Anda di halaman 1dari 45

ABSES SEREBRI DENGAN TOF

SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR


RISIKO

Oleh :
Avissia Zivanna (1102005059)
Aretha Aprillya Kusumadjaja (1102005113)
Santokh Singh Khalsa (1002005207)
PENDAHULUAN
PJB tersering 4 Kelainan Utama :
PJB (kelainan struktur dan adalah ToF (8% VSD
fungsi jantung dari lahir) dari total Stenosis Pulmonal
6 10 per 1000 Kelahiran seluruh kasus Over-riding Aorta
PJB) RVH
Prevalensi
diperkirakan Mortalitas Komplikasi
0,3-1,3 per mencapai 10 tersering Abses
100.000 60% Serebri (37%)
orang/tahun

Tersering Penyebab : Infeksi intraserebral


berusia 4 bakteri, serebritis lokalisatorik
sampai 8 fungus dan kumpulan pus dikelilingi kapsul
tahun protozoa otak
Abses Serebri
Infeksi intraserebral fokal yang
dimulai sebagai serebritis yang
lokalisatorik dan berkembang
menjadi kumpulan pus yang
dikelilingi oleh kapsul otak
disebabkan oleh berbagai macam
variasi bakteri, fungus, dan protozoa
Epidemiologi :
dapat pada berbagai kelompok usia. Paling sering usia 4
8 tahun.
Prevalensi diperkirakan 0,3-1,3 per 100.000 orang/tahun
Insiden meningkat pada negara berkembang
laki-laki : perempuan = 3:1

Etiologi :
Bakteri golongan Streptokokus Aerobik, hemofilus
Enterobacteria
Pneumokokus
Organisme anaerob : spesies bakteroides (B. fragylis, B.
melaninogenicus), strep. anaerobic (peptostreptokokus),
peptokokus, fusobakteria, veillomella, eikenella, propioni
bakteria, klostridia, dan spesies aktinomises (A. israelii)
Faktor predisposisi :
PJB tipe sianotik
Infeksi pada telinga tengah, mastoid,
sinus paranasal, orbital, wajah dan kulit
kepala
Cedera yang menembus tengkorak
Patah tulang tengkorak kominutiva
Operasi intrakranial (VP- Shunt)
Immunodeficiency
STADIUM ABSES

1. Early cerebritis
2. Late cerebritis
3. Early capsule formation
4. Late capsule formation
Manifestasi klinis

Fase serebritis: demam, mengantuk,


sakit kepala, kejang
Fase pembentukan kapsul: saat fase
pertama mulai menurun/bertambah,
abses tetap bertambah perlahan.
Fase dekompresi serebral:
papiledem, hemiparesis, stupor,
gangguan vital
penatalaksanaan

Mengurangi efek masa dan


menghilangkan kuman penyebab
Pemantauan ketat
Pemeriksaan penunjang

DL kadang ada leukositosis


CSF biasanya jernih, steril, kecuali
abses pecah
CRP
EEG
CT scan, MRI
Prognosis
Abses berkapsul mempunyai prognosis yang lebih baik
Keterlambatan operasi dpt mengakibatkan kematian

Komplikasi
Robeknya kapsul abses ke dalam ventrikel atau ruang
subarachnoid
Penyumbatan cairan serebrospinal yang menyebabkan
hidrosefalus
Edema otak
Herniasi oleh massa abses otak
Kecacatan
Kematian
Tetralogy of Fallot (ToF)
Penyakit jantung kongenital tipe sianotik
tersering
Terjadi pada seluruh kelompok umur
Sebanyak 8% dari total penyakit jantung
bawaan
Prevalensi : 0,19-0,26/1000 kelahiran
Penyebab : faktor endogen (kelainan
genetik) dan eksogen (obat obatan,
infeksi virus Rubella dan paparan
radiasi)
4 Kelainan Utama : defek septum
ventrikel, over-riding aorta, stenosis
pulmonal, dan hipertrofi ventrikel
kanan
Stenosis
pulmonal
Aliran darah Over- Left to
ke paru VSD riding right
terhambat aorta shunt
Right to
left shunt
Usaha jantung
untuk memompa RVH
lebih
Manifestasi klinis sesuai dengan tingkat derajat
keparahannya stenosis pulmonal.
Dibagi menjadi 2, asimtomatik dan simtomatik
(intoleransi aktifitas, pertumbuhan yang
terhambat, serta infeksi nafas berulang)

