Anda di halaman 1dari 66

HASIL DAN NILAI

BUDAYA
ZAMAN PRAAKSARA
INDONESIA
Disusun Oleh :
TENGKU ARDIANSYAH

zaman batu tua diperkirakan berlangsung
selama 600.000 tahun silam, yaitu
selama kala pleistosen (diluvium).
Perkembangan kebudayaan pada zaman
paleolitikum sangat lambat akibat
keadaan alam yang masih sangat liar dan
labil.

Perkembangan hasil Budaya
Masyarakaat Masa Praaksara Awal

zaman batu tua (paleolitikum)

Zaman batu tua ini berlangsung selama kala
Pleistosen. Zaman ini berlangsung kurang lebih
600.000 tahun. Perkembangan kebudayaan pada
zaman ini sangat lambat akibat keadaan alam yang
masih sangat liar dan labil. Pada manusia jaman itu
Zaman Glasial dan interglasial datang silih berganti.

Dipakai untuk menguliti binatang. desa Punung. memotong kayu. dan memecahkan tulang binatang buruan. digunakan dengan cara menggengam. . PENINGGALAN BUDAYA KEBUDAYAAN PACITAN Alat-alat batu dari Pacitan ditemukan oleh Von Koeningswald.  • Kapak Perimbas Kapak ini terbuat dari batu. tidak memiliki tangkai. Kapak perimbas banyak ditemukan di daerah-daerah di Indonesia. Pacitan. Jawa Timur. pada tahun 1935 di sungai Baksoko.

dan keperluan lainnya.yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes. . yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon. Fungsinya untuk membelah kayu. menggali umbi-umbian. memotong daging hewan buruan.  • Flakes flakes adalah alat yang terbuat dari batu dan berbentuk kecil-kecil.• Kapak Genggam Kapak genggam memiliki bentuk hampir sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas. namun bentuknya jauh lebih kecil.

ujung tombak dengan gergaji pada kedua sisinya. . Jawa Timur. Alat-alat dari tanduk dan tulang tersebut  berupa Penusuk (Belati). KEBUDAYAAN NGANDONG Ngandong merupakan suatu daerah di dekat Ngawi. Di daerah ini ditemukan peralatan dari batu berupa kapak genggam. Di daerah ini juga ditemukan alat-alat dari tulang dan tanduk. dan alat pengorek ubi dan keladi. serta tanduk menjangan yang diruncingkan dan duri ikan pari yang digunakan sebagai mata tombak.

ditemukan sejumlah fosil sejenis Pithecanthropus Erectus. yaitu Sinanthropus Pekinensis. Alat-alat dari Pacitan ditemukan pada lapisan yang sama dengan Pithecanthropus Erectus. Cina. . Di Chou-Kou-Tien. Yaitu pada Pleistosen Tengah (Lapisan dan Fauna Trinil) b.Bersama fosil-fosil ini ditemukan alat-alat batu yang serupa dengan alat-alat batu yang serupa dengan alat-alat batu dari pacitan. a. MANUSIA PENDUKUNG Berdasarkan penemuan yang ada dapat disimpulkan bahwa pendukung kebudayaan pacitan adalah Pithecanthropus Erectus dengan alasan sebagai berikut.

yaitu Pleistosen Atas. . Alat-alat dari Ngandong berasal dari lapisan yang sama dengan Homo Wajakensis. sambung macan (Sragen) ditemukan kapak genggam bersama tulang-tulang binatang dan atap tengkorak Homo Soloensis. MANUSIA PENDUKUNG Pendukung kebudayaan Ngandong. b. a. Di Ngadirejo. yaitu Homo Soloensis dan Homo Wajakensis dengan alas an sebagai berikut.

KEHIDUPAN SOSIAL Berdasarkan penemuan alat-alat Paleolitik dapat disimpulkan bahwa kehidupan bahwa manusia purba pendukung zaman batu tua hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan (hunting and foot gathering) .

MESOLITHIKUM (Zaman Batu Tengah) Zaman batu madya berlangsung pada kala holosen. Perkembangan kebudayaan pada zaman bau madya berlangsung lebih cepat daripada zaman batu tua karena pendukung kebudayaan ini adalah Homo sapiens (manusia cerdas) .

maka disebut dengan kebudayaan Tulang Sampung atau Sampung Bone Culture. Selain alat-alat dari Sampung ini ditemukan pula fosil manusia Papua Melanesoid .Kebudayaan Tulang Sampung Karena sebagian besar alat-alat yang ditemukan di Sampung berupa alat-alat dari tulang. PENINGGALAN BUDAYA a.

