Anda di halaman 1dari 81

Aspek klinik AFP

Team komisi ahli surveilans AFP Papua


STRATEGI ERADIKASI POLIO

Cakupan UCI tinggi, diatas 90%

Pekan Imunisasi Nasional (PIN)

Surveilans Acute onset of Flaccid


Paralysis (SAFP)

Mopping-up

7
murnajati0207
Polio
The Polio Eradication
Programme

1. Routine Immunization 3. Surveillance

2. National Immunization Days 4. Mop-ups

murnajati0207
DIAGNOSIS AFP Indonesia, 2007
(N= 1320)
Surveilans lumpuh layu akut
(Acute Flaccid Paralysis)

Mencari secara aktif dan melacak adanya 1


kasus AFP per 100.000 anak

Anak yang lumpuh layu

Akut, kelumpuhan terjadi dalam waktu 2 minggu


setelah sakit

Umur dibawah 15 tahun

Bukan oleh ruda paksa


Masalah Lumpuh layuh akut (LLA)
Angka cakupan - Surveilans AFP rendah
Kurang pengertian tentang LLA
Hanya kasus lumpuh berat yang di cari
Keterbatasan penyakit yang diketahui: polio, Guillain Bare
Sebab lain tidak dilaporkan: Hipokalemi, mielitis,
leukemia dll
Penyakit LLA dapat sembuh sempurna
GB, Mielitis, Hipokalemi- dapat sembuh sempurna
tanpa pengobatan
Kasus tidak ada, penghargaan(?)
Takut melaporkan kasus LLA di nilai buruk
Pegawai yang bertugas LLA pensiun, pindah dll
Lumpuh Layuh

Polio
Lain2

Lumpuh Layuh
Guillain
Mielitis Barre
Susunan Syaraf Pusat Susunan Syaraf Tepi
(UMN) (LMN)

OTOT
Kelumpuhan

Susunan Saraf Pusat Susunan Saraf Tepi

1.Kaku/ spastis 1.Lemas=Layuh /flaksid

2.Refleks fisiologi meningkat 2.Refleks fisiologis menurun


atau hilang
3.Refleks patologis positif 3.Refleks patologis negatif

4.Pengecilan Otot: Tidak ada 4.Pengecilan Otot: ADA


Kelumpuhan Susunan Saraf Tepi
= Lumpuh layuh
= Lumpuh Lower Motor Neuron

Dari sumsum tulang belakang sampai otot /

jari

Kelumpuhan parsial disebut paresis

Kelumpuhan total disebut paralisis / plegi


Kelumpuhan susunan saraf tepi
Dari
sumsum
tulang
belakang
sampai jari/
otot
Sumsum Tulang Belakang
Polio
Mielitis transversa
Trauma

Akar Saraf Tepi


Guillain Barre

Saraf Tepi
Neuritis infeksi,
Kurang gizi
Trauma

Sambungan Saraf - Otot


Miastenia Gravis

Otot
Miositis akut virus
OTOT Distrofi dll.
Polio
Terkena sel di
sumsum tulang
belakang
POLIOMIELITIS/PARALISIS INFANTIL
PENY. HEINE MEDIN

1840 Yacob Heine (Jerman)


1890 Karl Medin (Swedia)
Peny. Infeksi virus akut menyerang medula & batang
otak (inti motorik) predileksi sel anterior masa
kelabu, sumsum tulang belakang
3 virus tipe : Tidak imunitas silang
- Brunhilde
- Lansing
- Leon
0 - 3 th : 60 %

>> 0 4 th 3 5 th : 30 %

Sisa : 10 %
Respon terinfeksi Polio :
* Infeksi asimtomatik (90-95%)
* Poliomielitis abortif (4-8%)
* Poliomielitis nonparalitik atau
paralitik (1-2%)
Asimtomatik (Silent Infection) :
Terbanyak
Gejala ringan
Inkubasi : 7 10 hari
Abortif :
Singkat
Demam, Malaise, TGI Muntah

Non Paralitik :
~ Klinis inf. selaput otak yg lain
~ Abortif : > Berat, Nyeri otot, KK (+)
Sembuh 2 4 hari
Paralitik :
Berat (1-2 %)
Demam,sakit tenggorok1-2 hr reda bbrp hari
demam naik lagi,nyeri kepala,gx rangsang selaput
otak(+),nyeri otot ekstremitas (1-2 hr) lumpuh
flaccid cepat (puncak 48 jam)
Spinal : Paralisis asimetris, ggn sensib (-)
Bulbar Paralisis pst pernafasan &
Bulbospinal sirkulasi