Pemeriksaan fisik :
sianosis berat
clubbing finger
Dyspnea
hypoxic atau cyanotic spell
precordial bulging
murmur derajat 3 hingga 5
Pemeriksaan penunjang :
Rontgen thorax
Electrocardiography
Echocardiography
Cardiac Magnetic Resonance
CT Scan
Cardiac Catheterization

Komplikasi :
Hipoksia organ kronis
Polisitemia
Emboli sistemik
Abses cerebri
HUBUNGAN TOF dengan
ABSES SEREBRI
PJB tipe sianotik yang tidak dikoreksi
merupakan faktor predisposisi terjadinya
abses serebri.
Faktor ini berpengaruh pada sekitar 25
46 % dari total keseluruhan kasus
Penelitian di Pakistan : 37% pasien dengan
abses serebri memiliki penyakit jantung
bawaan sianotik yang belum dikoreksi
Resiko abses serebri pada PJB sianotik
lebih sering ditemukan pada anak usia
setelah 2 - 12 tahun
Menumpuk
Darah tidak dan
Right to left
melewati Bakterimia berkembang
shunt
paru biak di
mikrotrombu
Aliran darah s
Hipoksia di otak
meningkat
Bakteri lebih
mudah
RBC >> +
bermigrasi
Polisitemia

ABSES
HCT >> SEREBRI

Merusak
Aliran darah Mikrotrombu
Blood-Brain
melambat s
Barrier
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : PJIG
Umur : 5 tahun 6 bulan 7 hari
Jenis Kelamin: Laki-laki
Agama : Hindu
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Karangasem
No RM : 01400538
MRS: 22 Januari 2016 (pukul 12.53 WITA)
Tanggal Pemeriksaan : 25 Januari 2016
Anamnesis
Keluhan utama: Muntah-muntah
Pasien dikeluhkan muntah-muntah sejak sehari sebelum
SMRS (21/01/2016). Muntah dikeluhkan 7 kali dengan
volume sekitar setengah gelas setiap kali muntah, berisi
makanan dan minuman yang dimakan, tidak ditemukan
darah dalam muntahnya. Pasien mengeluh badan terasa
lemas pada pagi harinya. Pasien mempunyai riwayat
demam sejak selasa (19/01/2016) selama satu hari, demam
turun dengan obat penurun panas. Batuk dan pilek
disangkal, BAB dan BAK dikatakan normal. Nafsu makan
pasien berkurang sejak sakit dan minum dikatakan normal.
Pasien kebiruan pada tangan dan kaki memang menetap
sejak kecil. Riwayat sesak napas mendadak disangkal,
sering jongkok disangkal. Pasien selama di triage anak tidak
didapatkan demam dan muntah
Riwayat pengobatan
Untuk keluhan muntah, pasien sudah berobat ke bidan dan dokter
umum dan di beri dompenidon. Pasien tetap meminum obat sakit
jantung berupa puyer 1 macam, 1 kali sehari (ibu pasien lupa
namanya).

Riwayat penyakit sebelumnya


Pasien terdiagnosis penyakit jantung sejak tahun 2010, saat itu
dengan keluhan kebiruan dangan hasil echocardiografi dengan
ToF, echo terakhir bulan Januari 2011, setelah itu penderita tidak
pernah kontrol.

Riwayat penyakit dalam keluarga


Riwayat alergi disangkal oleh ibu pasien. Riwayat penyakit
keluarga seperti penyakit herediter, gagal jantung, demam
rematik, asma, diabetes melitus, hipertensi atau penyakit sistemik
lainnya disangkal oleh ibu pasien.
Riwayat Sosial
Pasien merupakan anak pertama dari 2
bersaudara, adiknya dikatakan dalam keadaan
sehat.

