Anda di halaman 1dari 16

REAKSI PASAR MODAL AKIBAT PENGUNDURAN

MENTERI KEUANGAN 5 MEI 2010 DI BURSA EFEK


INDONESIA

oleh

Djuraidin Ismail

Heri Samhudi Zakaria


Latar Belakang Masalah
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II resmi dilantik
pada tanggal 21 Oktober 2009. Salah satu menteri
yang terpilih untuk keduakalinya masuk dalam jajaran
kabinet KIB II tersebut adalah Sri Mulyani Indrawati.
Dia terpilih untuk memimpin Kementrian Keuangan
Republik Indonesia periode 2009-2014. Sri Mulyani
merupakan salah satu mentri terbaik dalam jajaran
kabinet KIB pertama yang mampu menghindari krisis
keuangan global, sehingga Indonesia luput dari krisis
tersebut seperti yang dialami oleh banyak negara
termasuk Amerika Serikat.
Setelah bertugas selama hampir enam bulan,
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluarkan sebuah
keputusan yang cukup menggemparkan Indonesia
bahkan kawasan Asia. Menteri yang pernah mendapat
predikat sebagai menteri keuangan terbaik se-Asia
secara resmi menyatakan pengunduran dirinya
Pengunduran diri Sri Mulyani diinterprestasikan
dengan berbagai persepsi oleh berbagai pihak, dari
persepsi konspirasi politik hingga kegagalannya
mempertanggungjawabkan dana bailout Bank
Century yang menghabiskan keuangan negara
mencapai sebesar 6,7 triliun rupiah. Pada hari
pengunduran diri menter keuangan tersebut, saham-
saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak pagi
harganya mengalami penurunan, hingga hari Rabu
(sore hari) harga terus semakin tertekan setelah
laporan bahwa Sri Mulyani akan menerima jabatan
baru di Bank Dunia. Melemahnya sebagian besar
saham di BEI membuat Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) ditutup turun sebesar 112,776 poin
atau 3,81 persen ke posisi 2.946,239. Hal ini
merupakan penurunan terbesar pertama dalam
Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka dapat


dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.Apakah pasar modal Indonesia bereaksi terhadap peristiwa
pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani tanggal 5 Mei 2010?
2.Apakah investor merespon negatif bad news pengunduran diri Menteri
Keuangan Sri Mulyani?
3.Apakah investor memperoleh abnormal return sebelelum dan setelah
peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris reaksi pasar
modal Indonesia terhadap peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan
Sri Mulyani khususnya saham-saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 di
Bursa Efek Indonesia.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan masalah penelitian yang telah diuraikan sebelulmnya, maka
hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:

Abnormal return saham di Bursa Efek Indonesia sebelum pengunduran


diri Menteri Keuangan berbeda secara signifikan dengan abnormal return
sesudah pengunduran diri.
Metode Penelitian
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh saham yang telah listing di Bursa Efek
Indonesia. Sedangkan sampel penelitian adalah saham-saham yang termasuk dalam
perhitungan Indeks LQ45 pada periode peristiwa penguduran diri Menteri Keuangan.
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling,
dengan kriteria sebagai berikut:
1. Saham-saham tersebut merupakan saham yang terdaftar dalam perhitungan
Indeks LQ45.
2. Selama periode pengamatan(3 hari sebelum dan sesudah hari peristiwa, dan 9
hari periode estimasi) saham-saham tersebut aktif diperdagangkan.
3. Data harga saham historis saham-saham yang menjadi sampel penelitian selama
periode pengamatan tersedia secara lengkap di situs-situs keuangan.

Teknik Pengumpulan Data


Data yang digunakan merupakan data sekunder yang dipublikasikan oleh Bursa
Efek Indonesia melalui situs websitenya. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan
terhadap pergerakan harga saham harian perusahaan-perusahaan yang termasuk
dalam indeks LQ45. Secara keseluruhan data tersebut diperoleh dengan cara
mengunjungi situs keuangan dan pasar modal modal di Indonesia seperti: www.id
x.co.id dan www.finance.yahaoo.com.
Teknik Analisis Data
Indikator yang digunakan untuk melihat reaksi pasar modal Indonesia
terhadap peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati tanggal 5 Mei 2010 adalah harga saham penutupan selama 15
hari bursa yang akan dihitung return masing-masing. Data kemudian
dibagi menjadi dua periode, yaitu periode estimasi (estimation period)
selama 9 hari bursa yang dimulai tanggal 19 hingga 29 April 2010 dan
periode peristiwa (event period) selama 6 hari, yaitu: 3 hari sebelum
peristiwa yakni tanggal 30 April, 3 dan 4 Mei 2010 dan 3 hari setelah
peristiwa terjadi yakni tanggal 6, 7, 10 Mei 2010.