LCS : Prot. s/d 2 bln


2-3 mg
Awal Pmn Limfosit N
DIAGNOSIS

Kelumpuhan flaccid & asimetris (paralitik)


Cairan LCS : Hampir selalu abnormal (prot
, sel )
Isolasi Virus :
19 hari sebelum gambaran klinis 3 bl
setelah peny. mulai
Dari tinja dan OROFARINGS

Eksresi virus : 5 minggu setelah


manifestasi klinis
Lumpuh layuh, biasanya tungkai satu sisi
Lemas, tidak ada gerakan
Mengecil
Refleks fisiologis -
Refleks patologis -
PENGOBATAN

Tx. Kausal : (-)


Istirahat
Analgetik, antip, bantuan pernafasan, fisiotx
Pencegahan : VAKSIN POLIO
Vaksin Polio :
Non Aktif (SALK) 1955
Virus hidup non aktif (SABIN) 1962
Oral : Trivalen banyak digunakan
Dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak :
Imunodefisiensi
PROGNOSIS
Tipe Bulbar
Px. buruk

Komplikasi residual paralisis


Kontraktur
Mielitis transversa
Radang sumsum tulang belakang
Lumpuh layuh kedua tungkai
* Mendadak
* Lemas
* Refleks fisiologis negatif
* Refleks patologis negatif
* Gangguan buang air besar dan
kecil
Radang sumsum
tulang belakang
Lumpuh layuh
kedua tungkai
Mendadak
Lemas
Refleks fisiologis
negatif
Refleks patologis
negatif
Gangguan buang air
kecil dan besar
Sindrom Guillain Barre

Angka kejadian 1-2 per 100.000 / tahun


Anak < 18 tahun : 0,8 per 100.000 /
tahun
L:P=3:2
Polio GBS penyebab utama AFP
Demam
Kelumpuhan berangsur dari ujung jari
naik ke atas
Sama berat kedua tungkai
Refleks fisiologis negatif
Refleks patologis positif
Dapat disertai sesak dan meninggal
bila terkena otot napas
Sistem autonom terkena
* hipotensi
* hipertensi 10-30%
* aritmia 30%
* cardiac arrest
* syndrome inappropriate anti-
diuretic hormon (SIADH) 3%
* konstipasi 40%
Refleks fisiologis negatif
Dapat disertai kelumpuhan otot
pernapasan dan meninggal
Pengobatan
Suportif & fisioterapi
Kadang2 perlu trakeostomi & ventilator
Kortikosteroid kontroversial
Plasmaferesis efektif
Imunoglobulin 0,4 g/KgBB 5 hari
Penyembuhan 2-4 minggu setelah
progresivitas penyakit berhenti

Anak-anak hampir selalu sembuh total

Prognosis
Angka kematian 1-5%
25-36% (yang hidup) gejala sisa
dropfoot atau postural tremor
Kelumpuhan tangan
Erbs
Pada bayi baru
lahir
Disebabkan
trauma: tidak
termasuk AFP
Pemeriksaan
kelumpuhan
Lari, jalan jinjit, jalan tumit
Kelemahan otot

Minta ia duduk
di lantai lalu
berdiri
Tidak sanggup
Berdiri sambil
merambat
pada kakinya
Pemeriksaan kelumpuhan
Pemeriksaan kelumpuhan - bayi
Bayi lumpuh layuh
Terlentang di
tempat tidur
Posisi seperti katak
Gerakan sedikit
Lutut menyentuh
tempat tidur
Bayi lumpuh layuh - hipotoni
Diagnosis banding
Cornu anterior medula Sambungan saraf-
spinalis otot

Poliomielitis Myasthenia gravis


Wernig Hofman diseases Botulism
(SMA)
Otot
Mielitis transversa Polimiositis akut
Trauma Distrofi muskular

Saraf tepi Metabolik


Guillain Barre Periodik paralisis
Keracunan logam berat hipokalemi
Racun ikan
Parese Erbs
Gizi buruk (Dekker 2002, Sheih 2002, Simoes 2004)
TUJUAN
Surveilans AFP

