Anda di halaman 1dari 53

BETON ASPAL

Karakteristik Beton Aspal


Sifat Volumetrik dari Campuran
Beton Aspal yang telah dipadatkan
Pengujian Marshall
Jenis Beton Aspal
Persyaratan Sifat Agregat
Persyaratan Sifat Aspal
Persyaratan Campuran Beton Aspal
Beton aspal adalah jenis perkerasan jalan yang terdiri dari
campuran agregat dan aspal, dengan atau tanpa bahan
tambahan.
Material-material pembentuk beton aspal di campur di dalam
instalasi pencampur pada suhu tertentu, kemudian diangkut
ke lokasi, dihamparkan dan dipadatkan.
Pencampuran dapat dilakukan pada suhu ruang dengan
menggunakan aspal cair disebut Cold Mix.
Umumnya suhu pencampuran antara 145 155 0C,
sehingga disebut sebagai beton aspal campuran panas Hot
Mix.
1. Karakteristik Beton Aspal

1.1. Stabilitas
Kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalu lintas tanpa
terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur, dan
bleeding.

Faktor Faktor yang mempengaruhi Nilai Stabilitas Beton Aspal


1. Gesekan Internal, dapat berasal dari kekasaran permukaan
dari butir-butir agregat, luas bidang kontak, dan bentuk butir
agregat.
2. Kohesi, adalah gaya ikat aspal yang berasal dari daya
lekatnya, sehingga mampu memelihara tekanan kontak
antar butir agregat.
1.2. Keawetan atau Durabilitas
Adalah kemampuan beton aspal menerima repetisi beban
lalu lintas seperti beban kendaraan dan gesekan antara
roda kendaraan dan permukaan jalan, serta menahan
keausan akibat pengaruh cuaca dan iklim, seperti udara, air
atau perubahan temperatur.
Durabilitas beton aspal dipengaruhi oleh tebalnya film atau
selimut aspal, banyaknya pori dalam campuran, kepadatan
dan kedap airnya campuran.

1.3. Kelenturan / Fleksibilitas


Adalah kemampuan beton aspal untuk menyesuaikan diri
akibat penurunan (konsolidasi/settlement). Dan pergerakan
dari pondasi atau tanah dasar, tanpa terjadi retak.
1.4. Ketahanan terhadap Kelelahan (Fatique
Resistance)
Adalah kemampuan beton aspal untuk menerima lendutan
berulang akibat repetisi beban, tanpa terjadinya kelelahan
berupa alur dan retak. Hal tersebut dapat dicapai jika
mempergunakan kadar aspal yang tinggi.

1.5. Kekesatan/Tahanan Gesek (Skid Resistance)


Adalah kemampuan permukaan beton aspal terutama pada
kondisi basah, memberikan gaya gesek pada roda
kendaraan sehingga kendaraan tidak tergelincir, atau slip.
Faktor yang memperngaruhi kekesatan jalan adalah
kekasaran permukaan butir agregat, luas bidang kontak
antar butir, bentuk butir gradasi agregat, kepadatan
campuran dan tebal film aspal
1.6. Kedap Air (Impermeabilitas)
Kemampuan beton aspal untuk tidak dapat dimasuki air
ataupun udara ke dalam lapisan beton aspal. Air dan udara
dapat mempercepat proses penuaan aspal, dan
pengelupasan film/selimut aspal dari permukaan agregat.

1.7. Mudah dilaksanakan (Workability)


Kemampuan beton aspal untuk mudah dihamparkan dan
dipadatkan. Tingkat kemudahan dalam pelaksanaan,
menentukan tingkat efisiensi pekerjaan.
Faktor yang mempengaruhi tingkat kemudahan dalam
proses penghamparan dan pemadatan adalah viskositas
aspal, kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur,
gradasi serta kondisi agregat.
2. Sifat Volumetrik dari Campuran
Beton Aspal yang telah Dipadatkan
Secara analitis, dapat ditentukan sifat volumetrik dari beton
aspal padat, baik dipadatkan di laboratorium, maupun di
lapangan. Parameter yang biasa digunakan adalah:

Vmb = Volume bulk dari beton aspal padat

VMA = Volume pori di antara butir agregat campuran,


dalam beton aspal padat, termasuk yang terisi
oleh aspal (void in the mineral aggregate)
VIM = Volume pori aspal beton padat (void in mix)

