Anda di halaman 1dari 40

TOKSIKOLOGI ANTIBIOTIK

GOLONGAN
KUINOLON DAN
SULFONAMID
Disusun oleh :

Ati Juwita Asih


Christine
Ester Marinta
Indra Donna Sipahutar
Nur Hasanah
Nurmila
Pramono
Selvianta Purba
Vena Melinda
Milak Hasna
Endang
Keracunan
Keracunanmerupakan kejadian timbulnya efek samping
obat, zat kimia, atau substansi asing lainnya yang
berhubungan dengan dosis. Terdapat variasi respon dan
kecenderungan individual terhadap dosisobat yang
diberikan. Variasi ini terjadi baik secara genetik maupun
didapat(karena induksi enzim, inhibisi, maupun
toleransi).

Rute paparan suatu substansi racun yaitu dapat melalui:


Injeksi parenteral (0.3%)
Gigitan dan sengatan (3.9%)
Mata (6%)
Inhalasi (6.7%)
Kulit (8.2%)
Ingesti/per oral (74%)
Bahan-bahanfarmasi berperan
dalam 41 % kejadian keracunan dan
75 % dari keracunanserius atau
fatal.
Beberapa kejadian keracunan yangtidak disengajadiantaranya :
Cara pemakaian yang salah dari bahan kimia pada saat
bekerja/bermain
Kesalahanlabellingsuatu produk
Kesalahan dalam membaca label
Kesalahan identifikasi bahan kimia yang tidak berlabel
Ketidaktahuan dalam mengobati sendiri/kelebihan dosis (misuse)
Penyalahgunaan obat-obat psikotropika (abuse)
Kesalahan dosis oleh perawat, orang tua, ahli farmasi, dokter, dan
penderita lanjut usia.

Sedangkan keracunan yangdisengajapaling sering ditemukan pada


percobaan bunuh diri.

Bahan bukan obat yang menyebabkan keracunan fatal termasuk di


dalamnya adalah: alkohol, glikol, asap dan gas, bahan kimia, bahan
Prinsip Umum Penanganan
Keracunan

Tujuan terapi keracunan adalah mengawasi tanda-


tanda vital, mencegah absorpsi racun lebih lanjut,
mempercepat eliminasi racun, pemberian antidot
spesifik, dan mencegah terjadinya paparan ulang.

1. Perawatan Suportif :
Tujuannya adalah untuk mempertahankan
homeostasis fisiologis sampai terjadi detoksifikasi
lengkap, dan untuk mencegah serta mengobati
komplikasi sekunder seperti aspirasi, ulkus
dekubitus, edema otak & paru, pneumonia,
rhabdomiolisis, gagal ginjal, sepsis, penyakit
thromboembolik, dan disfungsi organ menyeluruh
akibat hipoksia atau syok berkepanjangan.
2. Pencegahan Absorpsi Racun
a. Dekontaminasi Gastrointestinal
b. Deontaminasi Pada Tempat-tempat Lain

3. Pencegahan Absorpsi Racun


a. Karbon Aktif Dosis Multiple
b. Diuresis Dan Perubahan pH Urine
c. Pengeluaran Racun Secara
Ekstracorporeal

4. Teknik Eliminasi Lainnya


a. Pemberian Antidot
b. Pencegegahan Paparan Ulang
AntiBiotik
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh
berbagai jenis mikroorganisme yang dapat
menghambat atau dapat menekan
pertumbuhan mikroorganisme jenis lain.

Faktor yang mempengaruhi efektifitas


antibiotik :
Aktifitas Antimikroba sendiri
Faktor Penderita
o Umur Pasien
o Kehamilan
o Genetik
o Kondisi Kesehatan Pasien
Efek Samping Antibiotik
Reaksi alergi
Reaksi ini dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan
melibatkan sistem pertahanan tubuh dari pasien, tidak
tergantung pada besar kecilnya dosis obat.

