Anda di halaman 1dari 52

ASMA dan

BATUK
Derri Tresnawati kusumah
1516.4.008
Asma

Asma merupakan penyakit kronis


saluran pernapasan yang ditandai oleh inflamasi,
peningkatan reaktivitas terhadap berbagai stimulus,
dan sumbatan saluran napas
yang bisa kembali spontan atau dengan
pengobatan yang sesuai.
Patofisiologi
1.Obstruksi saluran pernafasan disebabkan oleh banyak faktor seperti
bronkospasme, edema, hipersekresi bronkus, hiperresponsif bronkus,
dan inflamasi
2. Serangan asma yang tiba-tiba disebabkan oleh faktor yang diketahui
dan tidak diketahui, faktor faktor itu meliputi alergen, virus, polutan
atau zat zat cair lain yang dapat merangsang inflamasi akut atau
kontriksi bronkus
3. Terlepasnya mediator kimiawi yang terbentuk pada saat cedera
jaringan, mast sel, dan leukosit di saluran pernafasan. Mediator
mediator tersebut mengakibatkan timbulnya gejala gejala dan
komplikasi asma. Mediator tersebut adalah : histamin, eosinophilic
chemotactic factor of anaphylaxis (ECF-A), bermacam macam derivat
prostaglandin ( leukotrien dan slow reacting subtances of anaphylaxis,
SRS-A), tumor necrosis factor (TNF), dan beberapa mediator sitoklin
(interleukins)
Patofisiologi
Histamin
Dalam saluran pernafasan histamin dapat menyebabkan
bronkokontriksi , meningkatkan permeabilitas vaskuler yang berakibat
edema dan infiltrasi leukosit terutama eosinofil
ECF-A
Dilepaskan oleh sel mast yang berfungsi untuk menarik eosinofil ke
tempat cedera atau inflamasi dan reaksi alergi yang sering terjadi pada
saluran pernafasan yang akan memperburuk atau menyebabkan
timbulnya asma
Prostaglandin
adalah suatu mediator kimiawi yang diproduksi oleh seluruh sel di
dalam tubuh. Ketika terjadi cedera sel,berbagai prostaglandin dilepaskan
dari membran sel. Prostaglandin menimbulkan bermacam macam efek
seperti dilatasi otot polos, peningkatan sekresi mukus, dan inflmasi.
Prostaglandin yang terlibat dalam proses timbulnya asma adalah
leukotrien A(LT A), LT B, LT D< dan LT E. leukotrien-leikotrien ini
bergabung membentuk SRS-A yangs angat potensialmenyebabkan edema
mukosa, sekresi mucus, dan infiltrasi leukosit.
Patofisiologi
4. Kontraksi otot polos bronkus dan sekresi mukus dipengaruhi
oleh sistem simpatik dan parasimpatik. Perangsangan
parasimpatik melalui nervus menyebabkan bronkokrontriksi
dan sekresi mukus. Stimulasi nervus vagus dapat terjadi karena
rangsangan oleh berbagai zat pada saluran pernafasan
Faktor faktor penyebab asma
1. Faktor penjamu
Asma adalah penyakit yang diturunkan telah terbukti dari
berbagai penelitian. Predisposisi genetik untuk berkembangnya
asma memberikan bakat/ kecenderungan untuk terjadinya
asma.
.Prediposisi genetik
.Atopi (istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada
individu yang mempunyai riwayat kepekaan dalam
keluarganya (asma bronkial,rinitis alergik,dermatitis
atopik,konjungtivitis alergik
.Hiperesponsif jalan napas
.Jenis kelamin
.Ras/ etnik
2. Faktor lingkungan