Riwayat persalinan
Pasien lahir normal di bidan pada saat umur
kehamilan 9 bulan, segera menangis, berat badan
lahir 3100 gram dan panjang badan lahir 49
sentimeter. Riwayat infeksi, merokok, dan
mengkonsumsi alkohol, obat-obatan ataupun jamu-
jamuan pada saat hamil disangkal ibu pasien.
Riwayat imunisasi
BCG : 4 kali
Polio : 4 kali
Hepatitis B : 4 kali
DPT : 3 kali
Campak : 1 kali

Riwayat nutrisi
Ibu pasien mengatakan sejak lahir pasien diberikan susu
eksklusif, selama durasi 9 bulan, dengan frekuensi on
demand. Nasi tim mulai diberikan saat usia 7 bulan dengan
frekuensi 2-3 kali per hari. Makanan dewasa diberikan
mulai usia 12 bulan dengan frekuensi 2- 3 kali perhari
dengan diselingi makanan ringan diantara makan utama
Riwayat tumbuh kembang
Menegakkan kepala : 3 bulan
Membalikkan badan: 4 bulan
Duduk : 6 bulan
Merangkak : 8 bulan
Berdiri : 11 bulan
Berjalan : 14 bulan
Bicara : 12 bulan
Kesan : Normal
Pemeriksaan Fisik
Status present
KU : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis GCS E4V5M4 (14/14)
Nadi : 62 x/menit, isi cukup
RR : 38 x/mnt
Tax : 36 C
Saturasi O2: 86% pada udara ruangan
Status Antropometri
BB : 15.9 kg
BBI : 14.5 kg
TB : 96 cm
2. CDC Growth Chart
Berat badan ~Umur : terletak di bawah persentil 3
Tinggi badan ~ Umur : terletak antara persentil 3
Berat badan~Tinggi badan : terletak antara persentil 50 dan 75

Status gizi menurut


1. Waterlow: 15.9/18 x 100% = 88%
(gizi kurang)
2. CDC Growth Chart
Berat badan/Umur: di bawah persentil 3
Tinggi badan/Umur: antara persentil 3
Berat badan/Tinggi badan: antara
persentil 50 dan 75
Status general
Kepala : normochepali
Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterus -/-, reflek
pupil +/+ isokor,
THT
Telinga : bentuk normal, sekret -/-
Hidung : napas cuping hidung (-).
Tenggorokan :faring hiperemis (+), tonsil hiperemis
(+) T2/T2
Lidah : sianosis (-)
Bibir : mukosa basah
Leher
Inspeksi : benjolan (-), bendungan vena jugularis (-)
Palpasi : pembesaran kelenjar (-)
Kaku Kuduk :(-)
Thorak : simetris (+), precordial bulging (-)
Cor
Inspeksi : retraksi (-)
Palpasi : ictus cordis teraba
Auskultasi : S1 S2 normal regular, murmur (+)
sistolik grade II/6
Pulmo
Inspeksi : gerakan dada simetris
Palpasi : fokal fremitus simetris normal.
Perkusi : perkusi paru sonor +/+
Auskultasi : vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing
-/-
Abdomen
Inspeksi : distensi (-), peristaltik (+) N.
Turgor : kembali cepat
Auskultasi : bising usus (+) normal.
Palpasi : nyeri tekan -/-, hepar teraba
permukaan rata, lien tidak teraba,
cubitan perut kembali cepat.
Perkusi : perkusi perut timpani
Kulit: sianosis (+)
Extremitas : akral hangat (+), oedema(-), sianosis
(+) capillary refill time <2 detik, clubbing finger (+),
sianosis (+)
Genitalia eksterna: laki-laki, G1P1
Centor Score
Usia :1
Demam :1
Tidak batuk : 1
Tonsil :1
Pembesaran kelenjar :0 (total: 4)
Pemeriksaan penunjang
Darah lengkap (22/01/16)
- RBC : 9.15 106/L
- WBC : 9.6 x 103/L
- Neu : 7.04 x 106/L
- HGB : 20.5 g/dL
- HCT : 73,2 %
- PLT : 277 x 103/L
- kreatinin: 0.24 mg/dL
- SGOT : 15.2 U/L
- SGPT: 4.6 U/L
- Albumin: 3.41 g/dL
- Na : 135 mmol/L
l: Tetralogi of Fallot
scan (23/01/16)
eriksaan MSCT scan kepala irisan aksial, tanpa dan dengan kontras:
mpulan: abses serebri parieto-occipital kiri, ukuran 61.4 x 44.9 mm, menyebabkan deviasi midline struktur ke kanan sejauh 16.1 mm, serta oedema cer

Echocardiography (Januari 2011)