Reaksi idiosikratik
Merupakan reaksi kepekaan yang tidak biasa (abnormal)
terhadap suatu obat yang diturunkan secara genetik.

Reaksi toksik.
Pada dasarnya obat adalah racun, takaran dan dosis lah
yang dapat membuatnya bermanfaat. Begitu juga dengan
antibiotik. Efek toksik pada pasien dapat ditimbulkan oleh
semua antibiotik.
Disamping faktor jenis obat, berbagai faktor dalam tubuh
juga ikut menentukan terjadinya reaksi toksik;
diantaranya fungsi organ atau sistem tertentu didalam
Antibiotik Golongan
Kuinolon
Quinolon : golongan antibiotik berspektrum
luas dan memiliki sifat bakterisid
Efektif terhadap gram positif dan negatif
Umumnya digunakan sebagai obat infeksi
saluran kemih dan saluran cerna
Mekanisme kerja: menghambat aktivitas
enzim topoisomerase yang berperan besar
dalam replikasi DNA bakteri, yaitu DNA girase.
Peranan antibiotika golongan Kuinolon
menghambat kerja enzim DNA girase pada
kuman dan bersifat bakterisidal, sehingga
kuman mati.
Quinolon generasi pertama : eliminasinya melalui urin
berlangsung terlalu cepat & resistensinya cepat timbul
sudah ditinggalkan.
Quinolon generasi kedua : masih digunakan secara luas.
Adanya penambahan atom flour pada cincin quinolon
golongan ini meningkatkan daya anti bakterinya,
memperlebar spektrum anti bakteri, memperbaiki
penyerapannya dari saluran cerna, serta memperpanjang
masa kerja obat.
Quinolon generasi ketiga dan keempat : lebih ramah
terhadap ginjal.
Antibiotik Golongan
Kuinolon
Efek samping antibiotik
kuinolon diantaranya yaitu :
Saluran cerna : mual, muntah,
dan rasa tidak enak dalam
perut
Disglikemia: Gatifloksasin
dilaporkan dapat
menimbulkan hipoglikemi
Susunan saraf pusat
Persendian dan otot
Efek neurologi bersifat ringan
berupa sakit kepala, vertigo,
perasaan kacau dan insomnia.
Psikotik, halusinasi, depresi
dan kejang jarang terjadi.
Kehamilan dan laktasi.
Toksisitas Quinolon

Toksisitas Quinolon :

HEPATOTOKSIK
KARDIOTOKSIK
Chondrocytes killer
FOTOTOKSIK
OCULAR COMPLICATION
Toksisitas Quinolon
HEPATOTOKSIK KARDIOTOKSIK

Trofafloksin Sparfloksasin dan


adalah obat Grepafloksasin
Obat ini mampu
quinolon
memperpanjang interval
generasi QTc Akibatnya akan
keempat yang terjadi aritmia ventrikel
Pasien dengan sejarah
tidak dipasarkan palpitasi atau denyut
kembali karena jantung yang tidak
efek menentu dianjurkan
untuk tidak
hepatotoksik mengkonsumsi quinolone
Toksisitas Quinolon
Chondrocytes killer

Quinolone membawa akibat rusaknya jaringan-jaringan


tulang muda pada seluruh tubuh dengan membunuh
chondrocytes, yang merupakan sel akar dari jaringan-
jaringan tulang muda.
Parah tidaknya kerusakannya yang terjadi ditentukan
oleh keadaan dari jaringan tulang muda itu sendiri
sebelumnya.
Pada umumnya kerusakan yang terjadi tidak dapat
diperbaiki (irreversibel).
Quinolon juga dapat merusak kemampuan
pembangunan atau perbaikan kembali jaringan,
khususnya kolagen yang menghubungkan (connective-
collagenous)
Toksisitas Quinolon
FOTOTOKSIK
Contohnya: Klinarfloksasin dan sparfloksasin

