Anda di halaman 1dari 55

PRESENTA

Pembimbing :
SI KASUS
dr. Daliman, Sp.OG (K.FM)

Disusun Oleh:
Zamzami Ahmad Baidowi G4A015070
Ridho Satria Rahardian G4A015071 Gravida 1 Para 0 Abortus 0
Lutfi Maulana G4A015072 usia 23 tahun hamil 33
Yulius Deddy Kristianto G4A015073 minggu 4 hari, janin
tunggal hidup intra uterin
dengan Preeklamsia Berat
dan IUGR
SMF ILMU KEBIDANAN DAN
KANDUNGAN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN
Preeklamsi adalah suatu keadaan yang ditandai
dengan meningkatnya tekanan darah tersebut dilihat
dari sistol 140 mmHg dan atau tekanan diastol 90
mmHg dalam dua kali pengukuran minimal 4 jam pada
pasien dengan riwayat tekanan darah normal (ACOG,
2013). .
Di negara berkembang 3 sampai 8 persen ibu hamil
mengalami preeklamsia dan 0.56 dari 1000 kelahiran
mengalami eklamsia (Arulkumaran, 2013).
Menurut Lausman (2012), pertumbuhan janin
terhambat (PJT) atau intrauterine growth restriction
diartikan sebagai suatu kondisi dimana janin
berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri
normal pada usia kehamilan. Kadang pula istilah IUGR
sering diartikan sebagai janin kecil untuk masa
kehamilan-KMK (small for gestational age).
II. LAPORAN KASUS
Identitas

Nama : Ny. S
Tanggal lahir : 13 Mei 1995
Usia: 23 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Gumelar Kidul RT 07/02
Tambak
No. CM : 00-25-14-90
Tanggal masuk: 31 Desember
2016/14.30
Anamnesis

Keluhan Utama : Tekanan darah tinggi


Keluhan Tambahan : Kenceng-kenceng -,
Lendir darah -, pengeluaran air -, pusing -,
pandangan kabur -, nyeri ulu hati -
Riwayat penyakit sekarang
Pasien baru, datang ke IGD RSMS rujukan dari
Puskesmas Tambak 1 dengan keluhan tekanan
darah tinggi, belum keluar lendir dan darah dari
jalan lahir, kenceng-kenceng masih jarang. Pada
pasien juga belum didapatkan pandangan kabur,
nyeri ulu hati, mual muntah serta pengeluaran air
dari jalan lahir.
Haid Pertama Haid Terakhir : 9/5/2016
Hari Perkiraan Lahir : 16/2/2017
Usia Kehamilan : 33 minggu 5 hari

Riwayat obstetrik G1P0A0


I : Hamil ini
Riwayat ANC : Bidan/teratur
Riwayat haid : Teratur/6 hari/tidak nyeri
Riwayat kontrasepsi : belum pernah
mengunakan KB
Anamnesis
Riwayat penyakit o Riwayat penyakit
dahulu keluarga

Riwayat hipertensi :
Riwayat hipertensi
disangkal
: disangkal
Riwayat asma : Riwayat asma :
disangkal disangkal
Riwayat alergi : Riwayat kencing manis
disangkal : disangkal
Riwayat kencing manis : Riwayat penyakit jantung
disangkal : disangkal
Riwayat penyakit jantung Riwayat penyakit
: disangkal kandungan : disangkal
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan di VK IGD RSMS


A. Keadaan Umum : Baik
B. Kesadaran : Compos Mentis
C. Vital Sign
1.Tekanan Darah : 160/110 mmHg
2. Nadi : 88 x/mnt
3. Respirasi : 20x/mnt
4. Suhu : 36.5 0C
D. Status Gizi
1. Tinggi Badan : 148 cm
2. Berat Badan : 70 kg
3. IMT : 32 ( obesitas )
Pemeriksaan Fisik
A. Kepala:
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : discharge(-/-); Nafas cuping hidung (-/-)
Mulut : sianosis (-)
Telinga : othorea (-/-)
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