estimation period event period

t-9 t-3 t-0 t+3


Perhitungan Abnormal Return masing-masing saham
digunakan persamaan sebagai berikut (Jogianto,
2008: 550):

RTNi,t = Ri,t E[Ri,t]

Dimana :
RTNi,t : Abnormal return saham i pada hari ke -t
Ri,t : Actual return saham i pada hari ke -t
E[Ri,t] : Expected return saham i pada hari ke t

Pengujian abnormal return untuk setiap sekuritas dilakukan


secara keseluruhan dengan menguji rata-rata abnormal return
dengan persamaan sebagai berikut Jogianto, 2008: 561):

RTN it
RRTN t i 1

k
Dimana:
RRTNt : Rata-rata abnormal return pada hari ke-t
RTNi,t : Abnormal return sekuritas i pada hari ke-t
K : Jumlah sekuritas

Untuk melihat perbedaan rata-rata abnormal return


sebelum dan setelah peristiwa pengunduran diri Menteri
Keuangan Republik Indonesia Sri Mulayani, dilkukan pengujian
menggunakan uji beda rata-rata paired samples t test.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dengan menggunakan model analisis tersebut diatas, perhitungan
abnormal return dan rata-rata abnormal return masing-masing saham
yang terdaftar dalam indeks LQ45 sebelum dan setelah peristiwa dapat
dilihat dibawah ini.

Hari Abnormal Return Rata-Rata Abnormal Return

-3 0,666469 0,014810
-2 -0,205428 -0,004565
-1 -0,365240 -0,008116
0 -1,948195 -0,043293
1 -0,481562 -0,010701
2 -1,427987 -0,031733
3 2,174521 0,048323
tabel 1 pada hari peristiwa, yakni tanggal 5 Mei 2010
return rata-rata saham yang terdaftar dalam indeks LQ45
adalah -0,043293 dan merupakan return negatif terbesar
selama event period. Diikuti oleh hari pertama setelah
pengumuman sebesar -0,010701 dan hari berikutnya (hari
ke-2 setelah peristiwa) dengan rata-rata abnormal return
sebesar -0,031733. Sedangkan pada hari ke-3 setelah
peristiwa diumumkan, abnormal return mejadi positif
yakni sebesar 0,048323. Ini berarti bahwa para pemegang
saham di pasar modal tidak ingin berlarut-larut dengan
berita buruk yang mengkhawatirkan kondisi ekonomi
Indonesia. Degan demikian, peristiwa pengunduran diri
Menteri Keuangan Sri Mulyani tanggal 5 Mei 2010
merupakan informasi buruk bagi para pemegang saham
di pasar modal, tetapi peristiwa tersebut hanya direspon
sebagai bad news sealam dua hari setelah peristiwa
terjadi yaitu hari ke-2 dan hari ke-3.
Sebelum peristiwa pengunduran diri menteri keuangan diumumkan pada
tanggal 5 Mei 2010, informasi tersebut diduga telah tercium oleh para investor
di Bursa Efek Indonesia. Hal ini dapat diamati berdasarkan rata-rata abnormal
return sebelum peristiwa itu terjadi. Misalnya dua hari sebelum peristiwa, rata-
rata abnormal return saham-saham yang terdaftar dalam indeks LQ45 adalah
-0,004565 dan minus tersebut semakin besar satu hari sebelum peristiwa,
yakni -0,008116. Ini membuktikan bahwa investor benar-benar khawatir akan
bad news yang masuk ke pasar, sehingga pada hari berikutnya (H-1) mereka
semakin cemas jika peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Alasan lain
negatifnya return saham pada hari-hari sebelum pengumuman peristiwa
disebabkan karena kekhawatiran investor terhadap krisis keuangan di negara-
negara bagian Eropa khususnya kasus utang yang membelit Yunani. Kedua
informasi buruk tersebut telah bercampur yang berimplikasi anjloknya IHSG
dan indeks LQ45.

