Anda di halaman 1dari 44

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI MATA
ANATOMI KORNEA
Diameter horizontal 12 mm, diameter vertical 11 mm.
Bagian perifer kornea lebih tebal dibandingkan bagian sentral,
dimana bagian perifer mempunyai ketebalan 1 mm dan
bagian sentral 0,5 mm.
Limbus, yang membatasi kornea dan sclera, berwarna
keabuan dan jernih.
Bagian kornea yang terekspos dengan dunia luar dilindungi
oleh precorneal tear film, yang terdiri dari 3 lapisan:
superficial oily layer yang diproduksi oleh kelenjar meibom;
middle aqueous layer yang diproduksi oleh kelenjar lakrimal utama
dan aksesori; dan
deep mucin layer yang berasal dari sel goblet konjungtiva.
Kornea terdiri dari 5 lapis:
ULKUS KORNEA

Ulkus kornea adalah kerusakan/


kehilangan epitel kornea yang
sampai ke stromal, yang
mempunyai batas/ dinding dan
dasar.
Etiologi
1. Infeksi ( bakteri, virus, jamur )
2. Non infeksi ( trauma, bahan kimia, radiasi, defisiensi
vitamin A, obat-obatan )
3. Sistim imun
Manifestasi Klinis
Gejala Subjektif
Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
Sekret mukopurulen
Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
Silau
Nyeri
Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus
terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan
lapisan epitel kornea.
Gejala Objektif
Injeksi siliar
Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat
Hipopion
Patofisiologi

Kornea : merupakan bagian anterior dari mata yang


jernih.
Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan
anterior dari kornea.
Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea,
segera mengganggu pembentukan bayangan yang
baik di retina.
Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea,
dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang
hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka
kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun
profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan
fotofobia.
Rasa sakit juga diperberat dengan adanya gesekan
palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea
dan menetap sampai sembuh.
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut.
Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam.
Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial lebih cepat sembuh dan
daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke
membran Bowman dan sebagian stroma jaringan ikat baru sikatrik.
Diagnosis
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK
Riwayat trauma, benda asing dan abrasi pada kornea,
riwayat pernah terkena keratitis yang berulang,
pemakaian lensa kontak, serta penggunaan kortikosteroid
PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
Visus
Slit lamp
Tes fluoresein
defek epitel ditandai dengan adanya daerah yang
berwarna hijau.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Berguna untuk diagnosis kausa dan juga penting untuk pemilihan


terapi yang tepat dengan hasil kultur kerokan.
Dilakukan swab pada kornea dan melihatnya dengan mikroskop
dengan pengecatan Gram maupun Giemsa dan preparasi KOH
dapat melihat adanya bakteri dan jamur dengan jelas.
Klasifikasi

Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:


