Anda di halaman 1dari 28

Tetanus

pada bayi dan anak

Retno HMA,dr SpA, A Rohim,dr SpA, Renny H,dr SpA


SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD JAYAPURA
DEFINISI
Penyakit dengan tanda utama :
Kekakuan otot
Kejang
Tanpa gangguan kesadaran

EPIDEMIOLOGI
Tersebar di seluruh dunia (global)
Insidens : tergantung cakupan imunisasi DTP/
DT/ TT dan tingkat pencemaran biologik
lingkungan peternakan /pertanian
Kekebalan berkaitan dgn usia, kejadian
berkaitan dg risiko trauma pada kelompok umur
tertentu
upaya kausal menurunkan attack rate hampir
tidak mungkin

Tetanus neonatorum bersifat khusus : o/k angka


kematian tetanus neonatorum 19,3% angka
kematian bayi/39,5% angka kematian perinatal

Insidens di Indonesia : sekitar 6 7/1000 lahir


hidup untuk daerah perkotaan dan 11 23/1000
lahir hidup untuk daerah pedesaan
port of entry
Tdk selalu dapat diketahui dengan pasti, diduga melalui:
Luka tusuk, patah tulang komplikasi kecelakaan,
gigitan binatang, luka bakar yang luas
Luka operasi, luka yg tdk dibersihkan
(debridemant) dengan baik
Otitis media, caries gigi, tukak kulit yg kronis
Pemotongan tali pusat yg tdk steril
Pembubuhan puntung tali pusat dg kotoran
binatang, bubuk kopi, bubuk ramuan, dan
daundaunan merupakan penyebab utama kasus
tetanus neonatorum
Etiologi
Clostridium tetani

gram (+) bacillus dg spora di ujung (terminal


spore) sehingga berbentuk seperti pemukul
genderang (drumstick appearance)
spora mampu bertahan dlm suhu tinggi,
kekeringan dan berbagai desinfektan, mati
hanya bila dipanaskan 1200 C, 1,5 bar, 15 menit
obligat anaerob (berbentuk vegetatif apabila
berada dalam lingkungan anaerob)
menghasilkan eksotoksin yang sangat kuat
dapat bergerak dengan menggunakan flagella,
yang hilang setelah kuman membentuk spora
Di alam :

kuman hidup di tanah, terutama yang telah


diolah untuk di tanami

Risiko tetanus di daerah peternakan dan


pertanian sangat tinggi

atau dalam usus binatang, terutama binatang


ternak, kuda, sapi dsb

Spora mencemari lingkungan secara biologik


dalam keadaan yang tak menguntungkan,
bentuk vegetatif akan membuat spora yang
mampu bertahan selama bertahuntahun

dalam lingkungan yang anaerob, spora dapat


berubah kembali menjadi bentuk vegetatif
yang akan menghasilkan eksotoksin

Spora kuman Cl. tetani yang tahan kekeringan


dapat bertebaran dimanamana: dalam debu
jalanan, debu diatas lampu operasi, bubuk
antiseptic (dermatol) ataupun pada alatalat
suntik dan operasi.
PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOG
Spora (lingk anaerob)

Bentuk vegetatif Biak cepat haslkan toksin


(pd tempat luka) tetanospasmin

tetanolisin
Cornu anterior su-tul
Motor end plate
belakang
Aksis silindris srf tepi

Seluruh SSP
Toksin tetanus

Rantai ringan (L), Hn dan fragmen Hc, masing


masing sekitar 50KD

Bagian L Bagian Hn Bagian Hc

hambat GABA ke synaptic cleft Untuk nempel dan transport


Perlekatan dan internalisasi toksin tetanus
Jalur toksin msh kontroversi

1.Tetanospasmin absorbsi o/ akhir ujung syaraf


motorik/motorneuron aksis silindris ke cornu
anterior SSP
2. Diabsorbsi melalui pembuluh limfe ke sirkulasi
darah SSP

Tetanospasmin 4 area di SSP

1. Motor end plate pd otot skelet


2. Medula spinalis
3. Otak
4. Susunan syaraf simpatis
Motor end plate :
- toksin pengaruhi hantaran neuromuskular
- menghambat pelepasan neurotransmitter
asetilkolin (tetanus lokal)
Medula spinalis :
- pengaruhi aktifitas polisinaps yg libatkan
interneuron
- efek inhibisi antagonis
- hiperpolarisasi membran sel saraf bila aliran
hambatan dirangsang
Otak : sama dengan medula spinalis
Susunan saraf simpatis : keringat berlebihan,
vasokonstriksi perifer, hipertensi labil, aritmia
jantung, takikardi, inkontinentia urine/alvi
MANIFESTASI KLINIK

Masa inkubasi Gejala awal Gejala Lanjut

2 14 hari

- Nyeri kepala - Kekakuan


- gelisah - sukar
- iritabilitas mengunyah
- spasme otot
leher
Penilaian Derajat beratnya penyakit
lama masa inkubasi atau dari lama period of onset
gejala klinik yang tampak

Terbagi menjadi
Ringan
Sedang
berat

Kekakuan tetanus sangat khas


Trismus
Kekakuan otot masseter
Tak bisa buka mulut
yang lebar
Diukur jarak bukaan
antara baris gigi depan