OCULAR COMPLICATION
Obat golongan quinolon dapat mengendap
dalam retina yang mampu mengaburkan
penglihatan dan mengurangi refleks mata.
Masalah berupa diplopia (double vision) dan
masalah fokus penglihatan lainnya,
degenerasi retina, khususnya bagian luar,
mata menjadi kering, sampai kerugakan
penglihatan
Warning Quinolon
Tidak diindikasikan untuk anak-anak di bawah
18 tahun dan ibu hamil karena golongan ini
dapat menimbulkan kerusakan sendi sehingga
mengganggu pertumbuhan anak dan janin.

Tidak dianjurkan untuk mereka yang


mengalami gangguan autoimun atau adanya
kecurigaan terjadinya autoimun, karena akan
memperburuk kondisi yang sudah ada
tersebut. Contohnya penyakit autoimun seperti
multiple sclerosis, lupus erithematosus, rheumatoid
arthritis, vessel vasculitis yang kecil,
dermatomyositis, polymyositis.
Interaksi obat
Antasid dan Preparat besi: mengurangi absorbsi
quinolon hingga 50% atau lebih sehingga harus diberi jeda
3 jam
Teofilin: Beberapa golongan quinolon seperti
ciprofloksasin, perfloksasin, dan enoksasin mampu
menghambat metabolisme teofilin dan meningkatkan kadar
teofilin dalam darah sehingga akan terjadi intoksikasi.
Obat-obat yang mampu memperpanjang
interval QTc : obat anti aritmia kelas IA (misalnya
kuinidin, prokainamid) dan golongan III (misalnya
amiodaron, sotalol), terfenadin, dan sisaprid.
Obat corticostreroid : jika digunakan bersama
dengan quinolon dapat meningkatkan tendonitis dan tendon
rupture
Sulfonamida
Sulfonamida merupakan
kemoterapeutik yang pertama yg
efektif pada terapi penyakit sistemik.
Sekarang, penggunaannya terdesak
oleh kemoterapeutik lain yg lebih
efektif dan kurang toksik.
Banyak organisme yg menjadi resisten
thd sulfonamida.
Penggunaannya meningkat kembali
sejak ditemukan kotrimoksazol yaitu
kombinasi trimetoprim dengan
sulfametoksazol.
Mekanisme Kerja

Mekanisme kerjanya berdasarkan


antagonisme saingan (kompetitif).
Kuman membutuhkan PABA (p-amino
benzoic acid) untuk membentuk
asam folat (THFA)
Asam folat digunakan untuk sintesis
purin dan DNA/RNA
Sulfonamida menyaingi PABA dgn
menghambat/mengikat enzim
dihidropteroat sintase (DHPS)
shg menghambat pembentukan
asam folat
Sulfonamida menyebabkan bakteri
keliru menggunakannya sebagai
pembentuk asam folat
Sintesis asam folat, purin, dan PABA : p-aminobenzoic acid;
DNA/RNA gagal sehingga DHPS : Dihydropteroate
pertumbuhan bakteri terhambat synthase;
DHFR : Dihydrofolate
Mekanisme Kerja

PABA : p-aminobenzoic acid;


DHPS : Dihydropteroate synthase; DHFR : Dihydrofolate reductase,
Mekanisme Kerja

Toksisitas selektif
sulfonamida terjadi karena sel-
sel mamalia mengambil asam
folat yg didapat dalam makanan
sedangkan bakteri kekurangan
kemampuan ini dan harus
mensintesis asam folat.

Kombinasi sulfonamida dan


trimetoprim (suatu 2,4-diamino
pyrimidine) akan menguatkan
efek antibakteri. Kombinasi ini
menyebabkan penghambatan
ganda pada pembentukan asam
folat.

PABA : p-aminobenzoic acid;


DHPS : Dihydropteroate
synthase; DHFR :
Dihydrofolate reductase,
Mekanisme Kerja
Trimetoprim menghambat
dihidrofolat reduktase (DHFR).