Alergen dan sensitisasi bahan lingkungan kerja dipertimbangkan


adalah penyebab utama asma, dengan pengertian faktor
lingkungan tersebut pada awalnya mensensitisasi jalan napas dan
mempertahankan kondisi asma tetap aktif dengan mencetuskan
serangan asma atau menyebabkan menetapnya gejala.
. Alergen di dalam ruangan:
Mite domestik (tungau)
Alergen binatang (rambut binatang)
Alergen kecoa
Jamur (fungi, molds, yeasts)
Alergen di luar ruangan
Tepung sari bunga
Jamur (fungi, molds, yeasts)
Bahan di lingkungan kerja
Asap rokok
Perokok aktif
Perokok pasif
Polusi udara
Polusi udara di luar ruangan
Polusi udara di dalam ruangan
Infeksi pernapasan
Hipotesis higiene
Infeksi parasit
Status sosioekonomi
Besar keluarga
Diet dan obat
Obesiti
Exercise dan hiperventilasi
Perubahan cuaca
Sulfur dioksida
Makanan, aditif (pengawet, penyedap, pewarna
makanan), obat-obatan
Ekspresi emosi yang berlebihan
Asap rokok
Iritan (a.l. parfum, bau-bauan merangsang,
household spray)
Faktor faktor lingkungan
Manifestasi klinis

Setelah terpapar alergen pasien akan mengalami dispnea (sesak)


Pasien merasa tercekik dan harus berdiri atau duduk untuk berusaha
penuh mengerahkan tenaga untuk bernapas
Pasien kesulitan bernapas terutama pada saat ekspirasi
Akan timbul mengi saat ekspirasi
Serangan asma dapat terjadi beberapa menit sampai beberapa jam,
diikuti batuk produktif dengan sputum berwarna keputih-putihan

Alerge
n
ASMA
KRONIS

ASMA ASMA AKUT

ASMA
NOKTURNAL
Asma Kronis
Asma kronis ditandai dengan adanya sesak napas episodik yang diikuti

dengan bunyi mengi. Namun tidak semua bunyi mengi dapat dijadikan
sebagai sebuah pertanda bahwa seseorang tersebut sedang mengalami
asma. Hal ini disebabkan oleh mengi terjadi karena adanya turbulensi
udara saat melewati bronkus yang tidak normal sehingga menyebabkan
timbulnya bunyi mengi. Jadi sebenarnya bunyi mengi lebih mengarah pada
diagnosis bahwa di dalam saluran pernafasannya sedang terjadi obstruksi.
Spirometri
Diagnosis manifestasi Mengukur
klinik kemampuan paru
Riwayat penyakit, paru menarik dan
gejala klinis, menghembuskan
pemeriksaan fisik nafas

DIAGNOSIS

Peak Exspiratory
Flow meter Dianosis
kecepatan hembusan tambahan lain
maksimum L/mnt pd Pemeriksaan lab
10 milidetik pertama jumlah eosinofil
ekspirasi darah dan sputum
Asma akut
Asma yang tidak terkontrol dapat berkembang
menjadi asma akut. Asma akut terjadi dalam
hitungan jam, yaitu satu jam sampai 2 jam
bahkan bisa terjadi dalam satu hari
Asma Noktural
Asma nokturnal hanya terjadi pada malam hari saat pasien sedang

tidur. Sehingga kondisi ini dapat mengganggu ketenangan saat


tidur. Pasien dengan asma nokturnal menunjukkan penurunan
fungsi paru-paru ketika tidur dan bangun tidur.
Titik terlemah kerja paru-paru pasien terjadi antara pukul 3-4 dini hari.

