Anda di halaman 1dari 12

CEKUNGAN AIR TANAH

PENGERTIAN CEKUNGAN AIR


TANAH
Menurut UU No. 7 tahun 2004 pasal 1, Cekungan air tanah merupakan suatu wilayah
yang dibatasi oleh batas hidrogeologi setempat. semua kejadian hidrogeologi seperti
proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung
Menurut Danaryanto, dkk. (2004), CAT di Indonesia secara umum dibedakan
menjadi dua buah yaitu CAT bebas (unconfined aquifer) dan CAT tertekan (confined
aquifer). CAT ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan total besarnya potensi
masing-masing CAT adalah :

CAT Bebas : Potensi 1.165.971 juta m/tahun


CAT Tertekan : Potensi 35.325 juta m/tahun
Beberapa kriteria mengenai CAT PP no 43. Tahun 2008 :
1. Mempunyai batas hidrogeologis yang dikontrol oleh kondisi geologi
atau kondisi hidraulik air tanah.
2. Mempunyai daerah imbuhan dan daerah lepasan air tanah dalam satu
sistem pembentukan air tanah.
3. Cekungan Air Tanah di Indonesia terdiri atas akuifer bebas atau
biasa disebut unconfined aquifer, dan akuifer tertekan atau confined
aquifer.
CEKUNGAN AIR
LINTAS KAB/KOTA
TANAH

Kab/Kota A Kab/Kota B

Daerah Resapan
Air Tanah
Daerah Lepasan
Air Tanah

Laut

Akuifer

Akuifer
BATAS - BATAS CEKUNGAN AIR
TANAH
Menurut Danaryanto (2005) Penentuan batas cekungan air tanah dilakukan
melalui identifikasi tipe batas cekungan air tanah, yakni batas hidraulik yang
dikontrol oleh kondisi dan kontur permukaan tanah, kondisi geologi dan
hidrogeologi regional maupun setempat.
Penentuan batas cekungan air tanah perlu dilakukan secara terpadu dan
terkoordinasi antar kabupaten/kota, provinsi, atau negara yang tercakup di
dalam cekungan tersebut.
Batas cekungan air tanah tidak selalu sama dengan batas yang didasarkan
pada kondisi permukaan tanah seperti batas administrasi, batas
daerah aliran sungai, termasuk batas antara daratan dengan lautan.
Gambar Contoh cekungan air
tanah lintas kabupaten/kota
(Danaryanto et al., 2005)
Batas Lateral
Penentuan batas lateral dilakukan untuk mengetahui keberadaan
cekungan air tanah yang mencakup satu wilayah kabupaten/kota, lintas
kabupaten/kota, lintas provinsi, atau lintas negara.
Batas tanpa aliran eksternal adalah bidang kontak antara akuifer dan
bukan akuifer. Batas itu dapat berupa bidang sesar, keselarasan, atau
ketidakselarasan.
Batas Vertikal
Penentuan batas vertikal dilakukan untuk mengetahui batas, sebaran, dan
dimensi cekungan air tanah pada arah vertikal.
PEMBERIAN NAMA CEKUNGAN AIR
TANAH
Menurut Danaryanto (2005) pemberian nama cekungan air tanah yakni :
Nama cekungan air tanah maksimum terdiri atas dua nama lokasi geografi, antara lain nama ibu
kota provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, nama danau, rawa, sungai, pulau, teluk, dan bukit.
Jika dalam suatu cekungan air tanah dijumpai satu lokasi ibu kota provinsi, nama cekungan air
tanah adalah nama ibu kota provinsi tersebut.
Jika dalam suatu cekungan air tanah dijumpai satu lokasi ibu kota provinsi dan lebih dari satu ibukota
kabupaten/kota, nama cekungan air tanah adalah nama ibukota provinsi dan nama ibukota
kabupaten/kota yang mempunyai peringkat luas cakupan dominan.
Jika dalam suatu cekungan air tanah dijumpai satu lokasi ibukota kabupaten/kota, nama cekungan air
tanah adalah nama ibukota kabupaten/kota tersebut.
Jika dalam suatu cekungan air tanah dijumpai lebih dari satu lokasi ibukota kabupaten/kota, nama
cekungan air tanah adalah dua nama ibukota kabupaten/kota dengan urut-urutan sesuai dengan
peringkat luas cakupannya.
Jika dalam suatu cekungan air tanah tidak dijumpai lokasi ibukota
provinsi dan atau kabupaten/kota, atau cekungan tersebut terlampar
mencakup beberapa lokasi ibukota provinsi dan atau
kabupaten/kota dalam suatu wilayah sungai, nama cekungan air
tanah adalah nama geografi/hidrologi yang lebih dikenal seperti nama
ibukota kecamatan, pulau, bukit, teluk, danau, rawa, dan
sungai/wilayah sungai. Misalnya CAT Rawa Danau dan CAT Brantas.
SEBARAN DAN POTENSI CEKUNGAN
AIR TANAH DI JAWA TIMUR
Jml. AT [juta M3/th]
No.
no C AT WILAYAH ADMINITRASI AT Bebas AT Tertekan
CAT

1 54 Wonosari ** Kab. Gunungkidul, Kab. Wonosari, Kab. Pacitan. 463 -


2 58 Lasem ** Kab. Rembang, Kab. Tuban. 107 9
3 60 Randublatung ** Kab. Blora, Kab. Grobogan, Kab. Bojonegoro. 23 9
4 61 Ngawi Ponorogo ** Kot/Kab. Madiun, Kab. Magetan, Kab. Ngawi, Kab. Ponorogo, Kab. Pacitan,
1.547 66
Kab. Bojonegoro, Kab. Wonogiri.
5 62 Surabaya Lamongan * Kot. Surabaya, Kab. Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik. 843 37
6 63 Tuban * Kab. Tuban, Kab. Lamongan. 160 -
7 64 Panceng * Kab. Gresik, Kab. Lamongan. 27 41
8 65 Brantas * Kab. Nganjuk, Kab/Kot. Kediri, Kab. Madiun, Kab. Tulungagung, Kab/Kot.
Blitar, Kab/Kot. Malang, Kab. Lumajang, Kab. Jombang, Kab/Kot. Mojokerto, 3.674 175
Kab. Sidoarjo, Kab. Gresik, Kot. Surabaya.
9 66 Bulukawang * Kab. Tulungagung, Kab. Blitar. 163 -
10 67 Sumberbening Kab. Malang. 338 -
11 68 Pasuruan * Kab. Pasuruan, Kota. Pasuruan, Kab. Mojokerto. 628 43
12 69 Probolinggo * Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang. 711 124
13 70 Jember Lumajang * Kab. Lumajang, Kab. Jember. 2.625 131
14 71 Besuki * Kab. Situbondo, Kab. Bondowoso. 446 33
15 72 Bondowoso Situbondo * Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo. 1.426 172
16 73 Wonorejo * Kab. Banyuwangi, Kab. Situbondo. 406 27
17 74 Banyuwangi Kab. Banyuwangi. 1.163 70
18 75 Blambangan Kab. Banyuwangi. 124 -
19 76 Bangkalan Kab. Bangkalan. 77 -
20 77 Ketapang * Kab. Sampang, Kab. Sumenep, Kab. Pamekasan, Kab. Bangkalan. 137 -
21 78 Sampang Pamekasan * Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Bangkalan. 238 57
22 79 Sumenep * Kab. Sumenep, Kab. Pamekasan. 130 -
23 80 Toranggo Kab. Sumenep. 21 -
JUMLAH : 985
KET : ** CAT Lintas Prop; * CAT Lintas