Trimetoprim bersifat toksisitas


selektif karena afinitasnya thd
enzim DHFR bakteri 50.000
kali lebih besar daripada
afinitasnya thd enzim DHFR
manusia.

Adanya darah, nanah, dan


jaringan nekrotik dapat
menyebabkan efek antibakteri
berkurang karena kebutuhan asam PABA : p-aminobenzoic acid;
folat bakteri sudah terpenuhi DHPS : Dihydropteroate syntha
dalam media yang mengandung DHFR : Dihydrofolate reductase
basa purin.
Resistensi Bakteri
Resistensibiasanya ireversibel tetapi tidak disertai resistensi
silang terhadap kemoterapeutik lain.

Resistensi kemungkinan disebabkan karena:


- meningkatkan produksi PABA atau
- mengubah struktur molekul enzim yang berperan
dalam sintesis asam folat.

Banyak galur gonococcus, stafilococcus, meningococcus,


pneumococcus, dan streptococcus yang sudah resisten.
Obat lain yang menghambat kerja sulfonamida:

Obat lain yang mirip PABA tidak boleh diberikan diberikan bersama
sulfa karena akan meniadakan efek sulfa.

Contoh:
- prokain
- benzokain
Antibiotik Golongan Sulfonamida

Efek Samping dan Toksisitas Antibiotik Golongan Sulfonamid :

1. Yang terpenting adalah kerusakan parah pada sel-sel darah


2. Efek samping lainnya adalah reaksi alergi antara lain
urticaria, fotosensitasi dan sindrom Stevens Johnson,
sejenis eritema multiform dengan resiko kematian tinggi
terutama pada anak-anak.
3. Gangguan saluran cerna (mual, diare, dsb) adakalanya juga
terjadi.
4. Bahaya kristaluria di dalam tubuli ginjal sering terjadi pada
sulfa yang sukar larut dalam air seni asam
5. Penggunaan lokal sebagai salep atau serbuk terhadap luka
(inaktivasi oleh nanah) tidak dianjurkan karena seringkali
menimbulkan sensibilisasi dan reaksi kepekaan.
6. Kehamilan dan laktasi
7. Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah
usia 6 bulan berhubung resiko efek sampingnya
Efek Nonterapi
1. Kristaluria
Pemakaian sistemik dapat menimbulkan gangguan
sal. kemih karena terjadi penumpukan kristal
dalam ginjal yang menyebabkan iritasi dan
obstruksi.

Kristaluria dapat dikurangi dengan:


penambahan basa seperti Na bikarbonat.
minum yang banyak sehingga produksi urin
1-1,5 liter sehari
kombinasi beberapa sulfa seperti trisulfa
yang terdiri dari sulfadiazin, sulfamerazin dan
sulfamezatin.
2. Reaksi Alergi
Gangguan pada kulit seperti eritema, dermatitis, fotosensitivitas , dan demam.
Demam timbul pada hari ke 7 sampai ke 10 pengobatan disertai sakit kepala,
menggigil, rasa lemah dan erupsi kulit yang semua bersifat reversibel.
Hepatitis dapat terjadi pada 0,1% merupakan efek toksik atau sensitisasi yang
terjadi 3-5 hari setelah pengobatan
Dapat berlanjut jadi atrofi kuning akut dan kematian Pemberian obat
pada bayi dapat menimbulkan
kelainan bilirubin.
Efek Nonterapi
3. Mual dan muntah: pada 2%
penderita

4. Anemia hemolitik (jarang


terjadi)
- Sulfadiazin menimbulkan
reaksi ini 0,05%.
- Sulfadiazin menimbulkan
agranulositosis 0,1%.
Interaksi
Sulfonamid dapat berinteraksi
dengan:
antikoagulan oral,
antidiabetik sulfonil urea
fenitoin
Antibiotik Golongan
Sulfonamida

