Anda di halaman 1dari 18

Analisis Kualitatif ANALGETIK

Struktur Molekul Parasetamol


Rumus molekul : C8H9NO2
Berat molekul : 151
Nama kimia dari Parasetamol
adalah 4-hydroxyacetanilide, p-hydroxyacetanilide,
p-acetamidophenol, p-acetaminophenol, N-acetyl-p-
aminophenol
sifat fisika dan kimia

Pemerian
Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa
pahit.
Titik lebur dari Parasetamol adalah sekitar 1400C
Kelarutan Parasetamol adalah etanol 1:10, etanol
(95%) 1:7, methanol 1:10, aceton 1:13, propilen
glikol 1:9.
Gugus fungsi yang terdapat dalam
senyawa Parasetamol antara lain:

Fenol,
amin
sekunder,
metil
Ikatan kovalen C-C, C=C,C=O,C-H
Ikatan hidrogen O-H, N-H
ANALISA KUALITATIF
Analisis kualitatif adalah suatu proses dalam
mengidentifikasi keberadaan suatu senyawa
kimia dalam suatu larutan/sampel yang tidak
diketahui. Analisis kualitatif disebut juga analisa
jenis yaitu suatu cara yang dilakukan untuk
menentukan macam, jenis zat atau komponen-
komponen bahan yang dianalisa. Dalam
melakukan analisa kualitatif yang dipergunakan
adalah sifat-sifat zat atau bahan, baik sifat-sifat
fisis maupun sifat-sifat kimianya.
Dimana metode reaksi pendahuluan dan gugus fungsi yang
dapat dilakukan terhadap senyawa parasetamol adalah
sebagai berikut :

1. Reaksi pendahuluan
Prinsip : pembentukan endapan berwarna
Zat : X mg (parasetamol)
Pelarut : CHCl3, NH4OH, HCl
Prosedur : pada zat tambahkan CHCl 3 dan NH4OH, kocok.
Lapisan CHCl3 diuapkan dan ditambahkan HCl 0,5 N,
kemudian ditambahkan reagen:
a) Dragendrof : endapan coklat merah
b) Bouchardat : endapan coklat merah
c) Mayer : endapan kunung putih
2.Gugus Amin sekunder
Prinsip : pembentukan warna (kalorimetri)
Zat : 10 mg Parasetamol
Pelarut : HCl, Na Nitrit, Air, Eter
Prosedur : pada zat tambahkan 2 ml asam klorida
encer, 2 ml larutan natrium nitrit, sesudah lima menit
tambahkan 5 ml air dan 10 ml eter, kocok.
Kumpulkan fasa eter dan uapkan. Pada residu,
tambahkan 50 mg fenol panaskan, tambahkan 1 ml
asam sulfat pekat, terbentuk warna biru, tuangkan
dalam sejumlah air, warna menjadi merah dan jika
dibasakan warna menjadi biru kembali.
Perubahan : warna merah
3.Gugus Fenol

Prinsip : pembentukan warna dan endapan


Zat : X mg (parasetamol)
Pelarut/pereaksi : Millon, air brom, NaOH, asam sulfanilat, FeCl 3,
asam sulfanilat, Na nitrit
Prosedur:
Reaksi millon : pada zat tambahkan pereaksi millon, terbentuk warna
merah
Pada larutan zat atau beberapa mg zat, teteskan larutan FeCl3,
terbentuk warna ungu
Pada larutan zat, tambahkan peraksi air brom, terjadi endapan (reaksi
substitusi)
Reaksi diazosulfanilat : pada 10 mg zat atau larutannya, tambahkan 1
ml larutan NaOH encer, 4 ml larutan asam sulfanilat dan 4 ml larutan
natrium nitrit, terbentuk warna merah
Parasetamol dan ibuprofen merupakan contoh obat golongan
analgesik non opioid yang termasuk dalam daftar obat esensial
nasional (Departemen Kesehatan RI, 2008). Komposisi lebih
dari satu macam bahan obat tersebut dimaksudkan agar efek
terapi kombinasi obat tersebut menjadi lebih baik atau sesuai
yang diharapkan dan diharapkan juga efek samping yang
dihasilkan akan berkurang. Parasetamol di kenal dengan nama
lain asetaminofen merupakan turunan para aminofenol yang
memiliki efek analgesik serupa dengan salisilat yaitu
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang
diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek
antiinflamasinya sangat lemah, oleh karena itu parasetamol
tidak digunakan sebagai antirematik.
Parasetamol merupakan penghambat biosintesis
prostaglandin yang lemah. Penggunaan parasetamol
mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan
derivat asam salisilat yaitu tidak ada efek iritasi lambung,
gangguan pernafasan, gangguan keseimbangan asam basa.
Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik
dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan asam
salisilat (Gunawan et al, 2007). Namun penggunaan dosis
tinggi dalam waktu lama dapat menimbulkan efek
samping methemoglobin dan hepatotoksik (Siswandono &
Soekardjo, 1995).
Penjaminan mutu untuk penetapan kadar bahan aktif dalam
sediaan obat perlu dilakukan dengan suatu metode yang
tervalidasi dan dapat dipertanggungjawabkan bagi kedua obat
tersebut sehingga terjamin keamanannya., Dalam hal ini ada
beberapa metode penetapan kadar yang telah digunakan yaitu
penetapan kadar zat tunggal parasetamol dan ibuprofen
menurut Farmakope Indonesia IV dengan metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Menurut
beberapa artikel dan jurnal penelitian, kombinasi parasetamol,
ibuprofen dan beberapa bahan aktif lain dapat diidentifikasi
dengan metode KLT fase balik (Mohammad et al., 2009),
Selain hal tersebut bisa juga digunakan metode
spektrofotometri UV (Hassan, 2008), atau dengan
menggunakan metode KCKT (Battu & Reddy, 2009).
2. IBU PROFEN

Struktur Kimia

Nama Kimia :
asam 2-(4-isobutil-fenil)-propionat
MONOGRAFI ibuprofen:

Pemerian : serbuk kristal berwarna


putih,dan tidak berbau.
Kelarutan : tidak larut dalam air,mudah
larut dalam etanol
Khasiat : sebagai obat analgetik
antipiretik
Indikasi dan Kontra Indikasi
Ibu Profen
Indikasi : sakit kepala, sakit gigi, nyeri
otot, rasa sakit pada saat haid, rasa
sakit/nyeri stelah operasi.
Kontra Indikasi : ulkus peptikum,
hipersensitif terhadap ibu profen atau
obat-obat anti radang non steroid
lainnya, masa menyusui.
Efek Samping Ibu Profen

Gangguan saluran pencernaan dan


perdarahan, skait kepala, ulkus
peptikum, pusing, gugup, depresi,
mengantuk, kulit kemerahan, gatal-
gatal, tinitus(telinga berdernging tanpa
rangsang dari luar), edema,
insomnia(susah tidur), penglihatan
buram, agranulositosis, trobositopenia.
Kesimpulan

Analisis kimia kualitatif pada sediaan


analgetikum anitipiretikum terdapat pada
beberapa obat, contohnya pada paracetamol
dan ibuprofen, kedua obat tersebut memiliki
efek analgetik antipiretik yaitu obat untuk
meredakan rasa nyeri di tubuh, contoh
penyakit yang sering memakai parasetamol
dan ibuprofen yaitu sakit kepala, nyeri saat
haid, demam saat influenza dan masih
banyak penyakit nyeri lainnya.
TERIMAKASIH