VFA = Volume pori beton aspal padat yang terisi oleh


aspal (volume of voids filled with asphalt)
VIM adalah volume pori yang masih tersisa setelah campuran
beton aspal dipadatkan. VIM ini dibutuhkan untuk tempat
bergesernya butir-butir agregat, akibat pemadatan tambahan
yang terjadi oleh repetisi beban lalu lintas, atau tempat jika
aspal menjadi lunak akibat dari naiknya temperatur.
VIM yang terlalu besar akan mengakibatkan beton aspal
padat berkurang kekedapan airnya, sehingga berakibat
meningkatnya proses oksidasi aspal yang dapat
mempercepat penuaan aspal dan menurunnya sifat
durabilitas beton aspal.
VIM yang terlalu kecil akan mengakibatkan perkerasan
mengalami bleeding jika temperatur meningkat.
VMA adalah volume pori di dalam beton aspal padat jika
seluruh selimut aspal ditiadakan.
Tidak termasuk di dalam VMA volume pori di masing-masing
butir agregat.
VMA akan meningkat jika selimut aspal lebih tebal, atau
agregat yang digunakan bergradasi terbuka.
VFA adalah volume pori beton aspal padat yang terisi oleh
aspal atau volume film/selimut aspal.
Udara VIM

VMA

Va VFA
Aspal

Vab

Vmb
Vmm
Vsb
Agregat
Vse
Vmb = Volume bulk dari campuran beton aspal padat
Vsb = Volume agregat, adalah volume bulk dari agregat
(volume masif + pori yang ada di dalam masing-
masing butir agregat)
Vse = Volume agregat, adalah volume efektif dari agregat
(volume bagian masif + pori yang tidak terisi aspal di
dalam masing-masing butir agregat)
VMA = Volume pori di antara butir agregat di dalam beton
aspal padat
Vmm = Volume tanpa pori dari beton aspal padat
VIM = Volume pori dalam beton aspal padat
Va = Volume aspal dalam beton padat
VFA = Volume pori beton aspal yang terisi oleh aspal
Vab = Volume aspal yang terabsorsi ke dalam agregat dari
beton aspal padat
2.1. Berat Jenis Bulk Beton Aspal Padat (Gmb)
Bk
Gmb =
Bssd - Ba

Gmb = Berat jenis bulk dari beton aspal padat


Bk = Berat kering beton aspal padat, gram
Bssd = Berat kering permukaan dari beton aspal yang telah
dipadatkan, gram
Ba = Berat beton aspal padat di dalam air, gram

Bssd - Ba = Volume bulk dari beton aspal padat, jika berat jenis air
diasumsikan = 1

Persen absorsi air dari beton aspal padat terhadap volume =


Bssd Bk
X 100
Bssd - Ba
2.2. Berat Jenis Maksimum Beton Aspal yang
belum dipadatkan (Gmm)
A
Gmm =
A-C
Gmm = Berat jenis maksimum dari campuran beton aspal yang
belum dipadatkan
A = Berat campuran beton aspal yang belum dipadatkan
pada kondisi kering
C = Berat campuran beton aspal yang belum dipadatkan, di
dalam air

Gmm dapat pula diperoleh melalui perhitungan dengan berdasarkan berat


campuran beton aspal yang belum dipadatkan sebanyak 100 gr.
Campuran beton aspal itu dibuat dari Pa % aspal dan Ps % agregat
terhadap berat beton aspal padat.
Jadi: Pa + Ps = 100%
Aspal mempunyai berat jenis Ga, dan agregat mempunyai berat jenis
efektif Gse. Jadi di dalam campuran beton aspal dengan berat total 100 gr
terdapat:
Pa
Berat aspal = X 100 gram = Pa gram
100
Pa
Volume aspal = cm3
Ga

Ps
Berat agregat = X 100 gram = Ps gram
100
Ps
Volume agregat = cm3
Gse
Jika tidak ada pori tersisa di dalam campuran Pa Ps
beton aspal yang belum dipadatkan ini, maka ( + ) cm3
volume campuran beton aspal adalah: Ga Gse
Jadi, Gmm dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sbb:

100
Gmm =
Ps Pa
+
Gse Ga

Dengan:
Gmm = Berat jenis maksimum dari beton aspal yang belum
dipadatkan
Pa = Kadar aspal terhadap berat beton aspal padat, %
Ps = Kadar agregat, % terhadap berat beton aspal padat
Ga = Berat jenis aspal
Gse = Berat jenis efektif dari agregat pembentuk beton aspal
padat
2.3. Volume Pori dalam Agregat Campuran (VMA)
Voids in the Mineral Agregat (VMA) adalah banyaknya pori
diantara butir-butir agregat di dalam beton aspal padat, dinyatakan
dalam persentase.
Jika Komposisi campuran ditentukan sebagai persentasedari berat
beton aspal padat
Dasar perhitungan dilakukan berdasarkan volume beton aspal padat =
100 cm3.
Berat beton aspal padat = 100 . Gmb gram
Jika kadar agregat adalah Ps % terhadap berat beton aspal padat,
maka:
berat agregat di dlm beton aspal padat = 100 . Gmb . Ps gram
Volume agregat (bulk) dlm
Gmb . Ps beton aspal = G mb . P s / G sb cm 3