Tipe reaksi alergi sulfonamid:


Cara Mengatasi Terjadinya Toksisitas Antibiotik

Prinsip-prinsip penggunaan antibiotik dalam klinik yang


perlu diperhatikan :

a. Penegakan diagnosis infeksi perlu dibedakan antara


infeksi bakterial dan infeksi viral.
b. Dalam setiap kasus infeksi berat, apabila memungkinkan
lakukan pengambilan spesimen (seperti darah, sputum,
pus, urin atau usapan/swab) untuk diperiksa di
laboratorium untuk memastikan mikroorganisme
penyebab dan antibiotik yang paling tepat untuk infeksi
tersebut.
c. Selama menunggu hasil kultur, terapi antibiotik empiris
sangat penting untuk diberikan kepada pasien yang sakit
berat.
d. Pertimbangkan penggunaan antibiotik dalam terapi kasus
gastroenteritis atau infeksi kulit, karena kedua jenis
infeksi tersebut jarang memerlukan antibiotik.
e. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan dosis
dan cara pemberian obat.
Mikroorganisme paling sensitif terhadap
antibiotik mana saja.
Faktor pasien: umur, ada/tidaknya alergi, fungsi
L hati, fungsi ginjal, kondisi imunologis, hamil/tidak
a dan faktor genetik.
Berat/tidaknya infeksi mempengaruhi jenis obat
n yang dipilih dan cara pemberiannya.
j Tempat infeksi
u Adanya benda asing dapat mengurangi respons
t jaringan terhadap antibiotik.
Untuk terapi awal dalam kasus infeksi, antibiotik
a spektrum luas lebih baik digunakan lebih dahulu,
n sampai hasil kultur tersedia.
Ganti antibiotik spektrum luas menjadi antibiotik
spektrum sempit setelah terapi berlangsung 3
f. Nilai keberhasilan terapi secara klinis atau
secara mikrobiologis (kultur ulang).
g. Kombinasi antibiotik baru diberikan apabila:
o Terdapat infeksi infeksi campuran (mixed
infection), misalnya peritonitis.
L o Pada kasus endokarditis karena
a Enterococcus dan meningitis karena
n Cryptococcus.
o Untuk mencegah resistensi mikroba
j terhadap monoterapi, misalnya pada
u tuberkulosis dan lepra.
t o Apabila sumber infeksi belum diketahui dan
a terapi antibiotik spektrum luas perlu segera
diberikan karena pasien sakit berat,
n misalnya pada sepsis.
o Apabila dua antibiotik yang dipergunakan
h. Antibiotik dapat digunakan untuk kebutuhan
profilaksis (pencegahan infeksi). Indikasi
antibiotik profilaksis antara lain:
Sebelum prosedur operasi usus, penggantian
sendi, dan ginekologi
Riwayat kontak erat dengan pasien
L tuberkulosis atau meningitis meningococcal.
a Sebelum prosedur ekstraksi gigi pada pasien
n dengan katup jantung prostetik, untuk
mencegah endokarditis infektif.
j
Pencegahan infeksi Streptococcus pada pasien
u dengan penyakit jantung reumatik.
t
a i. Perhatikan pola bakteri penyebab infeksi
nosokomial setempat. Bakteri yang sering
n menyebabkan infeksi nosokomial antara lain
MRSA (meticillin-resistant Staphylococcus
Kesimpulan
GOLONGAN QUINOLON
Secara umum dapat dikatakan bahwa
toksisitas dan efek samping golongan
kuinolon sepadan dengan antibiotika
golongan lain.
Gangguan saluran cerna akibat
penggunaan golongan kuinolon (prevalensi
sekitar 3-17%) dan bermanifestasi dalam
bentuk mual,muntah, dan rasa tidak enak di
perut. Yang paling sering dijumpai ialah sakit
kepala dan pusing. Bentuk yang jarang