ABRIS SOUS ROCHE Arbis sous roche adalah goa yang menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. dekat Sampung. Penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini juga dilakukan oleh van Stein Callenfels pada tahun 1928-1931 di Goa Lawu. Ponorogo. . Jawa Timur.

Ponorogo. Jawa Timur. Penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini juga dilakukan oleh van Stein Callenfels pada tahun 1928-1931 di Goa Lawu. LUKISAN DI DINDING GOA Arbis sous roche adalah goa yang menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. dekat Sampung. .

Roti. pada tahun 1893-1896 mengadakan penelitian di Gua Lamoncong. Alt-alat yang menyerupai alat kebudayaan Toala juga ditemukan di NTT. Mereka berdua berhasil menemukan alat-alat serpih (flake). Sulawesi Selatan. mata panah bergerigi dan alat-alat lain dari tulang. Kebudayaan Toala (Flake Culture) Dua orang peneliti dari Swiss yaitu Fritz Sarasin dan Paul Sarasin. Sedangkan di daerah Priangan. yaitu Flores. dan Timor. . Berdasarkan alat-alat yang ditemukan Van Stein Callenfeils memastikan bahwa kebudayaan Toala tersebut merupakan kebudayaan mesolitikum. Gua- gua tersebut masih didiami suku bangsa Toala.b. Bandung ditemukan flake yang terbuat dari obsidian (batu hitam yang indah).

. kjokkenmoddinger adalah sampah dapur berupa kulit-kulit siput dan kerang yang telah bertumpuk selama beribu- ribu tahun sehingga membentuk sebuah bukit kecil yang beberapa meter tingginya.c. Kebudayaan Kapak Genggam (Pebble Culture) Alat-alat yang ditemukan pada kebudayaan ini yaitu sebagai berikut : • Kjokkenmoddinger Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark. Kjokken berarti dapur dan modding artinya sampah. Jadi. Fosil dapur sampah ini banyak ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

terbuat dari batu kali yang dibelah dua.• Kapak Sumatra (Pebble) Bentuk kapak ini bulat. . Kapak ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera. Kapak genggam jenis ini banyak ditemukan di Sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera. antara Langsa (Aceh) dan Medan • Kapak Pendek (Hache courte) Kapak Pendek sejenis kapak genggam bentuknya setengah lingkaran.

Kebiasaan orang-orang terdahulu adalah melumuri badan dengan darah untuk menambah daya tahan dan kekuatan. Tridisi seperti itu masih dilakukan sampai sekarang oleh oran-orang yang masih bertahan dan percaya pada ajaran mistis.        . Kebudayaan Kapak Genggam (Pebble Culture) • Pipisan Pipisan ini rupanya tidak hanya untuk menggiling makanan. Kemungkinan besar warna merah ini diidentikkan dengan darah. tetapi juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah sebagaimana ternyata dari bekas-bekasnya.c. terutama sihir.

Adapun pendukung kebudayaan Toala menurut Sarasin diperkirakan nenek moyang suku Toala sekarang yang juga merupakan keturunan bangsa Wedda dari Sri Lanka. .MANUSIA PENDUKUNG (Mesolithikum) Manusia pendukung kebudayaan mesolitikum adalah manusia dari ras Papua Melanesoid. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil manusia ras Papua Melanesoid. baik pada kebudayaan Sampung maupun di bukit kerang di Sumatra.

Tanaman yang mereka tanam semacam umbi-umbian . Ada pula pendukung kebudayaan batu madya yang hidup di pesisir pantai. tetapi sebagian besar dari mereka sudah mempunyai tempat tinggal tetap di gua-gua dan bercocok tanam secara sederhana. Mereka hidup dengan menangkap ikan.MANUSIA PENDUKUNG (Jaman Mesolithikum) Sebagian manusia pendukung kebudayaan mesolitikum masih tetap berburu dan mengumpulkan makanan. siput dan kerang. Mereka bercocok tanam secara sederhana dan masih berpindah-pindah sesuai dengan keadaan kesuburan tanah.

Kehidupan Sosial (Jaman Mesolithikum) Sebagian manusia pendukung kebudayaan mesolitikum masih tetap berburu dan mengumpulkan makanan. tetapi sebagian besar dari mereka sudah mempunyai tempat tinggal tetap di gua-gua dan bercocok tanam secara sederhana. Mereka bercocok tanam secara sederhana dan masih berpindah-pindah sesuai dengan keadaan kesuburan tanah. siput dan kerang. Tanaman yang mereka tanam semacam umbi-umbian . Ada pula pendukung kebudayaan batu madya yang hidup di pesisir pantai. Mereka hidup dengan menangkap ikan.