Kondisi patologis dan diagnosa lengkap pada pasien asma nokturnal


belum dapat dipastikan. Namun, kondisi asma nokturnal sering
dikaitkan dengan sekresi diurnal kortisol dan sirkulasi ephinefrin yang
tidak normal. Penjelasan lain terkait dengan asma nokturnal adalah
adanya hipersensitivitas methacoline yang diinisiasi dengan
peningkatan sirkulasi histamin dan aktivasi eosinofil.
Prevalensi asma
Menurut data WHO terhadap th 2011, kematian akibat
asma di Indonesia
Mencapai 14.624 jiwa. Angka ini berarti asma
menyebabkan kurang lebih 1%
Keseluruhan kematian di Indonesia. Kira Kira 1.1%
komunitas Indonesia
menderita asma.
Dari beraneka penelitian yg dilakukan oleh Organisasi
Kesehatan
Dunia (WHO) atau National Health Interview Survey
bersama
memanfaatkan kuesioner ISAAC (International Study on
Asthma and
Allergy in Children), mengatakan bahwa, asma adalah
penyebab
TERAPI YANG DIGUNAKAN
Terapi Nonfarmakologi
Edukasi yang berkaitan dengan program
pengobatan
Menghindari alergen yang dapat mentriger
timbulnya asma, mengurangi penggunaan obat
dan mengurangi sensitivitas bronkus, misalnya
karena binatang atau asap rokok
Pasien asma akut dan berat harus
menyediakan dan mempunyai persediaan
gas oksigen
o Penyuluhan tentang asma untuk pasien dan
keluarganya
Terapi farmakologi
1. Terapi jangka pendek / serangan akut
. Obat-obatan yang sering digunakan adalah :
. a. SABA (Short Acting 2 Agonist)
. b. Antikolinergik
. c. Metilksantin
. d. Kortikosteroid Oral
. 2. Terapi jangka panjang / terapi pemeliharaan
. Obat-obatan yang sering digunakan adalah :
. a. LABA (Long Acting 2 Agonist)
. b. Kortikosteroid inhalasi
. c. Penstabil sel mast
. d. Modifier Leukotrien
. e. Golongan metilksantin
.
Obat obat yang digunakan

1. Agonis 2 adrenergik
. terapi pilihan untuk meredakan serangan akut
. merupakan bronkodilator yang bekerja dengan mengaktivasi
adenilat siklase sehingga meningkatkan kadar siklik AMP
intrasel, dan merelaksasi otot polos bronkus.
. Berdasarkan durasi kerjanya, dibagi menjadi :
. Obat aksi pendek (short acting) yang digunakan untuk
serangan akut. Contoh obat : Salbutamol, Terbutalin,
Pirbuterol, Levarbuterol, Fenoterol
. Obat aksi panjang (long acting) yang digunakan untuk terapi
pemeliharaan. Contoh obat : Salmeterol dan Formoterol
Efek Samping Agonis 2 adrenergik
Menimbulkan takikardia, palpitasi, gelisah, tremor, nausea.
dan muntah; kadang pusing, lemas, keringat dingin, dan sakit
prekordial. Jangan dipakai berlebihan terutama dalam bentuk
inhalasi. Hindari pemakaian adrenergik nonselektif pada
pasien dengan hipertensi, tirotoksikosis, dan penyakit jantung
Dosis :
Salbutamol
Anak < 2 tahun : 200 mcg/kg BB diminum 4 kali sehari
Anak 2-6 tahun : 1-2 mg 3-4 kali sehari
Anak 6-12 tahun : 2 mg diminum 3-4 kali sehari
Dewasa : 4 mg diminum 3-4 kali sehari, dosis maksimal 1 kali minum
sebesar 8 mg
Terbutalin
Dewasa dan manula : Untuk dosis pemeliharaan diberikan 2,5 mg tiga kali
sehari selama satu hingga dua minggu awal penggunaan. Setelah itu,
dokter kemungkinan akan menaikkan dosis menjadi 5 mg untuk tiga
kali sehari.
Anak-anak usia 7-15 tahun : Untuk dosis pemeliharaan diberikan 2,5 mg
dua kali sehari. Pada pasien tertentu, dosis bisa dinaikkan dokter
menjadi 2,5 mg tiga kali sehari.
Obat obat yang digunakan