.
VMA = 100 - % dari volume bulk
Gsb
VMA = Vol. pori antara agregat di Gsb = Berat jenis bulk dari
dlm beton aspal, % dari agregat pembentuk beton
vol. bulk beton aspal aspal padat
padat
Gmb Berat jenis bulk dari Ps = Kadar agregat, % terhadap
beton aspal padat berat beton aspal padat
Jika Komposisi campuran ditentukan sebagai persentase dari berat
agregat
Dasar perhitungan dilakukan berdasarkan volume beton aspal padat =
100 cm3.
Berat beton aspal padat = 100 . Gmb gram
Jika kadar agregat adalah Pa1 % terhadap berat total agregat dalam
beton aspal padat, maka:
berat agregat di dlm beton aspal padat = 100 . Gmb . Ps gram
Volume agregat (bulk) dlm beton aspal = Gmb . Ps / Gsb cm3
100 . Gmb = (Pa1/100100
. berat
G agregat + berat agregat) gram
mb

Berat agregat = Pa1 gram


1+
100
100Gmb 1
. cm3
Volume agregat (bulk) dalam beton aspal = 1 + Pa1 Gsb
100
Gmb 100
VMA = (100 - . 100) % dari volume bulk
Gsb 100 + Pa1

Dengan:
VMA = Volume pori antara butir agregat di dalam beton aspal
padat, % dari volume bulk beton aspal padat
Gmb = Berat jenis bulk dari beton aspal padat
Pa1 = Kadar aspal, % terhadap berat agregat
Gsb = Berat jenis bulk dari agregat pembentuk beton aspal
padat
2.4. Volume Pori dalam Beton Aspal Padat (VIM)
VIM adalah banyaknya pori diantara butir-butir agregat yang
diselimuti oleh aspal. VIM dinyatakan dalam persentase terhadap
volume beton aspal padat.
Dasar perhitungan dilakukan berdasarkan volume beton aspal
padat 100 cm3.

Gmm Gmb
VIM = (100 x ) % dari volume bulk
Gmm
Dengan:
VIM = Volume pori dalam beton aspal padat, % dari volume bulk
beton aspal padat
Gmm = Berat jenis maksimum dari beton aspal yang belum
dipadatkan
Gmb = Berat jenis bulk dari beton aspal padat
2.5. Volume Pori antara Butir Agregat Terisi Aspal
(VFA)
Persentase pori agregat yang terisi oleh aspal disebut VFA,
sehingga VFA merupakan bagian dari VMA yang terisi aspal, tidak
termasuk aspal yang terabsorsi oleh butir agregat.
VFA berfungsi untuk menyelimuti butir-butir agregat di dalam beton
aspal padaat atau VFA merupakan persentase volume beton aspal
padat yang menjadi film atau selimut aspal.

100 (VMA VIM)


VFA = % dari VMA
VMA
VFA = Vol. pori antara butir agregat yg terisi aspal (% dr VMA)
VMA = Vol. Pori antara butir agregat di dlm beton aspal padat,
% Vol bulk beton aspal padat
VIM = Vol. Pori dlm beton aspal padat, % dr vol. bulk beton
aspal padat
2.6. Kadar Aspal yang terabsorsi ke dalam pori
Agregat (Pab)
Persentase aspal yang mengisi pori di dalam butir agregat
(terabsorsi ke dalam pori agregat)
Volume pori agregat yang dapat diabsorsi aspal:
100 100 100 (Gse Gsb)
( - ) cm 3 =
Gsb Gse Gsb . Gse

Gse - Gsb
Pab = 100 Ga % dari berat agregat
Gsb . Gse

Pab = Kadar aspal terabsorsi dlm butir agregat, % berat agregat


Gsb = Berat jenis bulk agregat pembentuk beton aspal
Gsb = Berat jenis efektif agregat pembentuk beton aspal
Gsb Berat jenis aspal
2.7. Kadar Aspal efektif yang menyelimuti Agregat
(Pae)
Banyaknya aspal yang menyelimuti permukaan agregat adalah
jumlah aspal yang dimasukkan ke dalam campuran beton aspal
dikurangi bagian yang terabsorsi oleh agregat.