Hasil: Tetralogi of Fallot

CT scan (23/01/16)
Pemeriksaan MSCT scan kepala irisan
aksial, tanpa dan dengan kontras:
Kesimpulan: abses serebri parieto-occipital
kiri, ukuran 61.4 x 44.9 mm, menyebabkan
deviasi midline struktur ke kanan sejauh
16.1 mm, serta oedema cerebri
Assesment
Tetralogy of Fallot + Polisitemia +
Observasi vomiting et causa
tornsilofaringtis akut + Gizi kurang
Penatalaksanaan :
MRS
Kebutuhan cairan maintenance 1300 ml/hari
mampu minum 600-700ml/hari
IVFD DS 1/4NS 500ml/hari ~ 7tetes /min
Kebutuhan kalori 1305 kkal/hari, protein 14.5 g/hari
nasi 3x1 porsi
Plebhotomi target Hct 55% = (73-55) x 16 x 80 /73 =
315 mL
Eritromicin syrup 160mg (4ml) @ 6 jam oral
Paracetamol syrup 160mg (cth 1.5) bila suhu > 28 C +
kompres hangat, dapat diulang @ 4 jam
Cek faal Hemostasis
Konsul kardiologi
Perkembangan Pasien di Ruangan

Tanggal Subjektif Objektif Assesment Planning


23/01/16 Muntah (-), sesak (-), St. Present Tetralogy of Fallot + Terapi:
Pk 07.00 demam (-), batuk dan HR: 70x/mnt Polisitemia + -MRS
pilek (-) RR: 34 x/mnt Observasi vomiting et -Kebutuhan cairan maintenance
T.ax: 37C causa tornsilofaringtis 1300 ml/hari mampu minum
TD: 100/70mmHg akut + Gizi baik 600-700ml/hari
GCS: E4V5M5 - IVFD DS1/4NS 500ml/hari
St. General 7tetes /min
Mata: anemis -/-, sklera ikterus (-), Rp +/+ isokor -Kebutuhan kalori 1305
THT: NCH(-) kkal/hari, protein 14.5 g/hari,
Thorax: simetris (+), retraksi (-) nasi 3x1 porsi
Cor: S1S2 tunggal reguler murmur (+) pada ICS -Plebhotomi target Hct 55% =
III-IV PSL sinistra grade II/6 (73-55) x 16 x 80 /73 = 315 mL
Pulmo: bves +/+, Rh -/-, Wh -/- -Eritromicin syrup 160mg (4ml)
Abdomen: distensi (-), BU (+) N, hepar teraba @ 6 jam oral
permukaan rata, lien ttb -Paracetamol syrup 160mg ( cth
Ekstremitas: hangat (+), 1.5) bila suhu > 28C +
CRT < 2 dtk kompres hangat @ 4 jam
Monitoring:
-Vital sign
-Keluhan
23/01/16 Muntah (-), demam (-), St. Present Tetralogy of Fallot + -Kebutuhan cairan maintenance
Triage Anak batuk dan pilek (-) HR: 65x/mnt Polisitemia + Observasi 1300 ml/hari mampu minum 600-
ke Cpk III RR: 32 x/mnt vomiting et causa 700ml/hari
T.ax: 36.2C tornsilofaringtis akut + - IVFD DS1/4NS 500ml/hari 7tetes
GCS: E4 V5 M5 Gizi baik /min
St. General -Kebutuhan kalori 1305 kkal/hari,
Mata: Anemis -/-, ikterus -/-, protein 14.5 g/hari, nasi 3x1 porsi
THT: NCH(-), sekret (-) -Plebhotomi target Hct 55% = (73-
Thorax: simetris (+), retraksi (-) 55) x 16 x 80 /73 = 315 mL
Cor: S1S2 tunggal reguler murmur (+) pada sistolik -Eritromicin syrup 160mg (4ml) @
grade II/6 6 jam oral
Pulmo: bves +/+, Rh -/-, Wh -/- -Paracetamol syrup 160mg ( cth
Abdomen: distensi (-), BU (+) N, hepar dan lien ttb 1.5) bila suhu > 28 C + kompres
Ekstremitas: hangat (+), hangat @ 4 jam
CRT < 2 dtk -Propanolol 5mg @ 12 jam