Risus sardonicus
spasme otot mimik
Alis terangkat
Bibir sudutnya tertarik
kebawah
Opisthotonus

Spasme otot
penunjang

Otot ini sangat kuat,


melebihi kekuatan
otot dinding perut
Extensi leher
Mulut terbuka
(karper-mond)
Tak bisa menetek
Badan kaku
Kejang
Bila kekakuan makin berat kejang kejang umum
hanya terjadi setelah dirangsang spontan status
convulsivus

Pada tetanus berat terjadi :


- hipoksia, bila berat menimbulkan anoxia dan
kematian
- dehidrasi,gangguan elektrolit akibat hipertermi,
hiperhidrosis
- gangguan sirkulasi, terjadi gangguan irama jantung,
hipertensi atau hipotensi
- kekakuan otot sphincter dan otot polos lain: retentio

alvi, retentio urine, spasme larynx


- patah tulang panjang atau fraktur kompresi tulang
belakang
DIAGNOSIS
Dx dibuat atas dasar :
Anamnesis (diagnostik & prognostik)
Gejala klinis sangat khas kesadaran tetap baik

Anamnesis:
anamnesa terarah untuk diagnostik dan prognostik
diagnostik : infeksi Cl .tetani luka tusuk, infeksi
puntung talipusat
Prognostik : semakin pendek masa inkubasi atau
period of onset akan semakin berat gejala klinik
yang terjadi.
Masa inkubasi sering sukar ditentukan o/k port of
entry tidak pasti period of onset dapat
digunakan sebagai pegangan beratnya penyakit
Keluhan dan gejala klinik
Anamnesis

Neonatus Anak

- Penolong
- cara potong tali pusat
- Adanya luka/benda asing
- perawatan tali pusat
- imunisasi dasar/booster
- mulai kapan tdk bs menetek
- period of onset
- imunisasi wanita subur/
ibu hamil

Pemeriksaan Fisik : Gejala klinik penderita sangat jelas


sehingga diagnosa mudah ditegakkan
Pemeriksaan Lab & Foto komplikasi
DIAGNOSIS BANDING
Trismus : abses parafaring,retrofaring,gigi,
mastoiditis
Kejang + Trismus : rabies
Spasme otot + kejang : keracunan strichnin
Tetani : hipokalsemi
Pada tetanus neonatorum: Sepsis, meningitis,
dehidrasi, kelainan elektrolit darah, adanya
trauma kelahiran
PENYULIT
Sepsis (pada neonatus)
Bronchopneumonia, setelah hari kelima, akibat
kekakuan dinding dada
perdarahan paru pada tetanus neonatorum
laringospasmus dan sumbatan jalan nafas
Aspirasi lendir/makanan/minuman, akibat kejang
otot diafragma
patah tulang panjang dan tulang belakang
(compression fracture)
TATA LAKSANA
Aspek Keperawatan
- Isolasi ditempat tenang
- Minimal handling
- Perawatan luka
- Menjaga jalan nafas
- Fisioterapi

Aspek Medikamentosa
Kausatif
- Netralisasi toksin yg msh beredar :
TIGH 500-3000 IU
ATS 5000 IU
- Antibiotik : PP 50.000 IU/Kg BB/hr,Eritromisin 50
mg/Kg BB/hr
Mengatasi kejang

Neonatus Anak
bolus diazepam 5 mg -bolus diazepam 10 mg
dilanjutkan dosis
dilanjutkan dosis
90-120 mg/hari 120-240 mg/hari,
selalu dianggap tergantung tingkat
tetanus berat berat penyakit

bila dng dosis 40 mg/kg/hari bila perlu dpt


msh kejang, sebaiknya diberikan lbh tinggi
dirawat secara intensif atau dilakukan
pernafasan mekanik pelumpuhan/kurari-
sasi, pernaf dng ven-
tilasi mekanik
dipertahankan selama
5 hari, sblm dikan
20% setiap 3 hari
Suportif
Cairan dan nutrisi cukup
Saluran nafas bebas lendir
Tambahan oksigen
Ambil corpus alienum

Komplikasi
Perawatan ortopedi (fraktur)
Perawatan intensif
PROGNOSA

Makin pendek masa inkubasi, makin jelek


prognosanya

Makin pendek period of onset, makin jelek


prognosanya

Letak, macam luka dan luasnya kerusakan


jaringan

tetanus neonatorum mempunyai prognosa


jelek dan harus dianggap tetanus berat)

tingkat kekebalan penderita


PENCEGAHAN
Imunisasi aktif dengan vaksin DTP/ DT/ TT
tergantung umur penderita

Imunisasi aktif segera dimulai pada saat penderita


masuk rumah sakit, dilanjutkan sampai imunisasi
dasar selesai, dilanjutkan dengan suntikan booster

Vaksin DPT diberikan sebagai imunisasi dasar, diulang


setahun setelah DPT III, kemudian setiap 3 tahun
sampai usia 6-8 tahun

Vaksin TT (tetanus toxoid) diberikan pada setiap


wanita usia subur dan gadis mulai umur 12 tahun
atau ibu yang sedang hamil