Pab
Pae = Pa - Ps % dari berat beton aspal padat
100

Pae = Kadar aspal efektif yang menyelimuti butir-butir


agregat, % terhadap berat beton aspal padat
Pa = Kadar aspal terhadap berat beton aspal padatr, %
Ps = Kadar agregat, % terhadap berat beton aspal padat
Pab = Kadar aspal yang terabsorsi ke dalam pori butir
agregat, % terhadap berat agregat
2.8. Tebal Selimut Aspal Beton
Semakin tinggi kadar aspal efektif semakin tebal selimut atau film
aspal pada masing-masing butir agregat.
Tebal selimut atau film aspal ini sangat ditentukan oleh luas
permukaan seluruh butir-butir agregat pembentuk beton aspal.
Saringan FLP
Nomor Bukaan, mm M2/kg
No. 4 4,75 0,41
No. 8 2,36 0,82
No. 16 1,18 1,64
No. 30 0,6 2,87
No. 50 0,3 6,14
No. 100 0,15 12,29
No. 200 0,075 32,77

Faktor luas permukaan agregat


Pae 1
Tebal Selimut aspal = . . 1000 m
Ga LP . Ps

Pae = Kadar aspal efektif yang menyelimuti butir-butir


agregat, % terhadap berat beton aspal padat
Ga = Berat jenis aspal
Ps = Kadar agregat, % terhadap berat beton aspal padat
LP = Luas permukaan total dari agregat campuran di dalam
beton aspal padat
2.9. Berat Jenis Bulk Agregat Campuran (Gsb)
Masing-masing agregat memiliki berat jenis yang berbeda,
sehingga untuk menghitung berat beton aspal padat dibutuhkan
berat jenis agregat camputan:

P1 + P2 + P3 + Pn
Gsb =
P1 P2 P3 Pn
+ + +
G1 G2 G3 Gn

B = Berat campuran agregat pembentu beton


aspal
Ba , Ba, Bn = Berat masing-masing fraksi agregat
P1, P2, . Pn = Persentase berat masing-masing fraksi
terhadap berat total agregat campuran
G1, G2, . Gn = Berat jenis bulk masing-masing fraksi agregat
2.10. Berat Jenis Efektif Agregat Campuran (Gse)
Dasar perhitungan dilakukan berdasarkan berat beton aspal belum
dipadatkan = 100 gram
Berat aspal di dalam campuran = Pa gram
Berat agregat di dalam campuran = (100 Pa) gram
100
Berat beton aspal minimum sebelum dipadatkan = cm3
Gmm
Pa
Volume aspal di dalam campuran = cm3
Ga
100 Pa
Volume efektif agregat campuran = -
Gmm Ga
100 - Pa
Berat Jenis efektif agregat campuran = 100 Pa
-
Gmm Ga
2.11. Contoh Perhitungan Sifat Volumetrik Beton
Aspal
Perhitungan sifat volumetrik veton aspal sebaiknya dikerjakan
dengan menggunakan formulir kerja berbentuk Tabel seperti berikut
Formulir Perhitungan Sifat Volumetrik Beton Aspal Padat
(Perhitungan berdasarkan berat beton aspal padat)
Benda Uji: B1 Tanggal: 24 Oktober 2002
Identifikasi:
Komposisi dari benda uji
Komposisi campuran, % dari berat total
Berat Jenis (G), gram
agregat, P
Efektif Bulk Benda Uji
1 2 3 4 5
1 Agregat kasar G1 2,706 2,634 P1 35
2 Agregat halus G2 2,918 2,836 P2 38,7
3 Bahan Pengisi G3 2,715 2,653 P3 19,4
4 Campuran Agregat Gs - - Ps 93,1
5 Kadar Aspal Ga 1,038 Pa 6,9
Komposisi campuran, % dari berat total
Berat Jenis (G), gram
agregat, P
Efektif Bulk Benda Uji
1 2 3 4 5
6 Agregat kasar G1 2,706 2,634 P1 36,7
7 Agregat halus G2 2,918 2,836 P2 41,6
8 Bahan Pengisi G3 2,715 2,653 P3 20,8
9 Campuran Agregat Gs - - Ps 100
10 Kadar Aspal Ga 1,038 Pa 7,4
11. Berat kering benda uji = 1200,74 gram
12. Berat benda uji kering permukaan = 1203,6 gram
13. Berat benda uji di dalam air = 670 gram
14 Berat jenis bulk agregat campuran, gr Gsb 2,719
15 Berat jenis maksimum benda uji, gr Gmm 2,500
16 Berat jenis bulk benda uji, gr Gmb 2,250
17 Berat jenis efektif agregat campuran, gr Gse 2,792
18 Kadar aspal terabsorsi, % Pab 0,998
19 Kadar aspal efektif Pae 5,971
20 Persentase pori antara agregat VMA 22,96
21 Persentase pori dalam campuran VIM 10
22 Persentase pori terisi aspal VFA 56,5
Perhitungan:
1. Berat Jenis Bulk dari agregat campuran:
P1 + P 2 + P3 + Pn 37,6 + 41,6 + 20,8
Gsb = P1 P2 P3 Pn = 37,6 41,6 20,8 = 2,719
+ + + + +
Gsb1 Gsb2 Gsb3 Gsbn 2,634 2,836 2,653