Pada hari peristiwa tanggal 5 Mei 2010 investor panik terhadap pengumuman
pengunduran diri menteri keuangan dan terjadi panic selling berupa aksi jual
secara besar-besaran. Aksi jual ini ditengarai oleh investor-investor asing yang
memilih memegang dana tunai akibat kekhawatiran akan perekonomian
Indonesia.
Untuk melihat perbedaan rata-rata abnormal return sebelum
dan setelah peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan
Republik Indonesia Sri Mulayani, dilkukan pengujian
menggunakan uji beda rata-rata paired samples t test. Hasil
pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Paired Differences

95% Confidence Sig. (2-


Interval of the t df
Std. Std. tailed)
Mean Deviatio Error Difference
n Mean
Lower Upper

Pair 1 Sblm -
-0,00038 0,05195 0,00774 0, 01185 -0,486 44 0,630
- Stlh 0,01937
> 0,05 sehingga dapat diisimpukan bahwa Ha ditolak dan menerima H0.
Ini berati bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-
rata abnormal return sebelum dan setelah peristiwa pengunduran diri
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dari Kabinet Indonesia Bersatu
Jilid II. Tidak signifikannya rata-rata abnormal return tersebut dapat
dipengaruhi oleh isu-isu lain yang masuk ke pasar modal, sehingga
peristiwa pengunduran diri telah bercampur dengan isu-isu tersebut.
Sebagai contoh adalah masuknya informasi buruk tentang krisis hutang
yang melanda Yunani dimana pengumumannya hampir bersamaan
dengan peristiwa pengunduran diri menteri keungan tersebut Selain itu
terdapat juga kekhawatiran pasar terhadap isu penggelapan pajak yang
dilakukan oleh beberapa perusahaan atau emiten yang sahamnya
terdaftar dalam indeks LQ45, misalnya penggelapan pajak yang
dilakukan oleh Group Bakrie. Adapun anak perusahaan Group Bakrie
yang diduga melakukan skandal pajak antara lain: PT Bakrie & Brothers
Tbk (BNBR), PT Bakrie Telekom Tbk (BTEL), PT Bakrieland Development
Tbk (ELTY), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk dengan kode
emiten UNSP. Semua anak perusahaan Group Bakrie tersebut
merupakan saham-saham blue chip yang terdaftar dalam indeks LQ45.
Sehingga secara teknikal bad news skandal pajak yang masuk ke pasar
mempengaruhi harga saham di pasar modal dengan dampak
penurunan harga saham.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas sebelumnya dapat disimpulkan:
Pada hari peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani tanggal 5 Mei
2010, rata-rata abnormal return emiten yang terdaftar dalam indeks LQ45 adalah
sebesar
(-0,043293). Dengan kata lain pada hari peristiwa tersebut harga saham emiten yang
terdaftar dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia turun secara drastis.
Pada hari pertama dan kedua setelah peristiwa terjadi, harga saham harga saham
masih mengalami penurunan akibat berita buruk yang masuk ke pasar. Hal ini dapat
dilihat dari rata-rata abnormal return masing-masing yaitu, -0,010701 pada H+1 dan
-1,427987 pada H+2.

Pada hari ketiga setelah peristiwa, rata-rata abnormal return adalah 0,048323. Ini
menunjukkan bahwa investor di pasar modal Indonesia tidak ingin berlarut dengan
pengumuman informasi tersebut. Sehingga kepercayaan mereka terhadap pasar
kembali pulih dan menepis kekhawatiran terhadap merosotnya perekonomian
Indonesia seperti yang diduga oleh para analis.

Sebelum peristiwa pengunduran diri menteri keuangan diumumkan seperti pada hari
ke-2 sebelum peristiwa rata-rata abnormal return saham-saham yang terdaftar dalam
indeks LQ45 adalah -0,004565.
Pada hari pertama sebelum peristiwa (H-1) minus tersebut semakin besar yakni
-0,008116. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Informasi tersebut diduga
telah tercium oleh para investor di Bursa Efek Indonesia. Ini membuktikan bahwa
investor benar-benar khawatir akan bad news yang masuk ke pasar, sehingga
pada hari berikutnya (H-1) mereka semakin cemas jika peristiwa tersebut benar-
benar terjadi.

Saran
Beberapa hal yang disarankan berdasarkan hasil penelitian ini yang telah dibahas
sebelumnya antara lain:

Kepada para pelaku pasar modal disarankan untuk menyusun strategi tertentu
guna menyesuaikan diri terhadap peristiwa tertentu yang berdampak terhadap
pasar modal.

Kepada para investor diharapkan tidak ridak panik menghadapi peristiwa tertentu,
karena efek yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut hanya bersifat sementara.

Penelitian ini terbatas hanya menggunakan indeks LQ45 sebagai acuan untuk
melihat reaski pasar terhadap peristiwa pengunduran Menteri Keuangan Sri
Mulyani, sehingga bagi para peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan jumlah
sampel yang lebih besar untuk melihat reaksi pasar terhadap peristiwa-peristiwa
lainnya.