Pengerjaannya juga sudah mulai memprhatikan segi-segi keindahan. Bedany dengan masyarakat mesolitikum yaitu manusia yang tinggal di masa neolitikum lebih mampu berfikir secara menyeluruh terhadap permasalahan kehidupan. . Pola hidup nomaden (mengembara) atau pun sudah berubah menjadi pola hidup menetap. NEOLITIKUM (Zaman Batu Baru) Pada zaman neolitikum ini hasil-hasil kebudayaan yang ditemukan sudah ada indikasi kepandaian mengasah dari manusia. Pada zaman ini juga ditandai dengan pola kehidupan dari food gathering ke food producing.

PENINGGALAN BUDAYA Berdasarakan alat-alat batu yang ditemukan. hasil kebudayaan zaman batu muda di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok besar. disamping ada hasil- hasil kebudayaan lain . yaitu kapak persegi dan kapak lonjong.

. Kapak ini kebanyakan terbuat dari batu api yang kuat atau kalsedon. Nusa Tenggara. dan sedikit di Kalimantan. yaitu : Sumatra. Jawa dan Bali. Pemberian nama kapak persegi ini berasal dari Van Heine Geldern. Di Indonesia bagian timur juga ditemukan kapak persegi. yaitu : di Sulawesi. Kapak-kapak persegi ini terutama ditemukan di Indonesia bagian barat. Maluku. PENINGGALAN BUDAYA  Kapak persegi Kapak persegi adalah kapak yang berbentuk memanjang dengan penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium.

PENINGGALAN BUDAYA

• Kapak Lonjong
Kapak lonjong adalah kapak yang penampangnya berbentuk
lonjong atau bulat telur. Pada ujungnya yang lancip ditempatkan
tangkai, kemudian diikat menyiku. Bahan yang digunakan untuk
membuatnya adalah batu kali yang berwarna kehitaman.
Ada dua macam kapak lonjong, yaitu kapak lonjong besar yang
disebut walzenbeil, yang ditemukan di Irian sehingga sering
dinamakan Neolitikum Papua dan kapak kecil yang
disebut keinbeil, banyak ditemukan di Kepulauan Tanimbar dan
Seram.
Selain kapak lonjong tersebut ada kapak lonjong yang dibuat
lebih indah dan hanya digunakan sebagai alat upacara.
Penemuan kapak lonjong di Indonesia terbatas hanya dibagian
timur, yaitu : Sulawesi, Sangihe Talaud, Flores, Maluku, Tanimbar,
Leti, dan Papua.

PENINGGALAN BUDAYA

• Alat serpih
Alat serpih dibuat dengan cara memukul
bongkahan batu menjadi pecahan-pecahan
kecil yang berbentuk segitiga, trapesium,
atau setengah bulat. Alat ini digunakan
untuk alat pemotong, gurdi, atau penusuk.
Alat serpih ada yang dikerjakan lagi
menjadi panah dan ujung tombak

PENINGGALAN BUDAYA

• Perhiasan
Perhiasan neolitik ini dibuat dari batu mulia
yang berupa gelang. Benda tersebut banyak
ditemukan di Tasikmalaya, Cirebon, dan
Bandung. Jenis perhiasan itu antara lain
gelang, kalung, manik-manik, dan anting-
anting. Bahan yang digunakan untuk
membuatnya adalah batu-batu indah, seperti
agat, kalsedon dan jaspis.

dan manik-manik. . Gerabah pada zaman batu muda memegang peranan penting sebagai wadah atau tempat. disebut tembikar atau gerabah. PENINGGALAN BUDAYA • Gerabah Dizaman bercocok tanam. mangkuk. manusia sudah dapat membuat benda-benda dari tanah liat yang dibakar. Fungsi gerabah saati itu digunakan sebagai barang untuk keperluan sehari-hari dalam rumah tangga. ataupun untuk keperluan dekorasi. Jenis benda yang dibuat dari tanah liat ini antara lain kendi. misalnya untuk keperluan upacara. Gerabah banyak ditemukan di lapisan teratas bukit-bukit kerang di Sumatra dan dibukit-bukit pasir pantai selatan Jawa. antara lain di Jogjakarta dan Pacitan. perluk belanga. Gerabah hanya dibuat dengan tangan tanpa bantuan roda pemutar seperti sekarang.