B. Thorax
Pulmo
. Inspeksi : Simetris (+/+), retraksi (-/-),
ketinggalan gerak(-/-)
. Palpasi : krepitasi (-/-), fremitus normal
. Perkusi : sonor +/+
. Auskultasi : suara paru vesikuler +/+, wheezing
-/-, rhonki -/-
Pemeriksaan Fisik
Cor
Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus cordis pada
dinding dada
Palpasi : Teraba ictus cordis, tidak kuat angkat di
SIC V, 2 jari lateral LMC sinistra
Perkusi :
Batas jantung kanan atas SIC II LPSD
Batas jantung kanan bawah SIC IV LPSD
Batas jantung kiri atas SIC II LPSS
Batas jantung kiri bawah SIC V 2 jari lateral LMCS
Auskultasi: S1>S2 reguler, murmur (-); gallop (-)
Pemeriksaan Fisik
C. Abdomen
Inspeksi : Cembung gravid, linea nigra(+), striae
gravidarum (+), sikatrik (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal, DJJ 144x/menit
. Perkusi : Pekak janin
Palpasi : TFU 24 cm, TBJ =1860 2015 gram
Leopold 1 : Teraba bagian bulat lunak pada bagian fundus
uteri kesan kepala
Leopold 2 : Teraba tahanan memanjang pada bagian kanan
ibu dan teraba bagian kecil pada bagian kiri ibu
Leopold 3 : Teraba bagian bulat lunak kesan bokong
Leopold 4 : Divergen
His : Belum didapatkan

D. Ekstrimitas : Akral Hangat


Superior : edema pitting(-/-)
Inferior : edema pitting(-/-)
Pemeriksaan Fisik

E. Genitalia Eksterna
Lendir darah
Pengeluaran air ketuban
Fluor albus
. Pemeriksaan dalam :
Pemeriksaan dalam tidak dilakukan
Tabel 2.1. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan Laboratorium 31/12/2016
KIMIA KLINIK HASIL NILAI NORMAL

Darah Lengkap
Hemoglobin 12.9 11.7 15.5 g/dl
Leukosit 11.7500 (H) 3600 - 11000U/L
Hematokrit 38 35 - 47 %
Eritrosit 4.2 3.8 5.2 10^6/l
Trombosit 337.000 150.000
440.000/l
MCV 88.4 80 100 fL
MCH 30.4 26 34 pg
MCHC 34.4 32 36 %
Hitung Jenis
Basofil 0.2 01%
Eosinofil 2.1 24%
Batang 0.5 (L) 35%
Segmen 75.4 (H) 50 70 %
Limfosit 15.2 (L) 25 40 %
Monosit 6.6 28%
PT 8.7 (L) 9.3 11.4
APTT 37.0 29.0 40.2
Kimia Klinik
Glukosa Sewaktu 72 <=200
Tabel 2.1. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan Laboratorium 31/12/2016
Tabel 2.1. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan Laboratorium 31/12/2016
Pemeriksaan USG

Interpretasi: Satu Janin Hidup Intrauterin, Letak Kepala punggung kanan,


Sesuai dengan umur kehamilan 29+6 minggu, Plasenta di corpus anterior,
air ketuban cukup. TBJ 1403 g
DIAGNOSIS IGD
Gravida1 Para 0 Abortus 0 usia 23 tahun usia
kehamilan 33+5 Janin Hidup Tunggal Intrauterine
Presentasi Kepala punggung kanan dengan
Preeklamsia Berat dan IUGR

Tindakan

1. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) pasien mengenai keadaan


pasien dan rencana terapi atau tindakan yang akan diberikan
2. Rawat Inap HCU
3. Pasang DC
4. Dopamet 3x50 mg
5. Dexametason 2x6 mg
6. Adfer 1x1
7. Kalsium 3x5mg
8. Asam folat 3x1 tab
9. EKG
10. Awasi vital sign
11. Cek lab lengkap
12. Jika terdapat tanda impending eklamsi terminasi kehamilan
HCU
Follow Up
HCU
Follow Up
Follow Up
VK
Follow Up
VK
Follow Up
VK
Follow Up

F. DIAGNOSIS AKHIR

P1A0 usia 23 tahun post partum spontan patologis


induksi dengan drip oksitosin a.i Preeklamsia Berat dan
IUGR

G. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
III. TINJAUAN PUSTAKA
PEB
PEB

Preeklamsia adalah penyakit kerusakan endotel vaskular yang terjadi


secara luas dan vasospasme pada saat kehamilan. Penyakit ini
terjadi pada umur kehamilan 20 minggu sampai 6 minggu setelah
persalinan dengan riwayat tekanan darah normal Secara klinis,
preeklamsia ditandai dengan adanya hipertensi disertai dengan
proteinuria (Lim, Kee-Hak, 2016).

penyebab utama kematian ibu dan morbiditas.

