Anda di halaman 1dari 13

Evaluasi

Nama anggota Kelompok :


1. Arif Wahyudianto
2. Gigih Eko S
3. Renda retno S
4. Chamida M
5. Giska Ayu
6. Tanti Adiati
7. Mukhtamila
8. Marhamah
9. Dita Erline
10.Lilin Ernawati
11.Nur Aini
12.Robiyatul etika
Pengertian
Menurut Wilkinson (2007), secara umum evaluasi
diartikan sebagai proses yang disengaja dan sistematik
dimana penilaian dibuat mengenai kualitas, nilai atau
kelayakan dari sesuai dengan membandingkan pada
kriteria yang diidentifikasi atau standar sebelumnya.

Dalam proses keperawatan, evaluasi adalah suatu


aktivitas yang direncanakan, terus menerus, aktifitas yang
disengaja dimana klien, keluarga dan perawat serta
tenaga kesehatan professional lainnya menentukan
Wilkinson (2007):
Kemajuan klien terhadap outcome yang dicapai
Kefektifan dari rencana asuhan keperawatan
Kriteria
Efektifitas: yang mengidentifikasi apakah
pencapaian tujuan yang diinginkan telah optimal.
Efisiensi: menyangkut apakah manfaat yang
diinginkan benar-benar berguna atau bernilai dari
program publik sebagai fasilitas yang dapat
memadai secara efektif.
Responsivitas: yang menyangkut mengkaji
apakah hasil kebijakan memuaskan
kebutuhan/keinginan, preferensi, atau nilai
kelompok tertentu terhadap pemanfaatan suatu
sumber daya.
Tekhnik evaluasi
1. Wawancara
-Teknik tersebut mencakup ketrampilan
secara verbal maupun non verbal,
empati dan rasa kepedulian yang tinggi.
2. Pengamatan
-Tujuan dari observasi adalah
mengumpulkan data tentang masalah
yang dihadapi klien melalui kepekaan
alat panca indra.
komponen
Kriteria

Standar praktik

Pertanyaan evaluatif
Jenis evaluasi
1. Evaluasi formatif
- aktivitas dari proses keperawatan
dan hasil kualitas pelayanan asuhan
keperawatan. Evaluasi proses harus
dilaksanakan segera setelah
perencanaan keperawatan
diimplementasikan untuk membantu
menilai efektivitas intervensi
tersebut.
2. Evaluasi sumatif
-Perubahan perilaku atau status
kesehatan klien pada akhir asuhan
keperawatan. Tipe evaluasi ini
dilaksanakan pada akhir asuhan
keperawatan secara paripurna.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tuntutan terhadap pelayanan keperawatan
mendorong manajemen Rumah Sakit Mardi Rahayu
Kudus menguji cobakan penerapan MPKP mualai
bulan Oktober 2009. Metode MPKP dimungkinkan
memfasilitasi profesionalisme perawat profesional
dalam memberikan asuhannya bagi pasien.
Pelayanan yang profesional sangat menekankan
kualitas kenerja perawat yang berfokus pada
profesionalisme diantaranya dengan penerapan
SAK yang diharapkan dapat menekan kejadian
INOS, meningkatkan kualitas pelayanan yang
berdampak pada kepuasan pasien.
PEMBAHASAN
Karakteristik Ruang Maranata I menguji cobakan penerapan MPKP
tingkat pertama mulai bulan Oktober 2009. Kapasitas ruang
Maranata I sebanyak 27 tempat tidur yang dibagi kelas utama
sebanyak 11 tempat tidur dan kelas I sebanyak 16 tempat tidur.
Ruang Maranata I dalam penerapan MPKPnya dibagi menjadi tiga
tim, untuk pembagian tim didasarkan tempat tidur yang terdekat.
Ruang Maranata I memiliki jumlah tenaga sebanyak 28 tenaga yang
terdiri 4 tenaga dengan latar belakang S1, 23 tenaga perawat
dengan latar belakang DIII dan 1 tenaga dengan latar belakang
SMA. Menurut jenis tenaga, tenaga Maranata I terbagi atas 1orang
kepala jaga, 1 orang clinical care manager(CCM) dengan latar
belakang S1, 2 Perawat primer dengan latar belakang S1 dan
1orang dengan latar belakang DIII, 21 perawat asosiet dengan 20
tenaga berlatar belakang pendidikan DIII dan 1 orang tenaga
dengan latar belakang S1, 1 tenaga atministrasi dengan latar
belakang pendidikan SMA.
Penerapan metode SAK (Standar
Asuhan Keperawatan)
Hasil observasi dokumentasi keperawatan
terahadap 38 responden, 35 dokumen pasien (92,1
%) sudah baik, 3 dokumen pasien (7,9%) kurang
baik dan tidak ada dokumentasi perawat yang
menunjukan nilaikurang. Ruang Maranata I yang
telah menerapkan MPKP selama 2 tahun dibagi
menjadi 3 tim yang masing-masing bertanggung
jawab terhadap 9 pasien yang didasarkan pada
letak tempat tidur yang berdekatan belum
berdasar tingkat ketergantungan pasien, sehingga
suatu saat ada tim yang menangani perawat total
care lebih dibanding dengan tim yang lainnya.
Cont...
Perawat primer sebaiknya hanya bertugas pada
pagi atau sore hari saja karena bila bertugas pada
malam hari, perawat primer akan berlibur
beberapa hari sehingga sulit menilai
perkembangan pasien. Dokumentasi perawat
merupakan suatu catatan yang memuat seluruh
informasi yang dibutuhkan, untuk menentukan
diagnosa keperawatan, menyusun rencana
keperawatan dan mengevaluasi tindakan
keperawatan yang disusun secara sestematis,
valid , dan dapat dipertanggung jawabkan secara
moral dan hukum.
Cont...
jadi pada dasarnya masih terdapat kelemahan
perawat dalam penulisan dan kemampuan analisa
bila memiliki landasan pengetahuan yang baik
tentang kasus yang dihadapi, kemampuan perawat
berpikir kritis dan waktu yang cukup dalam
melakukan pengkajian pada pasien. Kemampuan
seperti ini tidak muncul dengan sendirinya tetapi
harus dilatih dan berada dalam kondisi yang
mendukung. Salah satu sarana yang dapat
dimanfaatkan adalah dibahasnya kasus-kasus
pasien dalam diskusi perawat, penyegaran materi-
materi dalam pemberian asuhan keperawatan.
Terimakasih
Hatur Nuwun