Ulkus kornea sentral
Ulkus kornea bakterialis
Ulkus kornea fungi
Ulkus kornea virus
Ulkus kornea acanthamoeba
Ulkus kornea perifer
Ulkus marginal
Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden)
Ulkus cincin (ring ulcer)
ULKUS KORNEA BAKTERI
Ulkus kornea streptococcus
Khas sebagai ulcus yang menjalar
dari tepi ke arah tengah kornea
(serpinginous).
Ulkus bewarna kuning keabu-abuan
berbentuk cakram dengan tepi ulkus
yang menggaung. Ulkus cepat
menjalar ke dalam dan menyebabkan
perforasi kornea, karena eksotoksin
yang dihasilkan oleh streptokok
pneumonia.
Ulkus kornea Staphylococcus
Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putih
kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat
dibawah defek epitel.
Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi
abses kornea yang disertai edema stroma dan
infiltrasi sel leukosit.
Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen
yaitu reaksi radangnya minimal.
Ulkus kornea pseudomonas
1. Lesi pada ulkus ini dimulai dari
daerah sentral kornea. ulkus sentral
ini dapat menyebar ke samping dan
ke dalam kornea.
2. Penyerbukan ke dalam dapat
mengakibatkan perforasi kornea
dalam waktu 48 jam.
3. Gambaran berupa ulkus yang
berwarna abu-abu dengan kotoran
yang dikeluarkan berwarna kehijauan.
4. Kadang-kadang bentuk ulkus ini
seperti cincin. Dalam bilik mata
depan dapat terlihat hipopion yang
banyak
Ulkus kornea pneumokokus
Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam.
Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan
sehingga memberikan gambaran karakteristik yang
disebut Ulkus Serpen.
Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan
berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat
cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di
daerah ini terdapat banyak kuman.
Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya
sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.
Ulkus kornea jamur
Pada permukaan lesi terlihat bercak putih
dengan warna keabu-abuan yang agak
kering.
Tepi lesi berbatas tegas irregular dan
terlihat penyebaran seperti bulu pada
bagian epitel yang baik.
Terlihat suatu daerah tempat asal
penyebaran di bagian sentral sehingga
terdapat satelit-satelit disekitarnya.Tukak
kadang-kadang dalam, seperti tukak yang
disebabkan bakteri.
Ulkus kornea achantamoeba
Gejala awal adalah rasa nyeri yang tidak
sebanding dengan temuan klinisnya,
kemerahan dan fotofobia.
Tanda klinis yang khas adalah ulkus
kornea indolen, cincin stroma dan
infiltrat perineural.
Ulkus Marginal
Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin.
Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu
dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan
gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis
nodosa, dan lain-lain.
Yang berbentuk cincin atau multiple ditemukan pada penderita
leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain
Ulkus Mooren
60-80% bersifat unilateral. Biasanya ulkus ini dimulai dari kornea
perifer dan menyebar secara circumferen dan kemudian sentripetal
dengan tepi yang rusak /tergali dari jaringan yang tidak berepitel.
Terjadi inflamasi di mata dan nyerinya bisa hebat dengan
photofobia. Perforasi bisa terjadi dengan trauma yang minor atau
sedang dalam infeksi sekunder. Vaskularisasi yang menyebar dan
fibrosis pada kornea bisa terjadi
Ring Ulcer
Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus
yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa
dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi.Ulkus marginal
yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring
ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan
dengan konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun.
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah


Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya
Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang
Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin
dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih
Berikan analgetik jika nyeri
Tatalaksana Medis
a. Medikamentosa
. Sulfas Atropin
. Skopolamin sebagai midritika
. Analgetik seperti pantokain
. Antibiotik sesuai dengan penyebabnya atau yang berspektrum
luas.
. Anti jamur jika penyebabnya adalah jamur.
. Anti viral
Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan :
a. Kauterisasi
Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik,
larutan murni trikloralasetat
Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai
elektrokauter atau termophore. Dengan instrumen ini
dengan ujung alatnya yang mengandung panas
disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna
keputih-putihan.
b. Flap konjungtiva/amnion jika pengobatan dengan
medika mentosa gagal.
c. Keratoplasti jika tindakan di atas tidak berhasil.
Indikasinya adalah jika terjadi jaringan parut yang
mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang
menyebabkan berkurangnya tajam penglihatan.
Komplikasi
Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat
singkat
Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi
endoptalmitis dan panopthalmitis
Prolaps iris
Sikatrik kornea
Katarak
Glaukoma sekunder
Prognosis

Tergantung pada tingkat keparahan, cepat lambatnya


penyakit ini ditangani, jenis mikroorganisme penyebab,
dan ada tidaknya komplikasi yang timbul.
Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya
mendapat pengobatan serta timbulnya komplikasi, maka
prognosisnya menjadi lebih buruk.
TERIMA KASIH
Laporan kasus
Identitas pasien

Nama : Tn. Effendi Hariyanto


Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 42 tahun
Pekerjaan : Tukang besi
Agama : Islam
Alamat : Muaro Labuh
Anamnesa
Seorang pasien laki-laki berusia 42 tahun dirawat di
bangsal Mata RSUP Dr M Djamil Padang pada tanggal 7
April 2016.

Keluhan Utama :
Mata kanan nyeri dan berair sejak 10 hari sebelum
masuk rumah sakit.