10% ibu mengalami kenaikan tekanan darah selama kehamilan.


A. Faktor risiko

1. Riwayat preeklamsia satu atau lebih kehamilan sebelumnya


2. Preeklamsia onset dini dan persalinan kurang dari 34 minggu
3. Gagal jantung kronik
4. Penyakit autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik atau sindrom antifosfolipid
5. Trombofilia diturunkan
6. Diabetes mellitus tipe 1 atau 2
7. Hipertensi kronik
8. Primigravida
9. Interval kehamilan lebih dari 10 tahun
10. Kehamilan pertama dengan pasangan baru
11. Kehamilan dengan teknologi reproduksi
12. Riwayat keluarga dengan preeklamsia

13. Peningkatan berat badan yang berlebihan saat kehamilan


14. Infeksi selama kehamilan
15. Penyakit neoplastik trofoblas
16. Kehamilan lebih dari satu janin
17. Usia ibu lebih dari 40 tahun
18. Memiliki etnis hitam, Asia Selatan, atau Kepulauan Pasifik
19. Obesitas
20. Terukur tekanan dari sistolik >130mmHg atau tekanan diastolik >80mmHg
21. Peningkatan kadar trigliserida
22. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung yang terdeteksi dini
23. Status sosioekonomi rendah
24. Penggunaan kokain dan metamfetamin
25. Merokok
Patogenesis

Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta


Teori Iskemia Plasenta, Radikal Bebas, dan
Disfungsi Endotel
Teori Intoleransi Imunologik antara Ibu dan Janin
Teori Adaptasi Kardiovaskular
Teori Genetik
Teori Defisiensi Gizi
Teori Stimulasi Inflamasi
Patofisiologi

Manifestasi klinis yang terjadi akibat preeklampsia antara lain


sebagai berikut (Prawirohardjo, 2011; Cunningham, 2009) :

Sistem Kardiovaskular
Darah dan Koagulasi
Homeostasis Volume
Ginjal
Elektrolit
Hepar
Otak
Penatalaksana
an
Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus preeklampsia
berat adalah sebagai berikut (Prawirohardjo, 2011;
Cunningham, 2009; POGI; 2006)
Dasar pengelolaan
Pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya,
dilakukan tindakan sebagai berikut :
Rencana terapi pada penyulitnya, yaitu terapi
medikamentosa dengan pemberian obat-obatan untuk
penyulitnya.
Menentukan rencana sikap terhadap kehamilan, yaitu :
Ekspektatif; konservatif; apabila umur kehamilan <37 minggu,
artinya : kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil
memberikan terapi medikamentosa.
Aktif, agresif ; apabila umur kehamilan 37 minggu, artinya
kehamilan diakhiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk
stabilisasi keadaan ibu.
Penatalaksana
an
Pemberian terapi nonmedika mentosa dan
medikamentosa
Rawat inap di rumah sakit
Tirah baring miring ke kiri secara intermiten
Infus Ringer Laktat atau Ringer Dekstrose 5%
Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan
dan terapi kejang. Pemberian MgSO4 dibagi menjadi
:
Loading dose (initial dose) : dosis awal
Diberikan 4 gram MgSO4, intravena (40% MgSO4 10 mL
dicampurkan dengan aquadest 10 mL), diberikan selama
15 menit.
Maintenance dose : dosis lanjutan