-Preparat besi 3mg/mg bb/ kali
48mg @ 24 jam
Monitoring:
-Vital sign
-Keluhan
Diagnostik:
-CT Scan kepala +kontras
24/01/16 Demam (-), muntah (-), St. Present Tetralogy of Fallot + -Kebutuhan cairan maintenance
06.00 spell (-) HR: 65x/mnt Polisitemia + Observasi 1300 ml/hari mampu minum
RR: 32 x/mnt vomiting et causa 600-700ml/hari
T.ax: 36.2C tornsilofaringtis akut + - IVFD DS1/4NS 500ml/hari 7tetes
GCS: E4 V5 M5 (14/14) Gizi baik makro /min
Sat: 79% (udara ruangan) -Kebutuhan kalori 1305 kkal/hari,
St. General protein 14.5 g/hari, nasi 3x1 porsi
Mata: Anemis -/-, ikterus -/-, -Plebhotomi target Hct 55% = (73-
THT: NCH(-), sekret (-) 55) x 16 x 80 /73 = 315 mL
Thorax: simetris (+), retraksi (-) -Eritromicin syrup 160mg (4ml) @
Cor: S1S2 tunggal reguler murmur (+) pada sistolik 6 jam oral
grade II/6 -Paracetamol syrup 160mg ( cth
Pulmo: bves +/+, Rh -/-, Wh -/- 1.5) bila suhu > 28 C + kompres
Abdomen: distensi (-), BU (+) N, hepar dan lien ttb hangat @ 4 jam
Ekstremitas: hangat (+), -Propanolol 5mg @ 12 jam
CRT < 2 dtk -Preparat besi 3mg/mg bb/ kali
BC: (23.00-06.00) 48mg @ 24 jam
CM 400cc Monitoring:
CK 200cc -Vital sign
IWL 93.75 -Keluhan
BC +106 cc Diagnostik:
PU 2.22 cc/kg/jam -CT Scan kepala +kontras
Konsul Ts bedah saraf
25/01/16 Mata bengkak (+). St. Present Tetralogy of Fallot + -Kebutuhan cairan maintenance
06.00 Gatal di keapala (+). HR: 98x/mnt isi cukup reguler Polisitemia + abses 1300 ml/hari mampu minum
Nyeri di daerah infus RR: 28 x/mnt serebri+ reaksi alergi ec 600-700ml/hari
(+) bengkak pada T.ax: 36,8C suspek vancomycin + - IVFD DS1/4NS 500ml/hari 7tetes
tangan (-). GCS: E4 V5 M5 (14/14) Gizi baik makro /min
Sesak (-), berdebar (-), Sat: 74% (udara ruangan) -Kebutuhan kalori 1305 kkal/hari,
kemerahan (-), demam St. General protein 14.5 g/hari, nasi 3x1 porsi
(-), muntah (-), batuk Mata: Anemis -/-, ikterus -/-, angioedem (+) -Plebhotomi target Hct 55% = (73-
(-), pilek (-) THT: NCH(-), sekret (-) 55) x 16 x 80 /73 = 315 mL
Bibir : sianosis (-), mukosa kering (+) -Eritromicin syrup 160mg (4ml) @
Thorax: simetris (+), retraksi (-) 6 jam oral
Cor: S1S2 tunggal reguler murmur (+) pada sistolik -Paracetamol syrup 160mg ( cth
grade II/6 1.5) bila suhu > 28 C + kompres
Pulmo: bves +/+, Rh -/-, Wh -/- hangat @ 4 jam
Abdomen: distensi (-), BU (+) N, hepar dan lien ttb -Propanolol 5mg @ 12 jam
Ekstremitas: hangat (+), -Preparat besi 3mg/mg bb/ kali
CRT < 2 dtk 48mg @ 24 jam
Kulit : urtica (-), eritema (-), sianosis (+) -Dypenhydramine 0,5mg/kg/kali
Kuku : clubbing finger (+) 7,5 mg IV
-Chlorampenicol 40mg/kg/kali 640
mg @ 24 jam
- Mteronidazole 50 mg/kg 800 mg
@ 12 jam IV
Monitoring:
-Vital sign, keluhan, BC
Diagnostik terapi: menunggu
operasi burrhole
-
28/01/16 Orang tua pasien menolak
rencana operasi, keluarga minta
pulang paksa
PEMBAHASAN