Riwayat penyakit sekarang


Mata kanan nyeri dan berair sejak 10 hari sebelum
masuk RS.
Pasien mengeluh Mata kanan berair dan terasa nyeri
ketika berbaring ke arah mata yang sakit.
Pasien juga mengeluh mata merah serta
pengengelihatan kabur sejak 10 hari sebelum masuk
rumah sakit.
Keluhan mata gatal (+), silau (-)
Riwayat penggunaan kacamata (-)
Keluhan sakit kepala (-)
Awalnya mata kanan terkena lentingan batu sejak 10
hari lalu ketika pasien memukul batu/ logam. Pasien
berobat ke RSUD muara laboh dan mendapatkan
obat tetes vigamox 8x OD, Atropin sulfat 3x OD
kemudian di rujuk ke RSUP DR M Djamil padang.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita
penyakit keturunan, penyakit menular, penyakit
kejiwaan serta penyakit seperti pasien.
STATUS OFTALMIKUS OD OS

Visus tanpa koreksi 2/60 5/5

Visus dengan koreksi

Refleks fundus (+) (+)

Silia / supersilia Trikiasis (-) Trikiasis (-) atau distikiasi (-)

Madarosis (-) Madarosis (-)

Palpebra superior Lagoftalmus (-) Lagoftalmus (-)

Edema (-) Edema (-)

Hematom (-) Hematom (-)


Palpebra inferior Edema (-) Edema (-)

Hematom (-) Hematom (-)

Margo Palpebra Entropion (-) Entropion (-)

Ektropion (-) Ektropion (-)

Sikatrik (-) Sikatrik (-)

Aparat lakrimalis Lakrimasi normal Lakrimasi normal

Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-), Papil (-), folikel Hiperemis (-), Papil (-),

(-), sikatrik (-) folikel (-), sikatrik (-)

Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konjungtiva Bulbii Injeksi siliar (+) Injeksi siliar (-)

Injeksi konjunktiva (+) Injeksi konjunktiva (-)

Sklera Putih Putih

Kornea Ulkus di sentral kornea Bening

dengan diameter 2 mm
Kamera Okuli Cukup dalam, Hipopion Cukup dalam

Anterior (+)

Iris Coklat Coklat

Pupil Bulat, Semimidriasis (SA) Bulat, reflex cahaya(+/+),

diameter 2-3mm

Lensa Bening Bening

Korpus vitreum Bening Bening

Fundus :

- Media Sulit dinilai


Bening
- Papil optikus Bulat, batas tegas, pucat,
Bulat, batas tegas,
c/d sulit dinilai pucat, c/d 0,3-0,4 mm

- Retina Sulit dinilai


Perdarahan (-), Eksudat (-)

- aa/vv retina Sulit dinilai


aa:vv =1:3
- Makula Sulit dinilai
Refleks fovea (+)
Tekanan bulbus Normal palpasi Normal palpasi

okuli
Posisi bulbus okuli Ortho Ortho

Gerakan bulbus Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah

okuli
Pemeriksaan

Lainnya : Baik Baik

Sensibilitas kornea
Diagnosis Kerja :
Ulkus kornea sentralis OD karena pada pemeriksaan slitlamp
mata kanan didapatkan adannya hipopion, injeksi siliar dan
letak ulkus yang berada di sentral

Penatalaksanaan :
Pelayanan kesehataan primer:
berikan tetes/salep kloramfenikol( 0,5- 1%) 6 x1 atau salep tertrasiklin
3x 1 selama 3 hari.
Rujuk bila: penglihatan awal buruk setelah 3 hari atau tampak lesi
putih di kornea.
Pelayanan kesehatan sekunder:
Dirawat bila: ulkus mengancam penglihatan, tidak patuh minum obat,
dan perlu follow up
Jika pemeriksaan KOH (+) berikan Natamisin 5% tiap jam dan salep
mata Natamisin 5%

Diskusi
Pemeriksaan
Anamnesis Tatalaksana
Fisik
mata nyeri visus 2/60
saat Injeksi siliar
berbaring Injeksi
kemata konjungtiva
yang sakit Ulkus di
mata berair sentral
mata kornea
berwarna dengan
kemerahan diameter
penglihtan 2 mm
kabur
mata pasien
terasa gatal
TERIMA KASIH