000 tahun yang lalu.MANUSIA PENDUKUNG (Zaman Neolitikum) Manusia pendukung kebudayaan kapak persegi zaman batu muda berada di Indonesia bagian timur. Batak. Sedangkan manusia pendukung kebudayaan kapak lonjong di Indonesia bagian timur adalah ras Pepua Melanesoid . Dayak. Mereka berasal dari ras Proto-Melayu (Melayu Tua) yang datang ke Indonesia menggunakan perahu bercadik sekitar 2. dan Toraja. Penduduk Indonesia sekarang yang termasuk ke dalam ras Proto-Melayu antara lain : suku Sasak.

meskipun dalam taraf yang sederhana. seperti di dekat sungai. dan di pesisir. Revolusi Neolitikum yaitu perubahan dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan makanan (food producing). tepian danau. Dalam pola bertempat tinggal. manusia zaman batu muda cenderung bertempat tinggal di dekat sumber air. Tempat tinggal mereka pada dasarnya berupa . Dalam pola hidup food producing mereka menghasilkan makanan dengan cara bercocok tanam dan beternak. Di samping itu perubahan dari kehidupan nomaden menjadi menetap.KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA (Zaman Neolitikum) Zaman batu muda terjadi perubahan besar dalam bidang sosial budaya yang disebut dengan Revolusi Neolitikum.

.MEGALITIKUM (Zaman batu Besar) Megalitikum merupakan kebudayaan yang menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar. Bangunan megalitikum ini dipergunakan sebagai sarana untuk menghormati dan pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang.

Fungsi menhir adalah sebagai sarana pemujaan terhadap arwah nenek moyang.MEGALITIKUM (Zaman batu Besar) Hasil kebudayaan Megalitikum : • Menhir Menhir ialah tiang atau tugu yang terbuat dari batu yang didiikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang. dan sebagai tempat menampung kedatangan roh. sebagai tempat memperingati seseorang (kepala suku) yang telah meninggal. sehingga menjadi benda pujaan dan ditempatkan pada suatu tempat. Jawa . Menhir banyak ditemukan di Sumatra Selatan.

sebagai tempat meletakkan roh.Hasil kebudayaan Megalitikum : • Dolmen Dolmen adalah meja batu besar dengan permukaan rata sebagai tempat meletakkan sesaji. . ada juga yang digunakan sebagai kubur batu seperti yang ditemukan di Bondowoso dan di Merawan. Dolmen ada yang berkakikan menhir seperti yang ditemukan di Pasemah. Sumatra Selatan. dan menjadi tempat duduk ketua suku agar mendapat berkat magis dari leluhurnya. Jember. Jawa Timur.

Punden berundak difungsikan sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal .Hasil kebudayaan Megalitikum : • Punden Berundak Punden berundak yaitu bangunan yang terbuat dari batu yang disusun bertingkat-tingkat.

banyak ditemukan di Bali.Hasil kebudayaan Megalitikum : • Sarkofagus Sarkofagus adalah peti mati jenazah yang terbuat dari batu bulat untuk menyimpan mayat. • Waruga Waruga adalah kubur batu atau peti jeazah yang terbuat dari batu pipih yang dilengkapi dengan tutup berbentuk atap rumah .

sisi. . Jawa Barat.Hasil kebudayaan Megalitikum : • Kubur Peti batu Kubur peti batu adalah peti jenazah yang terpendam di dalam tanah yang berbentuk persegi panjang. dan tutupnya terbuat dari papan batu. alas. Benda ini banyak ditemukan di daerah Kuningan.

Teknik pembuatan peralatan dari logam dibedakan menjadi dua sebagai berikut : a) Teknik A Cire Perdue Teknik ini diawali dengan membuat tiruan benda dari lilin kemudian model dari lilin tersebut ditutup dengan tanah liat. Kepandaian ini diperoleh setelah mereka menerima pengaruh dari kebudayaan Dongsong (Vietnam).Zaman Logam Peninggalan barang antik bersejarah zaman logam – Pada zaman ini disebut zaman logam karena masyarakat pendukungnya sudah mampu mengolah. b) Bivolve . melebur. dan membuat alat-alat dari logam.

