Anda di halaman 1dari 15

ANEMIA DEFISIENSI BESI

PADA KEHAMILAN
Bella Anggraeni Sari (111 2009 0097)

Pembimbing: dr.Masyita Fujiko, SpOG


Fakultas Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia
Makassar
2017
Pendahuluan

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah


yang tertinggi bila dibandingkan dengan negara-
negara ASEAN lainnya. Penyebab utama kematian
ibu langsung adalah perdarahan 28%, eklampsia
24%, dan infeksi 11%, dan penyebab tidak langsung
adalah anemia 51%.

Anemia merupakan defisiensi nutrisi yang


paling banyak di dunia. Anemia merupakan
komplikasi dalam kehamilan yang paling sering
ditemukan. Hal ini disebabkan karena dalam
kehamilan, kebutuhan akan zat-zat gizi semakin
meningkat dan terjadi pula perubahan-perubahan
Definisi
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar
hemoglobin kurang dari normal, yang berbeda di
tiap kelompok umur dan jenis kelamin.

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang


disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh,
sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis
tidak cukup. Secara umum anemia dalam
kehamilan berkaitan dengan anemia defisiensi besi,
berdasarkan Centers for Disease Control and
Prevention, definisi anemia dalam kehamilan adalah
seperti yang berikut:

1. Hb kurang dari 11,0 gr/dL di trimester pertama


dan ketiga;
Epidemiologi

Di seluruh dunia, frekuensi anemia dalam


kehamilan cukup tinggi yaitu berkisar antara 10-
20%. Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara
berkembang berkaitan dengan anemia dalam
kehamilan yang penyebabnya adalah defisiensi zat
besi.

95% dari anemia dalam kehamilan merupakan


anemia defiesiensi besi. Insidens wanita hamil yang
menderita anemia defisiensi besi semakin
meningkat. Ini menunjukkan kebutuhan zat besi
maternal yang meningkat pada kehamilan.
Etiologi
Patofisiologi Anemia dalam Kehamilan
Gejala Klinis dan Klasifikasi Anemia
HOW to DIAGNOSE?
Terapi

1. Dosis pencegahan
Diberikan pada kelompok sasaran tanpa
pemeriksaan Hb. Dosisnya yaitu 1 x 1 tab (60 mg
besi elemental dan 0,25 mg asam folat) berturut-
turut selama minimal 90 hari masa kehamilan mulai
pemberian pada waktu pertama kali ibu memeriksa
kehamilannya

2. Dosis Pengobatan
Diberikan pada sasaran (Hb < ambang batas)
yaitu bila kadar Hb<11gr% pemberian menjadi 3 x
1 tab selama 90 hari kehamilannya
Pemeriksaan Penunjang
Komplikasi
Prognosis

Prognosis anemia defisiensi besi dalam


kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak.
Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa
pendarahan banyak atau komplikasi lain. Anemia
berat meningkatkan morbiditas dan mortalitas
wanita hamil. Walaupun bayi yang dilahirkan dari
ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak
menunjukkan hemoglobin (Hb) yang rendah, namun
cadangan zat besinya kurang, yang baru beberapa
bulan kemudian tampak sebagai anemia infantum.
Pencegahan

Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi


makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat
diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama
daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat
ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti
bayam dan kangkung, buncis, kacang hijau, serta kacang-
kacangan.

Anemia juga dapat dicegah dengan mengatur jarak


kehamilan atau kelahiran bayi.
Kesimpulan

Anemia dalam kehamilan memberi resiko pada


ibu dan janin sehingga setiap wanita hamil perlu
diberi sulfas ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup
1 tablet sehari. Selain itu, wanita dianjurkan untuk
mengkonsumsi makanan yang tinggi protein serta
sayuran yang mengandung banyak mineral dan
vitamin. Walaupun bayi yang dilahirkan dari ibu
yang menderita anemia defisiensi besi tidak
menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan
besinya kurang, yang baru beberapa bulan
kemudian tampak sebagai anemia infantum.