Diberikan 8 gram MgSO4 dalam larutan Ringer Laktat


500 mL per 6 jam.
Penatalaksana
an adalah sebagai
Syarat-syarat pemberian MgSO4
berikut :
Harus tersedia antidontum MgSO4 apabila terjadi
intoksikasi, yaitu Kalsium Glukonas 1 gram (10% Ca
glukonas diambil 10 mL kemudian dicampurkan dengan
aquadest 10 mL) diberikan secara IV selama 3 menit.
Refleks patella (+) kuat.
Frekuensi pernapasan >16 kali/menit, tidak ada tanda-
tanda distress napas.
Produksi urin dalam 4 jam sebelumnya >100 mL atau
0,5 mL/kgBB/jam.
MgSO4 dihentikan apabila :
Ada tanda-tanda intoksikasi MgSO4, yaitu kelemahan
otot, hipotensi, refleks fisiologis menurun, fungsi jantung
terganggu, depresi SSP, kelumpuhan otot khususnya
otot pernapasan.
Setelah 24 jam pascapersalinan atau 24 jam setekah
kejang terakhir.
Penatalaksana
Pemberian antihipertensi an
Pemberian antihipertensi diberikan apabila tensi
160/110 mmHg dan MAP 126 mmHg. Obat yang
diberikan adalah nifedipine dengan dosis 10-20 mg
oral, diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg
dalam 24 jam.
Diuretik
Diet
diet diberikan secara seimbang, hindari protein, dan
kalori yang berlebih.
Penatalaksana
Sikap terhadap kehamilan an

1. Perawatan konservatif, ekspektatif


2. Perawatan aktif; agresif
Komplikasi
Komplikasi maternal
1. Solutio plasenta
2. Eklampsia
3. Peripartum cardiomyopati (PPCM)
4. Gagal ginjal akut
Komplikasi terhadap janin
Prognosis

Preeklamsia/eklamsia diperkirakan menyumbang


14% kematian maternal setiap tahun.
Preeklamsia yang terjadi pada kehamilan pertama
adalah prediktor buruk pada kehamilan selanjutnya
IUGR
IUGR

Menurut Lausman (2012), pertumbuhan janin terhambat (PJT) atau


intrauterine growth restriction diartikan sebagai suatu kondisi dimana
janin berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri normal pada
usia kehamilan. Kadang pula istilah IUGR sering diartikan sebagai
janin kecil untuk masa kehamilan-KMK (small for gestational age).

dua komponen penting pada IUGR yaitu:


1.Berat badan lahir di bawah persentil ke-10
2. Adanya faktor patologis yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan

small for gestational age (SGA) ada dua komponen yang berpengaruh
yaitu:
1.Berat badan lahir di bawah presentil ke-7
2.Tidak adanya proses patologis.
ETIOLOGI
Maternal
Tekanan darah tinggi
Penyakit ginjal kronik
Diabetes melitus
Penyakit jantung dan pernapasan
Malnutrisi dan anemia
Infeksi
Pecandu alkohol dan obat tertentu
Perokok
Uterus dan plasenta
Penurunan aliran darah di
uterus dan plasenta
Plasenta abruption, plasenta
praevia, infark plasenta
(kematian sel pada plasenta),
korioangioma
Infeksi di jaringan ikat sekitar
Janin uterus
Janin kembar Twin-to-twin transfusion
Penyakit Kelainan kongenital syndrome
Kelainan kromosom
Pajanan teratogen
Penyebab dari IUGR menurut
kategori retardasi pertumbuhan
simetris
KLASIFIKASI

Berdasarkan gejala klinis dan USG janin kecil dibedakan atas:


1. Janin kecil tapi sehat.
Berat lahir di bawah presentil ke-10 untuk masa kehamilannya.
Mempunyai ponderal index dan jaringan lemak yang normal.
Ponderal index = BB(gram) x 100
PB(cm)

2. Janin dengan gangguan pertumbuhan karena proses patologis, inilah


yang disebut true fetal growth restriction.
a) Simetris (20%), gangguan terjadi pada fase
Hiperplasia, di mana total jumlah sel kurang, ini
biasanya disebabkan oleh gangguan kromosom atau
infeksi kongenital misalnya TORCH. Proses patologis
berada di organ dalam sampai kepala.
b) Asimetris (80%), gangguan terjadi pada fase
Hipertrofi, di mana jumlah total sel normal tetapi
ukurannya lebih kecil. Biasanya gangguan ini
disebabkan oleh faktor maternal atau faktor plasenta.
KLASIFIKASI

Simetris Asimetris
Semua bagian tubuh Kepala lebih
kecil besar dari perut
Ponderal index normal Meningkat
Perbandingan kepala, Meningkat
perut dan panjang
tangan normal

Etiologi: faktor genetik Insufisiensi


dan infeksi plasenta kronik
Jumlah sel-lebih kecil Normal
Ukuran sel normal Kecil
Bayi dengan Biasanya tanpa
komplikasi komplikasi baik
prognosisnya buruk prognosisnya
Diagnosis

Adapun cara untuk mendiagnosis IUGR


dilihat dari beberapa faktor yaitu
Diagnosis
Faktor Ibu
Ibu hamil dengan penyakit hipertensi, penyakit ginjal,
kardiopulmonal dan pada kehamilan ganda.