Kepandaian ini diperoleh setelah mereka menerima pengaruh dari kebudayaan Dongsong (Vietnam). b) Bivolve . dan membuat alat-alat dari logam.Zaman Logam Peninggalan barang antik bersejarah zaman logam – Pada zaman ini disebut zaman logam karena masyarakat pendukungnya sudah mampu mengolah. melebur. Teknik pembuatan peralatan dari logam dibedakan menjadi dua sebagai berikut : a) Teknik A Cire Perdue Teknik ini diawali dengan membuat tiruan benda dari lilin kemudian model dari lilin tersebut ditutup dengan tanah liat.

. alat- alat batu dan gerabah masih tetap ada dan dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.Zaman Logam Walaupun alat-alat dari logam pada zaman ini banyak dibuat dan dipakai manusia.

melengkung. Sulawesi Tengah. atau terbelah dua seperti ekor burung layang-layang. Ada yang bagian tajamnya lurus. Sedangkan kapak corong yang tajamnya melengkung panjang digunakan untuk upacara itu dihiasi dengan bermacam-macam pola hias. Bali. Papua. Kapak corong yang besar berfungsi sebagai cangkul. Jawa. Selatan. Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra.HASIL KEBUDAYAAN • Kapak Corong Bentuk dan ukuran kapak corong bermacam-macam. Kepulauan Selayar dan dekat Danau Sentani. kapak corong kecil digunakan untuk mengerjakan kayu. .

Nekara dimungkinkan berfungsi sebagai sarana upacara (kesuburan dan kematian) dan dijadikan simbol status sosial. Candrasa ini lebih berfungsi sebagai alat kebesaran dan alat upacara keagamaan • Nekara Nekara merupakan genderang yang terbuat dari perunggu berpinggang bagian tengahnya dan tertutup di bagian atasnya.HASIL KEBUDAYAAN • Candrasa Candrasa merupakan jenis kapak perunggu yang memiliki keindahan bentuk. Fungsi lain dari nekara dimungkinkan untuk memanggil roh leluhur untuk turun ke dunia .

. Bali dan Malang sebagai bekal kubur. araca ini banyak dijumpai di Bogor. Di Indonesia bejana perunggu ditemukan oleh para ahli di daerah Madura • Arca Perunggu / Hiasan Perunggu Arca perunggu merupakan arca/patung yang bentuknya beraneka ragam. Pola hiasan dalam bejana perunggu adalah hiasan anyaman dan menyerupai huruf “J”.HASIL KEBUDAYAAN • Bejana Perunggu Bejana perunggu adalah benda berbentuk seperti gitar Spanyol yang tidak bertangkai.

Madura. Bugis.MANUSIA PENDUKUNG Manusia pendukung kebudayaan perunggu di Indonesia adalah pendatang baru dari Asia Tanggara Daratan. Deutro Melayu merupakan nenek moyang suku bangsa Jawa. Mereka merupakan penduduk Deutro Melayu (Melayu Muda) dengan membawa kebudayaan Dongson (Vietnam). dan sebagainya. . yaitu kebudayaan perunggu Asia Tenggara. Bali.

dan di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur dan Maluku. . Jawa Sulawesi. Hal ini dapat diketahui dari ragam hias pada nekara perunggu yang berhasil ditemukan.KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA Pada zaman logam manusia di Indonesia  hidup di desa-desa di daerah pegunungan. Sumba. Bukti-bukti sisa tempat kediaman mereka di temukan di Sumatra. Sumbawa. dan di tepi pantai. Mereka hidup dalam sistem kemasyarakatan yang telah teratur. dataran rendah. Bali. Mereka tinggal di rumah panggung yang panjang dengan beberapa keluarga di dalamnya.

Hal ini terbukti dengan ditemukannya mata sabit.KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA Tata susunan masyarakat pada zaman logam semakin kompleks. alat penyiang rumput. sejalan dengan kemajuan yang dicapai manusia pada saat itu pembuatan alat-alat dari logam mendorong adanya pembagian kerja berdasarkan keahlian. Perburuan masih dilakukan . Mereka bertani dengan cara berladang dan bersawah. Mata pencaharian masyarakat pada zaman logam adalah pertanian. Perkembangan perkampungan dan pertanian meningkatkan kesadaran akan pentingnya kepemilikan tanah. dan mata bajak. Hal ini dikarenakn pembuatan alat-alat dari logam hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian khusus.

RA KAT I SI MASYA TRA D SE B E L U M T U LIS AN E N AL MENG .

