Anda di halaman 1dari 12

REAKSI REVERSAL

Andi Farahnisa
Musfirah Hatta

Pembimbing :
DR. dr. Hj. Sitti Musafirah, Sp.KK

DIBAWAKAN DALAM RANGKAKEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016
Pendahuluan
Kusta adalah penyakit kronik yang
disebabkan oleh M. leprae yang
pertama kali menyerang susunan saraf
tepi, selanjutnya dapat menyerang
kulit, mukosa, saluran pernapasan
bagian atas, sistem retikulo endotelial,
mata, otot, tulang dan testis.1
Pendahuluan
Reaksi kusta adalah interupsi dengan
episode akut pada perjalanan penyakit
yang sebenarnya sangat kronik.
Klasifikasi reaksi kusta terbagi dua :
1. Reaksi reversal dan
2. ENL (eritema nodusum leprosum)2
Definisi
Reaksi reversal (RR) adalah episode
akut dari penyakit kusta yang
disebabkan oleh peningkatan CMI (Cell
Mediated Imunity) terhadap M.leprae
yang ditandai dengan lesi pada kulit
dan atau gangguan fungsi saraf.3
Epidemiologi
(WHO, 2011) : prevalensi kusta di seluruh dunia
sebesar : 192.246 kasus.
1. Asia Tenggara : 113.750 kasus,
2. Amerika : 33.953 kasus
3. Afrika : 27.111 kasus
4. sisanya berada di regional lain di dunia. 4

. 17.441 kasus baru terdeteksi di Indonesia pada


tahun 2008, yang menempatkan sebagai negara
dengan insiden tertinggi ketiga kusta di seluruh
dunia.5
Epidemiologi
Prevalensi RR : 8-33% dari seluruh
penderita kusta, umumnya terjadi
pada penderita kusta tipe borderline.
Bernink dkk melaporkan hasil
penelitian terhadap 85 penderita
reaksi di Indonesia : 46 penderita
(55%) mengalami RR.3
Etiopatogenesis
Reaksi reversal disebabkan oleh
peningkatan CMI (Cell Mediated
Imunity) secara tiba-tiba sebagai
respon terhadap antigen dari M.leprae.
RR merupakan delayed
hypersensitivity reaction seperti
halnya reaksi hipersensitivitas tipe IV.
Tabel 1. Gejala tanda reaksi tipe 19
Gejala Tanda Reaksi tipe 1

Tipe kusta Dapat terjadi pada kusta tipe PB maupun


MB
Waktu timbul Biasanya segera setelah pengobatan

Keadaan umum Umumnya baik, demam ringan (subfebris)


atau tanpa demam
Peradangan di kulit Bercak kulit lama menjadi lebih meradang
(merah), bengkak, berkilat, hangat.
Kadang-kadang hanya pada sebagian lesi.
Dapat timbul bercak baru.
Saraf Sering terjadi, umumnya berupa nyeri saraf
dan atau gangguan fungsi saraf
Silent Neuritis (+)

Udem pada ekstremitas (+)

Peradangan pada mata Anestesi kornea dan lagoftalmus karena


keterlibatan N. V dan N. VII

Peradangan pada organ lain Hampir tidak ada


Tabel 2. Berat ringannya Reaksi tipe 1 pada organ terkena9

Organ yang terkena Reaksi Tipe 1


Ringan Berat
Kulit Bercak putih menjadi Bercak putih menjadi
merah, yang merah merah, yang merah
jadi lebih merah. jadi lebih merah.
Bercak meninggi Timbul bercak baru,
kadang-kadang
disertai panas dan
malaise
Ulserasi (-) Ulserasi (+)
Edema tangan dan Edema tangan dan
kaki (-) kaki (+)
Saraf tepi Membesar, tidak Membesar, nyeri.
nyeri. Fungsi saraf
Fungsi saraf tidak terganggu.
terganggu
Gejala konstitusi Demam (-) Demam ()
Pasien dengan reaksi reversal berat setelah menerima multidrug therapy
(rifampicin, 600 mg perbulan; dapsone, 100 mg perhari; dan clofazimine, 300
mg perbulan dan 50 mg perhari).11
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan bakteriologi
- Tes lepromin
b. Pemeriksaan histopatologi

peningkatan infiltrat limfosit,


sel epiteloid dan sel Giant
memberi gambaran sel
langerhans. Terdapat nekrosis
di dalam granulosum.
Penyembuhan ditandai
dengan fibrosis.8