Pemeriksaan fisik
1. Index massa tubuh ibu
2. Tinggi Fundus Uteri
3. Ultrasonografi
4. Velosimetri Doppler
5. Pemeriksaan Cairan Amnion
6. Biophysical profile (BPP)

Pemeriksaan Laboratorium
7. Pemeriksaan gula darah, bila ada indikasi diabetes mellitus
8. Screening penyakit infeksi, waspada infeksi TORCH, Syphilis
9. Pengukuran kadar enzim transaminase, waspada Hepatitis B dan C
10.Pemeriksaan plasenta postpartum, akan didapati plasenta yang
mengcil dan tali pusat yang eksentrik dan gambarakan hematom,
ataupun infark. Pada pemeriksaan histopatologi dapat ditemukan
deposit fibrin perivilus, trombosis intervilus, gagalnya transformasi
pembuluh uteroplasenta, aterosis, displasia vili bagian distal, dan
trofoblas vili yang abnormal (apoptosis atau nekrosis) (Lausman et
al., 2012).
Manajemen

Tatalaksana yang harus dilakukan adalah:


1. Pada IUGR pada saat dekat waktu melahirkan, yang harus
dilakukan adalah segera dilahirkan
2. Pada IUGR jauh sebelum waktu melahirkan, kelainan organ
harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom
dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban)
atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah
janin dianjurkan
1. Tatalaksana umum: setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan
kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus
dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Tirah baring dengan posisi
miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu
dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,
Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam
beberapa kasus IUGR Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan
maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin
termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta
pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 2-4 minggu.
2. Tatalaksana khusus: pada IUGR yang terjadi jauh sebelum waktunya
dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila
penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi harus
diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan
alkohol, maka semuanya harus dihentikan.
Manajemen

Langkah pertama dalam menangani IUGR adalah mengenali


pasien-pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk
mengandung janin kecil.
Langkah kedua adalah membedakan janin IUGR atau
malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat.
Langkah ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk
pengawasan janin pada pasien-pasien IUGR dan melakukan
persalinan di bawah kondisi optimal.
PATOFISIOLOGI

Patofisiologi hambatan tumbuh janin biasanya disebabkan oleh


insufisiensi plasenta karena gangguan perfusi pada ibu, ablasi
plasenta, fungsional, atau keduanya, dan kondisi ini dapat
diperberat dengan proses persalinan. Berkurangnya cairan
amnion juga meningkatkan kompresi tali pusat, sehingga
pemantauan intrapartum resiko tinggi sangat diperlukan dan
pelahiran secara Caesar menjadi pertimbangan (Cunningham,
2014).
PROGNOSIS

Pada kasus-kasus IUGR yang sangat parah dapat berakibat


janin lahir mati (stillbirth) atau jika bertahan hidup dapat
memiliki efek buruk jangka panjang dalam masa kanak-kanak
nantinya.
KOMPLIKASI
IV. MASALAH DAN
PEMBAHASAN
Diagnosis awal kasus saat di IGD RS Margono
Soekarjo adalah G1P0A0 usia 23 tahun usia
kehamilan 33+5 Janin Hidup Tunggal Intrauterine
Presentasi Kepala punggung kanan dengan
Preeklamsia Berat dan IUGR. Sedangkan diagnosis
post partus kasus ini yaitu P1A0 usia 23 tahun post
partum spontan patologis induksi dengan drip
oksitosin a.i Preeklamsia Berat dan IUGR.
Pasien Ny. S memiliki riwayat obstetri G1P0A0,
gravida 1 paritas 0 abortus 0. Jadi dapat
diriwayatkan bahwa ini adalah kehamilan pertama
pasien, Pada primigravida frekuensi preeklampsia
lebih tinggi bila dibandingankan dengan
multigaravida, terutama primigaravida muda
(Sarwono, 2006).
Pada kasus, pasien memiliki berat badan 70 kg dan
tinggi badan 148 cm, maka Indeks Massa Tubuh
(IMT) pasien adalah 31,95 dan termasuk kelompok
obseitas tipe satu berdasarkan klasifikasi Asia.

