Anda di halaman 1dari 9

Jenis-Jenis

Kewirausahaan
Dian Tri Vita Sari
Dinda Anggraeni
Dyva Oktaviana
Fajar Prakarsa Wicaksono
Fitri Ning Lestari
Fitri Yani
Gani ayu Muharrom Mumpuni
Hepy Mia Karina
Irnita noviati
Riki Imam Mukolitik Muholiq
Innovating
Entrepreneurship
Yaitu wirausaha inovatif yang terus berpikir kreatif
dalam melihat peluang dan meningkatkannya.
Inilah tipe entrepreneur yang paling puncak,
karena inovasi merupakan inti utama dari
entrepreneurship.
Bereksperimentasi secara agresif, trampil
mempraktekkan transformasi-transformasi
atraktif.
Imitative
Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating
Entrepreneur.
Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap
skeptikal tetapi yang segera melaksanakan
peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila
mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka
akan kehilangan posisi relatif pada industri yang
bersangkutan.
pengusaha jenis ini sangat memperingatkan dan
skeptis saat berlatih perubahan.
mereka tidak banyak tertarik untuk mengambil
risiko dan mereka mencoba untuk mengikuti jejak
pendahulunya
Menerima perubahan hanya ketika mereka
merasa terancam bahwa kegagalan untuk
melakukannya akan mengakibatkan kerugian.
mereka meniru oleh keadaan tetapi tidak penentu
Drone Entrepreneurship

Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang


untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam
rumus produksi sekalipun hal tersbut akan
mengakibatkan mereka merugi dibandingkan
dengan produsen lain.
Necessity Entrepreneur
orang yang menjadi entrepreneur dikarenakan
terpaksa oleh keadaan (kalau bisa tidak jadi
pengusaha)
Replicative Entrepreneur
Entrepreneur yang cenderung meniru bisnis yang
sudah ada, biasanya karena dianggap sedang tren
atau tengah naik daun sehingga rawan terhadap
persaingan dan kejatuhan.
Redistributive
Entrepreneur
Redistributive Entrepreneur menempatkan dirinya
diantara pemilik proyek dengan pelaksana proyek
(kontraktor). Ia dapat berada disana karena relasi
atau hubungan kedekatan yang lain.
Sesungguhnya Redistributive Entrepreneur tidak
memiliki keahliaan teknis melaksanakan proyek
sehingga kehadirannya hanya menimbulkan biaya
tambahan bagi pelaksana proyek (kontraktor)
Nice Info gannn
Cendol gannn