TEORI KASUS
Gejala: sianosis sentral,
hilang timbul dan muncul bila Gejala: sesak didahului
terdapat kondisi yang dengan sianosis pada ujung
menyebabkan hipoksemia jari tangan dan kaki , mukosa
Mulai muncul: usia 2-6 bulan bibir
Lokasi: selaput lendir mulut, Keluhan muncul usia 2 bln
pada ujung-ujung jari tangan Gejala berkurang ketika
dan kaki. tenang atau saat tidak
Hipoksemia pada paru-paru melakukan akitifitas
terjadinya peningkatan
frekuensi nafas hingga
menimbulkan gejala sesak
KASUS
TEORI
PJB sering terjadi gangguan
toleransi latihan (derajat
kelainan jantung) Pasien sering tampak
Gejala berupa cepat lelah,
kelelahan saat diajak
napas cepat setelah bermain
melakukan aktivitas yang
biasa, atau sesak napas
dalam keadaan istirahat.

2. Mulyadi M. Djer, Bambang Madiyono. Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan. Sari Pediatri. 2000. 2(3): 155
TEORI KASUS

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik akan ditemukan
ditemukan Pemeriksaan bibir
Tanda sianosis sentral: tampak mukosa bibir
sianosis pada mukosa
sianosis
bibir, ditemukan clubbing
finger pada jari tangan dan Pada ekstremitas,
kaki ditemukan clubbing
finger pada ujung-
ujung jari tangan dan
kaki.
KASUS
TEORI
Pada pemeriksaan jantung
Inspeksi : retraksi (-)
ToF: murmur ejeksi Palpasi : iktus kordis
sistolik grade III-IV pada
PSL kiri teraba
VSD : Murmur holosistolik Auskultasi : S1S2 normal,
pada PSL kiri bawah reguler, murmur (+)
(terdengar keras) sistolik grade II/6 di
ToF dengan tanpa katup
pulmonal: murmur diastolik
PSL sinistra

Pada pemeriksaan paru


dalam batas normal.

4. Sjarif DR, Anggriawan SL, Putra ST, Djer MM. Anthropometric profiles of children with congenital heart disease. Med J
TEORI10 KASUS

Sianosis pada PJB akan Darah Lengkap:


menyebabkan: RBC = 9,15 x 106/L
Eritrositosis sekunder Hb = 20,5 g/dL
(respon fisiologis terhadap
hipoksia jaringan)
Hct = 73,2%
Kelainan hemostatik PLT = 227 x 103/L
kompleks kelainan Faal hemostasis:
trombosit PTT dan APTT
(trombositopenia), memanjang
koagulasi pathway, dan
mekanisme koagulasi
abnormal lainnya Polisitemia dan
Trombositopenia

10. Association for European Paediatric Cardiology. ESC Guidelines for the management of grown-up congenital heart disease.
TEORI KASUS
Abses serebri:
Sering pada px 4-8 th Pasien umur 5 tahun
Keluhan tersering: Keluhan px: muntah-
demam, mengantuk, muntah, demam, lemas
nausea, muntah, sakit Px sudah terbukti ada ToF
kepala, defisit neurologis dg Echocardiography sejak
fokal, tetapi sering pula 2010
tidak terlihat
Fokus sistemik yang
sering menjadi sumber
infeksi: fokus septik di
paru-paru, abnormalitas
jantung berupa infeksi/
defek kongenital (mis: ToF
10. Association for European Paediatric Cardiology. ESC Guidelines for the management of grown-up congenital heart disease.
TEORI KASUS

Pemeriksaan penunjang: Hasil DL: tidak ada


Pada hasil DL kadang ada leukositosis
leukositosis CT menunjukkan adanya
CT scan dapat abses serebri
memastikan dx abses
serebri
KESIMPULAN
Abses serebri merupakan infeksi intraserebral fokal.
PJB sianotik yang tidak dikoreksi merupakan faktor
predisposisi penting.
Manifestasi klinis anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Penatalaksanaan dapat berupa terapi medis,


pembedahan, serta terhadap penyulit yang sering
ditemukan
Penatalaksanaan stabilisasi hemodinamik, observasi
cyanotic spell, penanganan polisitemia
Prognosis pada pasien TOF dan abses serebri
tergantung pada kondisi dan tindakan operasi
sesegera mungkin