1. Syarat Sertifikasi Indonesia bebas

polio tahun 2008

2. Mengidentifikasi daerah berisiko


transmisi virus-polio liar (terdapat
penderita polio lumpuh)

murnajati0207
PROVINSI IJB
PROVINSI PAPUA

Kota Jayapura

KER
OOM
Jayawi
jaya

Kinerja s-AFP Papua


2008
Non Polio AFP Rate > 1
Non Polio AFP Rate 0
PERAN KLINISI ?

DIAGNOSA DINI KASUS AFP


MENULIS LAPORAN DENGAN BENAR
MEMBUAT RESUME MEDIS
Surveilans yang baik
Untuk klinisi

Menemukan kasus lumpuh layu akut


Melaporkannya ke Dinas Kesehatan/
Surveillance Officer
Menandatangani formulir surveilans
Memeriksa kasus 60 hari kemudian
Menandatangani diagnosis akhir

Semoga tidak menyusahkan /


membingungkan
Kesalahan yang sering terjadi

Lupa melaporkan kasus


Tidak tahu siapa yang harus dihubungi
dan bagaimana menghubunginya
Tidak menandatangani formulir
Follow-up 60 hari
Tidak melihat kasus kembali
Tidak mengisi diagnosis dan
menandatangani
Case of
On the 60th day of case follow up tetraparalysis

able to sit, but could not rise from

bed by himself
Could lift his arms with the left one
16
Left leg could be lifted
Right leg could not just could move the
finger and dorsoflexy
Stand up and walk by help, right leg
could not be moved just follow the left
leg
Muscle strength improved:
grade 4 for left elbow, wrist, hand and
leg; grade 3 for right elbow, wrist, hand;
grade 2 for right and left shoulder; grade
1 for right leg murnajati0207 17
DIAGNOSIS AFP LAINNYA, Indonesia 2007-
week 45
MYELITIS TRANSVERSA BRONCHO PNEUMONIA/ HIPOGLIKEMI
PNEUMONIA/ ISPA
FLACCID MUSCLE ISCHEME STROKE
PARALYSIS CP
KIPPI POLIO
NEURITIS/NEUROPATI DMP
KP
FEBRIS HIPOTONIA
MALARIA SUSP AFP
MYELITIS/MYELOPATY NEURUTIS TRAUMATIKA
PARAPARESIS SPASTIS MEURID SEREBIAL ??
REMATOID
ARTRITIS/ARTRALGIA S. SOP ?? OSTEOARTHRITIS
MENINGITIS ARJ ?? OSTEOMYELITIS
HIPOKALEMIA ASIMETRIS POLINEUROXAN CLEMI ??
MENINGOENSEFALITIS CELULITIS POLIOENCEPHALITIS
ANEMIA/KURANG DISLOKASI POLIRADICULOPATI
GIZI/DEFISIENSI VIT B1
DSS SARAF ??
MENINGITIS TB
EPILEPSI SPONDILITIS TB
BELL'S PALSY
FAMILIAL PERIODIK P.LISIS SYDENHAM'S CHOREA
GE
GNA TETRAPARESE TIPE UMN
LEUKEMIA
GROWING PAINS TRIPARESE
TYPHOID FEVER
DEMAM KEJANG HEAD DROP VIRAL INFERIOR
Kasus asimtomatik (tidak ada gejala) atau ringan

Tidak dapat dideteksi


Menjadi karier/ penyebar virus

1 kasus polio 100 karier !!


BAGAIMANA CARA
PENULISAN DIAGNOSA?
Diagnosa Awal
(Formulir Pelacakan Kasus AFP)

DD poliomielitis :

Polineuropati
GBS
Myelitis transversa
poliomielitis
Diagnosa Awal
(Formulir Pelacakan Kasus AFP)

DD poliomielitis :
Diagnosa Awal :

Polineuropati
GBS
Myelitis transversa
poliomielitis
Diagnosa Awal
(Formulir Pelacakan Kasus AFP)

DD poliomielitis :
Diagnosa Awal :
Susp.
Polineuropati Polineuropati
GBS Susp. GBS
Myelitis transversa Monoparese LMN
poliomielitis Paraparese LMN

Tetraparese LMN

Sup. poliomielitis
Diagnosa Awal
(Form.Pelacakan Kasus AFP)
Diagnosa akhir
(Formulir Kunjungan 60 hari)

Diagnosa Awal : Diagnosa akhir :


Susp.

