Anda di halaman 1dari 14

SEMINAR

GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Oleh :
KURNIA ELKA VIDYARNI
132011101079

Pembimbing :
dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ

SMF ILMU KESEHATAN JIWA


RSD dr. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2017
DEFINISI 1

OBSESI : suatu gangguan isi pikiran berupa


sebuah impuls atau pikiran yang kukuh
(persistent), berulang-ulang dan tidak disukai,
tidak dikehendaki tetapi tidak dapat
dihilangkan oleh individu itu sendiri walaupun
hal tersebut diketahuinya.
Obsesi dapat menimbulkan kompulsi.
KOMPULSI : suatu dorongan (impuls) yang
kuat dan berulang-ulang, mengganggu dan
tidak dikehendaki pada seseorang untuk
melakukan suatu tindakan yang bertentangan
dengan keinginan atau norma yang biasa.
ETIOLOGI 2

Faktor Biologis
Neurotransmiter: disregulasi serotonin
Faktor Perilaku
Dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang
menimbulkan rasa cemas atau tidak nyaman,
dan kompulsif sebagai cara pengendalian
kecemasan
Faktor Psikososial
Faktor kepribadian: gangguan kepribadian
obsesif-kompulsif sebagai pramorbid
Faktor psikodinamika: pengalaman waktu
kecil
DIAGNOSIS 3

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III:


Diagnosis pasti : gejala-gejala obsesif atau tindakan
kompulsif yang dilakukan, atau kedua-duanya,
harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2
minggu berturut-turut
Hal tersebut merupakan sumber penderitaan
(distress) atau mengganggu aktivitas penderita
GEJALA OBSESIF 4

Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut :

Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri-


sendiri

Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang


tidak berhasil dilawan

Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut bukan


hal yang memberi kepuasan atau kesenangan
(sekedar perasaan lega) dari ketegangan atau
anxietas

Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut


harus merupakan pengulangan yang tidak
menyenangkan (unpleasantly repetitive)
HUBUNGAN DENGAN 5

DEPRESI
Ada kaitan erat gejala obsesif dengan depresi

Penderita gangguan obsesif kompulsif sering juga


menunjukkan gejala depresif

Penderita gangguan depresi bisa menunjukkan pikiran obsesif


selama episode depresifnya

Diagnosis obsesif kompulsif boleh ditegakkan bila tidak ada


gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif muncul

Bila dari keduanya tidak ada yang menonjol, maka


menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer
KLASIFIKASI MENURUT 6

F42.0
PPDGJ-III
Predominan pikiran obsesif atau
pengulangan
Dominan pikiran, gagasan, ide-ide, yang banyak
dan berbeda-beda yang sifatnya mengganggu
F42.1 Predominan tindakan kompulsif
Dominan tindakan kompulsif, untuk melakukan
tindakan
F42.2Campuran pikiran dan tindakan
obsesif
Pikiran
obsesif dan tindakan kompulsif keduanya
menonjol
F42.8 Gangguan Obsesif-Kompulsif Lainnya
F42.9 Gangguan Obsesif-Kompulsif YTT
GAMBARAN KLINIS 7

Pasien obsesif kompulsif menunjukkan berbagai


macam gejala yang dapat dikelompokkan
menjadi 4 yaitu :
1. Pikiran obsesi terhadap kontaminasi yang
menyebabkan perilaku kompulsi
2. Keraguan yang patologis
3. Pikiran dan dorongan yang mendesak
berulang ulang
4. Primary obssesional slowness
PENATALAKSANAAN 8

Beberapa
terapi untuk penatalaksanaan
gangguan obsesif kompulsif antara lain:
1. Terapi farmakologi (farmakoterapi)
2. Terapi tingkah laku (psikoterapi suportif)
. Kombinasi kedua bentuk terapi tersebut
memberikan hasil yang lebih efektif daripada
terapi tunggal
FARMAKOTERAPI 9

Mekanisme kerja obat anti obsesif-


kompulsif : serotonin reuptake blockers
1. SSRI : Fluoxetine (Prozaq, Nopres),
Fluvoxamine (Luvox), Paroxetine
(Seroxat), Sertraline (Zoloft),
Citalopram (Cipram)
2. TCA : Clomipramine (Anafranil)
1
PSIKOTERAPI SUPORTIF 0

Tujuan:
1. Menguatkan daya tahan mental yang ada
2. Mengembangkan mekanisme baru dan lebih baik untuk
mempertahankan kontrol diri
3. Mengembalikan keseimbangan adaptif

. Cara:

1. Persuasi
2. Bimbingan dan penyuluhan
3. Terapi kerja
4. Hipno-terapi
5. Psikoterapi kelompok
6. Terapi perilaku
1
PSIKOTERAPI SUPORTIF 1

Baku emas terapi tingkah laku untuk gangguan obsesif


kompulsif meliputi paparan dan pencegahan ritual
(aktivitas) atau disebut ERP (Exposure Response
Prevention)
Exposure : menempatkan pasien OCD pada situasi
yang ditakutinya atau yang menimbulkan pikiran
obsesifnya
Response prevention : kesempatan pasien untuk
menahan diri untuk melakukan pengulangan atau
tindakan kompulsifnya.
1
PSIKOTERAPI SUPORTIF 2

Cara:
Pasien dipaparkan dengan stimuli yang memprovokasi
obsesinya, misalnya dengan menyentuh objek yang
terkontaminasi.
Pasien ditahan untuk tidak kompulsi misalnya menunda
mencuci tangan.

Terapi tingkah laku ini dimulai dengan pasien membuat


daftar tentang obsesinya kemudian diatur sesuai hierarki
mulai dari yang kurang membuat cemas sampai yang
paling membuat cemas. Dengan melakukan paparan
berulang terhadap stimulus diharapkan akan menghasilkan
kecemasan yang minimal karena adanya habituasi.
TERIMA KAS
IH