sekitar
5 menit hingga timbul rasa tidak nyaman yang ringan.
3. Edukasi cara membersihkan kulit yang baik, dengan
mempergunakan sabun yang bersifat ringan, cuci kulit
hingga berbusa lalu basuh dengan air hangat. Kulit
dikeringkan dengan cara ditekan dengan lembut, tidak
digosok. Pembersihan ini dilakukan setiap hari terutama
pada sore hari.
4. Latihan
Latihan peningkatan lingkup gerak sendi dilakukan sedini
mungkin pada sendi di bagian proksimal alat gerak yang
diamputasi. Latihan isometrik pada bagian otot
quadriceps dilakukan untuk mencegah deformitas pada
amputasi di bawah lutut. Latihan ini dimulai saat drain
telah dilepas dalam 2-3 hari paska operasi. Latihan
ditingkatkan secara bertahap, dimulai tanpa tahanan
kemudian menjadi latihan dengan tahanan pada puntung.
Latihan isometric

(lihat video)
Latihan Alat Gerak Bawah di Sisi yang Tidak Diamputasi

Foot and Leg Exercises


Latihan kekuatan dan koordinasi otot-otot kaki,
lutut dan panggul. Untuk mengontrol
keseimbangan, weightbearing.

Dalam keadaan darurat latihan ini bisa di lakukan


dengan berpegangan pada bambu/kayu sebagai
pengganti parralel bar.
Knee dan Hip Exercises
1. Ekstensi lutut (Quadriceps setting)
2. Fleksi lutut pada alat gerak bawah yang tidak
diamputasi
3.Ekstensi lumbal (Gluteal Setting)
4.Fleksi lumbal
5. Adduksi dan Abduksi lumbal
6.Rotasi eksternal dan internal lumbal
Memperbaiki keseimbangan dan
transfer
Dengan menggunakan jemuran handuk
atau kursi dalam keadaan darurat

Melatih berjalan
Dapat menggunakan Kruk dibuat dari
bambu yang di rancang seperti kruk
standar
SEKIAN DAN TERIMAKASIH