2. Berat Jenis efektif dari agregat campuran:


P1 + P 2 + P3 + Pn 37,6 + 41,6 + 20,8
Gse = P1 P2 P3 Pn = 37,6 41,6 20,8 = 2,792
+ + + + +
Gse1 Gse2 Gse3 Gsen 2,706 2,918 2,712

3. Berat Jenis maksimum beton aspal sebelum dipadatkan:


100 100
Gmm = Ps Pb = 93,1 6,9 = 2,500
+ +
Gse Gb 2,792 1,038
4. Berat jenis bulk dari beton aspal padat:
Bk 1200,74
Gmb = = = 2,250
Bssd - Ba 1203,6 - 670

5. Kadar Aspal yang terabsorsi:


Gse - Gsb 2,792 2,719
Gmb = 100 Ga = 100 1,038 = 0,998%
Gsb . Gse (2,719) . (2,792)

6. Kadar aspal efektif dari beton aspal:


Pab 0,998
Pae = Pa - Ps = 6,9 - 93,1 = 5,971
100 100

7. Persentase pori antar butir campuran agregat


Gmb x Ps 2,250 x 93,1
VMA = 100 - = 100 - = 22,96 %
Gsb 2,719
8. Persentase pori benda uji
Gmm - Gmb 2,500 2,250
VIM = 100 x = 100 x = 10%
Gmm 2,500

9. Persentase pori antar butir campuran agregat yang terisi aspal:


100(VMA VIM) 100 (22,96 10)
VFA = = = 56,5%
VMA 22,96

10.Tebal selimut aspal:

Pae 1 5,971 1
Tebal selimut
= . 1000 = . 1000 = 8,6 m
aspal Ga LLP . Ps 1,038 7,21 . 93,1
3. Pengujian Marshall
Pengujian kinerja beton aspal padat dapat dilakukan melalui
pengujian Marshall, yang dikembangkan oleh Bruce
Marshall dan dilanjutkan oleh U.S. Corps Engineer.
Alat Marshall merupakan alat tekan yang dilengkapi dengan
proving ring (cincin penguji) berkapasitas 22,2 KN (= 5000
lbf) dan flowmeter.
Proving ring digunakan untuk mengukur nilai stabilitas, dan
flowmeter untuk mengukur kelelehan plastis atau flow.
Benda uji Marshall berbentuk silinder berdiameter 4 inci (=
10,2 cm) dan tinggi 2,5 inci (= 6,35 cm).
Secara garis besar pengujian
Marshal meliputi:

1. Persiapan benda uji


2. Penentuan berat jenis bulk
dari benda uji
3. Pemeriksaan nilai stabilitas
dan flow
4. Perhitungan sifat volumetrik
benda uji
3.1. Persiapan Benda Uji
Agregat dikeringkan di dalam oven 1050 1100 C.
Setelah dikeringkan agregat dipisah-pisah sesuai fraksi ukurannya.
Umumnya fraksi ukuran yang digunakan adalah:
19 25 mm ( 1 inci)
9,5 19 mm (3/8 inci)
4,75 9,5 mm (No. 4 3/8 inci)
2,36 4,75 mm (No. 8 No. 4)
< 2,76 mm ( < No. 8)
Temperatur pencampuran adalah temperatur pada saat aspal
mempunyai viskositas kinematis sebesar 17020 centistokes, dan
temperatur pemadatan adalah temperatur pada saat aspal
mempunyai nilai viskositas kinematis sebesar 280 30 centistokes.
Agregat dipanaskan sampai temperatur 200C di atas suhu
pencampuran.
Campuran beton aspal panas dituangkan ke dalam mold, ditusuk-
tusuk, dan dipadatkan dengan mempergunakan penumbuk
(hammer) seberat 10 pon (=4,356 kg) dengan tinggi jatuh 18 inci
(45,7 cm).

Jumlah tumbukan
Jumlah lintasan
Beban Lalulintas masing-masing sisi
sumbu standar
benda uji
Ringan < 104 35
Sedang 104 - 106 50
Berat > 106 75
3.2. Penentuan Berat Jenis Bulk dari benda uji
Penentuan berat jenis bulk dari benda uji beton aspal padat
dilakukan segera setelah benda uji dingin dan mencapai suhu
ruang. Berat jenis bulk ditentukan sesuai AASHTO T166-88.