. TRADISI LISAN Pada masyarakat praaksara.tradisi lisan merupakan sumber sejarah yang merekam masa lampau masyarakat manusia. penyampaian kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat dilakukan dengan cara bertutur. Karena penyampaiannya dilakukan secara lisan. • Tradisi lisan merupakan tradisi yang terkait dengan kebiasaan/ adat istiadat. Dimana pengertian tradisi lisan itu sendiri adalah sebagai berikut.dst. • Tradisi lisan dapat juga diartikan sebagai penggungkapan lisan dari satu generasi ke generasi yang lain. menggunakan bahasa lisan dalam menyampaikan pengalaman sehari- hari dari seseorang kepada orang lain. • Menurut Kuntowijoyo. atau dengan berbicara secara lisan. dikenal istilah tradisi lisan.

• Aktivitas membuat gerabah yang mulai dikenal pada masa bercocok tanam yang semakin berkembang . TRADISI LISAN Tradisi lisan ada sejak manusia memiliki kemampuan berkomunikasi meskipun belum mengenal tulisan tetapi mereka telah mampu merekam pengalaman masa lalunya. Sebagai contoh tradisi lisan: • Aktivitas bercocok tanam sampai sekarang masih ada karena diwariskan secara bertahap dan turun temurun dari nenek moyang kita kepada generasi selanjutnya.

. TRADISI LISAN Tradisi lisan terangkum dalam apa yang disebut Folklore. tetapi tidak dibukukan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Folklor adalah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang tersebar atau diwariskan secara turun temurun. Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun.

Lugu. dan diwariskan secara lisan (dari mulut ke mulut) dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mempunyai bentuk/berpola 8. 5. Diantaranya sebagai alat pendidik. 3. dan proyeksi keinginan yang terpendam. Ciri . karena pencipta pertamanya sudah tidak diketahui sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya (tidak diketahui penciptanya) 4. disebarkan. Folkor diciptakan. Mengandung pesan moral 7. polos .ciri Folklore 1. disebarkan diantara kelompok tertentu dalam waktu yang cukup lama(paling sedikit 2 generasi). tersebar di wilayah (daerah tertentu) dalam bentuk relatif tetap. pelipur lara. Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama. Folklor bersifat tradisional. Bersifat pralogis 9. Folklor terdiri atas banyak versi 6. protes sosial. Folklor menjadi milik bersama dari kelompok tertentu. 2.

ahli folklor dari Amerika Serikat. f) Nyanyian rakyat. yaitu diciptakan. yaitu: 1)  Folklor Lisan Merupakan folkor yang bentuknya murni lisan. folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya. . Menurut Jan Harold Brunvard. disebarluaskan. Folkor jenis ini terlihat pada: a) Bahasa rakyat b) Ungkapan tradisional  c) Pertanyaan tradisional (teka-teki) d) Puisi rakyat  e) Cerita prosa rakyat. dan diwariskan secara lisan.

yaitu: 2) Folklor Sebagian Lisan Merupakan folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan bukan lisan. Menurut Jan Harold Brunvard. Yang termasuk dalam folklor sebagian lisan. adalah: a) Kepercayaan rakyat (takhyul) b) Permainan rakyat. folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya. Folklor ini dikenal juga sebagai fakta sosial. ahli folklor dari Amerika Serikat. c) Teater rakyat d) Tari Rakyat e) Pesta Rakyat f) Upacara Adat .

Biasanya meninggalkan bentuk materiil(artefak). folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya. yaitu: 3) Folklor Bukan Lisan Merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Menurut Jan Harold Brunvard. ahli folklor dari Amerika Serikat. bangunan-banguna suci) b) Kerajinan tangan rakyat c) Pakaian/perhiasan tradisional yang khas dari masing-masing daerah d) Obat-obatan tradisional (kunyit dan jahe sebagai obat masuk angin) e) Masakan dan minuman tradisional . Yang termasuk dalam folklor bukan lisan: a) Arsitektur rakyat (prasasti.

adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri yang mirip dengan mitos. • Legenda Legenda. serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.  . Jenis – jenis Folklore • Mitologi adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau. yaitu dianggap benar-benar terjadi. mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya.