2. Kortikosteroid
Meningkatkan jumlah 2 adrenergik reseptor dan meningkatkan
respon reseptor terhadap 2 adrenergik
Obat ini memberikan pencegahan jangka panjang terhadap
gejala asma, menekan, mengontrol, dan menyembuhkan
inflamasi jika digunakan secara teratur.
a. Kortikosteroid sistemik digunakan jangka pendek untuk
mengatasi eksaserbasi sedang sampai berat, untuk mempercepat
penyembuhan dan mencegah eksaserbasi berulang
b. Kortikosteroid inhalasi digunakan untuk terapi pemeliharaan
. ES : Peningkatan risiko glaukoma dan katarak terjadi pada
penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis besar jangka
panjang,Osteoporosis,
Kortikosteroid oral Serangan akut asma diterapi
dengan kortikosteroid oral jangka pendek dimulai
dengan dosis tinggi, misal prednisolon 40-50 mg per
hari selama beberapa hari.
Pada asma kronik lanjut, bila respons terhadapobat
antiasma yang lain tidak mencukupi, pemberian
kortikosteroid oral lebih lama mungkin dibutuhkan.
Pada kasus semacam ini inhalasi kortikosteroid
dosis tinggi perlu dilanjutkan untuk mengurangi
pemberian per oral. Pada penyakit paru obstruktif
kronik prednisolon 30 mg sehari sebaiknya
diberikan selama 7-14 hari; pengobatan dapat
dihentikan secara tiba-tiba
Obat obat yang digunakan
3. Antikolinergik
Merupakan inhibitor kompetitif dari reseptor muskarinik
Contoh : Ipratropium Bromida dan Tiotropium Bromida
ES: Sensasi tidak seimbang; Mulut kering, mata kering, sakit
tenggorokan; Kulit kering; Kemerahan pada kulit;
Peningkatan suhu badan; Merasa silau; Pandangan kabur;
Denyut jantung meningkat, berdebar-debar
Dosis: Dosis ipratropium ialah 500 mikrogram diulang setiap
20 menit selama tiga kali
4. Metilksantin
. Bekerja dengan menghambat enzim fosfodiesterase, sehingga
mencegah penguraian siklik AMP, sehingga kadar siklik
AMP meningkat dan akan merelaksasi otot polos bronkus,
mencegah pelepasan mediator alergi.
. Contoh : teofilin, teobromin, dan kafein
Teofilin
Es : berupa gangguan gastrointestinal, takikardi,
palpitasi, aritmia, nyeri kepala, gangguan
konsentrasi, insomnia, dan kejang
Dosis: : Dewasa dan anak >1 tahun
10 mg/kg/hari sampai 300 mg/hari
Dosis : Bayi < 1 tahun
dosis mg/kg = (0,2 x usia dalam minggu) + 5,0
Obat obat yang digunakan

5. Penstabil sel mast


Diduga bekerja dengan mencegah masuknya kalsium ke dalam
sel mast. Peningkatan kalsium intrasel sangat diperlukan untuk
proses degranulasi atau pelepasan histamin dan inflamasi
lainnya dari sel mast.
Digunakan sebagai terapi pemeliharaan
Contoh : sodium kromoglikat dan nedokromil
Dosis:- pada awal pasien menerima obat ini 4 kali/hari
- setelah gejala dapat diturunkan untuk kromolin
3kali/hari dan nedokromil 2 kali/hari.
Obat obat yang digunakan
6. Modifier leukotrien
.Leukotrien merupakan hasil metabolisme
asam arakidonat melalui jalur lipooksigenase
dengan bantuan enzim 5-lipooksigenase.
.Ada 2 golongan :
Antagonis reseptor leukotrien
(montelukast, pranlukast, dan zafirlukast)
Inhibitor lipooksigenase (zileuton)
Namun hanya Zafirlukast dan Montelukast
yang disetujui penggunaannya oleh anak-
anak.
Dosis: Zafirlukas oral 20 mg 2x sehari
Zileuton oral 4x sehari 600 mg/hari
Es: meningkatkan enzim hepar ( SGPT dan
BATUK
DEFINISI:
Adalah suatu ekspirasi yang eksplosive, merupakan
mekanisme perlindungan normal untuk membersihkan saluran
pernafasan dari sekret dan benda asing yang
mengganggu.Batuk bukan penyakit tetapi merupakan gejalan
atau tanda adanya gangguan peda saluran pernafasan, di sisi
lain batuk juga merupakan salah jalan menyebarkan infeksi