timbul ialah halusinasi, kejang, dan dilerium.
Kesimpulan
Beberapa fluorokuinolon antara lain
sparafloksasin dan grapafloksasin (kedua obat
ini sekarang tidak dipasarkan lagi) dapat
memperpanjang interval QTc (corrected QT
interval). Pemanjangan interval QTc ini
disebabkan karena obat-obat ini menutup
kanal kalium yang disebut HERG pada miosit
yang menyebabkan terjadinya akumulasi
kalium dalam miosit. Akibatnya terjadi
aritmia vertikel yang dikenal dengan nama
torsades de pointes.
Beberapa kuinolon baru, antara lain
moksiflosasin juga dapat sedikit
memperpanjang QTc interval dan tidak
berbahaya secara klinis. Namun bila obat ini
Kesimpulan
Gatifloksasin baru-baru ini dilaporkan dapat
menimbulkan hiper atau hipoglikemia,
khusunya pada pasien berusia lanjut. Obat ini
tidak boleh diberikan pada pasien diabetes
melitus.
Penanganan toksisitas obat golongan
Quinolon tidak spesifik,tapi tergantung dari
manifestasi klinik yang di timbulkan per
individu dengan menerapkan Prinsip umum
penanganan keracunan.
Kesimpulan
GOLONGAN SULFONAMIDE.
Beberapa efek samping dan toksisitas yang
ditimbulkan dari pemakaian antibiotic
golongan Sulfonamid, antara lain:
Kerusakan parah pada sel-sel darah yang
berupa antara lain agranulositosis dan anemia
hemolitik, terutama pada penderita defisiensi
glukosa-6-fosfodehidrogenase. Oleh karena itu
bila sulfa digunakan lebih dari 2 minggu perlu
dilakukan pemantauan darah.
Reaksi alergi antara lain urticaria,
fotosensitasi dan sindrom Stevens Johnson,
sejenis eritema multiform dengan resiko
kematian tinggi terutama pada anak-anak.
Kesimpulan
Bahaya kristaluria di dalam tubuli ginjal
sering terjadi pada sulfa yang sukar larut
dalam air seni asam, misalnya sulfadiazin dan
turunannya. Resiko kristalisasi ini sangat
diperkecil dengan menggunakan trisulfa,
pemberian zat alkali (natrium bikarbonat)
untuk melarutkan senyawa asetil tersebut
atau minum banyak air.
Penggunaan lokal sebagai salep atau serbuk
terhadap luka (inaktivasi oleh nanah) tidak
dianjurkan karena seringkali menimbulkan
sensibilisasi dan reaksi kepekaan.
Pengecualian adalah
sulfasetamida/sulfadikramida dalam tetes
mata serta silversulfadiazin pada luka bakar
Kesimpulan
Kehamilan dan laktasi. Penggunaan
sulfonamida harus dihindari pada triwulan
terakhir kehamilan karena resiko timbulnya
icterus-inti pada neonatus (akibat
pembebasan bilirubin dari ikatan protein
plasmanya). Mengenai penggunaannya pada
bulan-bulan pertama kehamilan tidak terdapat
cukup data. Karena sulfonamida masuk ke
dalam air susu ibu maka ada kemungkinan
timbulnya icterus, hiperbilirubinemia dan
reaksi-reaksi alergi pada bayi yang diberi susu
ibu.
Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi
di bawah usia 6 bulan berhubung resiko efek
sampingnya.
Kesimpulan
Manefestasi klinik dari toksisitas
pemakaian sulfonamid oral yang paling
sering terjadi di masyarakat adalah
reaksi alergi (1% - 3%) yang di sertai
eksantema dan demam.(Dinamika
Obat;hal 628/Ernst Mutschler).
Penanganan toksisitas obat golongan
Sulfonamid tidak spesifik,tapi tergantung dari
manifestasi klinik yang di timbulkan per
individu dengan menerapkan Prinsip umum
penanganan keracunan.