3)Legenda perseorangan menceritakan tokoh tertentu yang dianggap pernah ada dan benar-benar terjadi.karya semacam ini termasuk forklore karena versi asalnya masih tetap hidup dikalangan masyarakatsebagai tradisi lisan. Fungsi legenda ini adalah untuk meneguhkan kebenaran “tahayul” atau keppercayaan rakyat. 2)Kegaiban umumnya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Jan Harold Brunvard menggolongkan legenda menjadi 4 kelompok : 1)Legenda keagamaan legenda yang diangggap suci atau saleh. . nama tempat dan bentuk topografi. 4)Legenda perseorangan Legenda yang berhubungan dengan suatu tempat.

meskipun banyak juga yang melukiskan kebenaran. berisikan pelajaran (moral). • Upacara Upacara merupakan rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu (adat istiadat. atau bahkan sindiran • Lagu-lagu Daerah Lagu adalah syair-syair yang ditembangkan dengan irama yang menarik. Diceritakan untuk hiburan. dan kepercayaan). Dongeng tidak terikat oleh waktu maupun cerita. . agama. Jenis – jenis Folklore • Dongeng Dongeng merupakan prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang mempunyai cerita. Lagu daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah.

1. dan bahasa). . nilai. norma. Keluarga Penggenalan dilakukan dari hal-hal sederhana yang mudah dipahami seperti: a) aspek-aspek material (benda buatan manusia yang dapat diraba dan dilihat) b) hingga proses pengenalan yang lebih rumit yaitu kebudayaan non material (kepercayaan. CARA MASYARAKAT MEWARISKAN MASA LALUNYA Proses pewarisan kebudayaan pada masyarakat yang eblum mengenal tulisan dilakukan melalui keluarga dan masyarakat atau orang lain disekitarnya.

juga dilakukan melalui cerita atau dongeng (sebab dalam dongeng disisipkan pesan-pesan mengenai nilai-nilai atau sesuatu yang dipandang baik untuk dilakukan maupun mengenai sesuatu yang dipandang tidak boleh dilakukan.... CARA MASYARAKAT MEWARISKAN MASA LALUNYA . Lanjutan Pewarisan tersebut dilakukan dengan cara sosialisasi adat istiadat/kebiasaan baik secara: a) langsung (secara lisan diberitahukan mengenai tradisi dan adat istiadat yang berlaku) b) tidak langsung (dengan memberi contoh dalam hal perilaku sehari-hari). c) Selain disampaiakan secara lisan. .

c) Peranan orang yang dituakan (pemimpin kelompok yang memiliki kemampuan lebih dalam menaklukkan alam) dalam masyarakat. Masyarakat Masyarakat merupakan sekelompok orang yang memiliki kesamaan budaya. d) Kepercayaan terhadap roh-roh serta arwah nenek moyang dapat termasuk sejarah lisan. sebab meninggalkan bukti sejarah berupa benda-benda dan bangunan. wilayah identitas. dilestarikan dengan cara menjaga nasihat tersebut melalui ingatan kolektif anggota masyarakat dan kemudian disampaikan secara lisan turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya. . CARA MASYARAKAT MEWARISKAN MASA LALUNYA 2. Masyarakat mewariskan masa lalunya melalui: a) Tradisi dan adat istiadat (nilai. b) Nasihat dari para leluhur. dan berinteraksi dalam suatu hubungan sosial yang tersetruktur.norma yang mengatur perilaku dan hubungan antar individu dalam kelompok).

serta religi yang ditaati oleh mereka dan anak keturunannya. Kemampuan nenek moyang kita sebelum mengenal tulisan dan sebelum terpengaruh budaya Hindu-Buddha oleh Brandes dikelompokkan sebagai berikut: . Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Setelah nenek moyang kita datang di Nusantara dan menetap. Tradisi tersebut diwariskan kepada masyarakat hingga sekarang ini. mereka meninggalkan tradisi. aturan kemasyarakatan.

Perahu bercadik yang merupakan alat angkut tertua tetap dikembangkan sebagai alat transportasi serta perdagangan. aktivitas pelayaran juga semakin meningkat. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru. Setelah masa perundagian. Mereka sudah pandai mengarungi laut dan harus menggunakan perahu untuk sampai di Indonesia. mengingat kondisi geografi di Nusantara terdiri banyak pulau. Bukti adanya kemampuan dan kemajuan berlayar tersebut terpahat pada relief candi Borobudur yang berasal dari abad ke-8. Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Kemampuan berlayar Nenek moyang bangsa Indonesia datang dari Yunan sebelum Masehi. yaitu di Nusantara. Kondisi ini mengharuskan menggunakan perahu untuk mencapai kepulauan lainnya. .

kemudian meningkat dengan adanya teknologi pengairan hingga lahirlah sistem persawahan. Sistem irigasi dalam bercocok tanam digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dengan cara membuat pematang dan saluran air. Sementara itu. Sistem persawahan diawali dari sistem ladang sederhana yang belum banyak menggunakan teknologi. Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Kemampuan bersawah Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman Neolitikum. untuk . Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang menghasilkan (food producing). yaitu manusia hidup menetap. serta pembuatan bendungan atau dam air yang sederhana. Cara ini kemudian meningkat menjadi pembuatan terasering di lereng pegunungan.

Masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. . dan ke selatan sampai di Selandia Baru serta ke arah utara sampai di Kepulauan Jepang. Selain digunakan untuk mengenali musim.  Kemampuan astronomi dan angin musim ini telah mengantarkan mereka berlayar ke barat sampai di Pulau Madagaskar. Pengetahuan astronomi juga digunakan dalam pertanian dengan memanfaatkan Bintang Waluku sebagai pertanda awal musim hujan. ke timur sampai di Pulau Paskah. ilmu astronomi juga sudah dimanfaatkan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran. yaitu Bintang Biduk Selatan dan Bintang Pari (orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng) untuk menunjuk arah selatan serta Bintang Biduk Utara untuk menunjukkan arah utara. Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Mengenal astronomi Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia.

pasar. dan timur. selatan. . Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Sistem mocopat suatu kepercayaan yang didasarkan pada pembagian empat penjuru arah mata angin. 2) Pusat administrasi berada di belakang rumah kepala desa. yaitu utara. barat. dan rumah ulama. alun-alun. dan penjara. Peletakan bangunan tersebut dibuat skema bersudut empat di mana setiap sudut mempunyai kemampuan dan kekuatan secara magis. tempat pemujaan. pusat kota atau pemerintah (istana). rumah pencelupan kain. Sistem mocopat dikaitkan dengan pendirian bangunan. Itulah sebabnya mengapa setiap desa pada zaman kuno selalu diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu. Jawa Timur di masa dahulu masih terdapat model desa penenun sebagai berikut: 1) Pusat desa lama terdapat di tengah desa (dikelilingi desa) di dalamnya terdapat rumah kepala desa. Di daerah Tuban.

Dengan beralaskan tirai dan tata lampu di belakangnya serta boneka yang digerak-gerakkan sehingga terlihat bayangan boneka seolah-olah hidup. Semula wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang yang dimainkan oleh dalang pada malam hari. Jika dalang kemasukan roh nenek moyang. nenek moyang yang sudah menetap dan hidup bercocok tanam menyalurkan bakat seninya serta pemujaan setelah panen dengan pertunjukan wayang. pertunjukan wayang merupakan . Bonekanya kemudian diganti dengan bentuk tokoh dalam cerita Mahabharata Pada waktu senggang. Pertunjukan tersebut untuk memuja Dewi Sri yang telah memberi berkah pertanian. Selain itu. Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Kesenian wayang Kesenian wayang semula berpangkal pada pemujaan roh nenek moyang. Setelah kedatangan hinduisme ke nusantara maka kisah nenek  moyang digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata. sang dalang akan menyuarakan suara nenek moyang yang berisi nasihat-nasihat kepada anak cucu mereka.

Jadi. nenek moyang kita sudah melaksanakan kegiatan barter dikarenakan mereka belum mengenal uang. Seni gamelan ini dipakai untuk mengiringi pertunjukkan wayang. nilainya . Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara • Seni gamelan Seni gamelan ada kaitannya dengan seni wayang. • Seni membatik Seni membatik merupakan kerajinan membuat gambar pada kain. Pada waktu musim bercocok tanam sudah usai masyarakat kuno itu membuat alat musik gamelan. • Sistem ekonomi dengan mengenal perdagangan  Kebutuhan hidup manusia selalu menuntut untuk dipenuhi. dalam hal perdagangan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. lalu dilukiskan pada kain sesuai motifnya. dan mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk untuk dapat dilihat oleh masyarakat di sekitarnya. mengembangkan seni membatik. Cara menggambarnya mempergunakan alat canting yang diisi bahan cairan lilin (orang Jawa menyebutnya malam) yang telah dipanaskan. masyarakat kuno saling bertukar barang (barter) dari satu wilayah ke wilayah lain.

gunung meletus. ini dibuktikan dengan penemuan lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan itu diartikan  sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. . Manusia di zaman hidup bercocok tanam sudah percaya adanya dewa alam yang menciptakan banjir. gempa bumi. Perkembangan Hasil Budaya Masyarakat masa Praakasara Sistem kepercayaan Manusia yang terdiri atas jasmani dan rohani memunculkan suatu kepercayaan bersifat rohani yang kemudian dipersonifikasikan dalam bentuk riil. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia mulai tumbuh pada masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan. dan sebagainya.