MANIFESTASI KLINIS
Batuk dapat terjadi dengan sengaja atau karena reflek.
Refleks batuk terjadi melalui afferent dan efferent pathways.
Batuk dimulai dengan inspirasi dalam diikuti dengan
menutupnya glotis, relaksasi diafragma, dan kontraksi otot
melawan penutupan glotis tekanan intratoraks meningkat .
Ketika glotis terbuka, perbedaan tekanan yang besar antara
saluran napas dan udara luar menghasilkan aliran udara yang
cepat melewati trakea.
ETIOLOGI
Batuk dapat terjadi karena
Irritants saluran napas : merokok, debu, asap, sekresi saluran

napas atas,. Terpapar irritants terus menerus juga dapat


menyebabkkan inflamasi saluran napas batuk dan
mensensitisasi saluran napas pada irritants lain.
Inflamasi paling sering karena infeksi saluran napas, mulai viral

atau bakterial bronchitis sampai bronchiektasis


Asma

Kanker paru yng menginfiltrasi dinding saluran napas


Granuloma seperti pada endobronchial sarcoidosis atau

tuberkulosis.
ETIOLOGI
Gagal jantung kongestif edema peribronkial batuk

ACE inhibitors terjadi pada 5 sampai 20% dari pasien non

produktif
TBC

Kompresi saluran napas karena massa ekstrinsik, termasuk

lymphanodes, tumor2 mediastinum, dan aneurisma aorta


Penyakit parenkim paru: penyakit paru interstitial, pneumonia,

abses paru.
Menurut lamanya batuk:
Batuk akut (<3 minggu)
Paling sering karena infeksi saluran napas atas ( khususnya
common cold, sinusitis bakterial akut, dan pertusis),
Kelainan yang lebih serius seperti pneumonia, emboli paru, dan
congestive heart failure, juga dapat terjadi.
Batuk sub akut
Jika batuk terjadi setelah kejadian ISPA yang tidak terkomplikasi
pneumonia (chest x-ray normal)> post infeksi flu
Batuk kronik (>3 minggu)
Pada perokok meningkatkan kemungkinana PPOK atau kanker
bronkogenik.
Pada bukan perokok dengan foto toraks normal dan tidak
menggunakan ACE inhibitor, penyebab batuk paling sering
adalah postnasal drip, asma, and gastroesophageal reflux.
Refleks batuk dapat ditimbulkan oleh:

