Anda di halaman 1dari 11

BIOANORGANIK

Agrina Lisma
Pendahuluan
Bioanorganik, yakni studi fungsi logam
dalam sistem biologis dengan
menggunakan pengetahuan dan metoda
kimia anorganik.
Kimia Bioanorganik mengkaji tentang
aspek kimia dari molekul-molekul logam
yang berkaitan dengan sistem biologis
khususnya pada penggunaan ion logam
dalam proses biokimia.
Bioanorganik dapat menjadi penghubung
antara biokimia dan kimia anorganik, yang
dapat menjelaskan bagaimana senyawa-
senyawa anorganik melaksanakan
perannya dalam sistem hidup.
Pendahuluan
Unsur-unsur logam dikenal juga sebagai
mineral yang memiliki peran penting
dalam metabolisme tubuh manusia.
Meskipun diperlukan dalam jumlah relatif
kecil, kekurangan salah satu unsur dapat
menimbulkan gangguan.
Unsur-unsur mineral yang diperlukan
tubuh tersebar di hampir semua posisi
dalam Tabel Periodik Unsur. Unsur-unsur
alkali (seperti Na dan K), alkali tanah (Ca,
Mg, hingga unsur-unsur transisi (Cr, Fe,
Zn) menunjukkan peran masing-masing.
KIMIA ANORGANIK DALAM SISTEM
BIOLOGI PADA MANUSIA

Kimia Sistem
Anorganik Biologi

Senyawa / unsur
Anorganik
(Mineral)

Sistem peredaran darah,


Didalam tulang,
Pengantar ransangan pada syaraf,
Penyerapan logam pada ginjal, dalam hemoglobin dan
dalam biologi lingkungan dan obat-obatan
Studi tentang peran ganda ion logam dalam sistem
biologis, bentuk ligan biologis senyawa anorganik
terutama senyawa organologam.
KIMIA ANORGANIK DALAM
SISTEM BIOLOGI
Senyawa / unsur Mineral
Mineral
Anorganik Nonesensi
Esensial
(Mineral) al

Berperan dalam proses


Logam yang perannya dalam
fisiologis makhluk hidup
untuk membantu kerja tubuh makhluk hidup belum
enzim atau diketahui dan kandungannya
pembentukan organ dalam jaringan sangat kecil.

Empat unsur golongan logam Bila kandungannya tinggi dapat


Na, K, Mg, Dan Ca merusak organ tubuh makhluk
hidup yang bersangkutan dan
Sebelas unsur golongan non logam juga dapat menyebabkan
N, H, C, O, S, Cl, P, I, Si, Se, Dan F penyakit defisiensi
Contoh : timbal (Pb), merkuri
Sembilan unsur golongan transisi (Hg), arsenik (As), kadmium (Cd),
Cu, Zn, Fe, V, Cr, Mn, Co, Ni, Mo dan aluminium (Al)
Unsur Kimia (g) Fungsi
Logam
Na
K
70
250
TitleKation dalam cairan tubuh dan
Keseimbangan osmotic
Mg 40 Tulang, gigi, dan dalam aktivitas
Ca 1700 enzim
Bukan Logam
N 1800 Komponen structural: air, zat
H 6600 organic, tulang
C 12600 Anion dalam cairan tubuh dan dalam
O 43600 siklus energi
S 100 Hormon
Cl 115
P 680
I 1
Si, Se, F 1
Logam Transisi
Cu 0,08 Sisi aktif dalam protein-logam,
Zn 2 vitamin, enzim (biokatalis)
Fe 5
V, Cr, Mn, Co, Ni, Mo 1
Fe (Besi)
Besi merupakan salah satu mikro mineral penting bagi
tubuh karena berfungsi dalam pembentukan sel darah
merah. Bila kekurangan zat besi maka seseorang akan
mengalami anemia gizi besi, termasuk masalah utama
gizi di Indonesia. Zat besi dalam tubuh berperan penting
dalam berbagai reaksi biokimia, antara lain dalam
memproduksi sel darah merah. (Brock dan Mainou-
Fowler 1986; King 2006)
Zat besi bukan hanya diperlukan dalam pembentukan
darah, tetapi juga sebagai bagian dari beberapa enzim
hemoprotein (Dhur et al. 1989).
Unsur besi merupakan komponen utama dari
hemoglobin (Hb), sehingga kekurangan besi dalam
pakan akan mempengaruhi pembentukan Hb.
Fe (Besi)
Keseimbangan zat besi di dalam tubuh perlu
dipertahankan yaitu jumlah zat besi yang dikeluarkan
dari tubuh sarna dengan jumlah zat besi yang diperoleh
tubuh dari makanan. Bila zat besi dari makanan tidak
mencukupi, maka dalam waktu lama akan
mengakibatkan anemia.
Sumber Zat Besi
Zat besi heme (dari hewan). Zat besi yang termasuk
dalam golong heme lebih mudah diserap oleh tubuh.
Bahkan daya penyerapan tubuh bisa mencapai lebih dari
tiga kali kemampuan zat besi dari golongan non heme.
Yang termasuk dalam golongan ini adalah makanan
yang bersumber dari hewan.
Zat besi non heme (dari tumbuhan). Zat besi ini
didapatkan dari berbagai jenis makanan yang bersumber
pada tanaman. Tubuh akan menciptakan reaksi
penyerapan zat besi ini menjadi lebih cepat ketika
dikonsumsi bersama makanan yang mengandung
vitamin C dan kalsium.
Sumber Zat Besi hewani (Heme) Sumber Zat Besi Sayuran
1. Gurita (7,3 mg/ 75 gram) 1. Asparagus (2,2 mg/ 6 batang)
2. Hati Sapi (4,2 mg/ 75 gram) 2. Bayam (2,01 mg/ 100 gram)
3. Caviar (3,37 mg/ 100 gram) 3. Tomat (2 mg/ 100 gram)
4. Tiram (3,3 mg/ 75 gram) 4. Edamame (1,9 mg/ 100 gram)
5. Kepiting (2,3 mg/ 75 gram) 5. Kentang (1,9 mg/ 50 gram)
6. Daging bebek (1,8 mg/ 75 gram) 6. Buah Bit (1,6 mg/ 100 gram)
7. Sarden (1,7 mg/ 75 gram) 7. Labu (1,4 mg/ 100 gram)
8. Daging sapi (1,4 mg/ 75 gram)
9. Ikan makarel (1,4 mg/ 75 gram)
10. Daging kambing (1,3 mg/ 75 gram)
11. Telur (1,2 mg/ 100 gram)

Sumber Zat Besi kacang-kacangan Sumber Zat Besi buah-buahan


1. Kedelai (6,5 mg/ 75 gram) 1. Markisa (3,78 mg/ 100 gram)
2. Kacang merah (2,3 mg/ 75 gram) 2. Alpukat (1,12 mg/ 100 gram)
3. Kacang koro (2,2 mg/ 100 gram) 3. Sukun (1,19 mg/ 100 gram)
4. Kacang hitam (1,8 mg/ 100 gram) 4. Kurma (1,6 mg/ 100 gram)
5. Kacang kapri (1,7 mg/ 100 gram) 5. Buah kering seperti kismis dan