3.3. Pemeriksaan Nilai Stabilitas dan Flow


Benda uji dipanaskan selama 30 40 menit pada 600C di dalam
water bath. Pengukuran dilakukan dengan menempatkan benda uji
pada alat Marshall dan beban diberikan kepada benda uji dengan
kecepatan 2 inci/menit atau 51 mm/menit. Beban pada saat terjadi
keruntuhan dibaca pada arloji pengukur dari proving ring, deformasi
yang terjadi pada saat itu merupakan nilai flow yang dapat dibaca
pada flowmeternya. Nilai stabilitas merupakan nilai arloji pengukur
dikalikan dengan nilai kalibrasi proving ring, dan dikoreksi dengan
angka koreksi akibat variasi ketinggian benda uji.
3.4. Perhitungan Parameter Marshall lainnya
Setelah uji Marshal dilakukan, maka dilanjutkan dengan
perhitungan untuk menentukan:

1. Kuosien Marshall, yaitu rasio antara nilai stabilitas dan


kelelehan
2. Berat volume benda uji
3. Volume pori dalam benda uji (VIM)
4. Volume antara agregat dalam benda uji (VMA)
5. Volume antara agregat yang terisi oleh aspal (VFA)
6. Tebal selimut aspal
4. Jenis Beton Aspal
Jenis beton aspal dapat dibedakan berdasarkan suhu pencampuran
material pembentuk beton aspal dan fungsi beton aspal.
Berdasarkan temperatur pencampuran dan memadatkan
campuran, beton aspal dapat dibedakan atas:

1. Beton Aspal campuran panas (hotmix), adalah beton aspal


yang material pembentuknya dicampur pada suhu
pencampuran sekitar 1400C
2. Beton aspal campuran sedang (warm mix), adalah beton
aspal yang material pembentuknya dicampur pada suhu
pencampuran sekitar 600C
3. Beton aspal campuran dingin (cold mix), adalah beton aspal
yang material pembentuknya dicampur pada suhu
pencampuran sekitar 250C
Berdasarkan fungsinya beton aspal dapat dibedakan atas:

1. Beton aspal untuk lapisan aus (wearing course), adalah


lapisan perkerasan yang berhubungan langsung dengan ban
kendaraan, merupakan lapisan yang kedap air, tahan
terhadap cuaca dan mempunyai kekesatan yang disyaratkan.
2. Beton aspal untuk lapisan pondasi (binder course), adalah
lapisan perkerasan yang terletak di bawah lapisan aus. Tidak
berhubungan langsung dengan cuaca, tetapi perlu memiliki
stabilitas untuk memikul beban lalu lintas yang dilimpahkan
melalui roda kendaraan.
3. Beton aspal untuk pembentuk dan perata lapisan beton aspal
yang sudah lama, yang pada umumnya sudah aus dan
seringkali tidak lagi berbentuk crown.
Jenis Beton Aspal yang campuran panas:
Jenis beton aspal campuran panas yang ada di Indonesia saat ini
adalah:

