Anda di halaman 1dari 27

FEBRIS

DWI ARININGRUM
Demam berarti suhu tubuh diatas batas normal
(37,2C), dapat disebabkan oleh kelainandalamotak
sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat
pengaturan temperatur. (Guyton 12th, 2011).
Tempat Pengukuran Jenis Termometer Rentang; rerata suhu
normal (0C)

Aksila Air raksa, elektronik 34,7 37,3 0C

Sublingual Air raksa, elektronik 35,5 - 37,5 0C

Rektal Air raksa, elektronik 36,6 - 38 0C

Telinga Emisi infra merah 35,8 38 0C


Klasifikasi febris/demam menurut Jefferson (2010), adalah :

Fever Keabnormalan elevasi dari suhu tubuh,


biasanya karena proses patologis.

Hyperthermi Keabnormalan suhu tubuh yang tinggi


a secara intensional pada makhluk hidup
sebagian atau secara keseluruhan tubuh,
seringnya karena induksi dari radiasi
(gelombang panas, infrared), ultrasound
atau obat obatan.
Malignant Peningkatan suhu tubuh yang cepat dan
Hyperthermi berlebihan yang menyertai kekakuan otot
a
- INFEKSI
- PERADANGAN
- DEHIDRASI
- OBAT-OBATAN
PENGATURAN SUHU TUBUH
KonsepSet-Pointdalam
pengaturan suhu tubuh
Set-point temperatur krisis, yang
apabila suhu tubuh seseorang melampaui
diatasset-pointini, maka kecepatan
kehilangan panas lebih cepat dibandingkan
dengan produksi panas, begitu sebaliknya.
Seseorang mempertahankan panas dengan vasokonstriksi
dan memproduksi panas dengan menggigil sebagai respon terhadap
kenaikan suhu tubuh.
Bila
suhu tubuh meningkat, pusat pengatur suhu tubuh di
hipotalamus mempengaruhi serabut eferen dari sistem saraf
otonom untuk melebarkan pembuluh darah (vasodilatasi).
Peningkatan aliran darah dikulit menyebabkan pelepasan panas
dari pusat tubuh melalui permukaan kulit dalam bentuk keringat.
HIPOTHALAMUS

Preoptik Hipotalamus Anterior memiliki kemampuan


yang berfungsi sebagai termostatik pusat kontrol
suhu tubuh.
Konservasi
Infeksi, toksin panas, produksi
mikroba, mediator panas
inflamasi, reaksi
imunologis
Peningkatan set
point termostat

Monosit, makrofag, DEMA


endotel, dll. M

PGE2
Pirogen sitokin IL-
1, IL-6, TNF, IFN Anterior
hipotalamus

Sirkulasi (Dinarello, Gelfand,


2001)
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat
Variasi diurnal antara 1,0-1,5F (0,55 0,82 C )
Pneumonia, gram negatif, riketsia, demam tifoid, SSP, malaria
falciparum.
Kenaikan suhu badan selama beberapa hari ,
yang diikuti periode bebas demam untuk
beberapa hari yang kemudian diikuti kenaikan
suhu seperti semula.

Suhu tubuh berangsur naik ketingkat yang


tinggi sekali pada malam hari, turun kembali
ke tingkat di atas normal pada pagi hari.
Sering disertai keluhan menggigil dan
berkeringat.
Suhu badan dapat turun setiap hari
tetapi tidak pernah mencapai suhu badan
normal
Suhu badan turun ke tingkat yang normal
selama beberapa jam dalam satu hari.
Variasi normal lebar > 1 C, suhu terendah
mencapai suhu normal
Demam tifoid fase awal, berbagai penyakit
virus.
Seorang Px mengalami demam terus
menerus selama 3 minggu dengan
suhu badan di atas 38,3C , tetapi belum
ditemukan penyebabnya walau telah diteliti
selama 1 minggu sec intensif dengan
menggunakan sarana lab dan penunjang
medis lain.
Pola Demam Penyakit
Kontinyu Demam tifoid, encephalitis, drug fever, fastitious fever ,

Remitten TBC, endocarditis, demam tifoid fase awal dan sebagian


besar penyakit virus dan bakteri

Intermiten Malaria, limfoma, endokarditis

Biphasic Leptospirosis, dengue, colorado tick fever, coriomeningitis


limphocityc

Quotidian Malaria karena P.vivax

Double quotidian Kala azar, arthritis gonococcal, juvenile rheumathoid


arthritis,
beberapa drug fever (contoh karbamazepin)
Relapsing atau periodic Malaria tertiana atau kuartana, brucellosis, relapsing fever,
limphoma

Demam rekuren Familial Mediterranean fever


C-Reactive Protein merupakan protein fase,
meningkat kadarnya 24 jam pasca infeksi,
peradangan atau kerusakan jaringan,
mampu mengikat unsur pokok dari
mikroorganisme dan juga struktur sel
manusia, atau disebut juga CRP karena
mempunyai kemampuan untuk berkaitan
dengan C-Pneumococcal Polysacharida.
CRP adalah merupakan indikator yang paling sensitif
terhadap reaksi non spesifik dari infeksi bakteri,
peradangan dan kerusakan jaringan dari pada protein fase
akut yang lain.
Salah satu keuntungan yang paling penting dari CRP adalah
pertanda adanya reaksi inflamasi yang lebih cepat dari
pada Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR).
CRP merupakan cara yang lebih cepat untuk
mendeteksikeadaan dari suatu peradangan dari pada ESR,
yang mana untuk kembali normal memerlukan waktu kira-
kira 4-8 minggu
Pada penderita demam berdarah, biasanya dilakukan pemeriksaan
laboratorium meliputi Hematologi Rutin, Anti Dengue IgG & IgM.
Pada peyakit Tyfus biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium
meliputi Hematologi Rutin, Widal, Salmonella typhi IgM, Gall Kultur.
Pada penyakit Malaria, biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium
meliputi pemeriksaan malaria.
Penderita Hepatitis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium
meliputi GOT, GPT, penanda virus hepatitis, dan lain-lain.
Penatalaksanaan Demam

Causatif
Simptomatis
Farmakologi : Parasetamol, Ibuprofen, asetosal
Non Farmakologi : kompres air hangat