1. Mekanik
stimulasi pada reseptor iritan pada epitel permukaan
saluran napas, oleh debu, asap, distorsi saluran
napas, fibrosis paru, atelektasis atau massa
intrabronkial
2. Proses inflamasi spt post nasal drip, refluks gastro
esofageal, laringitis, trakeobronkitis
3. Stimulasi psikogenik
Rangsangan psikogenik dapat meningkatkan batuk
karena stimulasi mekanis dan inflamasi
KOMPLIKASI, yang bisa terjadi karena batuk
Sakit dinding dada dan abdomen
Inkontinensia urin
kelelahan
serangan batuk mendadak syncope
Patah tulang iga fraktur patologik.
Klasifikasi berdasarkan tanda klinis
Batuk produktif
Batuk berdahak tapi sulit dikeluarkan
Mekanisme perlindungan dengan fungsi
mengeluarkan zat zat asing (kuman, debu, dahak
dari tenggorokan)
Batuk jenis ini tidak boleh ditekan
Seringkali batuk hebat dan mengganggu tidur atau
berbahaya sperti setelah operasi
Terapi : obat batuk expectorant dan mukolitik
Batuk nonproduktif
Batuk kering tanpa adanya dahak
Terapi : obat batuk supressan
Prevalensi batuk
Jika batuk membandel dan tak kunjung sembuh, dalam waktu
tiga minggu mesti hati-hati. Sebab penderita batuk berdahak
atau bronkitis kronis cenderung mengidap flare up
(eksaserbasi akut bronkitis kronis), yakni perburukan gejala
seperti produksi lendir berlebihan, batuk dan sulit bernapas
selama periode pendek. Sekitar 50-70% eksaserbasi ini karena
infeksi bakteri. Eksaserbasi terjadi jika bakteri menggandakan
diri di batang tenggorokan sehingga produksi dahak
berlebihan.
Eksaserbasi (pemburukan) akut bronkitis kronis bisa menurunkan
kualitas hidup penderita. Selain susah bernapas, batuk
berdahak terus menyerang hingga mengurangi waktu produktif
dan butuh biaya pengobatan. Hampir semua pasien penyakit
paru obstruksi kronis (PPOK) juga menderita bronkitis kronis,
ditandai dengan batuk menetap minimal 3 bulan pertahun
selama paling sedikit 2 tahun berturut-turut.
The Asia Pacific CPOD Roundtable Group memperkirakan, jumlah
penderita PPOK sedang hingga berat di Asia Pasifik mencapai
56,6 juta orang dengan prevalensi 6,3%. Di China angkanya
Terapi non farmakologi
Menghentikan penggunaan obat-obat penyebab batuk
ACEinhibitor, beta blocker.
Memperbanyak minum air putih untuk membantu
mengencerkan dahak, mengurangi iritasi dan rasa gatal.
Menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang
merangsang tenggorokan seperti makanan yang berminyak
dan minuman dingin.
Menghindari paparan udara dingin.
Menghindari merokok dan asap rokok karena dapat
mengiritasi tenggorokan sehingga dapat memperparah batuk.
Menggunakan zat zat Emoliensia seperti kembang gula,
madu, atau permen hisap pelega tenggorokan. Ini berfungsi
untuk melunakkan rangsangan batuk, dan mengurangi iritasi
pada tenggorokan dan selaput lendir.
Terapi farmakologi
- Menggunakan obat-obat antitusif atau
ekspektoran.
- Menggunakan obat-obat sesuai dengan
penyebabnya.
Ekspectorant
Obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari
saluran nafas(ekspectoransia)
Mekanisme kerjanya
Stimulasi mukosa saluran nafas, merangsang sekresi
kelenjar saluran nafasmelalui nervus vagus lalu
menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran
dahak
Contoh:
Gliseril guaiakolat/guaiafenesin
Succus liquiritae
Ammonium chloride
Kalium iodida
Ipecacuanhae radix
Ekspectorant
Gliseril Guaiakolat (guaiaphenesin)
Meningkatkan jumlah dan menurunkan viskositas sputum
Efek samping pasa penggunaan dosis besar: ngantuk,
gangguan saluran cerna (mual dan muntah)
Menyebabkan infertil berhubungan dengan mukus servix
Succus liquiritae
Obat batuk hitam
Ekstrak kering dari Glycyrrhiza glabra(akar manis)
Dosis besar nyeri kepala, edema, terganggu
keseimbangan elektrolit (karena berefek mineralkortikoid
dan hipernatemia)
Dapat menyebabkan hipertensi ( terlalu banyak memkan
permen mengandung succus)
Ekspectorant
Amonium chlorida
Obat ini selain sebagai ekspektoran juga berefek diuretik lemah dan
menyebabkan asidosis
Asidosis merangsang pusat pernafasan, merangsang gerakan cillia-cillia, juga
meningkatkan sekresi dahak
Terdapat dalam obat batuk hitam
Menyebabkan mual dan muntah karena merangsang mukosa
Dosis : 3-4xsehari 100-150 mg maksimum 3 g
Kalium iodida
Kombinasi dengan ekspektoran lain/antitusif
Kurang efektif untuk batuk
Menstimulasi sekresi dan mengencerkan mucus.
Efek samping: gangguan tiroid, dan hiperkalemia
Hati hati penggunaan pada penderita infufisiensi , ginjal
Dosis 3x0,5- 1g/hari maksimal 6g perharii
Ekspectorant
Ipecacuanhae radix
Menstimulasi sekret bronkhus
Untuk ekspektoran digunakan dalam
kombinasi dengan obat batuk lain, seperti
pulvis atau tablet doveri
Karena mengandung alkaloid emetin juga
digunakan sebagain emetikum Efek
samping: muntah muntah(dalam dosis
besar)
Mukolitik
Mempercepat ekspektorasi dan mengurangi
vixkositas sputum, dengan jalan memecah
benang benang mukoprotein
mukopolisakarida dari sputum
Contoh obat nya:
Asetilsistein
Ambroksol
Bromheksin
Mukolitik
Asetilsistein
o Mekanisme kerja dengan cara melepaskan
ikatan disulfida mukoprotein sehingga
menurunkan viskositas sputum.
o Diberikan secara semprotan (nebulization) atau
sebagai obat tetes hidung.
o Efek samping : spasme bronkus (terutama
pada penderita asma), mual, muntah.
o Dosis : 3-4 kali 1-10 ml dari larutan 20%
Mukolitik
Bromhexin
o Derivat sintetik dari vasicine, suatu
zat aktif dari adhatoda vasica
digunakan pada bronchitis.
o Efek samping : mual, peningkatan
transaminase serum, hati-hati
penggunaan pada penderita tukak
lambung.
o Dosis : 3 kali 4-8 mg/hari.
ANTITUSIV
Untuk menekan batuk kering.