1. Laston (Lapisan Aspal Beton), adalah beton aspal bergradasi


menerus yang umum digunakan untuk jalan-jalan dengan
beban lalu lintas berat. Laston dikenal pula dengan nama AC
(Asphalt Concrete), karakteristik beton aspal yang terpenting
pada campuran ini adalah stabilitas. Tebal minimum Laston
adalah 4 6 cm [spesifikasi 2002]. Sesuai fungsinya Laston
mempunyai 3 macam campuran yaitu:
a. Laston sebagai lapisan aus, (AC-WC / Asphalt Concrete
Wearing Course) tebal minimum 4 cm
b. Laston sebagai lapisan pengikat (AC BC / Asphalt Concrete
Binder Course) tebal minimum 5 cm
c. Laston sebagai lapisan pondasi (AC Base / Asphalt Concrete
Base) tebal minimum 6 cm
2. Lataston (Lapisan Tipis Aspal Beton), adalah beton aspal
bergradasi senjang. Laston dikenal pula dengan nama HRS
(Hot Rolled Sheet), karakteristik beton aspal yang terpenting
pada campuran ini adalah durabilitas dan fleksibilitas. Sesuai
fungsinya Lataston mempunyai 2 macam campuran yaitu:
a. Lataston sebagai lapisan aus, (HRS-WC / Hot Rolled Sheet
Wearing Course) tebal minimum 3 cm
b. Lataston sebagai lapisan pondasi (HRS Base / Hot Rolled
Sheet Base) tebal minimum 3,5 cm
3. Latasir (Lapisan Tipis Aspal Pasir), adalah beton aspal untuk
jalan-jalan dengan lalu lintas ringan, khususnya dimana agregat
kasar tidak ada atau sulit diperoleh. Lapisan ini khusus
mempunyai ketahanan alur (rutting) rendah. Oleh karena itu
tidak diperkenankan digunakan untuk daerah berlalu lintas
berat atau daerah tanjakan. Latasir dikenal pula dengan nama
SS (Sand Sheet) atau HRSS (Hot Rolled Sand Sheet). Sesuai
gradasi agregatnya, campuran latasir dapat dibedakan atas:
a. Latasir kelas A, dikenal dengan nama HRSS-A atau SS-A. Tebal
nominal minimum 1,5 cm
b. Latasir kelas B, dikenal dengan nama HRSS-B atau SS-B. Tebal
nominal minimum 2 cm
Gradasi agregat HRSS-B lebih kasar dari HRSS-A.
4. Lapisan Perata, adalah beton aspal yang digunakan sebagai
lapisan perata dan pembentuk penampang melintang pada
permukaan jalan lama.
Semua jenis beton aspal didapat digunakan, tetapi untuk
membedakan dengan campuran untuk lapisan perkerasan jalan
baru, maka setiap campuran beton aspal tersebut ditambahkan
huruf L (Leveling). Misal AC-WC(L), AC-BC(L), AC-base(L),
HRS-WC(L), dll.
5. SMA (Split Mastic Asphalt), adalah beton bergradasi terbuka
dengan selimut aspal yang tebal.
Campuran ini mempergunakan tambahan bahan berupa fiber
selulosa yang berfungsi untuk menstabilisasi kadar aspal yang
tinggi. Lapisan ini terutama digunakan untuk jalan-jalan deban
beban lalu lintas berat.
Ada 3 jenis SMA, yaitu:
a. SMA 0/5 dengan tebal perkerasan 1,5 3 cm
b. SMA 0/8 dengan tebal perkerasan 2 4 cm
c. SMA 0/11 dengan tebal perkerasan 3 5 cm
6. HSMA (High Stiffness Modulus Asphalt), adalah beton yang
mempergunakan aspal berpenetrasi rendah yaitu 30/45.
Lapisan ini terutama digunakan untuk jalan-jalan dengan beban
lalu lintas berat.
Campuran jenis ini masih jarang digunakan di Indonesia,
karena aspal yang diperlukan harus diimport.
Berdasarkan gradasinya HSMA dapat dibedakan atas 3 jenis:
a. HSMA-28
b. HSMA-20
c. HSMA-14
Gradasi agregat campuran HSMA-28 paling kasar
dibandingkan dengan jenis HSMA yang lain
5. Persyaratan Sifat Agregat [Depkimpraswil, 2002]
Syarat minimum Metode pemeriksaan
Jenis pemeriksaan Satuan Fraksi Fraksi
SNI AASHTO/ ASTM
kasar halus
Ukuran butir (% lolos saringan No. 8) % 0 100
Abrasi dengan mesin Los Angeles % Maks 40 SNI 03-2417-1991 T 96-87
Soundness terhadap larutan natrium
% Maks 12 SNI 03-3407-1994 T 104-86
atau magnesium sulfat
Kelekatan agregat terhadap aspal
% Min 95 SNI 03-2439-1991 T 182-84
(Stripping)
Angularitas <106 ESA 85/80* Min 40%
(kedalaman dari %
permukaan <10 cm) 106 ESA 95/90* Min 45%

Angularitas <106 ESA 60/50* Min 40%


(kedalaman dari %
permukaan 10 cm) 106 ESA 80/75* Min 40%

Indeks kepipihan agregat % Maks 10 ASTM D-4791


SNI 03-1969-1990
Absorsi air % Maks 3 Maks 3
SNI 03-1970-1990
SNI 03-1969-1990
Berat jenis semu - Min 2,5 Min 2,5 T 84 dan T 85-88
SNI 03-1970-1990
Partikel lolos Saringan No. 200 % Maks 8 SNI-M-02-1994-03 T 11-90
Nilai Sand Equivalent % Maks 40 T 104-86

Spesifikasi agregat untuk beton aspal


% berat lolos
Ukuran saringan
Laston (AC) Lataston (HRS) Latasir (SS)
Bukaan HRS-
No. AC-WC AC-BC AC-base HRS-WC Kelas A Kelas B
mm base
1 37,50 100
1 25,00 100 90 100
19,00 100 90 100 Maks 90 100 100 100 100
12,50 90 100 Maks 90 90 100 90 100
3/8 9,50 Maks 90 75 85 65 100 90 100
No. 8 2,36 28 58 23 39 19 45 50 72 35 55 75 100
No. 16 1,18
No. 30 0,60 35 60 15 35
No. 200 0,075 4 10 48 37 6 - 12 29 10 - 15 8 13
Daerah Larangan
No. 4 4,75 - - 39,5
No. 8 2,36 39,1 34,6 26,8 30,8
No. 16 1,18 25,6 31,6 22,3 28,3 18,1 24,1
No. 30 0,60 19,1 23,1 16,7 20,7 13,6 17,6
No. 200 0,075 15,5 13,7 11,4