Obesitas juga dapat menginduksi hipertensi dengan


cara mengurangi availabilitas NO sehingga
meningkatkan stres oksidatif, meningkatkan tonus
simpatis, meningkatkan ekspresi angiotensinogen
yang dihasilkan oleh jaringan adiposa pula.
Pada kasus, pasien memiliki berat badan 70 kg dan
tinggi badan 148 cm, maka Indeks Massa Tubuh
(IMT) pasien adalah 31,95 dan termasuk kelompok
obseitas tipe satu berdasarkan klasifikasi Asia.

Obesitas juga dapat menginduksi hipertensi dengan


cara mengurangi availabilitas NO sehingga
meningkatkan stres oksidatif, meningkatkan tonus
simpatis, meningkatkan ekspresi angiotensinogen
yang dihasilkan oleh jaringan adiposa pula.
Pasien pada kasus ini datang ke poli kebidanan dan
kandungan dengan tinggi fundus uteri 24 cm.
Normalnya pada usia kehamilan 33-34 minggu,
tinggi fundus uteri sekitar 30-31cm dengan taksiran
berat janin sekitar 3100-3300gr. Namun dari hasil
pengukuran tinggi fundis uteri pasien sekitar 24cm,
dengan taksiran berat janin sekitar 2000-2100gr di
usia kehamilan 33-34 minggu. Pada hasil USG pasien
didapatkan taksiran berat janin sekitar 1403gr
dengan kesan IUGR. Hal ini didapatkan karena tinggi
fundus uteri tidak sesuai dengan usia kehamilan saat
pasien datang.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan laboratorium ini diagnosis pasien
adalah IUGR (intrauterine growth retardation).
Tindakan rawat inap pasien pada kasus ini sudah
tepat yakni untuk melakukan observasi terlebih
dahulu pada pasien dan selanjutnya dilakukan
induksi persalinan pada pasien.
ACOG. 2013. Hypertension in Pregnancy. Obstetrics &Gynecology Vol 122
No.5

Arulkumaran N and Lightstone L. 2013.Severe pre-eclampsia and


Hypertensive crises. Best Pract Res ClinObstetGyn

Bartsch, Emily, Karyn E Medcalf, Alison L Park, Joel G Ray. 2016. Clinical risk
factors for pre-eclampsia determined in early pregnancy: systematic review
and meta-analysis of large cohortstudies. BMJ 353(i753): 1-10

Beckmann, Charles R.B., et al., 2014, Obstetric and Gynecology Beckmann


7th edition, USA: Lippincott Williams 7 Wilkins

Bello, N. Iliana, S. Rendon H. Arany Z. 2013. The Relationship Between


Preeclampsia an Peripartum Cardiomyopathy : A Systemic Reviend and
Metaanalysis. Journal National Institute and Health. Volume 62 : 18

Cunningham, F Gary. 2014. Obstetri Williams 24th Edition. New York: Mc


Graw Hill Education.

Cunningham, F.G., et al. 2009. Obstetri William Volume 2. Jakarta : EGC

Giuliano, N et al. 2014. IUGR Management: New Perspective. Journal of


Pregnancy, 1(1): 1-8.

Hernandez-diaz, Sonia, Sengwee Toh, Sven Cnaattingius. 2009. Risk of pre-


eclampsia in first and subsequent pregnancies: prospective cohort study.
BMJ 338(b2255): 1-5
James DK, Steer PJ, Weiner CP, Gonik B. 2001.High Risk Pregnancy,
Management Options 2nd ed. London : WB Sounders Company.

Lamminpaa, Reeta, Katri Vehvilainen-Julkunen, Mika Gissler, Seppo


Heinonen. 2012. Preeclampsia complicated by advanced maternal age: a
registry based study on primiparouss women in Finland 1997-2008.
Pregnancy and Childbirth 12(47):1-5

Lausman, A., et al. 2012. Screening, Diagnosis, and Management of


Intrauterine Growth Restriction. J Obstet Gynaecol Can Vol 34(1):1728

Lim, Kee-Hak. 2016. Preeclamsia. Diakses dari


http://emedicine.medscape.com/article/1476919-overview#a1

Nankali, A. 2012. Maternal Complications Associated with Severe


Preeclampsia. Journal of Obstetric and Ginaecology India. Volume 63 : 2.