Polineuropati
Susp. GBS

Monoparese LMN

Paraparese LMN

Tetraparese LMN

Sup. poliomielitis
Diagnosa akhir
(Formulir Kunjungan 60 hari)

Diagnosa Awal : Diagnosa akhir :


Susp. poliomielitis

Polineuropati Polineuropati
Susp. GBS GBS
Monoparese LMN Myelitis transversa
Paraparese LMN

Tetraparese LMN

Sup. poliomielitis
Diagnosa akhir
(pada form. kunjungan 60 hari)
Kesalahan pada pelaporan:
Pengisian data tidak lengkap
Data tidak konsisten
Diagnosa tidak terbaca, tertutup
stempel
Diagnosa tidak masuk akal / tidak
mungkin
Nama dokter tidak jelas, tidak ada
nomor telpon
Lupa menulis Diagnosa
FP 1
data tidak mungkin
KU 60 hr
diagnosa tidak mungkin
FP 1
KU 60 hr
tidak ada nomor telpon
Data tidak mungkin
Stempel menutup Diagnosa
konfirmasi dengan klinisi

perlu kepastian AFP atau tidak


perlu kepastian ada sisa kelumpuhan
setelah follow up 60 hari
perlu diagnosis awal untuk menetapkan
terapi awal, kelumpuhan permanen dapat
dicegah
perlu diagnosis akhir , terutama untuk polio
kompatibel
Merekam pemeriksaan dan tindakan dalam
appendix2

13
PENYAKIT-PENYAKIT DAN GEJALA KLINIK
YANG TERMASUK KATEGORI AFP

GEJALA KLINIK

1. PARAPARESE /PARAPLEGI FACCID


2. MONOPARESE/ MONOPLEGI FLACCID
3. TETRAPARESE/TETRAPLEGI FLACCID
4. APAPUN ASAL FLACCID !!!

5. APAPUN JENIS KELUMPUHAN


LAPORKAN!!
Kesimpulan:
Peran klinisi dalam surveilans AFP:
Menemukan kasus lumpuh layuh
sebanyak mungkin
Usia < 15 tahun
Akut
Bukan trauma
Hemiparese boleh dilaporkan
Tidak layuhpun boleh.
Keberhasilan S-AFP
tergantung kepada kita
semua
Kasus klinik AFP Sebelum & sesudah program
imunisasi

POLIO

Non Non
POLIO POLIO

Sebelum Sesudah
When too much polio is around..

Surveillance
AFP cases
sensitivity is
Polio cases adequate
Borderline cases/cases with A.F.P. anytime during course of illness
enough to
detect 90% polio
Non-AFP cases murnajati0207 cases
When transmission is very low..
If Surveillance
borderline sensitivity is
cases or not good
cases with enough &
A.F.P.
detects only
anytime
during 50% polio
course of cases
illness, are
taken &
stool
specimens
collected Sensitivity
increases
AFP cases
and leads
Polio cases to 100%
Borderline cases/ detection
cases with A.F.P. anytime during course of illness
of polio
Non-AFP cases cases
murnajati0207
Remember Non AFP cases still not taken
Cara pemeriksaan kelumpuhan:

Anak
Anak

Posisi berbaring:
Bayi:
Bayi:
Kasus AFP
Semua kasus lumpuh layuh
Akut
Usia < 15 tahun
Non trauma
Perlu perhatian: lumpuh layuh yang
sangat ringan
Lumpuh yang tidak layuh pun boleh
dilaporkan
Pencarian kasus AFP di RS-
Puskesmas
Harus melibatkan dokter dan perawat
Perhatikan ks anak dengan, diare, gizi buruk,
efek samping obat
Tanyakan setiap pasien di rawat apa ada
kelemahan pada ekstremitas
Laporkan dahulu kasus yang dicurigai AFP
tanpa menunggu diagnosis
Perlu penyegaran ilmu kembali perawat-
perawat di bangsal tentang kasus AFP
KESIMPULAN
Mari kita buat mudah pelaporan AFP
Anak < 15 tahun lumpuh layuh
Terjadi dalam 2 minggu
Perlu mengingatkan kembali
dokter/perawat tentang diagnosis -
tatalaksana kasus AFP
Pelaporan AFP akan meningkat bila
pengamatan pasien rawat inap rawat
jalan di bangsal lebih ditingkatkan
Terima
Kasih

murnajati0207