Persyaratan gradasi agregat campuran berbagai jenis beton aspal


[Depkimpraswil 2002]
% lolos No. 8 40 50 60 70
% Lolos No. 30 Paling sedikit 32 Paling sedikit 40 Paling sedikit 48 Paling sedikit 56
% kesenjangan 8 atau kurang 10 atau kurang 12 atau kurang 14 atau kurang
Batas-batas agregat bergradasi senjang

Persen lolos
Ukuran
Saringan SMA 0/11* SMA 0/8* SMA 0/5* HSMA-28** HSMA-20** HSMA-14**

1 95 100 - -
100 82 97 95 100 100
90 100 100 70 80 82 97 85 100
3/8 50 65 90 100 100 56 71 65 80 70 85
No. 4 30 45 30 50 90 100 38 50 45 55 53 70
No. 8 20 30 20 30 30 - 40 25 40 30 43 35 52
No. 16 12 26 14 27 15 30
No. 30 8 20 9 21 10 24
No. 50 10 22 10 22 10 22 6 14 7 15 7 16
No. 200 8 12 8 12 8 13 37 3-7 4 7

Gradasi agregat campuran untuk SMA


6. Persyaratan Sifat Aspal
Syarat
Jenis Pemeriksaan Satuan Pen 60 Pen 80
min maks min maks
Penetrasi 250C, 5 det 0,1 mm 60 79 80 99
Titik lembek 0
C 48 58 46 54
Titik nyala 0
C 200 - 225 -
Kehilangan berat 1630C, 5
% berat - 0,4 - 0,6
jam
Kelarutan dalam CCL4 % berat 99 - 99 -
Daktilitas 250C, 5 cm/menit cm 100 - 100 -
Penetrasi setelah % terhadap
75 - 75 -
kehilangan berat asli
Penetrasi aspal hasil % terhadap
55 - 55 -
ekstraksi benda uji asli
Daktilitas aspal hasil
Cm 40 - 40 -
akstraksi benda uji
Berat jenis 250C - 1 - 1 -
Sifat aspal untuk campuran beton aspal
6. Persyaratan Campuran Beton Aspal
HSMA-20 &
Sifat campuran SMA HSMA-28
HSMA-14
Stabilitas Kg 670 1400 1200

Kelelehan Mm 2 24 25
Kuotient Marshall Kg/mm 190 300
VIM % 35 46 3,5 5
VMA % 75 85 65 80 70 80
VFA % 13 14
Tebal film aspal m >8 >8
Stabilitas dinamis
(wheel tracking ls/mm 1500
machine)

Sifat Campuran Beton Aspal jenis SMA dan HSMA


Laston (AC) Lataston (HRS) Latasir (SS)
Sifat Campuran
WC BC Base WC Base Kelas A Kelas B
1,2 untuk lalu lintas (LL) 1.000.000 ESA
Penyerapan aspal maks 2,0
17 untuk lalu lintas (LL) <1.000.000 ESA
Jumlah tumbukan/bidang 75 112 75 50
Min 4,9 -
LL 1 juta ESA
Maks 5,9 - Tidak digunakan
Min 3,9 4,0 untuk LL berat
IM (%) 0,5 ESA < 1 juta
Maks 4,9 6,0
Min 3,0 3,0
LL < 0,5 ESA
Maks 5,0 6,0
VMA (%) min 15 14 13 18 17 20
LL 1 juta ESA min 65 63 60 65 Tidak digunakan
VFA (%) 0,5 ESA < 1 juta min 68 untuk LL berat

LL < 0,5 ESA min 75 73 75


min 800 1800 800 200
Stabilitas Marshall (kg)
maks - - - 850
min 2 2 2 2
Kelelehan (mm)
maks - - - 3
Koutient Marshall (kg/mm) min 200 200 200 80

Stabilitas Marshall sisa setelah 85% untuk lalu lintas (LL) 1.000.000 ESA
perendaman selama 24 jam, 600C min
80% untuk lalu lintas (LL) < 1.000.000 ESA
Min
LL 1 juta ESA 2,5 -
Maks Tidak digunakan
VIM (%)
pada Min untuk LL berat
kepadatan 0,5 ESA < 1 juta 2