Efeknya langsung pada pusat batuk di otak.

Pemakaian obat bentuk ini dapat menyebabkan retensi sputum,

oleh karena itu harus dipakai secara hati-hati (bahaya pada


bronkitis kronis dan bronkiektasis).
Kurang memberi manfaat klinis, kecuali untuk batuk yang sangat

mengganggu.
Contoh obat-obatnya :
Kodein
Dekstrometorfan
Keduanya termasuk Golongan Narkotik => efek konstipasi.
ANTITUSIV
Codein
o Memiliki efek antitusif dan analgesic.
o Dapat menimbulkan adiksi pada
penggunaan dosis besar.
o Efek samping : dosis besar obstipasi,
mual, muntah, pusing, pada anak dapat
menyebabkan konvulsi dan depresi
pernafasan.
o Dosis : 3-4 kali 10-30 mg/hari.
ANTITUSIV
Dekstrometorfan
o Menekan batuk sama dengan codein dan
efeknya lebih lama.
o Efek meningkatkan ambang rangsang
refeks batuk secara sentral.
o Jarang menimbulkan rasa kantuk dan
gangguan saluran cerna.
o Tidak mempunyai efek analgesik.
o Penggunaan dosis tinggi dapat
menimbulkan depresi saluran napas.
o Dosis : 3-4 kali 10-30 mg / hari.
Penatalaksanaan Batuk Kronis
Evaluasi perlu dilakukan dengan melihat riwayat
penyakit/obat => menentukan penyebab yang paling
terkait.
Selain itu, secara empirik dapat dilakukan:
Hindari racun paru-paru : smoking.
Hentikan obat-obat yang mungkin menyebabkan batuk :
ACEinhibitor, beta blocker.
Identifikasi adanya bronkitis kronis : chest X-ray, Lung
function test, TBC skin test.
Identifikasi ada/tidaknya penurunan BB atau gejala
penyakit serius lain : demam, menggigil (TBC paru),
hemoptysis, BB turun (kanker paru), dyspnea, orthopnea
atau pedal edema (CHF).
Jika pasien hanya menunjukkan gejala batuk kronis tanpa
adanya gejala penyakit lain, maka dapat dicoba algoritma
penatalaksanaan batuk kronis.
Hubungan asma dengan batuk
Salah satu tanda dari penyakit asma akibat batuk adalah adanya batuk kering yang

mengiringi sesak nafas

Penderita asma yang diikuti batuk biasanya mengalami gejala batuk kronis, atau

batuk yang berlangsung antara enam sampai delapan minggu lamanya. Penyakit
asma yang diikuti batuk ini sangat menyiksa karena bisa menyerang kapan saja.

Penyakit asma yang diikuti batuk seringkali sulit didiagnosa karena, pada banyak

kasus, batuk adalah satu-satunya gejala yang ada. Bila serangan asma tidak terjadi,
penderita tidak akan tampak memiliki penyakit ini. Salah satu cara untuk
mendeteksi penyakit ini adalah dengan meminta dokter untuk memeriksa nafas
anda dan melakukan tes-tes semacam tes fisik, sinar-X, dan spirometri. Selain itu
juga bisa memeriksa catatan kesehatan ataupun ayah-ibu untuk mengetahui apakah
ada riwayat penyakit asma ini pada keluarga